Trump, Amerika dan Kita

Ketika pemilihan suara di seluruh Amerika diadakan pada 8 November, sekitar tiga minggu lalu, saya mengikutinya dengan harap-harap cemas di kamar kosan saya di sudut Ocean Blvd, tak jauh dari pantai yang indah di Santa Monica. Sebenarnya saya tidak perlu cemas karena saya bukan warga negara Amerika. Saya tidak punya kepentingan apapun. Saat itu saya sedang berjuang menyelesaikan tugas kuliah yang kedua. Saya harus menulis sekitar 30 halaman artikel riset tentang perbudakan di industri perikanan di Asia Tenggara. Sejak 3 hari sebelum pemilihan umum saya tidak fokus pada kuliah karena sebelumnya ada hal yang mengganggu saya: demonstrasi besar di Jakarta yang konon bertujuan ‘membela Islam’. Saya sebut konon karena terlepas dari niat ikhlas para demonstran, saya yakin momen itu dimanfaatkan politisi busuk untuk mengambil keuntungan. Kedua kejadian itu, demo di Jakarta dan pemilu di Amerika, menghimpit hari-hari saya yang memang sudah lama sunyi. Kedua hal itu membuat kegelisahan semakin menjadi-jadi. Dan karena itu saya kehilangan fokus.

Pada 8 November, sore hari, hasil pemungutan suara mulai muncul di layar laptop dari beberapa sumber berita yang menayangkan langsung pemilu Amerika. Hati saya tambah cemas. Beberapa jurnal artikel sudah sejak pagi disingkirkan. Sebagai orang yang pernah lama di dunia survei dan quick count, saya punya perasaan yang kuat tentang siapa yang akan menang. Perasaan itu muncul dari data dan angka yang terlihat. Pada pukul 5 sore waktu Los Angeles saya sudah tahu siapa yang menang: Trump. Itu artinya, semua prediksi meleset. Semua survei tidak dengan tepat memotret realitas.

Ada banyak hal yang menyebabkan kesalahan lembaga survei dan kemenangan Trump yang tak terduga. Menurut kawan saya yang orang Amerika, pengumuman FBI seminggu sebelum pemiluhan umum yang mengatakan bahwa FBI sedang kembali menyelediki kemungkinan adanya unsur kejahatan dalam kasus email Hillary membuat pemilih bingung. Klarifikasi FBI dua hari sebelum pemilihan umum tidak menolong kembalinya kepercayaan pada Hillary. Unsur lain, masih menurut kawan saya di kampus, banyak orang kulit putih yang diam-diam mendukung Trump tapi tidak mau terbuka tentang pilihannya karena mendukung Trump secara terbuka terlalu memalukan. Itulah kenapa ketika survei, kemungkinan banyak responden tidak berkata jujur tentang pilihannya.

Sejak kemenangan Trump itu saya dan jutaan warga Amerika tidak juga menemukan jawaban kenapa Trump menang. Kenapa presiden yang sangat rasis, sexist, terlihat sangat tidak berpendidikan, bisa memenangkan pemilihan di sebuah negara terbesar, konon termaju di dunia dengan riwayat demokrasi tertua. Kenapa?

Mungin karena sistem yang telah ratusan tahun dipakai belum juga dirubah. Di Amerika, presiden tidak dipilih langsung oleh pemilih. Ia dipilih oleh ‘kelompok perwakilan’ yang disebut ‘electoral college’. Sistem electoral college ini dibuat, awalnya, dengan asumsi bahwa masyarakat pada umumnya adalah orang awam politik. Untuk memastikan presiden yang dipilih bukan seorang demagog, dibuatlah sekelompok elit terpelajar yang akan mewakili masyarakat awam untuk memilih presiden. Selain itu, electoral college juga sebagai alat bargaining negara bagian kecil agar lebih terwakili. Dalam pemilu antara Trump dan Hillary ini, yang menang secara popular adalah Hillary. Kemanangannya, menurut berita terkahir, lebih dari 1.8 juta suara. Tapi dia kalah jauh dalam perolehan suara electoral dari Trump yang memperoleh 290 sura, 20 sura lebih banyak dari jumlah minimal 270 suara elektoral agar seseorang menjadi presiden Amerika. Kalau pemilihan presiden ini terjadi di Indonesia, yang akan menjadi presiden adalah Hillary dengan selisih kemenangan hampir 2 juta suara. Sitem yang sudah ratusan tahun dipakai ini sulit untuk dirubah meski kini banyak suara lantang yang menginginkan reformasi. Ini bukan kejadian pertama. Pada saat Bush menang melawan Al Gore, kasus yang sama juga terjadi. Saat itu Algore menang dalam popular vote dan Bush menang tipis, beberapa suara dalam electoral vote. Kemenenagan mereka diputuskan pengadilan. Sistem yang awalnya dibuat untuk mencegah demoagog menjadi presdien justru telah membawa orang yang disebut oleh banyak media sebagai demagog berkuasa.

