LA Notes

Bertemu Mali

Rambutnya menjuntai, mukanya lucu dan menggemaskan. Badannya semampai. Kalau berlari, rambutnya terbawa angin ke belakang membentuk gelombak seperti ombak. Dia cantik dan menawan. Kami mulai jatuh cinta. Dua anak saya tak henti-henti berceritra betapa lucu dan cantiknya Mali. Yarra, anak saya yang kecil, berkali-kali menagih janji kapan bertemu lagi dan bermain dengan si cantik Mali.

Ini pertemuan pertama kami dengan Mali. Pada satu jam pertama, kedua anak saya dihinggapi perasaan serba salah: ingin bermain dan menyentuhnya karena lucu, tapi takut dan khawatir. Ada terlalu banyak beban dibenaknya. Mali yang sangat baik dan lucu itu masuk ke rumah kami. Kedua anak saya mulai serba salah. Amartya dan Yarra naik ke atas kursi, menjauh. Mali mulai berkeliling ke sana-ke mari. Mungkin ingin tahu tempat yang baru dikunjunginya itu.

Saya coba memperkenalkan Mali. Yarra beranai menyentuh Mali sambil aku pegang tangannya. Amartya sama sekali tak mau menyentuhnya. Katanya nanti harus cuci 7 kali. Tapi dari awal terlihat mereka sangat suka. Siapapun yang lihat Mali pasti jatuh hati. Hanya sekat super-ego dari lingkungan kami sebelumnya saja yang membuat mereka takut dan khawatir.

Tiba-tiba Mali loncat ke atas kursi, tepat di depan Yarra dan Amartya yang sedang duduk. Mali kemudian duduk di kursi juga. Yarra tiba-tiba menangis ketakutan. Menjerit. Mali jadi ikut gugup dan serba salah. Ia malah mendekat ke Yarra. Mungkin ingin bilang: ‘kenapa?’. Karena aku tak bisa menenangkannya, istriku akhirnya membawa Yarra bermain di taman dan Mali sementara di suruh bermain di luar, di depan pintu.

Selang beberapa lama, sementara saya dan Om Olil, orang tua angkat Mali, makan siang, Nana membawa Mali bermain di taman depan rumah. Amartya mengikuti Nana dan Mali bermain. Suasana mulai cair. Yarra sudah tidak lagi mengangis ketakutan. Kata istriku, Yarra menangis karena takut, Mali ternyata badannya besar seperti beruang. Padahal di gambar waktu kami Skype Mali seperti boneka.

Setelah kami makan siang, kami bermain lagi. Mali mulai bermain petak-umpet dan lempar tulang. Yarra dan Amar mulai suka dan tertarik. Mali ternyata pintar, kata Amar. Om Olil, Yarra dan Amar bersembunyi ketika Mali berlari mengejar tulang yang di lempar. Mali selalu tahu mereka bersembunyi dimana. Yarra dan Amar mulai berani menyentuh Mali yang lucu itu. Suasana semakin seru ketika dua anak kecil yang sedang bermain di taman mulai ikut mengejar-ngejar Mali. Kedua anak itu dari Turki. Sama seperti Yarra dan Amartya, ini pengalaman pertama mereka menyentuh dan bermain dengan anjing.

***

Saya, juga anak saya dan sebagian besar kita di Indonesia, selalu menganggap anjing sebagai binatang terkutuk penuh najis yang harus dijauhi dan menjijikan. Anggapan itu begitu kuat mengakar dan menyatu dalam diri kita. Sebelum bertemu Mali di usia saya yang hampir 35, saya tidak pernah begitu dekat dengan seekor anjing. Bukan karena saya takut dan jijik, tapi lebih karena di Indonesia lingkungan dan kehidupan sosial kita jarang memberikan kesempatan kita berdekatan dengan seekor anjing. Ketika bertemu Mali pertama kali, saya juga sedikit ketakutan dan khawatir. Bertemu dan bermain dengan Mali seperti mendobrak tembok yang berlumut dalam kehidupan saya: mendobrak mitos, idologi dan kepercayaan.

Entah kenapa umat Islam begitu jijik dengan anjing. Syed Azmi, aktivis yang sempat saya undang ke Jakarta untuk menghadiri acara yang saya tangani, pernah berkampanye di Malaysia: mari menyentuh anjing (let’s touch the dog). Dia membawa anjing dan mempersilahkan siapa saja yang belum pernah menyentuh anjing untuk menyentuhnya, menggendongnya dan bermain dengannya. Kampanye dia itu, ujarnya suatu saat, bertujuan untuk meruntuhkan mitos betapa jeleknya nama baik anjing dimata Muslim. Kampanyenya itu sontak membuat seisi Malaysia heboh.

Anjing binatang najis mughaladhah. Kau harus cuci 7 kali dengan tanah jika menyentuhnya. Malaikat tak akan masuk ke rumah kalua di rumah itu ada anjing! Dan ini dan itu. Banyak sekali buruknya.

Padahal ayo fikir bersama. Anjing itu salah satu dari sedikit binatang yang diceritakan Qur’an. Bahkan dia akan masuk surga karena menolong Ashabul Kahfi. Anjing binatang paling setia dan pandai. Binatang yang bisa dilatih untuk tujuan apapun. Yang belajar fikih pasti tahu, berburu dengan anjing itu biasa.

Saya jadi teringat cerita Prof. Harun Nasution yang punya anjing dan suka sesekali dibawa mengajar di Kampus UIN Ciputat dulu. Ia juga yang mulai memperkenalkan anjing penjanga UIN yang sampai sekarang selalu menemani satpam di kampus UIN.

Kalau masalahnya najis, bukankah itu mudah saja urusannya? Tinggal cuci yang bersih. Beres. Harus pakai tanah? Harus tujuh kali? Saya sendiri menafsirkan sederhana saja. Intinya cuci yang bersih tangan anda, baju anda jika sudah bermain dengan anjing. Tapi bukankah jika sudah bermain dengan kambing, kebo, hamster, kelinci, tangan kita harus dicuci karena pasti semua binatang membawa kotoran?

Tujuh kali? Kata tujuh atau ‘sab’ah’ dalam bahasa Arab memiliki dua makna. Makna harfiyahnya memang tujuh. Tapi menurut para ahli bahasa Arab, orang Arab biasa juga menggunakan kata sab’ah untuk mengatakan sesuatu yang artinya ‘banyak atau berkali-kali’. Tujuh lapis langit dan bumi, artinya bukan secara harfiyah ada 7 lapisan langit dan bumi, tapi semata-mata berarti ada banyak ruang alam (langit) dan meteri alam (bumi). Sama seperti kalau sastrawan mengatakan: ‘seribu satu’ malam menantimu. Artinya apakah menanti kekasih seribu satu malam? Bukan! Artinya menanti lama sekali. Tapi kalau anda sedang menghitung jumlah telur yang akan anda jual, anda bisa bilang: ‘ada ‘seribu satu’ telur yang harus di jual. Jadi kesimpulannya: kalau sudah bermain dengan anjing, atau dengan binatang lain, cucilah yang bersih.

Dengan tanah? Kalau anda berkeyakinan harus pakai tanah, anak IPB sudah buat sabun bercampur tanah. Jadi sabun itu memang dibuat dari tanah dan bahan sabun lain. Saya sih merasa tidak perlu mengikuti pandangan fikih itu secara harfiyah. Mencuci pakai sabun lebih bersih dari mencuci pakai tanah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: