Perihal Kawin-mawin dan Nasihat Untuk Para Jomblo

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Ketahuilah bahwasannya tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri saya sendiri pada pentingnya tujuan hidup berumah-tangga. Tetapi mungkin saja ada khalayak pembaca yang bisa menemukan bulir-bulir hikmah dan nasihat dari apa yang saya tuliskan.

Ketahuilah bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna di dunia. Yang ada adalah pernikahan yang terus disempurnakan. Pada pernikahan yang terus-menerus dan tanpa henti diperbaiki dan ditingkatkan derajatnya, manusia bisa menemukan jati-diri dan hakikat jiwanya sendiri.

Pernikahan itu ibarat manusia: tempat khilaf dan lupa, tempat salah, tempat ketidaksempurnaan terus diperbaiki. Ingatlah, ketika kita dilahirkan ke dunia ini, tak satu katapun bisa kita ucapkan. Tak secuilpun pengetahuan kita ketahui. Bahkan hanya untuk berpindah tempat saja kita tidak bisa. Manusia belajar melangkah, kemudian jatuh. Terus bangun, melangkah dan jatuh lagi. Mengeja bahasa dengan lidah kelu dan ocehan membingungkan. Memenuhi lembaran kertas putih dengan guratan dan garis kusut tak karuan. Tetapi kita tumbuh terus dan menjadi. Hakikat manusia itu memang adalah mahluk menjadi tanpa henti, berubah, mengalir alias panta rhei. Yang ditujunya adalah kedewasaan, sesuatu yang mungkin tidak pernah dicapai sepenuhnya.

Janganlah lupa, justru karena ketidaksempurnaa itu manusia hidup mempunyai tujuan. Bayangkan jika manusia lahir dengan semua kemampuan yang sudah jadi dan ajeg. Betapa membosankannya hidup ini. Tak akan ada indahnya muka tak berdosa yang berceloteh tak karuan. Tak akan pernah ada acara-acara slametan, tak akan ada kejadian-kejadian yang ditunggu dan menegangkan. Kebahagiaan manusia sangatlah tergantung pada upaya mencapai perbaikan, membengkel ketidaksempurnaan dirinya.

Tidak ada pernikahan yang sempurna di dunia ini. Yang ada adalah pernikahan yang terus disempurnakan. Pada pernikahan yang terus-menerus dan tanpa henti diperbaiki dan tingkatkan derajatnya, manusia bisa menemukan jati-diri dan hakikat jiwanya sendiri

Cukuplah saya sampai disini berfilsafat tentang manusia. Sekarang saatnya kita merenungkan hal serupa tentang pernikahan.

Ketahuilah bahwa  pada hari ketika akad nikah diucapkan, pernikahan kita baru saja dilahirkan. Tepatnya baru saja bahtera rumah tangga dibuat dan dikembangkan layarnya. Tentu saja untuk sampai pada tahap itu ada banyak ujian, cobaan, rintangan yang menghadang. Perlulah kiranya disini saya menghikayatkan perjuangan pada kelahiran bahtera rumah-tangga agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang belum juga menemukan pasangan.

Sebuah pernikahan, bahtera rumah tangga, tidaklah dibuat oleh kesempurnaan cinta dan perasaan. Camkanlah itu baik-baik. Bahtera rumah tangga tercipta karena hubungan yang rumit antara cinta, keberanian mengambil keputusan dan niat baik.

Untuk berumah-tangga, manusia tidak perlu mempunyai cinta yang penuh. Bukankah cinta tidak pernah penuh dan utuh? Cinta sebelum pernikahan serupa dengan setengah gelas air. Biarkanlah  setengah ruang kosong di gelas itu dipenuhkan oleh air madu yang dialirkan setelah pernikahan. Di atas cinta yang belum sempurna sebelum bahtera pernikahan itu dibuat manusia terus berharap dan berusaha untuk menumbuhkan cintanya.

Tapi jangan juga menikah dan membangun bahtera tanpa didasari perasaan cinta sama sekali. Tidaklah patut menggadaikan sisa hidup pada hubungan dengan orang yang tidak dicintai sama sekali. Cinta dalam ranah rumah tangga hanya bisa tumbuh karena ada bibit dan tanah yang subur. Tanah yang subur dalam pernikahan itu adalah niat baik. Ya, niat baik. Pada hari ketika akad nikah diucapkan, niat baik, niat beribadah, adalah patri hati dua manusia yang bertekah menumbuhkan cinta bersama-sama. Pada hari ketika akad atau sumpah itu diucapkan, pentinglah diingat bahwa manusia sesungguhnya sedang mengukuhkan hatinya bahwa apapun yang terjadi akan dihadapi dengan niat memperbaiki diri bersama-sama.

