Catatan Harian

ICRC, Sampai Jumpa!!!

image002

Mulai hari ini, saya tidak lagi berkeja untuk ICRC. Bukan karena bosan apalagi karena dipecat. Bukan. Saya harus meninggalkan ICRC karena harus kembali kuliah. Mungkin anda sudah tahu saya akan ‘mesantren’ lagi di UCLA mulai pertengahan Agustus ini dan akan mondok disana selama 4 tahun. Karena waktunya cukup lama, saya tidak mungkin mengajukan cuti. Kalau bekerja di ICRC ini seperti PNS, mungkin saya akan mengajukan cuti di luar tanggungan negara. Tapi model kerja di ICRC tidak seperti itu. Pilihan satu-satunya tentu harus berhenti kerja.

Tentu berhenti bekerja bukan berarti setelah itu antara saya dan ICRC tidak ada lagi komunikasi. Dalam dunia yang serba terhubung ini, setiap kita tidak mungkin bersembunyi di balik pintu dan terputus dari dunia tempat kita selama ini hidup atau bekerja. Kawan-kawan selama kerja di lembaga itu akan terus terhubung dengan beragam cara, terutama lewat sosial media.

Tak lama saya kerja di lembaga kemanusiaan itu. Hanya 5 tahun. Itupun termasuk masa ketika saya selama hampir setahun menjadi konsultan. Ada banyak kawan yang sudah bekerja lebih 10 bahkan 20 tahun. Jadi jika dibanding kawan-kawan yang lain saya tidak ada apa-apanya.

Tetapi meski termasuk singkat, saya merasa banyak sekali pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama bekerja. Tentu ICRC juga mendapat banyak input dan kemajuan—semoga—dari kehadiran saya yang singkat itu. Kerja profesional memang harus seperti itu: timbal balik saling memberi untuk kemanfaatan dan kemaslahatan semua pihak.

Bersama ICRC saya banyak mengunjungi daerah-daerah yang tidak mungkin saya kunjungi kalau tidak bersama ICRC. Daerah itu bahkan kadang di luar batas wajar bagi para pelancong. Tentu maklum karena ICRC adalah satu dari sedikit organisasi yang punya akses dan jaringan sampai ke lapangan terutama di daerah yang masih dilanda konflik. Saya tidak perlu sebutkan ke mana saja saya pergi. Tetapi sebagai gambaran, tahun 2015 silam saya pergi ke luar negeri untuk kepentingan pekerjaan sekitar 14 kali. Artinya, hampir setiap bulan saya pergi melancong ke luar negara. Tentu ini menjadi pengalaman yang penting secara pribadi. Juga menjadi catatan berharga bagi pengembangan karir profesi ke depan.

Bersama ICRC saya banyak juga berjumpa dengan orang-orang yang mustahil saya temui jika saya tidak bekerja bersama ICRC. Saya berjumpa banyak orang baru dan pada saat yang sama ICRC juga banyak saya pertemukan dengan orang-orang dan lembaga yang baru.

Ketika dahulu mengambil pilihan untuk pindah dari LSI, tempat saya sebelumnya selama 4 tahun bekerja, saya merasa khawatir karena ICRC adalah lapangan dan belantara baru. Meninggalkan kenyamanan selalu saja mengkhawatirkan. Tetapi saat itu saya merasa keahlian dan ilmu saya akan lebih bermanfaat dan dipakai di ICRC. Saya baru lulus Master hukum dari Melbourne saat itu. Dan sepertinya saya salah kandang. LSI lebih membutuhkan para sarjana ilmu politik, satu bidang yang saya sukai ketika kuliah dulu. Tetapi karena saya belajar di fakultas Syariah, minat itu tidak bisa lebih lanjut didalami ketika kuliah S2.

Sempat tidak terlalu merasa yakin ketika awal bergabung, secara perlahan saya merasa betah di lembaga baru itu. Ilmu saya lebih dipakai. Saya juga mempunyai posisi yang memungkinkan saya mewujudkan ide-ide saya. Setelah lima tahun bekerja, saya merasa telah memberikan apa yang saya bisa. Dan semoga apa yang telah saya rintis dan mulai, ke depan bisa dipertahankan dan diperbaiki. Setelah lima tahun bekerja saya merasa keputusan untuk bergabung dengan ICRC dan berpisah dari LSI adalah sebuah keputusan tepat.

Ketika saya akan melangkah keluar dari pintu ICRC, perasaan yang sama ketika dahulu melangkah meninggalkan LSI muncul lagi: khawatir dan sedikit gugup. Meninggalkan zona nyaman selalu tidak menyenangkan. Kalau mau, cukup terus bekerja dengan baik di lembaga itu, semuanya akan baik-baik saja. Karir sedang bagus, gaji layak, masa depan karir juga terbentang. Tetapi saya lebih memilih zona petualangan. Semoga langkah ini tidak keliru. Semoga lima tahun yang akan datang saya bisa menulis lagi sebuah catatan untuk melihat bahwa keputusan saya tidak keliru.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah saya selesai kuliah doktoral nanti. Tetapi, sebagimana ketika saya bekerja di tempat lain, untuk kali ini saya hanya perlu melakukan yang terbaik. Hal-hal lain akan mengikuti. Mungkin saya akan kembali lagi bekerja untuk ICRC, mungkin juga dengan lembaga internasional lain, mungkin hanya akan mengajar di UIN Jakarta, mungkin akan menjadi seoarang profesor di UCLA, mungkin akan singgah di kantor pusat ICRC di Jenewa, mungkin justru akan pulang kampung ke Kuningan untuk meneruskan bisnis orang tua. Kita tidak bisa melihat masa depan. Tugas kita hanya mempersiapkan yang terbaik hari ini untuk menyongsong semua kemungkinan.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan ‘Sampai jumpa lagi ICRC’.

Leave a Reply

%d bloggers like this: