• Catatan Harian

    Kembali Karena Teka-Teki Tak Bertepi.

    Hidup kami sering berpindah-pindah. Masih nomad. Selepas menikah, kami pergi ke Australia karena saya harus melanjutkan pendidikan magister. Setelah dua tahun tinggal di Melbourne, kami kembali ke Indonesia ketika Amartya berumur satu tahun dan Yarra dalam kandungan. Selepas itu, istri dan anak-anak mengungsi ke kampung. Tak lama setiba dari Melbourne, saya harus ke Belanda karena mendapatkan kesempatan fellowship di Leiden dan Utrecht. Selepas dari Belanda, ketika kaki baru menapak dan hidup mulai mapan, dengan pekerjaan yang lumayan bagus, saya memutuskan untuk kembali sekolah. Saat itu belum genap 5 tahun bekerja. Tapi langkah matang harus segera diambil. Meski istri sedikit keberatan, alasan saya waktu itu sederhana: ada cita-cita yang harus diwujudkan…

  • Catatan Harian

    Gegar Budaya Amartya

    Saya sudah memperkirakan dan mempersiapkan psikologis saya sebelum tiba di Indonesia. Saya juga sudah bilang ke istri dan kedua anak saya bahwa proses transisi ini tidak mudah. Pasti sedikit bumpy, bahkan mungkin dengan sedikit turbulensi. Ibarat naik pesawat, masa pindahan seperti sekarang ini adalah masa take off atau landing. Gegar budaya langsung terasa. Amartya dua kali tanpa sadar meminum segelas air dari keran di wastafel rumah. Ketika bangun tidur, ia langsung mengambil gelas, dan membuka keran. Ia teguk air itu dengan tanpa perasaan berdosa atau penyesalan. Sampai saya jelaskan: di Indonesia, air keran tidak bisa diminum! “Why not, Ayah?” jawabnya polos. “It is strange that we cannot drink tap water!”…