LA Notes

Menanti ‘Anak Amerika’ tiba

Dia, yang namanya masih kami rahasiakan, akan hadir di antara kami dalam dua atau tiga minggu ke depan. Menurut hari perkiraan lahir, ia tiba di dunia pada 21 Juli nanti. Ia akan menjadi anggota keluarga kami yang ke lima.

Ia sudah dinanti dua kakaknya dengan penuh penasaran dan tanda tanya. Yarra selalu bertanya kapan ia lahir, mukanya seperti siapa, siapa namanya, lahirnya bagaimana. Untuk semua pertanyaan itu, kecuali yang terakhir, saya dan istri selalu menjawabnya dengan penuh kegembiraan.

Ia adalah anak kami yang lahir di benua yang lain. Amartya lahir di Australia, tepatnya di Melbourne ketika saya menyelesaikan S2 di Universitas Melbourne. Yarra lahir di Kuningan, Jawa Barat, Indonesia, 1,5 tahun setelah Amartya lahir. Yarra anak ‘Asia’. Ia, bayi yang akan lahir nanti, anak Amerika. Ia lahir di benua yang berbeda dengan ayah-ibu dan kedua kakaknya. Sebuah anugrah anak kami lahir di tiga benua berbeda.

Tak seperti kedua kakaknya, ia akan memiliki status hukum yang berbeda. Ia, begitu lahir, akan resmi menjadi warga negara Amerika. Berdasarkan konstitusi Amerika, setiap anak yang lahir di wilayahnya menjadi anak kandung negara, meskipun kedua orang tuanya bukan warga negara Amerika. Jika sampai usia 21 kelak hukum di Indonesia tidak juga mengenal dwi-kewarganegaraan, maka ia harus memilih: menjadi warga negara Amerika atau Indonesia. Jika nanti Indonesia mengakui dwi-kewarganegaraan, maka ia bisa tetap memegang status dua warga negara sekaligus: Amerika dan Indonesia. Tentu tidak perlu memilih sekarang karena itu masih jauh. Birkan dia sendiri mungkin nanti yang akan memilih. Siapa tahu Indonesia 21 tahun yang akan datang menjadi super-power dan lebih sejahtera. Siapa pula yang tahu nasih Amerika 20 tahun ke depan, bukan?

Mungkin karena setiap anak yang lahir disini akan menjadi warga negaranya, sejak dalam perut ia begitu diperhatikan oleh negara. Sejak istri saya resmi hamil dan mendapat surat keterangan dokter, ia sudah mendapatkan banyak fasilitas. Karena kami dianggap ‘miskin’–tak ada mahasiswa yang kaya–istri saya langsung mendapatkan fasilitas cuma-cuma. Ia rutin cek kehamilan setiap bulan, mendapatkan konseling gizi, perawatan gigi, juga tambahan nutrisi. Sekarang, menjelang kelahiran, saya harus mengantar istri setiap minggu ke klinik di Klinik Keluarga Vanice di Santa Monica untuk mengecek kehamilan. Alhamdulillah semua cuma-cuma

Dokter yang bisa menangani kami, Dokter Lamp, juga sudah memberi tahu bahwa istri saya nanti akan melahirkan di rumah sakit Reagan Hospital di kampus UCLA, kampus tempat saya belajar. Rumah sakit itu adalah salah satu rumah sakit terbaik di Amerika. Dan lagi-lagi, karena itu, kami merasa diberkati. Mohon doanya semoga persalinan lancar.

Kadang lucu kalau mengingat dua anak kami lahir di rumah sakit universitas. Amartya lahir di The Royal Women Hospital milik Universitas Melbourne. Ia, bayi itu, nanti akan lahir di rumah sakit milih kampus UCLA. Hanya Yarra, si Neng, yang lahir di rumah sakit umum swasta di kampung saya di Kuningan. Tapi yang penting kan bukan dimana lahir. Yang penting sehat dan selamat.

Oh iya lupa: ia, bayi itu, menurut cek lag radiologi, berjenis kelamin laki-laki. Semoga nanti saya bisa share lebih banyak cerita tentang kelahirannya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: