• LA Notes

    Di Mana Indonesia? Tentang Gejala Krisis Indentitas anak-anak Indonsia di Luar Negeri.

    Anak-anak saya tentu saja belum bisa menulis. Kalaupun bisa, Amartya lebih mahir menulis dalam bahasa Inggris. Kata gurunya di sekolah Clover Ave, Amartya punya bakat menulis. Ia sudah pandai membuat sebuah cerita sederhana dengan runut dan dengan argumen yang kuat. Satu esainya pernah ditunjukan kepada saya: Why fried rice for lunch. Dalam esai itu Amar mengusulkan agar memasukan menu nasi goreng ke menu makan siang di sekolahnya. Memang selama ini ia sering mengeluh dengan menu makan siang di sekolahnya yang itu-itu saja: pizza, sandwich, noodle, sesekali ayam goreng. Hampir tidak pernah ada menu nasi. Di sini perasaan saya ambigu. Di satu sisi saya merasa prihatin karena sebagai orang Indonesia, mestinya…

  • Islam

    Non-Muslim Berkunjung ke Mesjidil Haram, Bolehkah?

    Sekarang kebetulan sedang musim haji. Dan setiap musim haji itu, saya selalu dihantui pertanyaan sederhana yang saya jadikan judul di atas. Bolehkan non-Muslim datang sekedar berkunjung ke Masjid Al-Haram? Saya tidak tahu jawaban yang lebih mendetail. Tapi bacaan saya terhadap karya seoarang ulama paling di hormati dari Mazhab Hanbali, Ibn Qudama, dalam kitabnya Al-Mughni cukup menarik. Kurang lebih kesimpulannya begini. Ulama membagi dua wilayah berbeda, yakni wilayah Hijaz dan wilayah Al-Haram. Al-Hijaz biasanya mencakup wilayah Medina, Mekah, Al-Yamama, Khaibar, Yan’bu dan Fadak. Sementara Al-Haram hanya meliputi wilayah di pusat kota Mekah dan Medina dimana Ka’bah/Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi berdiri. Tapi memang batasan ini diperdebatakan. Wilayah itu diperluas menjadi hampir…