• Esai Pendek

    Ke mana Pak Pos Kita

    Kantor Pos, untuk saya, masih menyimpan makna. Menyisakan kenangan. Setiap logo dan warna kuninganya terlihat, ia selalu membawa ingatan saya pada bangunan tua berarsitektur Belanda di samping mesjid Agung Syiarul Islam, Kuningan. Di sana, dulu menjelang lebaran, biasanya saya diam berlama-lama mencari kartu ucapan untuk dikirimkan. Setelah mendapatkannya, saya pergi ke sudut ruangan dan mengeluarkan sketsa kata-kata yang sudah dirancang sebelumnya. Saya salin kata-kata itu dengan hati-hati dan rapi. Kita tahu, ketika menuliskan kata-kata di kartu lebaran itu, setiap kita berubah menjadi penyair. Di suatu masa, setiap awal bulan, saya selalu melihat apakah pengurus pesantren memajang kartu wesel pos untuk saya. Kartu itu selalu ditunggu diawal bulan. Waktu itu belum…

  • Catatan Harian

    Kemana Kawan Kita, S?

    “Untuk S yang hilang ditelan filsafat.” Begitu bunyi dedikasi sebuah buku. Buku itu ditulis untuknya, oleh sahabatnya ketika kuliah di STF dulu. S memang raib entah ke mana. Ia seperti hyang, menghilang. Tapi saya yakin bukan karena ditelan filsafat. Ia hilang karena kami, kawan-kawannya, atau keluarganya, tak segera merengkuhnya. Tangannya tak segera kita tarik kembali ke dunia nyata. Dan ia kini seperti fatamorgana. Saya selalu memikirkannya setelah mendengar cerita pilu itu. Tak percaya perjalanan hidupnya akan seperti sekarang ini. S anak yang sangat cerdas, artikulatif dan berdedikasi untuk apa yang ia sukai dan cintai. Tapi juga introvert dan sering terlihat melankolik. S suatu hari berkonsultasi kepada saya di basecamp forum…