Cinta Markonah

Credit image: Pinterest gorgeous drawing

IV

“Kita orang tak punya. Melarat. Makan saja susah. Kekayaan kita cuma budi pekerti dan perangai yang baik. Kalau itu saja kau tanggalkan, lantas apalagi yang kita miliki di dunia ini…?” Suara Inah meninggi dengan emosi yang ditahan.

Ia duduk mendekat dan dengan tangannya ia tarik muka Markonah ke arahnya perlahan.

“Faham?” Lanjutnya dengan suara lebih lembut dan lirih. Sorot matanya tajam seperti menusuk kornea mata Markonah

“Kemarin Minah Ikut-ikutan teman, Mih. Sama si Eman. Tidak tahu dikira mau main apa.” Jawab Markonah dengan air muka penyesalan.

“Lagian kau juga anak perempuan. Tak baik sering main dengan anak lelaki. Kau sudah mulai besar. Apalagi ikut mencuri. Tak patut.” Inah manasihati anak si mata wayangnya dengan suara tegas. Sepertinya masih ada unek-unek yang harus dikeluarkan dari dadanya.

“Muhun, Mih,” desis lirih Markonah menjawab omelan ibunya. Ia tak bisa lagi menahan air mata. Seperti hujan, dengan isak yang ditahan, air matanya bercucuran. Ia menyesal sudah ikut Jabrig, Atang, Husen, dan Ijoh pergi ke kebun Ki Rajasa untuk memungut biji buah Kemiri.

*
Ketika Jabrig kecil, biji buah Kemiri adalah sebuah kemewahan. Juga pertanda kekuatan dan kehebatan di antara anak-anak kampung Baregbeg. Jabrig punya dua yang dia simpan baik-baik. Biar kuat dan mengkilat, dia selalu rajin mengolesi kulit biji kemiri yang berwarna hitam itu dengan minyak jelantah. Husen malah punya jampi-jampi khusus yang dibacakan agar kemirinya kuat sekeras batu.

"Kekayaan kita cuma budi pekerti dan perangai yang baik. Kalau itu saja kau tanggalkan, lantas apalagi yang kita miliki di dunia ini..."

Continue reading “Cinta Markonah”

CINTA MARKONAH

III

Rajasa Suadma Kusumadinata adalah saudagar kaya dari keluarga terpandang. Dari namanya saja bisa ditebak siapa leluhur mereka. Konon kakek moyangnya bupati pertama di Kawali. Jagawareng, udeg-udeg dan gantung siwurnya adalah keturunan Raja Galuh yang bertahta di Panjalu. Karena asal-usulnya, keluarga itu sering dianggap angkuh dan jumawa, setidaknya begitulah anggapan Mang Jabrig ketika kecil.

Orang kampung Baregbeg tahu rumah besar berlantai dua tak jauh dari perempatan jalan desa itu dihuni keluarga menak. Rumahnya ditembok tinggi. Pekarangan dihiasi aneka pepohonan. Sejak Mang Jabrig kecil, rumah itu tidak pernah berubah. Hanya catnya saja yang sering berganti warna. Continue reading “CINTA MARKONAH”

Cinta Markonah

Foto ilustrasi

II

Perawakannya tinggi, badan berisi. Bukan karena sering pergi ke tempat kebugaran, tapi karena terlalu berat beban hidupnya. Setiap pagi dia pergi ke pabrik penggiliangn beras di pinggir kampung untuk bekerja sebagai kuli angkut. Selepas tengah hari, dia singgah di toko bahan bangunan milik saudara jauhnya, Wak Juki. Di sana dia bekerja sebagai pembantu umum. Tugasnya angkat ini itu.

Tapi sudah sejak beberapa minggu dia tak lagi pergi ke pabrik penggilingan padi dan toko bangunang Wak Juki. dia kini punya pekerjaan baru yang lama dicita-citakannya: tukang ojek.

Meski bekerja serabutan, ia bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung. Cita-citanya waktu itu ingin seperti temannya yang lain: beli motor. Kalau sudah membeli motor, ia tak mau lagi terlalu cape jadi kuli angkut. Cukup duduk-duduk manis di perempatan desa sambil menunggu orang datang. Dengan modal cukup untuk mengambil kreditan, dia membeli motor. Sisa pembayaran akan dicicil setiap bulan. Continue reading “Cinta Markonah”