OS Sierra lambat, downgrade saja!

Saya punya Macbook air keluaran 2015 sejak 2015. Karena saya bukan orang yang kerja di bidang desain grafis atau olah video, saya sengaja membeli Mac yang basic karena kebanyakan pekerjaan saya hanya terkait tulis menulis dan berselancar di internet. Paling banter mendengarkan musik. Jadi Macbook yang saya beli spesifikasinya basic: hanya 4 BG ram, 128 storage. Sampai setahun pertama saya puas dengan Mac saya, sampai saya tergoda untuk menaikan Mac OS dari 10.11, bawaan Mac ketika beli, ke Mac OS Sierra (11.12). Dari situ saya mulai mengeluh.

Dari segi fungsi hampir tidak ada beda antara ElCapitan (10.11) dengan Mac Sierra (11.12). Ada sedikit tweak yang lebih gimmical. Yang terjadi justru Mac saya menjadi tidak berjalan mulus dan menjadi lambat. Membuka beberapa app sekaligus menjadi bermasalah karena Mac sering membeku dan bahkan harus di restart. Padahal saya sudah membatasi penggunaan aplikasi.

Saya menahan penderitaan ini sampai setahun, sampai saya membeli laptop Yoga yang spec lebih tinggi (8 GB RAM) karena pekerjaan mulai menumpuk dan ini Mac sudah tidak bisa diandalkan. Tapi memang beralih kembali ke window membutuhkan waktu transisi. Dalam beberapa hal harus diakui Mac memang jauh lebih unggul. Mendengarkan musik dari Mac jauh lebih jernih dengan kualitas suara lebih baik.

Downgrade OS

Akhir pekan kemarin saya memutuskan untuk men-downgrade Mac saya ke sistem sebelumnya. Beda dengan window, kalau mau menurunkan OS di Mac, langkah yang harus ditempuh tidak terlalu mudah, meski juga tidak susah. Saya berhasil melakukan penurunan (downgrade) OS ke El Capitan dari Sierra dengan langkah berikut:

  1. Pastikan kita mendownload OS Elcapitan. Jika sebelumnya sudah pernah menginstal, anda tinggal masuk ke AppStore, lantas masuk ke purchase. Semua yang pernah kita beli dari app store ada di situ. Dan OS Elcapitan pasti ada di situ. Download kembali file itu dan dia nanti akan muncul di folder Application meskipun tidak diinstal secara otomatis. Untuk menginstallnya anda butuh langkah ke 2
  2. Pastikan anda punya USB minimal 8 GB. USB ini akan dijadikan perangkat untuk menginstal. Caranya adalah dengan menjadikan USB itu menjadi bootloader. Untuk menjadikan USB boatloader El Capitan, caranya: a) Sambungkan USB ke Mac, dan rename dengan nama apa saja. Tapi untuk memudahkan namai saja “ElCapInstaller”. b) Buka aplikasi Terminal di Mac anda (Appplication/Utilities) dan salin text berikut dan biarkan sampai selesai “Done”. Anda mungkin akan diminta password Mac. Proses kurang lebih berjalan 20 menit, setidaknya dalam kasus saya :

    sudo /Applications/Install\ OS\ X\ El\ Capitan.app/Contents/Resources/createinstallmedia –volume /Volumes/ElCapInstaller –applicationpath /Applications/Install\ OS\ X\ El\ Capitan.app –nointeraction

  3. Biarkan beberapa saat (bisa sampai 20 menit prosesnya) sampai “done”. Jika sudah selesai maka USB anda bisa dipakai untuk install ulang. Cara mengintal ulang cukup dengan me-restart Mac anda dan jangan lupa tekan tombol Option ketika restart. Nanti tinggal ikuti saja instuksi di layar dengan memilih USB boatloader yang sudah dibuat (bukan dari time machine).Downgrade-macOS-Mojave-beta-to-macOS-High-Sierra-1
  4. Sebelum menginstal anda akan masuk ke Mac OS Utilities (lihat gambar di atas) dan pilih Disk Utilities. jangan lupa untuk mendelet dahulu sistem Mac OS lama anda karena kalau belum di delete sistem OS Sierra-nya, makan OS ElCapitan tidak akan bisa diinstall. Setelah dihapus anda akan kembali ke layar awal di Mac OS Utilities dan tinggal pilih menu Reinstal MacOS.