Keberanian mengambil keputusan adalah juga hal yang utama. Diakui atau tidak, manusia pastilah pernah mengalami rasa suka dan tertarik pada lebih dari satu orang. Mungkin kita pernah jatuh pada dilema untuk memilih siapa yang akan dijadikan pasangan hidup kita. Ingatlah, ketika dalam keadaan seperti itu, yang harus kita lakukan adalah memikirkan dan mempertimbangkan yang terbaik serta berdoa. Setelah kedua hal itu dilakukan, selanjutnya hanya tingal diserahkan pada keberanian mengambil keputusan. Jika kita dihadapka pada dua pilihan, tak ada jaminan bagi keduanya mana yang terbaik di masa yang akan datang. Bisa jadi apa yang dianggap paling baik hari ini akan menjadi buruk esak pagi. Juga sebaliknya.

*

Sikap hidup dan falsafah itulah yang melandasi kehidupan rumah-tangga kami. Karena hal-hal yang tidak perlu diungkapkan di sini, saya menikah dengan seorang gadis sembilan tahun lalu. Ketika bertemu, perasaan kami barulah setengah gelas. Namun kami bertekad, sisa ruang kosong itu akan diisi dalam perjalanan dengan niat yang ikhlas. Tanah yang disemai bibit cinta begitu subur. Dan kuncup-kuncup segera bermekaran. Tak berselang lama akar menancap kuat, berbunga dan akhirnya berbuah.

Seperti saya, istri saya bukanlah sosok sempurnah. Jika saya banyak bicara, ia pelit sekali mengeluarkan kata-kata. Jika saya lebih senang bergegas dan cenderung tergesa-gesa, la lebih tenang dalam melangkah meski kadang lambat dan menggemaskan. Jika saya lebih suka lalapan, istri saya suka gorengan. Bahkan sampai hal-hal kecil terkait bagaimana seharusnya tutup pasta gigi diperlakukan, kita berbeda.

Memang sedianya pernikahan bukanlah ajang menghilangkan keunikan diri kita. Dalam rumah tangga yang dijiwai oleh keinginan menumbuhkan cinta yang menjadi, perbedaan haruslah disikapi sebagai cara alam menyempurnakan diri kita. Bukankah karena berbeda kita menjadi satu dalam rumah tangga? Camkan itu. Jadi, tidaklah perlu mencari pasangan dan menjalin bahtera rumah tangga karena kesamaan seutuhnya. Yang perlu diperkuat adalah kesadaran akan perbedaan yang bisa dirubah jadi kekuatan. Saya yang tergesa-gesa sering diingatkan oleh senyuman istri saya yang tenang. Istri yang sering terlalu santai dipacu terus oleh ketergesa-gesaan saya.

Tentu saja perjalanan yang kami tempuh masih jauh. Dan karena itu saya selalu berusaha agar cinta dan kehangatan senantiasa tumbuh. Namun setelah sembilan tahun bahtera rumah tangga kami kayuh, patutlah kami bersyukur atas apa yang dulu kami putuskan. Dengan kegetiran dan kekhawatiran, tapi dibarengi niat baik, perasaan cinta dan keberanian mengambil keputusan, bahtera kami kini sangat membahagiakan. Juga lebih kuat dan kokoh menerjang gelombang kehidupan.

Dua buah hati kami, ucrit-ucrit, membuat hari meriah tanpa henti. Setengah bulatan bumi kami arungi bersama. Hidup penuh kesederhanaan dilakoni dengan kesadaran bahwa mungkin hidup serba berkecukupan akan datang pada saatnya, asal kami terus berusaha.

Untuk cinta yang terus tumbuh, semoga bahtera kita bertahan dalam kebahagiaan sampai kembali nanti waktunya berlabuh. Selamat ulang tahun pernikahan, Bunda. Saatnya mengingat kembali perjalanan kita dengan bersyukur dan ikhlas. I love you. Kids, we love you.

