LA Notes

Manula Tuna Wisma

Buat yang tinggal di Los Angeles atau kota-kota lain di California–atau di Amerika secara umum, menyaksikan orang-orang tuna wisma berkeliaran hampir di setiap sudut kota bukanlah hal aneh. Sampai saking seringnya, perasaan dan hati kita sepertinya sudah kelu. Tak ada lagi iba seperti pertama kali melihat mereka.

Empat tahun lalu, ketika saya baru saja mendarat di Los Angeles dan tinggal di komplek perumahan mahasiswa UCLA sementara di kawasan Westwood, saya kaget luar biasa melihat pra tuna wisma menggelar lapak untuk bermalam, tak lama setelah hari mulai gelap.

Keberadaan mereka sangat berbeda dengan gemerlap dan kemewahaan toko-toko dan bangunan di sekitarnya. Kawasan tempat saya tinggal saat itu termasuk kawasan premium, karena bertetangga dengan kawasan elite Bell Air di Beverly Hills, tempat para pesohor Hollywood tinggal.

Setelah saya pindah ke kawasan pantai di Santa Monica, jumlah tuna wisma ternyata jauh lebih banyak. Pantai itu di Indonesia dahulu terkenal karena menjadi latar film Hollywood, Bay Watch. Para tuna wisma itu berkerumun menempati tempat-tempat di hampir setiap sudut pantai.

Lebih mengagetkan lagi ketika suatu kali saya pergi ke pusat kota Los Angeles. Waktu itu saya belum punya mobil dan harus pergi ke rumah kawan di Riverside. Untuk pergi ke sana saya harus menggunakan bus antar kota. Dan stasiun bus antar kota itu berada di pusat kota Los Angeles. Setelah sekali pindah bus dari Santa Monica, saya melewati satu tempat yang diluar dugaan berada di Los Angeles: Skid Row. Sepanjang beberapa blok, menyempil diantara pongahnya gedung pencakar langit dan kemewaan, tuna wisma menempati tenda-tenda atau kotak karton. Sampah berserakan. Orang berkeliaran menunggu ketidakpastian. Taman dan toilet dipenuhi antrian para tuna wisma.

***

Setelah empat tahun di Los Angeles, saya telah menjumpai beragam macam tuna wisma. Ada yang sudah gila dengan tampilan kotor dan kumal, baju compang-camping, ada pula yang masih rapi dan perlente.

Saya pernah menyakasikan seorang perempuan seusia saya bermetamorforsa dari tampilannya yang rapi sampai kemudian menjadi setengah gila.

Perempuan itu selalu duduk menyeruput kopi sambil membaca di halte tempat saya menunggu bus ke Kampus UCLA, di perempatan Jalan National dengan Sepulveda.

Ketika melihatnya pertama kali, saya tahu perempuan itu baru saja mengalami perubahan drastis dalam hidupnya: menjadi tuna wisma. Di sapingnya teronggok sebuah koper besar. Sepatunya masih bersih. Bajunya masih rapi. Belum ada bau menyengat dari tubuhnya.

Setiap hari, setiap pagi, ia duduk di halte itu, menghitung nasib yang tidak pasti. Suatu saat saya melintasi halte bus itu di malam hari. Ia, perempuan itu, menggelar selimutnya di sana. Dan itulah kenapa setiap pagi saya melihatnya di halte itu.

Hari berlalu, perempuan itu perlahan menjadi abu. Sekarang mulai kucel, tak lagi membaca dan menyeruput kopi, rambutnya mulai kumal. Aku harus menahan nafas jika mendekat karena bau menyengat.

Setelah itu, saya tidak lagi melihatnya. Entah kemana perempuan itu, seperti ditelan bumi.

