Kesemek

Muka lo kaya kesemek! 

Buah ini telah kehilangan nama baiknya di kampung saya, bahkan mungkin di negeri saya secara keseluruhan. Buah ini sudah lama disisihkan, dipingirkan bahkan dibuang. Bertahun-tahun tak pernah lagi saya melihat buah ini dijual di tukang buah, apalagi di supermarket. Bahkan saya sudah lupa seperti apa rasa buah ini. Anak milenial sekarang mungkin sudah tidak lagi tahu apa itu buah kesemek! 

***

Saya selalu ingat ketika awal bulan ayah datang dari sekolah tempat dia mengajar. Saya dan kakak saya tahu kalau awal bulan ayah baru saja gajian. Biasanya dia membawa oleh-oleh yang dibelinya di Pasar Baru Kuningan selepas mengambil gaji di kantor kementrian agama. Yang selalu dibelinya rutin setiap bulan adalah kopyah hitam. Dia mengkoleksi banyak kopyah hitam di kamarnya. Selain kopyah, dia sering membawa buah-buahan!

Kami selalu senang kalau ayah membeli anggur. Buah itu teramat mewah untuk kami yang saat itu hidup di kampung. Selain anggur, apel yang warnanya merah menyala juga sesuatu yang istimewa. Seingat saya, sangat jarang ayah membeli kedua buah mewah dan mahal itu. Untuk gantinya, ayah sering membawa buah-buahan yang mirip anggur dan apel, dan lantas dia akan bilang pada kami bahwa buah yang dibawanya itu adalah buah anggur dan apel jenis khusus

Untuk mengganti apel, ayah membeli buah yang berwarna hitam dan berbentuk bulat-bulat dalam tangkai. Bentuknya mirip sekali anggur, dengan rasa yang sangat berbeda. Belakangan kami tahu yang ayah beli itu buah kupa. Anyah tak punya uang untuk beli anggur, hanya bisa beli buah kupa. Saya tidak yakin anak milenial sekarang tahu buah itu. Saya juga lupa kapan terakhir melihat dan memakannya. Mungkin anggur palsu yang ayah bawa ketika saya SD dulu adalah buah kupa terakhir yang saya makan. 

Buah kesemek mirip juga ceritanya: ayah tak bisa beli apel yang mahal karena harus diimport. Ayah beli buah mirip apel dengan warna kuning dan dipenuhi bubuk putih mirip tepung. Ayah menyebut buah itu apel ganjen. Ganjen dalam bahasa Sunda artinya genit. Kesemek adalah buah genit karena dulu selalu dijual dengan sekujur tubuh dipenuhi waran putih mirip bedak. Bedaknya terlalu banyak seperti orang genit.

Bentuknya yang tidak menarik, seperti penuh bulukan, membuat saya selalu kesal kalau ayah pulang ke rumah dengan membawa apel ganjen itu. Rasanya lumayan saya suka. Tapi buruk rupanya membuat buah itu dijauhi dan disingkirkan, sampai sekarang.

****

Tiga puluh tahun berlalu, ribuan mil jauhnya dari kampung, saya menemukan kesemek dengan wajah dan rasa yang sepenuhnya berbeda. Saya terkejut melihat buah itu kini cantik rupawan! Seperti melihat kawan ketika kecil yang selalu korengan tapi sekarang cantik rupawan. Buah itu di jual dengan tampilan menawan. Ia di simpan di etalase depan dengan warna kuningan yang menyala. Susuah sepertnya buat orang yang singgah di toko buah untuk tidak melihat dan memegangnya. Ia jadi primadona. Di sebuah super market Asia di pusat kota Los Angeles, buah itu dikerumuni pembeli karena sedang diskon. Saya lihat orang memborong buah itu tanpa tanggung-tanggung. 

Buah itu membawa saya ke kampung, ke masa 30 tahun lalu ketika ayah selalu membawa ‘apel ganjen’. Tapi sekarang buah itu sama sekali tidak tampil genit. Ia elegan dan menawan. Apel asli lewat! Saya akhirnya membeli dengan perasaan ragu. Prasangka ketika anak-anak pada buah itu terus menggelayut. Saya beli secukupnya saja. Kalau enak saya akan beli lagi. 

Dan ketika sampai rumah, dengan penuh perasaan penasaran dan kenangan, saya kupas buah itu, saya potong 4. Satu saya makan, yang lain saya kasih ke Yarra, anak saya yang berumur 8 tahun (pada usia 8 tahun pula saya mengenal ‘apel ganjen’ dari ayah!). Saya langsung suka, begitu juga Yarra dan istri saya. Rasanya lebih manis dari ‘apel ganjen’ yang dulu, 30 tahun lalu, saya makan. Dan setelah hari itu saya membeli beberapa kali buah yang namanya persimmon dalam bahasa Inggris. 

***

Kesemek nama yang buruk, atau setidaknya kurang enak di dengar dalam leksikon bahasa Indonesia. Mungkin karena sering dipakai guyonan untuk hal-hal yang bernada mengejek. Padahal di negara lain buah itu menjadi primadona. Kekurangan kita orang Indonesia itu adalah dalah hal bagaimana membuat tampilan (packaging) lebih cantik. Buah yang enak dan nikmat dengan vitamin dan manfaat yang banyak harus tersingkit karena kita gagal membuatnya enak dipandang mata. Makanan tradisonal yang nikmat-nikmat baru belakangan masuk hotel setelah penampilan dipercantik. Saya kira kesemek harus dihidupkan kembali, dipercantik, dan dijual. 

Ketika liburan musim panah lalu saya kembali ke Kuningan, kampung halaman saya, saya dan anak-anak berkunjung ke Palutungan, salah satu objek wisata di kaki gunung Ciremai. Setelah desa terakhir, di antara ladang warga, sebelum kita tiba di air terjun Palutungan, kita masih bisa melihat beberapa pohon kesemek yang berbuah. Dari jalan kita bisa melihat buahnya menyala kuning. Saya ingat ketika kecil lewat ke tempat itu, pohon kesemek berbaris dengan buah ranum. Tapi ketika kami lewat kembali beberapa bulan lalu, pohon-pohon itu hampir punah. Mungkin pohon-pohon itu kini sebagian besar telah di tebang karena dianggap tidak ada lagi gunanya. 

Ayo Indonesia, hidupkanlah kembali kesemek :). 

Bagaimana menulis dan mempublikasi tulisan di jurnal internasional (2)

BAGIAN II

Pada bagian pertama saya berbagi pengalaman yang relatif umum terutama terkait aspek-aspek sebelum dan ketika tulisan jurnal diproduksi. Pada bagian ini saya mencoba masuk pada hal-hal yang lebih teknis terutama terkait langkah-langkah post-production. Seperti pada bagian pertama, agar lebih mudah dicerna, saya akan susun dengan model pointers. Mungkin ada baiknya saya memulai dengan hal yang tertinggal di bagian pertama dari tulisan saya.

Co-author atau menulis sendiri?

Penulis pemula biasanya tidak percaya diri. Siapalah kita, baru lulus S2 dan anak kemarin sore. Karena minder, ada yang mencoba mencari jalan keluar dengan co-author dengan orang lain yang dianggap lebih senior dan lebih ahli dan otoritatif. Strategi ini bagus dan bisa dijadikan solusi. Selain kita mendapatkan bimbingan dari senior atau orang yang dianggap ahli, kita juga bisa ‘terkatrol’ karena berada dibawah naungan orang yang punya otoritas. Biasanya para mahasiswa PhD banyak menulis berdua dengan pembimbingnya.

Namun, aspek negatif dari strategi ini adalah kita hanya bisa melakukan itu dengan orang yang dekat secara personal dan orang tersebut mempercayai kita. Tidak mungkin kita bisa menulis bersama dengan orang yang tidak mempunyai hubungan dan kepercayaan. Artinya kita relatif lebih tergantung pada orang lain. Senior atau pembimbing kita tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya begitu saja kalau dia tidak percaya pada kemampuan kita. Persoalan kedua:  strategi ini secara teknis tidak mudah karena menyatukan dua gaya dan taste berbeda dalam satu tulisan itu sulit. Banyak kasus dalam model menulis bersama ini sebenarnya yang mengerjakan dari awal hanyalah satu orang. Orang lain bertindak sebagai pengawas, editor, atau memberikan masukan setelah banguan utamanya relatif terbangun.

Dalam kasus saya, karena saya tidak mempunyai senior yang relatif dekat dan bidang keahliannya sama yang mempercayai saya, saya memilih jalur nekat menulis sendiri. Modalnya percaya diri. Dan tentu saja kita akan mengalamai penolakan. Nanti saya akan singgung strategi menghadapi penolakan editor ini dibagian lain. Tapi pointnya di sini adalah baik menulis sendiri maupun menulis bersama orang lain sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan.

Fokus dulu pada isi

Seorang dosen di Indonesia baru-baru ini secara intensif berkomunikasi dengan saya dan berdiskusi jarak jauh terkait rencananya menerbitkan di jurnal internasional. Tulisannya sekarang siap diterbitkan. Salah satu persoalan yang dari awal mengganggu dia adalah hal-hal teknis dalam penulisan. Ketika anda mentarget satu jurnal tertentu, katakanlah jurnal hukum internasional, sebagaimana saya sampaikan di bagian pertama, anda memang harus mengetahui standar model penulisan jurnal tersebut: model rujukan yang digunakan (apakan catatan kaki, atau rujukan dalam kalimat atau body note), style pengutipan apakah memakai APA, Chichago, Blue Book dan lain-lain.
Saran saya kepadanya adalah: untuk tahap awal, jangan terlampau risau dengan hal-hal teknis itu. Untuk sementara waktu, pakai saja model rujukan apa saja sehingga energi kita lebih fokus pada pengerjaan isi tulisan (content). Model rujukan bisa dengan mudah diperbaiki diakhir proses. Dalam banyak kasus ketika saya mengirimkan tulisan saya memakai model rujukan yang tidak standard. Editor toh menerimanya dan ketika mereka menganggap layak, saya diminta untuk merubah model rujukan sesuai standar mereka. Tentu sebaiknya ketika kita mengirimkan tulisan kita sudah menyesuaikannya dengan standar mereka.

Meminta masukan kawan/pembimbing

Ketika tulisan sudah hampir matang dan kita sudah beberapa kali mengeditnya, saran saya selanjutnya adalah mintalah kawan atau senior membacanya. Syukur kalau ada orang yang dianggap ahli mau melihat dan memberikan masukan pada tulisan kita. Ini sepertinya mudah, tapi dalam praktinya lumayan sulit. Sedikit sekali kawan yang mau membaca 20-30 halaman tulisan kita. Mereka punya kesibukan sendiri. Juga belum tentu mereka mengetahui bidang yang kita tulis. Untuk keluar dari persoalan ini, para mahasiswa PhD tahu solusinya: ikut seminar atau conferene. Lebih bagus lagi jika ikut conference pada asosiasi sarjana bidang kita. Misalnya jika kita studi agama di Amerika, idealnya kita mengirimkan paper kita yang hampir matang itu ke acara pertemuan tahunan The American Academy of Religion (AAR) Minggu lalu di kampus saya di UCLA digelar pertemuan tengah tahun American Society of International Law (ASIL) Kenapa pertemuan seperti ini penting? Jika artikel kita dikirim pada asosiasi untuk sebuah acara, hampir dipastikan setidaknya seorang penanggap (discussant) yang biasanya ahli dibidangnya akan membaca dan memberikan masukan pada paper yang kita kirim. Ketika seminar juga kita bisa test the water sejauh mana tulisan kita ditanggapi hadirin.

Jika anda sedang menempuh kuliah S2, waktu tersebut adalah waktu berharga untuk mendapatkan masukan dari dosen kita. Jika mungkin tugas akhir diganti dengan menulis paper akademik, ambillah pilihan itu. Kenapa? Karena setidaknya dosen anda akan membaca dan memberikan input pada paper yang anda serahkan untuk penilaian. Ketika saya di Melbourna Law School, semua mahasiswa internasional disarankan mengganti ujian akhir (seating exam) dengan menulis paper. Jika dalam ujian akhir seorang mahasiswa harus menjawab 3 soal dalam waktu dua jam dengan panjang jawaban sekitar 5000 kata, untuk menulis makalah saya diberi waktu dua bulan dengan panjang tulisan 10,000 kata. Pengalaman di Melbourne dulu adalah tonggak penting untuk saya. Lima dari delapan tulisan jurnal saya itu adalah makalah untuk pengganti ujian yang saya submit ke Melbourne Law School. Tiga lainnya adalah makalah untuk kelas di UCLA Law School. Menariknya, pihak kampus mewajibkan pada profesor untuk bukan hanya memberikan nilai tapi juga memberikan komentar dan saran untuk perbaikan. Makalah-makalah penuh coretan prosefor pembimbing ketika di Melbourne masih rapih saya simpan di rumah di Pamulang!

Memilih jurnal tujuan

Ketika tulisan sudah lebih matang karena sudah mendapatkan masukan baik dari kawan maupun dari pembimbing, saatnya kita mencari jurnal apa tujuan kita. Dalam kasus saya, untuk mencari beberapa kandidat itu saya melihat-lihat kembali rujukan yang saya gunakan ketika menulis. Lihat di mana saja artikel-artikel itu diterbitkan. Hampir pasti kurang lebih ke jurnal-jurnal itu pula tujuan kita. Selajutnya, setelah kita melihat-lihat jurnal penerbit tulisan-tulisan yang menjadi rujukan kita, kita perlu meluangkan waktu untuk mencari tahu ‘kelas-kelas’ jurnsl tersebut. Ibarat memilih kampus saat hendak kuliah dulu, kita harus memiliki setidaknya 3 pilihan dari tiga kelas jurnal berbeda (katakanlah kelas 1,2 dan 3).

Pastikan juga tulisan kita ada dalam ruang lingkup jurnal yang kita tuju. Ketika saya menyelesaikan tulisan pertama saya tahun 2011 di Leiden (tulisan itu adalah tulisan makalah kelas yang saya edit kembali) tentang Hukum Adat dan hukum Internasional, saya megirimkannya ke Australian Journal of International Law. Alasan saya memilih AJIL karena waktu itu saya ingin mengetest apa respons dari jurnal yang saya kira kita bisa masukan dalam kelompok kelas 1, setidaknya di Asia dan Australia. Tak lebih satu bulan saya mendapatkan jawaban: tulisan anda sangat menarik namun sepertinya lebih cocok diterbitkan di journal lain. AJIL dan sejenisnya memang tergolong jurnal yang ‘hukum banget’. Sementara tulisan saya memakai pendekatan budaya dan sejarah. Jadi tema, gaya dan pendekatan yang kita pakai dalam tulisan harus setidaknya beririsan dengan cakupan jurnal tersebut.

Jangan ngeper jika ditolak editor! Ditolak itu biasa. Semua penulis pernah mengalami ditolak editor. Jika ditolak, bukan berarti tulisan kita jelek. Bisa jadi ada aspek lain seperti tadi saya sebutkan. Ketika saya belajar menulis saat mahasiswa, saya ditolak mungkin hampir sepuluh kali oleh Kompas. Tapi karena terus mencoba, akhirnya saya bisa menembus Jawa Pos, Republika, Tempo dan Kompas sebelum kuliah S1 saya selesai. Untuk jurnal pertama saya, saya ditolak dua kali oleh dua jurnal berbeda sebelum akhirnya berlabuh di Journal of East Asia and International Law. Saat itu JEAIL adalah jurnal yang baru namun berada dibawah lembaga kredible dan sudah diindex scopus. Cukup lumayan untuk tulisan debutan.

Sekedar informasi, jika anda dalam bidang hukum dan mau mencoba menerbitkan tulisan anda di jurnal-jurnal hukum di Amerika, anda bisa mencoba Scolastica dan ExpressO. Dua jasa berbayar ini (murah hanya 10 dolar), adalah platform broker yang akan membantu anda mengirimkan tulisan pada jurnal-jurnal hukum. Iya membatu menjadikan tulisan kita sebagai umpan agar ada ikan jurnal yang mau ‘nyaplok’ tulisan kita

Editor Bahasa

Meskipun bahasa Inggris saya lumayan bagus, tetap saja untuk hampir semua tulisan saya ditahap akhir saya meminta bantuan editor bahasa. Mereka sangat membantu karena tulisan kita dipoles dan diperhalus sehingga lebih ‘nginggris’. Sebaiknya kita mempunyai kenalan editor yang pernah dipakai jasanya oleh kawan. Jika tidak atau belum menemukan, anda bisa mencari editor bahasa di situs dan aplikasai Fiverr.com. Aplikasi dan situs ini menghimpun pekerja lepas dari seluruh dunia dari semua bidang, dari desain grafis sampai editor bahasa. Anda bisa memilih berdasarkan harga, kecepatan layanan dan jenis layanan. Sebelum memilih lihat dulu review orang dan tanyakan berapa harganya lewat email di aplikasi tersebut.

