Bagaimana menulis dan mempublikasi tulisan di jurnal internasional (2)

BAGIAN II

Pada bagian pertama saya berbagi pengalaman yang relatif umum terutama terkait aspek-aspek sebelum dan ketika tulisan jurnal diproduksi. Pada bagian ini saya mencoba masuk pada hal-hal yang lebih teknis terutama terkait langkah-langkah post-production. Seperti pada bagian pertama, agar lebih mudah dicerna, saya akan susun dengan model pointers. Mungkin ada baiknya saya memulai dengan hal yang tertinggal di bagian pertama dari tulisan saya.

Co-author atau menulis sendiri?

Penulis pemula biasanya tidak percaya diri. Siapalah kita, baru lulus S2 dan anak kemarin sore. Karena minder, ada yang mencoba mencari jalan keluar dengan co-author dengan orang lain yang dianggap lebih senior dan lebih ahli dan otoritatif. Strategi ini bagus dan bisa dijadikan solusi. Selain kita mendapatkan bimbingan dari senior atau orang yang dianggap ahli, kita juga bisa ‘terkatrol’ karena berada dibawah naungan orang yang punya otoritas. Biasanya para mahasiswa PhD banyak menulis berdua dengan pembimbingnya.

Namun, aspek negatif dari strategi ini adalah kita hanya bisa melakukan itu dengan orang yang dekat secara personal dan orang tersebut mempercayai kita. Tidak mungkin kita bisa menulis bersama dengan orang yang tidak mempunyai hubungan dan kepercayaan. Artinya kita relatif lebih tergantung pada orang lain. Senior atau pembimbing kita tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya begitu saja kalau dia tidak percaya pada kemampuan kita. Persoalan kedua:  strategi ini secara teknis tidak mudah karena menyatukan dua gaya dan taste berbeda dalam satu tulisan itu sulit. Banyak kasus dalam model menulis bersama ini sebenarnya yang mengerjakan dari awal hanyalah satu orang. Orang lain bertindak sebagai pengawas, editor, atau memberikan masukan setelah banguan utamanya relatif terbangun.

Dalam kasus saya, karena saya tidak mempunyai senior yang relatif dekat dan bidang keahliannya sama yang mempercayai saya, saya memilih jalur nekat menulis sendiri. Modalnya percaya diri. Dan tentu saja kita akan mengalamai penolakan. Nanti saya akan singgung strategi menghadapi penolakan editor ini dibagian lain. Tapi pointnya di sini adalah baik menulis sendiri maupun menulis bersama orang lain sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan.

Fokus dulu pada isi

Seorang dosen di Indonesia baru-baru ini secara intensif berkomunikasi dengan saya dan berdiskusi jarak jauh terkait rencananya menerbitkan di jurnal internasional. Tulisannya sekarang siap diterbitkan. Salah satu persoalan yang dari awal mengganggu dia adalah hal-hal teknis dalam penulisan. Ketika anda mentarget satu jurnal tertentu, katakanlah jurnal hukum internasional, sebagaimana saya sampaikan di bagian pertama, anda memang harus mengetahui standar model penulisan jurnal tersebut: model rujukan yang digunakan (apakan catatan kaki, atau rujukan dalam kalimat atau body note), style pengutipan apakah memakai APA, Chichago, Blue Book dan lain-lain.
Saran saya kepadanya adalah: untuk tahap awal, jangan terlampau risau dengan hal-hal teknis itu. Untuk sementara waktu, pakai saja model rujukan apa saja sehingga energi kita lebih fokus pada pengerjaan isi tulisan (content). Model rujukan bisa dengan mudah diperbaiki diakhir proses. Dalam banyak kasus ketika saya mengirimkan tulisan saya memakai model rujukan yang tidak standard. Editor toh menerimanya dan ketika mereka menganggap layak, saya diminta untuk merubah model rujukan sesuai standar mereka. Tentu sebaiknya ketika kita mengirimkan tulisan kita sudah menyesuaikannya dengan standar mereka.

Meminta masukan kawan/pembimbing

Ketika tulisan sudah hampir matang dan kita sudah beberapa kali mengeditnya, saran saya selanjutnya adalah mintalah kawan atau senior membacanya. Syukur kalau ada orang yang dianggap ahli mau melihat dan memberikan masukan pada tulisan kita. Ini sepertinya mudah, tapi dalam praktinya lumayan sulit. Sedikit sekali kawan yang mau membaca 20-30 halaman tulisan kita. Mereka punya kesibukan sendiri. Juga belum tentu mereka mengetahui bidang yang kita tulis. Untuk keluar dari persoalan ini, para mahasiswa PhD tahu solusinya: ikut seminar atau conferene. Lebih bagus lagi jika ikut conference pada asosiasi sarjana bidang kita. Misalnya jika kita studi agama di Amerika, idealnya kita mengirimkan paper kita yang hampir matang itu ke acara pertemuan tahunan The American Academy of Religion (AAR) Minggu lalu di kampus saya di UCLA digelar pertemuan tengah tahun American Society of International Law (ASIL) Kenapa pertemuan seperti ini penting? Jika artikel kita dikirim pada asosiasi untuk sebuah acara, hampir dipastikan setidaknya seorang penanggap (discussant) yang biasanya ahli dibidangnya akan membaca dan memberikan masukan pada paper yang kita kirim. Ketika seminar juga kita bisa test the water sejauh mana tulisan kita ditanggapi hadirin.

Jika anda sedang menempuh kuliah S2, waktu tersebut adalah waktu berharga untuk mendapatkan masukan dari dosen kita. Jika mungkin tugas akhir diganti dengan menulis paper akademik, ambillah pilihan itu. Kenapa? Karena setidaknya dosen anda akan membaca dan memberikan input pada paper yang anda serahkan untuk penilaian. Ketika saya di Melbourna Law School, semua mahasiswa internasional disarankan mengganti ujian akhir (seating exam) dengan menulis paper. Jika dalam ujian akhir seorang mahasiswa harus menjawab 3 soal dalam waktu dua jam dengan panjang jawaban sekitar 5000 kata, untuk menulis makalah saya diberi waktu dua bulan dengan panjang tulisan 10,000 kata. Pengalaman di Melbourne dulu adalah tonggak penting untuk saya. Lima dari delapan tulisan jurnal saya itu adalah makalah untuk pengganti ujian yang saya submit ke Melbourne Law School. Tiga lainnya adalah makalah untuk kelas di UCLA Law School. Menariknya, pihak kampus mewajibkan pada profesor untuk bukan hanya memberikan nilai tapi juga memberikan komentar dan saran untuk perbaikan. Makalah-makalah penuh coretan prosefor pembimbing ketika di Melbourne masih rapih saya simpan di rumah di Pamulang!

Memilih jurnal tujuan

Ketika tulisan sudah lebih matang karena sudah mendapatkan masukan baik dari kawan maupun dari pembimbing, saatnya kita mencari jurnal apa tujuan kita. Dalam kasus saya, untuk mencari beberapa kandidat itu saya melihat-lihat kembali rujukan yang saya gunakan ketika menulis. Lihat di mana saja artikel-artikel itu diterbitkan. Hampir pasti kurang lebih ke jurnal-jurnal itu pula tujuan kita. Selajutnya, setelah kita melihat-lihat jurnal penerbit tulisan-tulisan yang menjadi rujukan kita, kita perlu meluangkan waktu untuk mencari tahu ‘kelas-kelas’ jurnsl tersebut. Ibarat memilih kampus saat hendak kuliah dulu, kita harus memiliki setidaknya 3 pilihan dari tiga kelas jurnal berbeda (katakanlah kelas 1,2 dan 3).

Pastikan juga tulisan kita ada dalam ruang lingkup jurnal yang kita tuju. Ketika saya menyelesaikan tulisan pertama saya tahun 2011 di Leiden (tulisan itu adalah tulisan makalah kelas yang saya edit kembali) tentang Hukum Adat dan hukum Internasional, saya megirimkannya ke Australian Journal of International Law. Alasan saya memilih AJIL karena waktu itu saya ingin mengetest apa respons dari jurnal yang saya kira kita bisa masukan dalam kelompok kelas 1, setidaknya di Asia dan Australia. Tak lebih satu bulan saya mendapatkan jawaban: tulisan anda sangat menarik namun sepertinya lebih cocok diterbitkan di journal lain. AJIL dan sejenisnya memang tergolong jurnal yang ‘hukum banget’. Sementara tulisan saya memakai pendekatan budaya dan sejarah. Jadi tema, gaya dan pendekatan yang kita pakai dalam tulisan harus setidaknya beririsan dengan cakupan jurnal tersebut.

Jangan ngeper jika ditolak editor! Ditolak itu biasa. Semua penulis pernah mengalami ditolak editor. Jika ditolak, bukan berarti tulisan kita jelek. Bisa jadi ada aspek lain seperti tadi saya sebutkan. Ketika saya belajar menulis saat mahasiswa, saya ditolak mungkin hampir sepuluh kali oleh Kompas. Tapi karena terus mencoba, akhirnya saya bisa menembus Jawa Pos, Republika, Tempo dan Kompas sebelum kuliah S1 saya selesai. Untuk jurnal pertama saya, saya ditolak dua kali oleh dua jurnal berbeda sebelum akhirnya berlabuh di Journal of East Asia and International Law. Saat itu JEAIL adalah jurnal yang baru namun berada dibawah lembaga kredible dan sudah diindex scopus. Cukup lumayan untuk tulisan debutan.

Sekedar informasi, jika anda dalam bidang hukum dan mau mencoba menerbitkan tulisan anda di jurnal-jurnal hukum di Amerika, anda bisa mencoba Scolastica dan ExpressO. Dua jasa berbayar ini (murah hanya 10 dolar), adalah platform broker yang akan membantu anda mengirimkan tulisan pada jurnal-jurnal hukum. Iya membatu menjadikan tulisan kita sebagai umpan agar ada ikan jurnal yang mau ‘nyaplok’ tulisan kita

Editor Bahasa

Meskipun bahasa Inggris saya lumayan bagus, tetap saja untuk hampir semua tulisan saya ditahap akhir saya meminta bantuan editor bahasa. Mereka sangat membantu karena tulisan kita dipoles dan diperhalus sehingga lebih ‘nginggris’. Sebaiknya kita mempunyai kenalan editor yang pernah dipakai jasanya oleh kawan. Jika tidak atau belum menemukan, anda bisa mencari editor bahasa di situs dan aplikasai Fiverr.com. Aplikasi dan situs ini menghimpun pekerja lepas dari seluruh dunia dari semua bidang, dari desain grafis sampai editor bahasa. Anda bisa memilih berdasarkan harga, kecepatan layanan dan jenis layanan. Sebelum memilih lihat dulu review orang dan tanyakan berapa harganya lewat email di aplikasi tersebut.

Saya pernah dibantu seorang kawan Amerika untuk mengedit tulisan di Brill tentang Krisis Pegungsi Rohingya dan sisanya menggunakan jasa editor profesional yang direkomendasikan kawan (dia mahasiswa PhD yang bekerja paruh waktu mengedit tulisan). Untuk ini kita harus menyisihkan anggaran lumayan. Di Indonesia banyak juga expat atau pekerja magang di kampus-kampus yang biasa mengerjakan jasa editing. Harganya bervariasi dari 1-3 juta rupiah.

Scopus atau tidak, Q1 atau Q4?

Ini juga pertanyaan umum. Scopus sudah menjadi setan gudul yang menghantui banyak dosen dan sarjana di Indonesia. Scopus adalah jabatan, gaji dan pangkat. Banyak yang mendadak ngejar-ngejar Scopus agar bisa jadi guru besar, agar bisa jadi rektor dan lain sebagainya. Tapi harap dicatat, kondisi ini diketahui betul oleh para scammer atau penipu dunia digital. Modus operandinya biasanya begini: mereka membuat website yang dari tampilannnya bisa dilihat mereka abal-abal. Misalnya lihat tautan Academia Publishing ini. Tidak berarti mereka abal-abal sepenuhnya. Mereka memang memiliki penerbitan dan kadang-kadang didaftarkan pada scopus. Ingat Scopus hanyalah mesin pengindex. Namun yang jadi soal adalah proses penerbitan itu tidak melalui tahapan objektif review dan tidak berada dibawah naungan lembaga yang kredible. Setelah itu untuk bisa terbit biasanya dimintai uang. Tentu tidak semua journal yang meminta uang berarti abal-abal. Ada beberapa journal top yang juga memungut biaya. Sekarang bahkan penerbit seperti Routledge atau Brill memiliki opsi open source dimana penulis membayar kepada penerbit tetapi nanti penulis mempunyai hak mendistribusikan tulisan yang diterbitkannya kepada siapa saja, tidak melalui subscription. Sebagai acuan, hindarilah predatory journal yang berada dalam list Beall berikut ini. Jika jurnal tujuan anda berada dalam list itu, berhati-hatilah.

Sebaiknya tulisan anda masuk di jurnal terindeks Scopus atau SSCI. Tapi jangan jadikan keduanya dewa! Bisa terbit di sebuah jurnal selama jurnal tersebut kredibel, direview dengan benar, untuk pemula tidak ada salahnya. Anda sedang membangun sebuah portofolio. Juga jangan terlalu hirau dengan Q1, Q2, Q3 dan Q4 pada rangking Scopus. Peringkat itu juga banyak dikritik dan tidak sepenuhnya benar. Misalnya, jurnal sekelas Studia Islamica pernah drop di Q4 sementara jurnal lain yang lebih baru rangkingnya lebih baik. Journal Indonesia di Cornell bahkan saya tidak menemukannya di list Scopus. Ali-alih melihat rangking lebih baik lihat rekam jejak jurnal dan penerbitnya. Jika jurnal itu diterbitkan penerbit sekelas Routledge, Brill dan sejenisnya, hampir dipastikan jurnal itu kredibel dan baik.

Blind review tidak benar-benar blind!

Meski memang secara teoritis semua jurnal kredibel menerapkan model peninjauan atau riview tanpa identitas (blind review) bagi setiap paper atau artikel yang masuk, dalam dunia nyata praktiknya tidak demikian. Setiap tulisan jurnal yang masuk akan melalui tahapan dimana tulisan kita diterima oleh editor internal/editor inti. Ketika mereka menerima tulisan anda, selain membaca secara objektif tulisan anda, mereka akan juga mencari tahu dan mengintip profil anda. Disitulah kenapa rekam jejak penting. Jika anda pernah dimuat di jurnal sebelumnya, langkah berikutnya lebih mudah. Jika editor merasa tulisan anda layak, atau setidaknya pantas meskipun tidak terlalu bagus, mereka akan meneruskannya pada reviewer (peninjau) yang biasanya dipilih dari pihak luar. Dalam tahapan ini biasanya memang peninjau tidak akan mengetaui identitas penulis paper yang sedang direviewnya. Tapi untuk sampai pada tangan reviewer ini anda harus melalui tangan editor yang bisa mengintip anda! Dan biasanya, kalau sudah diberikan ke peninjau, kemungkinan tulisan kita dimuat lebih besar. Persoalannya hanya seberapa banyak dan seberapa lama proses editing yang diminta reviewer. Editor biasanya akan mengirim tulisan kita pada 3 orang reviewer. Kalau dua diantara mereka menyatakan layak, editor hampir dipastikan akan mengatakn pada kita bahwa tulisan kita layak dimuat dengan sejumlah catatan untuk diperbaiki.

Proses pengerjaan editing ini bisa berjalan alot dan lama. Ada banyak kasus yang memakan waktu satu dua tahun. Saran saya, jika sudah diterima dan reviewer meminta kita mengedit tulisan kita, sebisa mungkin kita kerjakan secepatnya permintaan mereka. Jurnal ini terbit hanya satu sampai tiga kali setahun. Jika kita tidak memenugi tengat waktu, mungkin kita harus menunggu lagi term berikutnya untuk bisa terbit. Editor dan reviewer belum tentu ahli betul dalam bidang anda. Jika anda cukup percaya diri, tidak pelu takut untuk berargumen pada reviewer atau editor untuk mempertahankan satu gagasan dalam tulisan kita. Itu yang saya lakukan.

Jurnal butuh penulis

Persoalan terbesar buat para pengelola jurnal adalah, salah satunya, kekurangan tulisan! Mereka kelimpungan mencari siapa yang mau menulis di jurnalnya. Jika jurnalnya sudah bagus dan kredible, memang ceritanya berbeda karena yang mengirimkan artikel juga banyak. Namun anda pasti akan selalu menemukan lebih dari setidaknya 5 jurnal di bidang anda. Strategi menyerbu dan pinggiran bisa diterapkan di sini. Ingat tadi saya sudah menyampakikan bahwa menerbitkan di jurnal regional atau jurnal kelas 2 dan 3 bukan hal jelek. Hidup itu bertahap. Target saya bisa dimuat di Harvard Law Review atau di American Journal of International Law. Tapi tujuan itu harus dilalui secara bertahap. Karena itu, kirimkanlah tulisan kita pada jurnal yang kredibel tapi tidak terlalu kompetitif sebagai bagian dari proses menaklukan dan mencapai tujuan besar kita. Jurnal-jurnal itu mencari penulis.

