• LA Notes

    Di Mana Indonesia? Tentang Gejala Krisis Indentitas anak-anak Indonsia di Luar Negeri.

    Anak-anak saya tentu saja belum bisa menulis. Kalaupun bisa, Amartya lebih mahir menulis dalam bahasa Inggris. Kata gurunya di sekolah Clover Ave, Amartya punya bakat menulis. Ia sudah pandai membuat sebuah cerita sederhana dengan runut dan dengan argumen yang kuat. Satu esainya pernah ditunjukan kepada saya: Why fried rice for lunch. Dalam esai itu Amar mengusulkan agar memasukan menu nasi goreng ke menu makan siang di sekolahnya. Memang selama ini ia sering mengeluh dengan menu makan siang di sekolahnya yang itu-itu saja: pizza, sandwich, noodle, sesekali ayam goreng. Hampir tidak pernah ada menu nasi. Di sini perasaan saya ambigu. Di satu sisi saya merasa prihatin karena sebagai orang Indonesia, mestinya…

  • LA Notes

    Tiga Anak di Tiga Benua

    Amartya tiba-tiba bilang begini: “Dad, our family is so unique. I was born in Melbourne, Australia, Neng in Kuningan, Java, Indonesia and Regyan is an American baby.” Ia mengatakan itu ketika saya menjemputnya dan Yarra dari rumah kawan. Selama dua hari mereka diurus kawan karena saya sibuk di rumah sakit mengurus persalinan istri dan kelahiran Regyan. “It means,” lanjut Amartya “we were born in three different continents, rights?” Saya tak langsung menjawab karena harus lebih berfokus pada persimpangan Sepulveda dan National yang baru saja berubah lampunya menjadi merah. “Right, Dad?” Seperti biasa, Amartya tidak akan berhenti bertanya sebelum pertanyaannya dijawab. “Iya, Ka. Terus kenapa?” Jawab saya sambil kemudian bertanya. Saya…