Saya pernah dibantu seorang kawan Amerika untuk mengedit tulisan di Brill tentang Krisis Pegungsi Rohingya dan sisanya menggunakan jasa editor profesional yang direkomendasikan kawan (dia mahasiswa PhD yang bekerja paruh waktu mengedit tulisan). Untuk ini kita harus menyisihkan anggaran lumayan. Di Indonesia banyak juga expat atau pekerja magang di kampus-kampus yang biasa mengerjakan jasa editing. Harganya bervariasi dari 1-3 juta rupiah.

Scopus atau tidak, Q1 atau Q4?

Ini juga pertanyaan umum. Scopus sudah menjadi setan gudul yang menghantui banyak dosen dan sarjana di Indonesia. Scopus adalah jabatan, gaji dan pangkat. Banyak yang mendadak ngejar-ngejar Scopus agar bisa jadi guru besar, agar bisa jadi rektor dan lain sebagainya. Tapi harap dicatat, kondisi ini diketahui betul oleh para scammer atau penipu dunia digital. Modus operandinya biasanya begini: mereka membuat website yang dari tampilannnya bisa dilihat mereka abal-abal. Misalnya lihat tautan Academia Publishing ini. Tidak berarti mereka abal-abal sepenuhnya. Mereka memang memiliki penerbitan dan kadang-kadang didaftarkan pada scopus. Ingat Scopus hanyalah mesin pengindex. Namun yang jadi soal adalah proses penerbitan itu tidak melalui tahapan objektif review dan tidak berada dibawah naungan lembaga yang kredible. Setelah itu untuk bisa terbit biasanya dimintai uang. Tentu tidak semua journal yang meminta uang berarti abal-abal. Ada beberapa journal top yang juga memungut biaya. Sekarang bahkan penerbit seperti Routledge atau Brill memiliki opsi open source dimana penulis membayar kepada penerbit tetapi nanti penulis mempunyai hak mendistribusikan tulisan yang diterbitkannya kepada siapa saja, tidak melalui subscription. Sebagai acuan, hindarilah predatory journal yang berada dalam list Beall berikut ini. Jika jurnal tujuan anda berada dalam list itu, berhati-hatilah.

Sebaiknya tulisan anda masuk di jurnal terindeks Scopus atau SSCI. Tapi jangan jadikan keduanya dewa! Bisa terbit di sebuah jurnal selama jurnal tersebut kredibel, direview dengan benar, untuk pemula tidak ada salahnya. Anda sedang membangun sebuah portofolio. Juga jangan terlalu hirau dengan Q1, Q2, Q3 dan Q4 pada rangking Scopus. Peringkat itu juga banyak dikritik dan tidak sepenuhnya benar. Misalnya, jurnal sekelas Studia Islamica pernah drop di Q4 sementara jurnal lain yang lebih baru rangkingnya lebih baik. Journal Indonesia di Cornell bahkan saya tidak menemukannya di list Scopus. Ali-alih melihat rangking lebih baik lihat rekam jejak jurnal dan penerbitnya. Jika jurnal itu diterbitkan penerbit sekelas Routledge, Brill dan sejenisnya, hampir dipastikan jurnal itu kredibel dan baik.

Blind review tidak benar-benar blind!

Meski memang secara teoritis semua jurnal kredibel menerapkan model peninjauan atau riview tanpa identitas (blind review) bagi setiap paper atau artikel yang masuk, dalam dunia nyata praktiknya tidak demikian. Setiap tulisan jurnal yang masuk akan melalui tahapan dimana tulisan kita diterima oleh editor internal/editor inti. Ketika mereka menerima tulisan anda, selain membaca secara objektif tulisan anda, mereka akan juga mencari tahu dan mengintip profil anda. Disitulah kenapa rekam jejak penting. Jika anda pernah dimuat di jurnal sebelumnya, langkah berikutnya lebih mudah. Jika editor merasa tulisan anda layak, atau setidaknya pantas meskipun tidak terlalu bagus, mereka akan meneruskannya pada reviewer (peninjau) yang biasanya dipilih dari pihak luar. Dalam tahapan ini biasanya memang peninjau tidak akan mengetaui identitas penulis paper yang sedang direviewnya. Tapi untuk sampai pada tangan reviewer ini anda harus melalui tangan editor yang bisa mengintip anda! Dan biasanya, kalau sudah diberikan ke peninjau, kemungkinan tulisan kita dimuat lebih besar. Persoalannya hanya seberapa banyak dan seberapa lama proses editing yang diminta reviewer. Editor biasanya akan mengirim tulisan kita pada 3 orang reviewer. Kalau dua diantara mereka menyatakan layak, editor hampir dipastikan akan mengatakn pada kita bahwa tulisan kita layak dimuat dengan sejumlah catatan untuk diperbaiki.

Proses pengerjaan editing ini bisa berjalan alot dan lama. Ada banyak kasus yang memakan waktu satu dua tahun. Saran saya, jika sudah diterima dan reviewer meminta kita mengedit tulisan kita, sebisa mungkin kita kerjakan secepatnya permintaan mereka. Jurnal ini terbit hanya satu sampai tiga kali setahun. Jika kita tidak memenugi tengat waktu, mungkin kita harus menunggu lagi term berikutnya untuk bisa terbit. Editor dan reviewer belum tentu ahli betul dalam bidang anda. Jika anda cukup percaya diri, tidak pelu takut untuk berargumen pada reviewer atau editor untuk mempertahankan satu gagasan dalam tulisan kita. Itu yang saya lakukan.

Jurnal butuh penulis

Persoalan terbesar buat para pengelola jurnal adalah, salah satunya, kekurangan tulisan! Mereka kelimpungan mencari siapa yang mau menulis di jurnalnya. Jika jurnalnya sudah bagus dan kredible, memang ceritanya berbeda karena yang mengirimkan artikel juga banyak. Namun anda pasti akan selalu menemukan lebih dari setidaknya 5 jurnal di bidang anda. Strategi menyerbu dan pinggiran bisa diterapkan di sini. Ingat tadi saya sudah menyampakikan bahwa menerbitkan di jurnal regional atau jurnal kelas 2 dan 3 bukan hal jelek. Hidup itu bertahap. Target saya bisa dimuat di Harvard Law Review atau di American Journal of International Law. Tapi tujuan itu harus dilalui secara bertahap. Karena itu, kirimkanlah tulisan kita pada jurnal yang kredibel tapi tidak terlalu kompetitif sebagai bagian dari proses menaklukan dan mencapai tujuan besar kita. Jurnal-jurnal itu mencari penulis.

Semoga sharing saya ini bermanfaat dan selamat mencoba!

Salam dari Los Angeles!

Bagaiman menulis dan mempublikasi tulisan di jurnal internasional.

BAGIAN I

Akhir-akhir ini saya sering diminta saran bagaimana bisa menulis dan mempublikasi sebuah tulisan di jurnal, baik nasional maupun internasional. Saya juga sebenarnya masih belajar. Saya baru bisa menerbitkan 5 tulisan di jurnal internasional (semua terindex Scopus dan SSCI), 1 tulisan di Indonesia (Indonesian Journal of Constitutional Review, terbitan MK), 1 tulisan di jurnal Korean Red Cross dan satu lagi di sebuah jurnal baru di New Zealand. Jadi total baru 8 jurnal dalam kurun waktu 7 tahun, dari 2011 sampai 2018. List lengkap tulisan saya bisa dilihat di tautan ini. Ada satu novel dan satu edited volume buku yang juga terbit dalam kurun waktu itu. Dengan berbekal pengalaman itu saya punya modal minimal untuk berbagi pengalaman dalam urusan ini.

Saya yakin kawan-kawan sudah mengetahui tips dan trik, atau saran bagaimana menulis. Jadi anggap saja ini tambahan dari apa yang sudah anda ketahui. Agar mudah, saya akan menyusunnya dengan model pointers.

Menulis adalah kebiasaan

Menulis adalah proses bertahap yang terbentuk dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada satu orang penulispun yang menulis dan menerbitkan karyanya dalam waktu seketika. Saya mulai menulis sejak SMP. Dulu menulis di buku harian dengan tema apa saja. Banyaknya cerita tentang cinta monyet dan rasa cemburu. Kebiasaan itu sampai sekarang tidak berubah. Hanya mediumnya saja yang berbeda: dulu buku harian, sekarang menulis di blog seperti apa yang sekarang anda baca ini. Menulis jurnal internasional yang rata-rata panjanganya 8000-12000 kata, adalah tulisan panjang yang harus dikerjakan minimal satu atau dua bulan (setidaknya dalam pengalaman saya). Tanpa kemampuan dasar menulis yang dibangun dari kebiasaan, sangat sulit rasanya memulai  menulis jurnal. Jadi, jika ingin menulis di jurnal, biasakanlah menulis mulai sekarang juga. Menulis tentu saja bisa banyak manifestasinya: menulis proposal, tugas kantor, laporan penelitian, catatan harian dan lain-lain. Semua itu mempunyai sumbangsih bagi kemampuan kita mengekspresikan fikiran dengan baik, stylist, dan tersetruktur.

Menulis yang baru atau menulis yang kita tahu?

Idealnya kita menulis sesuatu yang kita ketahui dengan baik dan kita ahli dibidangnya serta pada saat yang bersamaan bidang itu baru dan belum banyak ditulis orang. Jika kondisi ideal itu terpenuhi, maka pertanyaan ini menjadi tidak penting lagi. Tapi pada banyak kesempatan kita merasa ahli sekali dibidang kita, tetapi sepetinya hampir tidak ada yang baru yang kita bisa tuliskan. Semua sudah ditulis orang! Itu perasaan normal orang yang bergelut dibidang tulis menulis. Kita bingung mau menulis apa lagi. Solusi untuk persoalan itu sebagian akan saya sampaikan di point selanjutnya, tapi cukup di sini saya sampaikan satu hal penting: menempuh dan membuka jalan baru lebih sulit, tapi pada saat yang sama kesempatannya lebih besar. Ketika saya menulis perbudakaan modern dan perdagangan manusia dalam industri perikanan di Asia Tenggaara, terutama di Thailand, saya memulainya dari nol. Itu sepenuhnya bidang baru untuk saya. Saat memulai prokey penulisan itu, saya meniatkan untuk mendorong diri saya jauh ke luar batas zona nyaman. Bahan-bahan di bidang ini belum banyak. Sebagian hanya laporan NGO dan berita. Sedikit sekali, atau hampir tidak ada artikel junal tentang temap khusus ini. Tapi ketika tulisan itu selesai dan saya kirimkan ke dua jurnal, semuanya menerima tulisan saya. Bahkan saya menarik tulisan karena permintaan Asian Journal of International Law, jurnal yang cukup bergengsi, untuk memotong lebih setengahnya tulisan yang saya kirimkan sayan anggap terlalu berlebihan. Saya lebih memilih menerbitkannya di junal lain meski gengisnya dibawah jurnal itu, tetapi mau mengakomodai utuh tulisan saya. Ketika saya menulis tentang Madraisme dan Agama Jawa Sunda tahun 2014, hampir tidak ada tulisan itu dalam jurnal internasional. Artinya kesempatan menerbitkan sesuatu yang relatif baru lebih terbuka meski prosesnya lebih sulit (risetnya lebih berat dan harus lebih bersabar serta jeli).

Apa itu orisinalitas?

Kita selalu dibilang agar menulis secara orisinil. Tentu saja pernyataan itu benar adanya. Tapi kita kadang tidak tahu harus bagaimana menjadi orisinil. Bukankah hampir semua yang kita ketahui sudah ditulis orang? Lalu dimana kita bisa mengambil kesempatan manggung? Dalam pengalaman saya, orisinalitas saya maknai semata sebagai koherensi. Artinya, selama kita menyodorkan sebuah argumen dan argumen itu kita pertahankan secara koheren dengan dukungan data dan informasi, maka kriteria orisinalitas itu sudah terpenuhi. Orisinal itu bisa juga dimaknai dengan menyodorkan sebuah fakta dan temuan baru, atau bisa juga membaca ulang, mem-frame ulang dan melihat data lama dari sudut pandang baru. Tulisan terbaru saya tentang Budaya, Feminisme Islam dan Tuntutan Perubahan Hukum di Indonesia adalah upaya saya melihat data lama dalam cara pandang baru. Saya melihat UU Pernikahan 1/1974 dan Counter Legal Draft dalam bingkai gerakan sosial dan teori perubahan hukum. Dan tulisan itu mejadi tulisan lead (halaman pertama) untuk edisi terbaru Asian Journal of Women’s Studies.

Jangan takut beragumen

Kelemahan orang Indonesia itu biasanya takut beragumen. Kalau kita menulis dan tidak mempunyai argumen (semata kutip sana dan kutip sini), berat sekali kemungkinan tulisan kita dimuat di jurnal. Jadi, jangan takut berargumen meski konyol sekalipun. Semakin ‘konyol’ sebuah argumen, semakin menarik bagi editor, asal kekonyolan itu didukung oleh argumen dan data.

Jangan takut menulis personal

Ketika belajar menulis ilmiyah saat S1 di kampus UIN Ciputat dulu, saya selalu dibilang agar menghindari menulis secara personal. Bahkan, kata ‘saya’, atau ‘I’ disuruh diganti dengan kata ‘Penulis’ atau ‘the author’. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang dalam bidang tulis-menulis, saya  mempunyai pengalaman sebaliknya: menulis justru harus melibatkan aspek subjektivitas pengarang. Pengarang harus bergulat dengan tulisan dan argumen yang dibangunnya dan tidak perlu terlampau jauh mengambil jarak. Jangan takut memakai kata ‘I’ (saya) dalam mengekspresikan argumen kita. Biasanya dengan lebih personal, tulisan kita bisa lebih kaya, subur dan mengalir, tidak kering-kerontang. Karena itu, penulis jurnal yang baik harus banyak membaca novel atau karya fiksi untuk membantu menghaluskan dan menghidupkan tulisan. Tapi, ada satu catatan kecil: too personal juga tidak baik. Ada porsi cerita yang sangat menarik di tulisan terbaru saya tentang kisah ibu saya yang bekerja sebagai penjahit yang mencari nafkah agar anak-anaknya bisa sekolah. Setelah tarik-menarik dan diskusi dengan editor, akhirnya porsi cerita itu dipotong karena dianggap terlampau personal. Jadi, tulisan personal itu baik, tapi jangan too personal

Mulai dengan sketsa pikiran

Ketika merumuskan apa yang akan saya tuliskan, saya selalu memulainya dengan sketsa pikiran atau peta pikiran. Untuk itu saya banyak dibantu oleh aplikasi-aplikasi yang banyak tersedia, baik berbayar maupun gratis. Gunakanlah alat bantu itu untuk menurunkan semua isi pikiran ke dalam medium ini agar nanti kita bisa tindak lanjuti. Jika mempunyai satu dua kalimat bagus yang tiba-tiba terpikirakan untuk sebuah ekspresi, langsung tulisakan juga di medium itu atau medium lain. Mind mapping ini menjadi kompas dan alat navigasi agar tulisan kita bisa lebih tersturktur. Bagusnya, aplikasi yang banyak tersedia bisa dengan mudah memodifikasi ide-ide kita sesuai perkembangan riset. Jadi, pakai mind mapping tools untuk memformulasikan tulisan kita.

Hindari plagiarisme

Hindari plagiarisme! Ini penting karena disamping secara etik hal ini tidak diperkenankan, secara teknis plagiarisme biasanya akan terdeteksi oleh editor, terutama jika jurnal yang kita target adalah jurnal kredibel. Lain soal jika jurnal itu ‘abal-abal’. Caranya bagaimana menghindari palgiarisme? Pengalaman saya begini: ketika membaca dan riset untuk kepentingan tulisan itu, kita harus biasakan membaut catatan. Buatlah judul tulisan dan pengarang serta penerbit di dalam setiap judul catatan kita. Lantas, pada setiap point-point penting yang kita catatkan, jangan sekali-kali menyalin utuh (copy and paste) tulisan pengarang dalam catatan kita. Sepertinya mudah mengcopy-paste informasi penting dari tulisan pengarang dalam PDF ke dalam note kita. Tapi ini bisa berbahaya jika ketika kita menulis kita menyalin kembali catatan kita ke dalam artikel. Sejak awal kita harus memparafrasa kata-kata. Atau, kalau mau aman dan bahasa Inggris anda sudah bagus, ketika membuat catatan dari tulisan berbahasa Inggris, tuliskan saja ide-ide dan catatan kita dalam bahasa Indonesia. Sehingga ketika nanti menulis dan kita mencontek catatan kita, kita hanya mencontek ide, bukan ide dan ekspresi pengarang yang kita rujuk. Tentu jangan lupa mencantumkan setiap rujukan dalam tulisan kita.

Saya akan lanjutkan tips di tulisan berikutnya. (bersambung….)

Salam dari Los Angeles!

Mungkin ada baiknya saya tautkan video panjang diskusi saya dengan kawan-kawan