Semoga sharing saya ini bermanfaat dan selamat mencoba!

Salam dari Los Angeles!

Bagaiman menulis dan mempublikasi tulisan di jurnal internasional.

BAGIAN I

Akhir-akhir ini saya sering diminta saran bagaimana bisa menulis dan mempublikasi sebuah tulisan di jurnal, baik nasional maupun internasional. Saya juga sebenarnya masih belajar. Saya baru bisa menerbitkan 5 tulisan di jurnal internasional (semua terindex Scopus dan SSCI), 1 tulisan di Indonesia (Indonesian Journal of Constitutional Review, terbitan MK), 1 tulisan di jurnal Korean Red Cross dan satu lagi di sebuah jurnal baru di New Zealand. Jadi total baru 8 jurnal dalam kurun waktu 7 tahun, dari 2011 sampai 2018. List lengkap tulisan saya bisa dilihat di tautan ini. Ada satu novel dan satu edited volume buku yang juga terbit dalam kurun waktu itu. Dengan berbekal pengalaman itu saya punya modal minimal untuk berbagi pengalaman dalam urusan ini.

Saya yakin kawan-kawan sudah mengetahui tips dan trik, atau saran bagaimana menulis. Jadi anggap saja ini tambahan dari apa yang sudah anda ketahui. Agar mudah, saya akan menyusunnya dengan model pointers.

Menulis adalah kebiasaan

Menulis adalah proses bertahap yang terbentuk dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada satu orang penulispun yang menulis dan menerbitkan karyanya dalam waktu seketika. Saya mulai menulis sejak SMP. Dulu menulis di buku harian dengan tema apa saja. Banyaknya cerita tentang cinta monyet dan rasa cemburu. Kebiasaan itu sampai sekarang tidak berubah. Hanya mediumnya saja yang berbeda: dulu buku harian, sekarang menulis di blog seperti apa yang sekarang anda baca ini. Menulis jurnal internasional yang rata-rata panjanganya 8000-12000 kata, adalah tulisan panjang yang harus dikerjakan minimal satu atau dua bulan (setidaknya dalam pengalaman saya). Tanpa kemampuan dasar menulis yang dibangun dari kebiasaan, sangat sulit rasanya memulai  menulis jurnal. Jadi, jika ingin menulis di jurnal, biasakanlah menulis mulai sekarang juga. Menulis tentu saja bisa banyak manifestasinya: menulis proposal, tugas kantor, laporan penelitian, catatan harian dan lain-lain. Semua itu mempunyai sumbangsih bagi kemampuan kita mengekspresikan fikiran dengan baik, stylist, dan tersetruktur.

Menulis yang baru atau menulis yang kita tahu?

Idealnya kita menulis sesuatu yang kita ketahui dengan baik dan kita ahli dibidangnya serta pada saat yang bersamaan bidang itu baru dan belum banyak ditulis orang. Jika kondisi ideal itu terpenuhi, maka pertanyaan ini menjadi tidak penting lagi. Tapi pada banyak kesempatan kita merasa ahli sekali dibidang kita, tetapi sepetinya hampir tidak ada yang baru yang kita bisa tuliskan. Semua sudah ditulis orang! Itu perasaan normal orang yang bergelut dibidang tulis menulis. Kita bingung mau menulis apa lagi. Solusi untuk persoalan itu sebagian akan saya sampaikan di point selanjutnya, tapi cukup di sini saya sampaikan satu hal penting: menempuh dan membuka jalan baru lebih sulit, tapi pada saat yang sama kesempatannya lebih besar. Ketika saya menulis perbudakaan modern dan perdagangan manusia dalam industri perikanan di Asia Tenggaara, terutama di Thailand, saya memulainya dari nol. Itu sepenuhnya bidang baru untuk saya. Saat memulai prokey penulisan itu, saya meniatkan untuk mendorong diri saya jauh ke luar batas zona nyaman. Bahan-bahan di bidang ini belum banyak. Sebagian hanya laporan NGO dan berita. Sedikit sekali, atau hampir tidak ada artikel junal tentang temap khusus ini. Tapi ketika tulisan itu selesai dan saya kirimkan ke dua jurnal, semuanya menerima tulisan saya. Bahkan saya menarik tulisan karena permintaan Asian Journal of International Law, jurnal yang cukup bergengsi, untuk memotong lebih setengahnya tulisan yang saya kirimkan sayan anggap terlalu berlebihan. Saya lebih memilih menerbitkannya di junal lain meski gengisnya dibawah jurnal itu, tetapi mau mengakomodai utuh tulisan saya. Ketika saya menulis tentang Madraisme dan Agama Jawa Sunda tahun 2014, hampir tidak ada tulisan itu dalam jurnal internasional. Artinya kesempatan menerbitkan sesuatu yang relatif baru lebih terbuka meski prosesnya lebih sulit (risetnya lebih berat dan harus lebih bersabar serta jeli).

Apa itu orisinalitas?

Kita selalu dibilang agar menulis secara orisinil. Tentu saja pernyataan itu benar adanya. Tapi kita kadang tidak tahu harus bagaimana menjadi orisinil. Bukankah hampir semua yang kita ketahui sudah ditulis orang? Lalu dimana kita bisa mengambil kesempatan manggung? Dalam pengalaman saya, orisinalitas saya maknai semata sebagai koherensi. Artinya, selama kita menyodorkan sebuah argumen dan argumen itu kita pertahankan secara koheren dengan dukungan data dan informasi, maka kriteria orisinalitas itu sudah terpenuhi. Orisinal itu bisa juga dimaknai dengan menyodorkan sebuah fakta dan temuan baru, atau bisa juga membaca ulang, mem-frame ulang dan melihat data lama dari sudut pandang baru. Tulisan terbaru saya tentang Budaya, Feminisme Islam dan Tuntutan Perubahan Hukum di Indonesia adalah upaya saya melihat data lama dalam cara pandang baru. Saya melihat UU Pernikahan 1/1974 dan Counter Legal Draft dalam bingkai gerakan sosial dan teori perubahan hukum. Dan tulisan itu mejadi tulisan lead (halaman pertama) untuk edisi terbaru Asian Journal of Women’s Studies.

Jangan takut beragumen

Kelemahan orang Indonesia itu biasanya takut beragumen. Kalau kita menulis dan tidak mempunyai argumen (semata kutip sana dan kutip sini), berat sekali kemungkinan tulisan kita dimuat di jurnal. Jadi, jangan takut berargumen meski konyol sekalipun. Semakin ‘konyol’ sebuah argumen, semakin menarik bagi editor, asal kekonyolan itu didukung oleh argumen dan data.

Jangan takut menulis personal

Ketika belajar menulis ilmiyah saat S1 di kampus UIN Ciputat dulu, saya selalu dibilang agar menghindari menulis secara personal. Bahkan, kata ‘saya’, atau ‘I’ disuruh diganti dengan kata ‘Penulis’ atau ‘the author’. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang dalam bidang tulis-menulis, saya  mempunyai pengalaman sebaliknya: menulis justru harus melibatkan aspek subjektivitas pengarang. Pengarang harus bergulat dengan tulisan dan argumen yang dibangunnya dan tidak perlu terlampau jauh mengambil jarak. Jangan takut memakai kata ‘I’ (saya) dalam mengekspresikan argumen kita. Biasanya dengan lebih personal, tulisan kita bisa lebih kaya, subur dan mengalir, tidak kering-kerontang. Karena itu, penulis jurnal yang baik harus banyak membaca novel atau karya fiksi untuk membantu menghaluskan dan menghidupkan tulisan. Tapi, ada satu catatan kecil: too personal juga tidak baik. Ada porsi cerita yang sangat menarik di tulisan terbaru saya tentang kisah ibu saya yang bekerja sebagai penjahit yang mencari nafkah agar anak-anaknya bisa sekolah. Setelah tarik-menarik dan diskusi dengan editor, akhirnya porsi cerita itu dipotong karena dianggap terlampau personal. Jadi, tulisan personal itu baik, tapi jangan too personal

Mulai dengan sketsa pikiran

Ketika merumuskan apa yang akan saya tuliskan, saya selalu memulainya dengan sketsa pikiran atau peta pikiran. Untuk itu saya banyak dibantu oleh aplikasi-aplikasi yang banyak tersedia, baik berbayar maupun gratis. Gunakanlah alat bantu itu untuk menurunkan semua isi pikiran ke dalam medium ini agar nanti kita bisa tindak lanjuti. Jika mempunyai satu dua kalimat bagus yang tiba-tiba terpikirakan untuk sebuah ekspresi, langsung tulisakan juga di medium itu atau medium lain. Mind mapping ini menjadi kompas dan alat navigasi agar tulisan kita bisa lebih tersturktur. Bagusnya, aplikasi yang banyak tersedia bisa dengan mudah memodifikasi ide-ide kita sesuai perkembangan riset. Jadi, pakai mind mapping tools untuk memformulasikan tulisan kita.

Hindari plagiarisme

Hindari plagiarisme! Ini penting karena disamping secara etik hal ini tidak diperkenankan, secara teknis plagiarisme biasanya akan terdeteksi oleh editor, terutama jika jurnal yang kita target adalah jurnal kredibel. Lain soal jika jurnal itu ‘abal-abal’. Caranya bagaimana menghindari palgiarisme? Pengalaman saya begini: ketika membaca dan riset untuk kepentingan tulisan itu, kita harus biasakan membaut catatan. Buatlah judul tulisan dan pengarang serta penerbit di dalam setiap judul catatan kita. Lantas, pada setiap point-point penting yang kita catatkan, jangan sekali-kali menyalin utuh (copy and paste) tulisan pengarang dalam catatan kita. Sepertinya mudah mengcopy-paste informasi penting dari tulisan pengarang dalam PDF ke dalam note kita. Tapi ini bisa berbahaya jika ketika kita menulis kita menyalin kembali catatan kita ke dalam artikel. Sejak awal kita harus memparafrasa kata-kata. Atau, kalau mau aman dan bahasa Inggris anda sudah bagus, ketika membuat catatan dari tulisan berbahasa Inggris, tuliskan saja ide-ide dan catatan kita dalam bahasa Indonesia. Sehingga ketika nanti menulis dan kita mencontek catatan kita, kita hanya mencontek ide, bukan ide dan ekspresi pengarang yang kita rujuk. Tentu jangan lupa mencantumkan setiap rujukan dalam tulisan kita.

Saya akan lanjutkan tips di tulisan berikutnya. (bersambung….)

Salam dari Los Angeles!

Mungkin ada baiknya saya tautkan video panjang diskusi saya dengan kawan-kawan

Dorong dirimu ke ujung batas!

“Dorong dirimu ke ujung batas kemampuanmu”. Kita sering mendengar kata-kata itu dari para motivator di televisi. Dorong diri kita ke ujung batas kemampuan kalau kita mau maju, tumbuh dan berkembang. Tapi pernahkah kita mencobanya?

Saya selalu tidak tahu apakah saya sudah cukup jauh mendorong diri saya. Juga saya tidak terlalu mengerti dimana batas-batas kemampuan diri saya. Kenapa? Sederhana saja: ketika kita mendorong diri kita ke wilayah baru dan asing, kita sebenarnya sedang memindahkan batas kita lebih jauh. Semakin dikejar batas diri kita, semakin pula ia lari menjauh. Batas kemampuan manusia tidaklah baku dan beku. Dia selalu pindah seiring keinginan kita mencarinya dan mendorongnya.

Tahun 2009 ketika di Melbourne saya merasa menyesal mengambil satu mata kuliah yang untuk ukuran saya saat itu terlampau asing. Sekilas dari judul mata kuliahnya bagus sekali: Justice and the world Resources. Mata kuliah ini menjanjikan mahasiswa belajar teori keadilan Rawlsian untuk mendiskusikan sumber daya yang tersedia di bumi ini. Sangat menarik! Apalagi ketika di Ciputat saya sempat mati-matian memahami teori keadilan John Rawls yang rumit itu.

Kelas intensif itu lantas berjalan. Dan kesulitan mulai menghinggapi saya bahkan sejak hari kedua. Apa yang dibayangkan tidak terbukti. Ini bukan kelas teori hukum dan keadilan. Kelas yang saya ambil adalah kelas yang lebih fokus pada perdebatan kebijakan dan praktik hukum bagaimana sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh satu wilayah negara tertentu dikelola bersama.

Siapa yang berhak mengelola dan mengambil manfaat mineral di dasar lautan lepas? Siapa yang berhak mengelola dan memiliki sumber daya alam di kutub? Bagaimana jika bulan mengandung mineral berharga? Hak siapa itu? Konyolnya, saya juga belajar tentang bagaimana orbit harus di atur dan bagaimana ikan salmon dan tuna di lautan dimanfaatkan, atau aliran sungai dikelola. Konyol karena saya merasa wilayah itu ‘di luar batas’ saya yang hanya lulusan perbandingan Madzhab di UIN Ciputat yang sehari-hari sibuk dengan hukum akhirat. “Alamak”, pikir saya waktu itu, “pindah dari hukum jinayah dan muamalah ke hukum ikan salmon dan hukum pengelolaan ruang angkasa terlalu jauh buat saya!”

Meski saya mendapatkan nilai yang tidak terlalu bagus, setelah mengikuti kelas itu saya merasa menemukan hal baru. Saya jadi tahu bahwa pernah ada kasus orang yang mengajukan klaim kepemilikan mata hari. Saya jadi tahu bagaimana penerapan konsep Terra nullius (tanah tak bertuan) yang dipakai dalih penjajahan oleh orang Eropa untuk mengklaim tanah Australia, Amerika dan tanah lain diterapkan dalam perdebatan wilayah teritorial di luar zona eksklusif negara. Orang yang mengaku memiliki matahari juga berdalih dengan konsep itu: bahwa siapa yang pertama kali mengaklaimnya dialah yang memilikinya. Saya jadi tahu bahwa ikan salmon itu bertelur di air tawar tapi berjalan-jalan jauh di lautan lepas melewati batasan negara-negara. Agar adil, maka negara-negara tempat ikan itu bertelur dan bermain membuat kesepakatan internasional tentang jumlah salmon yang boleh di buru negara pihak setiap tahun. Hal serupa juga berlaku bagi ikan lain seperti tuna. Saya jadi tahu bagaimana aliran sungai Nil di Afrika di atur agar negara yang berada di hulu tidak serakah dengan membendung habis dan menyisakan sedikit air ke negara hilir.

Tahun lalu, delapan tahun setelah saya merasa ‘kecele’ oleh mata kuliah hukum ikan salmon itu, saya melangkah lagi jauh ke wilayah asing. Saya mengambil mata kuliah yang menarik sekali: perbudakan modern dan berdagangan manusia (modern day slavey and human trafficking). Saya juga mengambil mata kuliah Political asylum. Yang kedua ini mungkin tidak terlampau lian karena masih bagian ranting hukum hak asasi manusia.

Yang menarik, berbeda dengan ketika saya setengah hati mengambil mata kuliah ‘hukum ikan salmon’ delapan tahun silam di Melbourne, kali ini di UCLA saya mengikuti mata kuliah itu dengan penuh minat dan perhatian. Saya juga menulis makalah panjang sebagai tugas akhir. Yang mengagetkan, kedua makalah itu mendapat nilai A. Ya, A!

Lebih dari itu, kedua makalah itu sudah hampir pasti terbit di dua jurnal internasional. Makalah saya berjudul Modern Day Slavery at Sea: Fishing Industry and Human Trafficking in SE Asia Akan terbit awal Juni ini di Journal of East Asia and International Law 11 (1) 2018. Makalah yang lain, The Rohingya Refugee Crisis and Human Rights: What Should ASEAN Do? Insya Allah akan muncul di Asia-Pacific Journal on Human Rights and the Law 19 (1) 2018 terbitan Brill akhir Juni. Keduanya jurnal yang bagus di tingkat Asia. Tentu buat scopusian saya bisa dengan mudah mengatakan bahwa kedua jurnal itu pasti diindex scopus. Pada saat terbit nanti akan saya share pada yang berminat membacanya.

Kedua makalah itu kejutan buat diri saya sendiri. Ketika saya mengirim ke jurnal yang saya sebutkan tadi, mereka langsung ‘menyambarnya’. Saya nyaris tak perlu melakukan revisi sama sekali. Saya hanya harus menyerahkannya pada editor bahasa. Kedua topik itu sama sekali tidak terkait dengan bidang riset disertasi saya. Kedua makalah itu hanya semacam minat sampingan. Kedua makalah itu menjadi penyemangat. Ketika minat sampingan saja bisa diterbitkan di jurnal bagus, mestinya minat utama saya bisa lebih dari itu nantinya.

Kedua jurnal yang dalam seminggu ini terbit itu bukti bahwa mungkin batas yang lian dalam diri saya telah berlari menjauh. Saya perlu lagi mendorongnya dan mengejarnya ke ujung yang tak ada ujung.

Los Angeles 12 Ramadhan 1439 (27 May 2018).