Hal kedua yang membuat Trump menang adalah karena ketakutan dan kemarahan. Yang merasa ketakutan dan marah adalah warga kulit putih Amerika. Sama seperti di Inggris dengan Brexit, warga kulit putih merasa akan kehilangan keistimewaan mereka sebagai warga Amerika dengan kedatangan banyaknya imigran. Inti terdalam dari ketakutan itu adalah rasa bangga yang tidak berdasar pada ras kulit. Amerika punya sejarah kelam dan panjang dalam urusan ras ini. Sampai akhir 70an, bahkan sampai sekarang, orang kulit hitam masih merasa warga kelas dua. Banyak juga kelas pekerja kulit putih yang selama Obama berkuasa kehilangan banyak pekerjaan terutama di negara bagian padat industri seperti Ohio. Trump yang pengusaha sukse dianggap bisa membawa lebih banyak pekerjaan ke Amerika. Ketakutan dan kemarahan adalah sumbu pendek yang mudah disulut untuk apapun.

Segregasi masih terlihat bahkan di kampus tempat saya kuliah. Di seberang halte tempat saya menanti bus setiap sore, ada deretan rumah tempat kelompok ‘persaudaraan’ mahasiswa berkumpul. Tempat itu juga menjadi asrama. Beberapa kali saya melihat mahasiswa bergelombol dengan pakaian seragam: mahasiswi berbaju putih dengan rok sangat minim dengan belahan dada terbuka. Ada pin dan pita bunga mawar di dada kiri mereka. Mahasiswa mengenakan jas hitam dengan separu mengkilat. Tapi, ini yang membuat saya curiga, ada hal yang tidak wajar. Semua yang berkumpul, setelah saya amati baik-baik, semuanya berkulit putih. Biasanya, dalam kumpulan mahasiswa, saya dengan mudah bisa melihat wajah Asia atau Latin Amerika. Awal tahun ini media melaporkan kegiatan mahasiswa berbau rasis di Kampus UCLA. Kampus kabarnya telah bertindak dengan menutup beberapa ‘UKM’ persaudaraan (fraternity) itu. Tapi mungkin kegiatan mereka masih berlangsung meski kampus dikabarkan akan menindak tegas.

Faktor ketiga yang menjadi perhatian banyak orang setelah kemanangan Trump adalah peranan sosial media. Sosial media, terlepas dari peran positifnya, ternyata telah membuat warga Amerika menjadi lebih mudah terhasut isu. Orang Amerika yang hidup di kampung umumnya berpendidikan SMA. Mereka lebih mudah tertipu hoax daripada membaca Times atau Washington Post. Mirip dengan sebagian orang Indonesia yang lebih senang membaca Pkspiyungan atau berita hoax yang sampai di telepon genggamnya daripada membaca Kompas atau Tempo. Kenyataan ini tidak bisa dianggap enteng. Satu hoax, menurut sebuah studi, bisa dimuat ulang sebanyak satu juta kali. Sementara klarifikasi dari hoax itu hanya dipos ulang 30 ribu kali. Itu artinya, sekali fitnah terkembang, pantang ia kembali. Fitnah itu akan menular seperti virus ke setiap kepala yang mempercayainya. Kalau orang punya dasar berfikir kritis mungkin tak akan mudah mempercayainya. Tapi sebagian besar kita, bahkan yang gelarnya doktor sekalipun, tak pernah belajar tentang ‘critical thinking’, berfikir kritis.

Saya masih ingat ketika masa pemilu di Indonesia antara Jokowi dan Prabowo, fitnah dan hoax juga bertebaran. Jokowi China, komunis, Kristen dan lain-lain dengan massif tersebar. Dan itu dengan sengaja di buat. Sebagian kawan saya yang dulu mendukung Prabowo sampai sekarang masih yakin dengan hoax itu. Kawan saya itu masih yakin bahwa Jokowi itu antek Cina yang akan menundang ribuan orang dari Cina untuk masuk ke Indonesia. Yang lain masih percaya bahwa Jokowi komunis karena PDIP adalah partai Sukarno yang dulu dekat dengan Komunis. Jokowi juga mendukung rekonsiliasi dengan ex-PKI dan bermesraan dengan ex-Gerwani. Karena itu Jokowi itu rezim komunis. Coba lihat, betapa kejamnya hoax yang sudah terparti di dalam benak orang yang tidak punya filter diri. Hoax itu menjadi kangker stadium empat difikiran banyak orang. Kemo terapi anti hoax juga mungkin tak akan berhasil menghapus penyakit itu.

Semoga dari kemenangan Trump ini ada pelajaran yang bisa diambil oleh orang yang berkal

Bersambung…..

Diantara Dua Himpitan Kegalauan

damai-indonesia1

Saya coba fokus kembali ke jurnal-jurnal dan laporan yang harus dibaca dan tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi di NKRI. Tapi belum bisa. Masih galau dan ingin curhat. Kegalauan saya biasanya sembuh setelah saya menulis karena menulis buat saya adalah sebuah metode katarsis.

Saya dihimpit kegalauan dari dua sisi: di negeri rantau tempat saya tinggal dan di rumah sendiri. 

Sebagai mahasiswa yang baru datang di Amerika, saya datang pada saat kampanye untuk pemilihan Presiden Amerika Serikat sedang panas-panasnya. Hillary Clinton (Partai Demokrat) dan Donald Trump (Partai Republik) mengerahkan semua upaya untuk saling menjatuhkan dan mengalahkan. Ada satu cerita yang menarik untuk anda. Di Amerika, salah satu isu yang digelorakan pendukung Donald Trump di setiap kampanye adalah: “lock her up!”. Artinya: penjarakan Hillary! Para pendukung Trump dan Trump sendiri membesar-besarkan kasus ketika Hillary memakai server pribadi saat menjabat sebagai sekretaris negara untuk mengirim email. Trump dan para pendukungnya mengatakan itu kejahatan dan karena itu polisi harus menangkap Hillary dan memenjarakannya. FBI dan aparat hukum sudah melakukan investigasi dan diputuskan tidak ada tindakan kriminal.

Entah kenapa FBI sepertinya bermain politik belakangan ini. James Comey, Direktur FBI, yang mantan anggota Partai Republik itu tiba-tiba mengatakan pada Kongres bahwa FBI kemungkinan bisa menyelidiki kembali kasus email Hillary setelah tanpa disengaja email Hillary ternyata ditemukan di salah satu laptop mantan suami pembantu terdekat Hillary, Huma Abedin—seorang Muslim lho. Ucapan dan surat Comey yang disampaikan ke Kongres Amerika segera menghiasi halaman muka semua media. Pendukung Trump dan Trump sendiri kembali menggelorakan slogan: “lock her up!”, “penjarakan Hillary!”. Untungnya di sini tidak ada demonstrasi besar dan bakar mobil untuk memaksa polisi Federal menangkap Hillary. Presiden Obama juga tidak pergi ke mana-mana, tidak juga ke Bandara, karena memang tidak ada demonstrasi.

Hal ini membuat saya galau karena kalau Trump menang, apalagi kalau menang karena polisi di sini mengikuti kehendak Trump untuk memenjarakan Hillary, saya bisa jadi dideportasi, diusir kembali ke Pamulang. Kenapa? program unggulan Trump adalah mendeportasi semua Muslim. Padahal kuliah saya baru saja dimulai!

Apa yang saya lihat di Jakarta seperti kembaran kejadian itu. Saya haqul yakin sebagian besar demonstran kemarin itu ikhlas beremonstrasi untuk berdakwah, menyuarakan aspirasi bahwa mungkin telah terjadi sebuah tindakan kriminal bernama penodaan agama atau apapun. Tapi sebagai orang yang membaca sedikit teori politik dan gerakan sosial, tak jarang niat ikhlas para demonstran itu tidak berbanding lurus dengan beberapa kepentingan yang bermain pada level lain. Ibarat rantai makanan, singa selalu mengendap dalam diam, berada di balik semak belukar sebelum menerkam mangsanya. Terlalu naif kalau demo kemarin tidak ada muatan politik. Dalam satu aksi ada banyak motif: berdakwah menegakan agama, piknik, jualan gorengan, ingin tahu Monas dan Istiqlal, menjegal lawan politik sampai menurunkan pemerintahan yang sah dan dipilih secara demokratis.