***

Yang membuat saya ingin menulis catatan sore ini adalah apa yang saya lihat kemarin siang. Tak jauh dari halte tempat saya biasa melihat perempuan tuna wisma yang saya ceritakan tadi menghitung ketidakpastian, berjejer pertokoan. Saya biasa melewati pertokoan itu untuk membeli obat, belaja kebutuhan sehari-hari, atau pergi ke warung kopi. Kemarin saya pergi ke sana untuk membeli makan siang karena istri tidak sempat masak.

Sesaat sebelum saya memasuki restoran Meksiko, El Pollo Loco, seonggok tubuh tergeletak, menyempil dekat mesin peminjaman DVD. Saya sejenak berhenti karena lelaki itu sedikit menghalangi tempat saya jalan ke dalam restoran. Sepatu, baju dan jaketnya masih rapi dan bersih. Di sampingnya teronggok harta kekayaannya: sebuah tas gendong kecil. Saya berlalu seperti biasa, tidak terlalu peduli–hati setiap orang di Los Angeles mungkin sudha kelu!

Ketika keluar dari restoran itu, persis di tempat lelaki itu tergeletak, seorang petuas keamanan sedang berdiri memarahi si Bapak Tua tuna wisma. Ia menyuruhnya pergi. Mungkin karena dianggap mengotori dan mengganggu pertokoan itu.

Dengan sudut mata saya melihat lelaki itu. Hati saya memelas, sedih. Lelaki itu, seorang berkulit putih dengan perawakan sedikit tambun, masih begitu rapi. Janggut dan rambutnya bersih, baju dan sepatunya masih kelimis. Usianya mungkin sekitar 70an. Rambut dan janggutnya memutih.

Ia tak bisa berdiri. Ia hanya bersandar dan meringis, seperti menahan sakit. Ia seperti tidak peduli dengan petugas keamanan yang menyerocos menyuruhnya pergi.

Entah apa yang terjadi dengan bapak tua itu. Mungkin ia baru diusir dari apartemennya karena tidak bisa bayar. Mungkin ia baru kehilangan pekerjaan dan tidak bisa bayar kontrakan.

Tapi apapun yang terjadi, Bapak tua itu harusnya sedang menikmati hari tua, menikmati usia senja. Bermain dengan cucu dan anak-anaknya. Tak seharusnya dia dihukum dengan penderitaan di penghujung usianya. Kenapa dunia tiba-tiba beitu jahat, begitu tidak berharga di hari tuanya? Kemana anak-anaknya? Kemana saudaranya? Kenapa mereka tidak peduli? Lebih jauh: dimana peran negara?

Sekejap saya ingat orang tua di kampung. Lelaki tua itu mungkin sedikit lebih tua dari ayah saya. Ingin rasanya datang menghampiri, sekedar menolongnya berdiri untuk beranjak pergi.

Saya bersyukur bahwa orang tua-orang tua di Indonesia, karena kearifan budaya, selalu ditemani salah seorang anak atau saudaranya. Saya menjadi begitu berterimakasih pada adik perempuan yang mengorbankan diri tinggal di kampung sambil menemani ayah, sementara saudaranya yang lain berkelana.

***

Tentu ada banyak tuna wisma lain yang selalu membuat saya sedih. Dan juga marah. Jika di sebuah negara bagian paling kaya di dunia kita bisa menyaksikan ribuan orang (konon jumlahnya sekitar 500,000 di California saja) tergeletak di sudut jalan, pasti ada yang salah. Ada yang keliaru secara fundamental dari model hubungan antara orang-orang itu dengan dunia sosialnya. Ada yang salah dengan cara dan sistem di mana kekayaan diatur. Ada yang salah secara mendasar terkait bagaimana sumber daya dialokasikan.

Tak seharusnya negara paling kaya di dunia ini menelantarkan warganya seperti ini. Kalau alasannya karena tidak uang, seperti banyak terjadi di negara miskin atau berkembang, mungkin kita bisa maklumi. Tapi sepertinya aneh ini terjadi di negara paling kaya, Amerika, di kota paling kaya, Los Angeles.

Leave a Reply

%d bloggers like this: