Dorong dirimu ke ujung batas!

“Dorong dirimu ke ujung batas kemampuanmu”. Kita sering mendengar kata-kata itu dari para motivator di televisi. Dorong diri kita ke ujung batas kemampuan kalau kita mau maju, tumbuh dan berkembang. Tapi pernahkah kita mencobanya?

Saya selalu tidak tahu apakah saya sudah cukup jauh mendorong diri saya. Juga saya tidak terlalu mengerti dimana batas-batas kemampuan diri saya. Kenapa? Sederhana saja: ketika kita mendorong diri kita ke wilayah baru dan asing, kita sebenarnya sedang memindahkan batas kita lebih jauh. Semakin dikejar batas diri kita, semakin pula ia lari menjauh. Batas kemampuan manusia tidaklah baku dan beku. Dia selalu pindah seiring keinginan kita mencarinya dan mendorongnya.

Tahun 2009 ketika di Melbourne saya merasa menyesal mengambil satu mata kuliah yang untuk ukuran saya saat itu terlampau asing. Sekilas dari judul mata kuliahnya bagus sekali: Justice and the world Resources. Mata kuliah ini menjanjikan mahasiswa belajar teori keadilan Rawlsian untuk mendiskusikan sumber daya yang tersedia di bumi ini. Sangat menarik! Apalagi ketika di Ciputat saya sempat mati-matian memahami teori keadilan John Rawls yang rumit itu.

Kelas intensif itu lantas berjalan. Dan kesulitan mulai menghinggapi saya bahkan sejak hari kedua. Apa yang dibayangkan tidak terbukti. Ini bukan kelas teori hukum dan keadilan. Kelas yang saya ambil adalah kelas yang lebih fokus pada perdebatan kebijakan dan praktik hukum bagaimana sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh satu wilayah negara tertentu dikelola bersama.

Siapa yang berhak mengelola dan mengambil manfaat mineral di dasar lautan lepas? Siapa yang berhak mengelola dan memiliki sumber daya alam di kutub? Bagaimana jika bulan mengandung mineral berharga? Hak siapa itu? Konyolnya, saya juga belajar tentang bagaimana orbit harus di atur dan bagaimana ikan salmon dan tuna di lautan dimanfaatkan, atau aliran sungai dikelola. Konyol karena saya merasa wilayah itu ‘di luar batas’ saya yang hanya lulusan perbandingan Madzhab di UIN Ciputat yang sehari-hari sibuk dengan hukum akhirat. “Alamak”, pikir saya waktu itu, “pindah dari hukum jinayah dan muamalah ke hukum ikan salmon dan hukum pengelolaan ruang angkasa terlalu jauh buat saya!”

Meski saya mendapatkan nilai yang tidak terlalu bagus, setelah mengikuti kelas itu saya merasa menemukan hal baru. Saya jadi tahu bahwa pernah ada kasus orang yang mengajukan klaim kepemilikan mata hari. Saya jadi tahu bagaimana penerapan konsep Terra nullius (tanah tak bertuan) yang dipakai dalih penjajahan oleh orang Eropa untuk mengklaim tanah Australia, Amerika dan tanah lain diterapkan dalam perdebatan wilayah teritorial di luar zona eksklusif negara. Orang yang mengaku memiliki matahari juga berdalih dengan konsep itu: bahwa siapa yang pertama kali mengaklaimnya dialah yang memilikinya. Saya jadi tahu bahwa ikan salmon itu bertelur di air tawar tapi berjalan-jalan jauh di lautan lepas melewati batasan negara-negara. Agar adil, maka negara-negara tempat ikan itu bertelur dan bermain membuat kesepakatan internasional tentang jumlah salmon yang boleh di buru negara pihak setiap tahun. Hal serupa juga berlaku bagi ikan lain seperti tuna. Saya jadi tahu bagaimana aliran sungai Nil di Afrika di atur agar negara yang berada di hulu tidak serakah dengan membendung habis dan menyisakan sedikit air ke negara hilir.

Tahun lalu, delapan tahun setelah saya merasa ‘kecele’ oleh mata kuliah hukum ikan salmon itu, saya melangkah lagi jauh ke wilayah asing. Saya mengambil mata kuliah yang menarik sekali: perbudakan modern dan berdagangan manusia (modern day slavey and human trafficking). Saya juga mengambil mata kuliah Political asylum. Yang kedua ini mungkin tidak terlampau lian karena masih bagian ranting hukum hak asasi manusia.

Yang menarik, berbeda dengan ketika saya setengah hati mengambil mata kuliah ‘hukum ikan salmon’ delapan tahun silam di Melbourne, kali ini di UCLA saya mengikuti mata kuliah itu dengan penuh minat dan perhatian. Saya juga menulis makalah panjang sebagai tugas akhir. Yang mengagetkan, kedua makalah itu mendapat nilai A. Ya, A!

Lebih dari itu, kedua makalah itu sudah hampir pasti terbit di dua jurnal internasional. Makalah saya berjudul Modern Day Slavery at Sea: Fishing Industry and Human Trafficking in SE Asia Akan terbit awal Juni ini di Journal of East Asia and International Law 11 (1) 2018. Makalah yang lain, The Rohingya Refugee Crisis and Human Rights: What Should ASEAN Do? Insya Allah akan muncul di Asia-Pacific Journal on Human Rights and the Law 19 (1) 2018 terbitan Brill akhir Juni. Keduanya jurnal yang bagus di tingkat Asia. Tentu buat scopusian saya bisa dengan mudah mengatakan bahwa kedua jurnal itu pasti diindex scopus. Pada saat terbit nanti akan saya share pada yang berminat membacanya.

Kedua makalah itu kejutan buat diri saya sendiri. Ketika saya mengirim ke jurnal yang saya sebutkan tadi, mereka langsung ‘menyambarnya’. Saya nyaris tak perlu melakukan revisi sama sekali. Saya hanya harus menyerahkannya pada editor bahasa. Kedua topik itu sama sekali tidak terkait dengan bidang riset disertasi saya. Kedua makalah itu hanya semacam minat sampingan. Kedua makalah itu menjadi penyemangat. Ketika minat sampingan saja bisa diterbitkan di jurnal bagus, mestinya minat utama saya bisa lebih dari itu nantinya.

Kedua jurnal yang dalam seminggu ini terbit itu bukti bahwa mungkin batas yang lian dalam diri saya telah berlari menjauh. Saya perlu lagi mendorongnya dan mengejarnya ke ujung yang tak ada ujung.

Los Angeles 12 Ramadhan 1439 (27 May 2018).

Asep dan Album Barunya

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Alunan sebelas lagu baru menemani saya menulis catatan ringan ini. Lagu-lagu itu mungkin sekarang belum banyak orang yang mendengarkan dan menikmatinya. Tapi mungkin, insyaallah, tak lama lagi lagu-lagu itu segera terkenal. Yang menyanyikan lagu-lagu itu kawan baik saya. Saya tahu sebelumnya dia sedang menggarap sebuah album indie, tapi mengetahui proyek ‘isengnya’ selesai begitu cepat, buat saya adalah sebuah kejutan tersendiri.

*

Namanya Asep. Mungkin karena namanya, saya merasa memiliki kedekatan tersendiri. Kita sama-sama USA: Urang Sunda Asli. Dia dari Banten, wilayah ujung barat tatar Sunda, dan saya dari Kuningan di ujung timur. Kami bertemu, kenal dan menjadi kawan baik sejak kami sama-sama kuliah di Ciputat.

Tanpa bermaksud mengungkit masa lalu, ada baiknya saya ceritakan tentang Asep yang berevolusi menjadi Asep sekarang.

Kami menjadi dekat karena dulu kami sesama aktivis. Sebagai aktivis kampus dan organisasi extra, terlibat politik mahasiswa saat itu adalah semacam kutukan yang tidak bisa dihindarkan. Karena satu dan lain hal yang tidak perlu saya ceritakan di sini, kami menjadi satu geng dalam kancah politik mahasiswa. Setelah saya gagal menjadi ketua BEM UIN, percaturan politik berikutnya adalah perebutan ketua umum HMI Cabang Ciputat. Buntut dari kekalahan saya di BEM yang konon diakibatkan oleh ketidaksolidan dan perpecahan internal, pemilihan ketua cabang menjadi perulangan konstalasi politik internal Himpunan.

Singkat cerita, saya menjagokan Asep menjadi ketua Cabang saat itu. Meski awalnya banyak yang tidak setuju, saya berhasil meyakinkan ‘pasukan’ agar memilihnya. Alasan saya saat itu sangat sederhana: Asep adalah mantan ketua Komisariat Psikologi yang luman berhasil.