Semoga sukses dan jangan takut gagal. Ada banyak vide tutorial juga di youtube untuk proses ini.

Salam utak atik 🙂

Laptop Pilihan Saya

Saya dulu pengguna laptop windows karena alasan yang sederhana: semua orang memakainya. Tentu karena harganya juga terjangkau.

Sekitar 4 tahun lalu saya beralih ke Mac karena alasan ingin mencoba product Apple. Saya membeli Macbook Air dengan spec standard. Meski harus merogoh kocek lebih dalam, saya beranikan waktu itu untuk memakai produk Apple. Bentuk dan rupanya elegant. Tipis, ringan dengan layar yang bagus. Mudah dibawa ke mana-mana. Bisa bergaya pula dengan laptop itu. Logo buah apple menunjukan prestise tersendiri.

Dan saya masih memakainya sampai sekarang. Tapi masalah kemudian muncul: mungkin karena Macbook Air, laptop gaya ini tidak bisa dipakai kerja keras. Ketika harus seminggu tanpa henti membuka banyak program, barulah terasa betapa manja laptop saya ini. Dia tak kuat membukan program pdf banyak, dengan puluhan tab browser sambil mendengar musik. Untuk edit video sama sekali tidak bisa diandalkan. Loading menjadi lama dan sering freeze. Baru sembuh setelah saya merestart.

Tentu saya kira bukan karena Macbook ini jelek. Ini lebih karena Macbook Air didisain hanya untuk pekerjaan ringan saja. Hanya untuk mengetik, browsing dan membuka program standard. Tak bisa lebih dari itu.

Sementara kebutuhan saya pada laptop terus meningkat karena saya harus mengerjakan riset saya. Dan karena itu saya merasa harus meng-upgrade laptop saya. Saya membaca cukup banyak rujukan untuk menentukan laptop apa yang akan menaggantikan Macbook Air sebagai mesin utama. Niat awalnya ingin pindah ke Macbook pro: elegant, cantik, kokoh meski mahal sekali. Tapi untuk saat ini saya bisa menjangkaunya. Tapi kemudian muncul beberapa isu dengan Macbook Air: keyboard dikeluhkan banyak orang. Bahan Apple kini sedang menghadapi gugatan pengadilan (class action) karena kegagalan desain keyboard yang baru. Saya urungkan niat membeli Mac Pro.

Beberapa kandidat sudah saya kantongi, diantaranya HP Spectre, Dell XPS 13, Lenovo Yoga 720 dan Thinkpad Carbon X1 (Lenovo). Semua merk itu menjanjikan kemampuan yang mumpuni. Namun setelah mempertimbangkan faktor harga dan selera saya akhirnya mengkerucutkan ke dua pilihan: Spectre dan Yoga 720. Dell XPS saya keluarkan dari list karena saya tidak terlalu suka desainnya. X1 Carbon terlalu konservatif dan mahal. Spec yang sama bisa ditemukan di kedua merk yang saya ingin pilih.

HP spectre sangat cantik. Bahkan mungkin lebih cantik dari Macbook Pro. Pilihan saya hapir jatuh padanya. Sampai kemudia saya menemukan banyak ulasan perbandingan antara Yoga 720 dan Spectre. Spectre hanya menggunakan Intel Dual-Core (Dua lempeng), sementara Yoga memakai Quad-Core (Empat lempeng). Artinya, Yoga lebih bagus untuk proses banyak aplikasi karena menggunakan empat lempeng chip. Juga, pada Yoga 720 disimpan chip untuk graphic NVIDI atau Intel Graphic 360. Kelebihan lainnya: Yoga 720 bisa dilipat dengan layar sentuh. Saya juga menemukan harga promosi Yoga 720 di Amazon.

Pesanan masih di jalan. Semoga menyenangkan dan jika nanti sudah sampai saya bisa kembali membuat ulasan pengalaman menggunakannya.

Spotify atau Apple Music?

3authorthumbnail

Anda senang mendengarkan musik? Saatnya berhenti membeli mp3 bajakan dari mal-mal atau Abang tukang CD pinggir jalan. Lebih baik membeli CD yang asli agar turut serta mensejahterakan para pegiat industri musik nasional. Tapi memang sekarang membeli CD lagu sedikit sulit karena toko CD besar seperti DiskTara sudah tutup. Beberapa toko yang lain juga mengalami nasib serupa. Penyebab mereka tutup sudah jelas: internet membuat orang mudah mengunduh lagu yang diinginkan, sebagian besar dengan cara illegal.

Sekarang para pegiat industri musik harus mengemis di KFC atau nyempil di rak Indomart untuk mendapatkan pelanggan.

Memang inustri musik juga sudah perlahan beralih ke jualan album online. Lagu-lagu di jual di Apple store atau di tempat lain. Setelah membeli, lagu langsung masuk di gawai kita.

Ada cara lain menikmati musik tanpa henti, dengan hampir 30 juta koleksi musik dari semua aliran. Dan legal pula. Caranya? Langganan Spotify atau Apple Music. Ada juga penyedia layanan serupa. Tapi dua layanan ini cukup populer.

Untuk Apple Music anda harus membayar 70 ribu per bulan untuk mendapat lagu sepuasnya. Pilihan-pilihan lagu itu bisa anda simpan di gawai. Harus selalu pakai produk Apple? Tidak. Anda tidak perlu khawatir karena aplikasi Apple Music kini tersedia juga di gawai Android atau di laptop. Semua musik yang anda pilih bisa dinikmati dari maksimal 5 gawai. Anda cukup pasang aplikasi itu dan masuk. Diawal masa berlangganan, anda akan mendapatkan layanan 3 bulan secara cuma-cuma.

Beberapa bulan setelah Apple Music masuk ke pasar Indonesia, raja industri musik online dari Swedia juga memulai lapak mereka di sini. Baru buka bulan lalu. Sebenarnya dalam industri ini, Apple adalah pengekor. Spotify sudah menjadi raja industri ini beberapa tahun lalu meski masuk ke pasar Indonesia belakangan. Harga yang ditawarkan lebih murah: hanya 50 ribu rupiah untuk menikmati 30 juta koleksi musiknya. Berbeda dengan Apple Music, anda hanya diberikan layanan cuma-cuma selama satu bulan pada masa awal berlangganan.

Pilih mana?

Saran saya simple: langganan saja keduanya dan tes selama sebulan pertama. Kemudian hentikan langganan sebelum jatah cuma-cumanya habis biar kartu kredit anda tidak kena pemotongan untuk pembayaran.

Saya Pilih mana? Saya sudah berlangganan Apple Music–kebetulan karena saya punya iPad dan Mac–sejak hampir setahun lalu. Setelah Spotify buka lapaknya, saya langsung berlangganan. Sebulan ini saya menikmati layanan gratis dari mereka. Selam sebulan ini saya terus membandingkan kedua layanan ini. Dan sepertinya saya harus meninggalkan Apple Music. Kenapa?

Entahlah, mungkin ini subjektif sekali. Tetapi, setelah mencoba sebulan, saya merasa aplikasi Spotify lebih baik dari segi mudahnya digunakan. Apple Music ketika dibuka dan masuk kita sedikit kebingungan. Spotify lebih simple dan intuitif. Setiap kita mencari seorang artis, Spotify memberikan rekomendari 10 lagu paling hit dari artis tersebut. Spotif juga memberikan rekomendari artis yang mirip dan terkait dari aliran yang sama. Berdasarkan itulah saya bisa sepuasnya membuat playlist kumpulan lagu-lagu terbaik. Ada beberapa fitur lain yang anda akan rasakan perbedaannya kalau langsung mencoba

Kualitas suara Spotify juga sedikit lebih baik. Saya tidak perlu memaparkan perbedaan sistem file yang digunakan keduanya, saya bukan ahlinya. Sebagai orang awam saya hanya mendengarkan dan merasa Spotify lebih baik. Saya memutar lagu yang sama dengan volume suara yang sama dan headset yang sama (Sennheisser)

Alasan ketiga tentu karen Spotify lebih murah 20 ribu dibanding Apple Music. Kalau ada lapak yang memberikan kulitas lebih baik dengan harga lebih murah, masa tidak pindah lapak.

Mendengarkan musik, sama seperti menikmati layanan internet, listrik, dan lain-lain, adalah kebutuhan. Saya tidak pernah sehari tidak mendengarkan musik. Langganan hanya 50 ribu sebulan untuk layanan prima tidak akan membuat anda miskin. Dengan demikian mungkin anda juga telah ikut memakmurkan inustri musik kita.