Meski sebagian besar motif itu bisa diterima dan sepenuhnya sah secara konstitusi, saya sangat keberatan dengan dua motif terakhir. Buat saya, menjegal lawan politik dan mengganti rezim hanya bisa dilakukan dengan cara-cara politik konstitusional. Fahri Hamzah tentu keliru besar ketika dengan bersemangat bilang aksi jalanan bisa menjadi mekanisme pergantian rezim. Mungkin praktik itu biasa di negeri yang penuh kudeta atau negara transisi menuju demokrasi dari otoritarian seperti zaman Suharto. Karena Republik ini sudah maju jauh dalam membangun demokrasi, mulai banyak capaian ekonomi, sedang khusus berantas para koruptor, cukong dan pungli, rasanya sayang dan terlalu aneh kalau kita mau kembali ke titik nol.

Anda tidak suka Jokowi dan Ahok, gampang sekali untuk ganti dia: cukup tidak perlu dipilih lagi pada pemilu nanti. Dan itu tidak lama. Dua tahun lagi Jokowi bisa kita hukum dengan tidak dicoblos di bilik suara jika dia mengecewakan kita. Ahok bisa kita buang dari dunia politik dengan tidak memilihnya kembali. Itu cara paling masuk akal, tanpa resiko kekerasan, beradab, tanpa resiko sosial yang besar dan tidak mengorbankan persatuan bangsa yang lebih besar.

Saya khawatir demonstran yang ikhlas itu dimanfaatkan oleh politisi kerdil yang merasa tidak bisa mengalahkan lawannya di bilik suara dengan cara yang konstitusional dan beradab. Saya takut demonstrasi itu dimanfaatkan konsultan politik licik yang tahu kleinnya tidak mungkin menang lewat pemilu. Saya juga khawatir keikhlasan para demonstran yang sudah mengorbankan waktu, tenaga serta hartanya untuk berdakwah itu dimanfaatkan partai-partai politik yang selama ini gagal menyediakan alternatif pemimpin yang bermutu untuk secara percaya diri menempati jabatan tertentu.

Pergantian kekuasaan hanya bisa lewat bilik suara, bukan lewat kuat-kuatan pengeras suara. Kita harus belajar dari Thailand. Ketika pasukan Kuning berdemonstrasi berhari-hari dan menuntut rezim berkuasa turun, pasukan Merah akan melakukan hal yang sama pada masa berikutnya. Itu akan menjdi siklus tanpa henti sampai sekelompok pasukan loreng bersenjata membawa tank dan senapan ke depan hidung kita untuk kudeta karena demokrasi dianggap gagal berfungsi.

Hal itulah yang juga membuat saya galau. Saya bukan siap-siapa, tidak punya kepentingan apa-apa. KTP saya Depok. Sama dengan KTP Buni Yani, orang yang terkenal itu. Dan karena itu tidak bisa dipakai memilih dalam hiruk pikuk Pilkada DKI nanti. Saya hanya beruntung bisa duduk ribuan kilometer jauhnya dari negeri yang amat saya cintai dan banggakan, mengambil jarak, menyeimbangkan antara emosi dan nalar sehat untuk menilai apa yang terjadi.

Seperti saya yang tidak bisa tidur nyenyak dihantui oleh ketakutan karena mungkin tak lama lagi warna kulit, nama dan agama saya membuat saya harus angkat kaki dari tanah rantau ini, ada jutaan orang di NKRI yang merasa hanya karena nama, mata dan warna kulitnya tidak mempunyai kesempatan yang sama sebagai warga negara. Tapi saya yakin itu bukan Indonesia yang mau kita bangun. Juga bukan Amerika yang saya tahu. Indonesia impian adalah Indonesia yang nyaman dan setara untuk semua warna kulit, jenis mata, dan model rambut. Indonesia yang menyediakan ruang yang sama bagi semua keyakinan dan pikiran.

Mohon maaf jika anda tidak berkenan dan berbeda pendapat. Percayalah peradaban akan jaya karena kemampuannya memanen kebaikan dari perbedaan bukan dari kepicikannya menyeragamkan semua kata-kata. Semoga kebanggan saya pada NKRI tak lantas rontok karena ulah para politisi kerdil yang takut bertarung secara ksatria. Semoga Indonesia terus jaya sampai 1000 tahun lagi.

Takbiiir…

 
 

Jadilah ‘Bangsa Penjiplak’

Telepon genggam yang baru saya beli 2 bulan lalu selalu mengingatkan saya pada sebuah buku yang dulu saya baca ketika di Melbourne. Buku itu khatam dibaca pada hampir semua halamannya. Buku itu ditulis oleh seorang ahli ekonomi, Erich Reinert berjudul ‘How Rich Countries got Rich and Why Poor Country stay Poor’. Buku itu dibuat untuk kalangan umum, karena itu istilah-istilah ekonomi yang rumit dibahasakan menjadi sangat mudah difahami, termasuk oleh saya yang bukan mahasiswa jurusan ekonomi, juga bukan ekonom. Kenapa telepon genggam itu mengingatkan saya pada buku itu?