Tapi terutama bukan karena itu saya mendukung pencalonannya. Buat saya saat itu, HMI Ciputat butuh sesuatu yang baru yang tidak terlalu politis. Too much politics! Asep sejak di HMI terkenal sebagai seniman. Ya, karena saya merasa HMI butuh sosok seniman sebagai ketua Cabang, bukan melulu sosok politisi, saya bersikukuh mendukungnya. Dukungan yang begitu deras pada saya agar maju saya tolak. Untuk menghindar dari kekeruhan politik lokal saat itu, saya sengaja kabur ke Bandung. Tak ada yang bisa menghubungi saya kecuali beberapa kawan dekat di lapangan. Dalam percaturan politik lokal yang kalau saya ingat sekarang begitu menggelikan itu, Asep terpilih menjadi ketua Cabang.

Sejak jadi ketua Komisariat di Psikologi, Asep sosok yang tidak biasa sebagai ketua. Kalau ada kumpul-kumpul organisasi, dia biasa tampil dengan gitarnya untuk menghibur. Urat syaraf perkaderan yang kadang terlalu tegang karena asupan perdebatan intelektual atau perebutan politik, segera dibuat rileks oleh lantuan suaranya. Kawan-kawan menjulukinya sebagai ‘Ebit Ciputat’. Ya, dulu semua lagu yang dinyanyikannya adalah lagu Ebiet G. Ade.

Ketika jadi ketua Cabang, kebiasaanya tidak berubah. Meski tentu tak lepas dari intrik politik mahasiswa, HMI Ciputat ketika dia menjabat sedikit berubah. Kini kita punya sosok seniman sebagai ketua.  Diam-diam dia mengumpulkan lagu ciptaannya sendiri dari sudut kantor Cabang di Jalan Ibnu Sina.

*

Ketika semua kehidupan dunia aktivisme kampus mulai perlahan ditinggalkan karena selesai kuliah, kami tetap sangat dekat sebagai kawan. ‘Geng’ politik yang dulu menjadi tim sukses saya dan Asep masih sering kongkow-kongkow: sekedar minum kopi, diskusi rutin, berenang bersama, hadir di kondangan, selametan rumah, reuni, halal-bi halal dan kesempatan lainnya.

Seperti setiap orang mungkin mengalaminya, Asep sempat terseok-seok menentukan arah. Saya tahu darahnya adalah seniman. Ia juga senang menulis cerita dan membuat puisi. Ia sempat pula menggarap sebuah novel yang sampai sekarang tidak tahu seperti apa nasibnya. Tapi menjadi seniman dan penulis tak menjanjikan secara finansial. Tak bisa hidup. Meski ia bekas politisi kampus, sepertinya ia tidak terlalu tertarik di dunia itu. Ia juga sepertinya tak berminat menjadi dosen. Ia sempat bekerja dibeberapa tempat, rata-rata mengerjakan seuatu terkait huruf dan tulis menulis..

Ketika saya selesai S2 dari Australia, Asep sepertinya belum juga tahu ke mana arah hidupnya. Namun pada suatu sore dia datang ke toko saya. Oh iya lupa, sepulangnya dari Australia, saya sempat menjadi juragan sabun cair. Uang tabungan dolar saya belikan kios kecil di pasar modern Pamulang. Niatnya agar istri punya kegiatan. Maklum darahnya adalah pengusaha. Dibantu oleh mertua, saya membuka toko alat kebersihan dan jadi agen sabun cair–harusnya saya jadi agen travel biar cepat kaya seperti bos Firts Travel. Asep ingin tahu toko saya. Dan ia berkunjung sore itu. Kami ngobrol sambil menyeruput kopi.

Saat itulah dia bercerita bahwa dia sekarang menjadi agen asuransi. Meski saya sedikit kaget dan terkejut dengan pilihannya, saya tetap mendukung. Saya juga senang karena  setidaknya kami sekarang sama-sama menjadi agen: Asep agen asuransi, saya agen sabun cair, dan dalam waktu yang hampir bersamaan pula. Saya masih ingat, ia bilang jika saya harus mengeluarkan uang lebih 300 juta untuk menjadi agen sabun (untuk beli kios dan modal awal isi toko), ia hanya mengeluarkan uang tak lebih 2 juta. Ia hanya perlu menjadi nasabah asuransi dan mendaftar menjadi agen. Itu saja. Dan katanya, menjadi agen asuransi itu seperti memiliki toko virtual.

Apa yang unik darinya adalah ia menjual dan mengajak orang menjadi nasabah produk asuransinya lewat tulisan. Jadi ia tidak perlu berbusa-busa meyakinkan orang untuk menjadi nasabah asuransi. Orang biasanya kesal kalau dirayu gombal berbusa-busa. Ia tahu itu. Makanya lebih baik dia ajak orang lewat tulisan. Lagi pula, semakin banyak orang yang melek tulisan. Nasabah asuransi itu kelas menengah yang biasa dengan layar gadget. Dengan tulisan ia juga bisa mengajak orang dimana saja di seluruh negeri. Sebuah langkah cerdas. Tulisannya di blog segera fokus pada hal-ihwal asuransi. Kebiasaannya menulis puisi dan cerita membantunya membuat tulisan menarik tentang kenapa orang harus ikut asuransi.

Singkat cerita, dari berkah kebiasaanya menulis itu, dalam waktu dua tahun ia menjadi agen asuransi yang sukses: ia bisa beli mobil dan rumah. Juga dengan pendapatan yang jauh lebih besar dari PNS atau dosen. Pada saat yang bersamaan, nasib saya tidak terlalu beruntung. Toko saya bangkrut di tahun ketiga meski sempat buka satu cabang di tempat lain. Dan ketika saya berhenti jadi agen sabun cair di tahun ke tiga itu, Asep sudah menjadi penjual produk asuransi yang sangat sukses. Mungkin saya tidak ditakdirkan jadi agen sabun cair.

*

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, panggilan di lubuk hatinya untuk balik ke dunia seniman muncul kembali, setiaknya sebagai kesenangan. Tahun lalu dia bilang ingin kembali menggarap novelnya. Tak lama setelah itu  dia bilang sedang menggarap album. Saya terkejut, sama dengan terkejutnya ketika ia bilang akan jadi agen asuransi. Saya menyarankannya agar diupload ke Soundcloud agar bisa didengarkan khalayak untuk mengetes selera pasar.

Dan tidak sampai 5 bulan dari obrolan itu, ia tiba-tiba tadi mengirimkan sebuah tautan ke laman Soundcloud. Itu albumnya! Ia namakan Himne Cinta. Saya hampir saja membacanya Himne Cita, tanpa “n”. Himne Cita menginatkan saya pada masa ketika kami menjadi petualang politik Himpunan.

Selamat atas albumnya. Sebuah pencapaian luar biasa. Saya suka lagu “Adinda” dan “Di Pasir Putih”. Saya kasih nilai 7.5 dari 10 untuk album pertamamu. Bukan karena saya kawan baikmu, tapi karena memang suaramu yang khas dan liriknya yang baik.

Sama seperti saya dulu yakin dengan langkahnya menjadi calon ketua Cabang meski banyak yang tidak setuju, juga langkahnya menjadi agen asuransi, maka saya juga yakin album ini adalah awal karirnya yang baik sebagai seniman. Album ini bukti bahwa darah senimannya tidak akan pernah mati. Jarang sekali ada agen asuransi yang juga seniman. Selamat, Sep.

Nikmati album “Himne Cinta” di https://soundcloud.com/asep-sopyan-236731764

Los Angeles, 30 Agustus 2017

First Travel dan Cerita Ayah Saya

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Saya teringat ayah di kampung ketika berita tentang keserakahan First Travel dimuat media.

Ayah saya di kampung itu orang yang sangat baik. Dia selalu tidak enak kalau ada seseorang datang mengajak sesuatu atau meminta pertolongan. Ia juga selalu ingin mencoba usaha sampingan. Mungkin niatnya baik. Sebagai guru PNS, ia butuh pendapatan tambahan untuk membiayai saya, kakak dan adik saya sekolah hingga bangku kuliah. Sebenarnya dari gajinya sebagai guru, ditambah uang tambahan Ibu saya menjahit, waktu itu cukup untuk membiayai sekolah semua anaknya. Meski tentu harus pontang-panting, kadang pinjam sana-sini.

Seingat saya, ayah sudah mencoba terlalu banyak ‘usaha sampingan’. Menurut ceritanya, bahkan sebelum anak-anaknya lahir, ayah sudah mulai usaha untuk mendapatkan uang tambahan, untuk menopang hidup yang kadang redup. Ketika baru diangkat menjadi guru honorer, Ia iseng menjadi pembuat petasan. Lantas berhenti setelah kawannya  meninggal karena ledakan dan Ia diperingatkan polisi.

Ketika saya SD, ayah memiliki pabrik tempe dibelakang rumah lama kami. Usaha tempe itu berjalan lumayan lama. Setiap pagi, ibu-ibu tetangga rumah datang untuk mengantar tempe-tempe itu ke warung di sekitar kampung. Ada juga yang langsung dijual keliling.

Continue reading “First Travel dan Cerita Ayah Saya”