Los Angeles 13 Okt 2017

Nasib Dosen Honorer

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Sebelumnya saya minta maaf kepada semua pihak yang mungkin merasa akan terisinggung, tersenggol, atau ‘tertusuk’  oleh curhatan saya ini. Mohon sekali lagi untuk dimaafkan. Meski sedikit pedas, semoga curahan hati saya ini bisa megobati kegalauan hati saya, juga hati banyak kawan senasib sepenanggungan. Ketika menuliskan ini, tak sedikitpun terbersit dalam hati saya pihak-pihak tertentu secara khusus. Yang saya bayangkan adalah sebuah tatanan sistemik yang membuat orang-orang di dalam sistem itu tak lebih dari wujud yang kehilangan setengah kesadarannya karena kungkungan struktral.

Alkisah saya ini punya status yang keren, setidaknya di kampung saya. Minimal, dengan status itu dulu saya mudah melamar calon istri saya. Calon mertua saya cepat faham apa pekerjaan saya. Mereka juga percaya bahwa anaknya akan dinikahi oleh orang yang setidaknya punya pekerjaan bagus: dosen. Ya, dosen.

Ihwal cerita saya jadi dosen lebih karena keturunan. Bapak saya guru. Ia ingin anaknya minimal jadi guru, atau kalau bisa lebih tinggi dari guru. Dosen adalah peningkatan status buat keluarga saya. Kakak saya dosen menikah dengan dosen. Adik saya dosen, menikah dengan guru. Saya dosen, menikah dengan anak pedagang. Continue reading “Nasib Dosen Honorer”

Bunda Pergi ke Gereja!

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Alhamdulillah, setiap Rabu sore, sudah dua minggu ini, Bunda pergi ke gereja. Gerejanya tak jauh dari komplek apartemen tempat kami tinggal, hanya sepuluh menit jalan kaki. Selama dua jam setiap rabu, dari jam 6.30 sampai 8.30 sore, Bunda punya kegiatan di gereja itu.

Eit, jangan heboh dulu, Bunda masih seperti dulu: berjilbab, menamatkan satu juz Al-Qur’an setiap minggu bersama dengan temannya di group WA, tak pernah bolong shalat, rajin Dhuha pula. Bunda masih seperti ia yang dulu saya kenal. Lantas buat apa Bunda ke Gereja? Apa dia sudah beralih agama? Tidak!

*

Sejak Bunda datang di Los Angeles hampir 7 bulan lalu, saya mencari tahu dimana gerangan tempat kursus gratis bahasa Inggris. Ketika saya kuliah di Melbourne dulu, Universitas menyedikan fasilitas cuma-cuma kursus bahasa bagi anggota keluarga. Biasanya seminggu dua kali. Saya masih ingat, setiap Rabu dan Kamis Bunda datang ke gedung 1818 yang sedikit angker itu di Universitas Melbourne untuk belajar dengan tutornya, Alex. Sejak ia punya kegiatan kursus di kampus, kehidupannya lebih berwarna. Saat itu Amartya menginjak usia 5 bulan. Ia bawa Amartya ke tempat kurus dan dibiarkan bermain di ruangan tak jauh dari ruang kurus.

Di tempat kursus itu Bunda punya teman baru dari berbagai negara, Cina sampai Chile. Bahasa Inggrisnya juga bertambah baik dengan cepat. Tentu karena di tempat kurus itu Alex memaksanya bicara. Ada paksaan, juga lingkungan yang mengkondisikannya berbicara. Bunda biasanya datang ke tempat kursus sekalin membawa bekal makan. Saya akan menyusulnya ke halaman gedung 1818 pada jam makan siang. Kami habiskan waktu makan siang bersama bertiga di taman yang rindang dan hijau itu.

Sayangnya, UCLA tidak menyediakan kursus gratis bagi keluarga. Atau mungkin saya belum menemukannya. Di sekitar komplek perumahan mahasiswa tempat kami tinggal juga tidak ada kursus bahasa Inggris. Hanya ada kursus musik dan yoga.

Saya mendengar ada juga kursus gratis di beberapa perpustakaan kota. Tapi letaknya terlalu jauh. Harus naik bus dan jalan kaki. Rencana untuk mengambil kursus gratis di Perpustakaan Palms dan Pico tidak juga terwujud karena jarak. Di sini angkutan umum jelek, tak sebagus Melbourne. Untuk pergi ke tempat yang dekat saja cukup memakan waktu karena harus nunggu bus dan jalan kaki.

Sampai pada suatu sore ketika saya berolahraga, berlari mengitari kompleks tempat saya tinggal, tanpa sengaja saya melihat sebuah spanduk kecil sedikit tersembunyi dari balik rimbun pepohonan di Jalan Swatelle. Saya juga baru sadar bahwa gedung yang sering dilewati itu ternyata sebuah gereja. Gereja itu menawarkan banyak sekali kegiatan yang tak ada kaitannya dengan ibadah atau kebaktian. Salah satunya kursus bahasa Inggris. Ya, itu yang saya cari. Pas: tempatnya dekat, waktunya tepat.

*

Awalnya Bunda ragu-ragu. Kaka dan Neng malah protes. Mereka bilang: “Nanti bunda kalau ke gereja jadi Kristen. Bunda ga boleh!” Saya hanya tersenyum saja. Akhirnya saya terangkan bawah pergi ke tempat ibadah orang lain tidaklah berdosa. Kecuali kita ikut kebaktian, itu mungkin lain cerita. Lagi pula, di Amerika, gereja punya banyak fungsi selain tempat beribadah. Gereja, sebagaimana diungkap dalam banyak studi, adalah wadah memupuk semangat kebersamaan dan kewargaan (civility). Masyarakat sipil dibangun dan dipupuk di sana. Di gereja ada kursus bahasa, balet, musik dan yang lainnya.

Saya bilang, iman yang kokoh harus menjadi obor dan kompas agar kita berani mengarungi hidup, berjumpa dangan yang lian, bukan sembunyi menggigil ketekutan dibalik dalih menjaga akidah. Setelah dua minggu diskusi dan mempertimbangkan, ditemani kawannya, akhirnya bunda mau juga pergi ke gereja untuk mendaftar. Lantas ia segera memulai kursus di sana.

Ketika mendaftar, dalam formulir pendaftaran disebutkan: “apakah anda ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan kebaktian?”. Bunda tentu jawab tidak. Dan segera pihak gereja tahu bahwa yang datang mendaftar saat itu adalah seorang Muslimah, berjilbab pula. Mereka senang.

*

Saya juga tidak naif. Tentu saja dalam setiap kegiatan gereja selalu ada misi tertentu, minimal misi pelayanan. Tapi tentu di dalam iklim yang terbuka seperti di sini, naif pula mengira hanya karena kita ikut kegiatan yang mereka iklankan terbuka seseorang akan pindah agama. Faktanya, usaha yang dilakukan gereja sebenarnya lebih ditujukan agar orang-orang di sini mau kembali ke gereja.

Sudah sejaka lama gereja di negara-negara maju ditinggalkan jamaahnya. Mungkin keadaan di Amerika tidak terlalu parah. Gereja di sini relatif masih dikunjungi, apalagi di daerah Bible Belt, tempat dimana para pendukung Trump banyak tinggal. Di Eropa, setidaknya di Belanda, kondisinya lebih buruk. Ketika saya tinggal di sana, banyak gereja beralih fungsi jadi museum. Ada juga yang dijual untuk dijadikan tempat ibadah agama lain. Mesjid Indonesia di Den Haag adalah bekas gereja. Di Los Angeles tempat saya tinggal sekarang, warga Indonesia sebentar lagi punya mesjid besar di tengah kota. Konon donaturnya Erick Tohir. Mesjid yang siap dipakai akhir tahun ini juga bekas gerja. Perisis di samping gedung Konsulat Jenderal RI di pusat kota LA, berdiri Gereja Oasis yang kokoh tapi murung. Gereja itu juga sudah tidak lagi dipakai.

Untuk menarik orang tetap mau datang ke gereja, pihak gereja harus kreatif membuat beragam kegiatan yang tidak melulu urusan ibadah. Dan jadilah gereja pusat kegiatan kewargaan bagi masyarakat sekitar yang terbuka bagi siapa saja, tak pandang latar belakang agamanya.

Bunda pergi ke gerja juga adalah cara paling sederhana bagaimana kami mengajarkan toleransi, tenggang rasa dan saling menghormati pada anak-anak kami.

Salam dari Los Angeles (23 Agustus 2017)