HP yang saya pegang buatan Tiongkok. Mereknya, OnePlus, mungkin sebagian besar kawan-kawan tidak ada yang tahu. Istri saya juga membeli sebuah telepon genggam Tiongkok dengan merek yang sama tak populernya, Xiaomi. Tapi memegang telepon genggam Tiongkok sekarang berbeda dengan memegang produk yang sama, katakanlah lima atau sepuluh tahun lalu. Saya masih ingat, ketika baru pulang dari Melbourne dan setiap hari naik kereta komuter, saya sering melihat orang memakai telepon genggam bermerek Huwawei dan saya nyinyir. Mungkin karena saya pegang Iphone, produk Amerika yang harganya selangit dengan kualitas top. Saat itu semua produk Tiongkok dilihat sebelah mata juling (sebelah mata, dan mata yang melihat itu juling pula!). Semacam produk sampah yang tidak berkualitas dan murahan. Tapi itu dulu…

Ya, itu pandangan saya lima-sepuluh tahun lalu. Juga pandangan anda dan mungkin pandangan semua orang dahulu. Sekarang, produk-produk Tiongkok yang semula kacangan, murahan, jiplakan, mulai merajai dunia. Produk mereka kini telah banyak berubah dan berinovasi. Bahkan produk dari negeri Abang Sam dan Korea mulai ketar-ketir.

Itulah yang menginatkan saya pada buku yang saya baca di atas. Buku yang bagus itu bertutur satu hal yang sederhana: hanya dengan cara menjiplak sebuah negara bisa maju. Menjiplak, to imitate, tindakan alamiah belaka. Anak menjiplak cara ibu dan bapaknya makan, minum, bicara dan berprilaku. Para ahli teknik menjiplak cara terbang burung. Sekarang para ilmuan sendang mencari cara menjiplak cara kaki cicak menempel di dinding. Jepang menjiplak mobil Eropa dan menjulanya dengan merek Toyopet, produk toyota pertama yang lantas bangkrut dan tak laku. China menjiplak Iphone, pesawat udara, bahkan menjiplak telor (saya kaget karena Tiongkok juga memproduksi telor palsu!). Mungkin kita nyinyir. Tapi itulah jalan untuk maju. Itu artinya mereka mikir!

Kalau mau maju, sebuah negara harus melalui jalan ini: emulasi/imitasi, inovasi dan kreasi. Jiplak, perbaiki, ciptakan sendiri. Dengan menjiplak sebenarnya seseorang sedang belajar bagaimana membuat sesuatu yang sama. Keberhasilan menjiplak artinya keberhasilan menyamai kemampuan orang yang menciptakan. Dengan berjalannya waktu, ketika kita bisa membuat sebuah jiplakan, kita pasti ingin berinovasi sendiri. Telepon genggam dengan dua kartu adalah inovasi orang Tiongkok yang tidak terpikir sebelumnya oleh Apple. Telepon dengan aplikasi software yang dimodifikasi dari google, semacam Cynogen atau MIUI, mulai ditiru oleh perusahaan lain setelah pabrikan Tiongkok memulai. Meski Tiongkok belum masuk fase ‘menciptakan sendiri’ (ditandai oleh banyaknya patent), Tiongkok berhasil dalam melakukan penyesuaian kemempuan teknologi setelah berhasil menjiplaknya.

Karena itu, saya yakin bangsa Indonesia hanya bisa maju jika kita mau dan berani untuk pertama-tama menjiplak teknologi untuk kemudian menyesauikannya sebelum kita bisa menciptakan sendiri sebuah teknologi baru. Polytron adalah contoh bagus produk Indonesia yang mau melakukan proses ini. Mereka melakukan inovasi dengan mengedepankan kualitas suara. Kenapa kita tidak segera membuat mobil, laptop, motor, dan lain-lain. Produk-produk itu bukan produk super canggih yang tidak bisa dikuasai oleh bangsa ini. Itu produk teknologi yang sudah dipelajari oleh murid SMK. Mungkin kita akan mencibir produk-produk itu ketika dipasarkan. Tapi produk yang dihina akan belajar untuk menguasai dunia seperti produk Tionghoa yang saya pegang ini.

Mari mulai menjiplak!