BUNUH DIRI PARA TERORIS

Kenapa Dani yang baru lulus SMA mau meledakan dirinya di Mariot? Kenapa Eko Peyang dan Air juga siap jadi martir dan rela meninggalkan anak istrinya? Kenapa tiba-tiba negara kita menjadi tempat subur bagi ‘budaya’ baru yang dinamakan bunuh diri?

Bunuh diri sebagai fakta sosial telah diteliti jauh-jauh hari oleh Emile Durkheim, soko guru sosiologi modern asal Jerman. Menurut Durkheim, sebagai fakta sosial, fenomena bunuh diri bisa dikelompokan ke dalam tiga jenis: bunuh diri egoistik, alturistik dan anomik (Durkheim 1951)

Pertama, bunuh diri egoistik terjadi karena individu tercerabut dari dunia sekitarnya. Ibarat pohon tercerabut dari tanah dan akar tempatnya hidup. Kehidupan yang sangat individualis adalah penyebab utama bunuh diri jenis ini. Durkehim menemukan fakta bahwa bunuh diri jenis ini lebih banyak ditemui pada masyarakat Protestan ketimbang Katolik. Alasannya karena dalam Protestantisme, individu semakin bebas dan punya otonomi.

Kedua, bunuh diri alturistik terjadi karena masyarakat, lingkungan  atau kelompok terlalu kuat mengikat seseorang. Ini adalah kebalikan dari tipe yang pertama. Bunuh diri jenis ini terjadi kerena seseorang dituntut untuk mengorbankan dirinya demi kebaikan atau kehormatan kelompok yang lebih besar. Bunuh diri para istri ketika suaminya mati di India atau para samurai di Jepang dikelompokan oleh Durkehim ke dalam jenis ini.

Bunuh diri tipe ketiga disebut bunuh diri anomik karena bunuh diri ini disebabkan oleh sebuah perubahan sosial yang drastis yang mengakibatkan pudar dan longgarnya norma-norma masyarakat. Ketika krisis ekonomi melanda, sebagai contoh, angka bunuh diri cedrung meningkat karena individu gagal menghadapi perubahan yang cukup drastis yang menimpa dirinya.

Dalam kenyataannya, bunuh diri bisa merupakan gabungan dari tiga tipe ini. Jadi, kita bisa menemui bunuh diri tipe ego-anomik, ego-alturistik atau alturis-egoistik. Tiga jenis pembagian yang dibuat Durkheim hanyalah sebuah tipe ideal kategorisasi sebuah fenomena.

Mungkin kita bisa menempatkan bunuh diri para teroris belakangan ini dalam kerangka di atas. Dani menjadi martir karena dia tercerabut dari keluarganya setelah ibu dan bapaknya cerai menyusul kasus yang menimpa bapaknya–masuk sel karena pencurian. Setelah itu ia bergabung dengan sebuah kelompok yang menuntutnya berani mengorbankan diri demi kebaikan umat yang lebih besar. Bunuh diri dani adalah bunuh diri alturistik: mengorbankan dirinya demi Islam–setidaknya menurut kelompok teroris.

Analisa Durkheim yang diterbitkan dalam bukunya, Suicide, tahun 1897 bermanfaat untuk menganalisa bunuh diri para teroris, namun dirasa sangat tidak mencukupi. Bunuh diri terorisme adalah fenomena unik baru yang juga butuh pendekatan baru. Tak jarang para teroris merupakan tokoh yang sangat dekat dengan masyarakat, jauh dari kata teralienasi. Banyak diantara mereka juga orang terpelajar dan tidak mengalami masalah ekonomi yang berarti. Mereka mempunyai keluarga yang hangat sebagaimana keluarga lainnya.

Bunuh Diri atau Martir?

Bunuh diri teroris dalam bentuknya yang seperti sekarang mulai muncul sejak tahu 1980an. Selama hampir 30 tahun, praktek ini oleh pelakunya telah dianggap sebagai cara paling efisien dan efektif untuk melakukan serangan.Untuk menghancurkan menara kembar WTC dan membunuh lebih dari 6000 orang, Alqaida hanya butuh martir terdidik dan siap mati. Untuk menghancurkan kafe di Bali dan membunuh ratusan orang, Nurdin cs hanya butuh bahan peledak yang dibelinya di toko kimia dan dua orang martir. Dengan keterbatasan dana, para teroris masih bisa melancarkan serangan yang menghancurkan melalui bom bunuh diri. Karena efektifnya, metode serang bunuh diri ini telah dijadikan senjata dan cara jitu oleh lebih dari 38 kelompok di lebih dari 28 negara (Ame Pedahzur 2006)

Penjelasan cost-benefit diatas bisa menjelaskan bunuh diri terorisme pada tataran organisasi, namun gagal menjelaskan motivasi individu pelaku bunuh diri itu sendiri. Apakah Dani dan Nana secara strategis mempertimbangkan bahwa dengan meledakan diri kelompoknya akan diuntungkan dengan cara yang efektif? Hampir pasti tidak. Logika cost-benefit dipakai oleh sutradara bom bunuh diri, dalam hal ini katakanlah Nurdin M. Top. Dengan demikian, Dana dan Nana, juga pengebom lain, dalam hal ini selain pelaku bisa juga dikategorikan sebagai korban. Mereka hanya alat efisien dari Nurdin M.Top dan kelompoknya.

Kita tidak bisa mencampuradukan tujuan kelompok teroris dengan motif individu sebuah bom bunuh diri. Tujuan kelompok sudah jelas: menyerang dan membuat kerusakan dengan cara efektif dan efisien. Lalu apa motif individu dibalik bom bunuh diri yang mencengangkan kita itu?

Dalam kasus terorisme, motif keagamaan menjadi alasan paling kuat. Para pelaku bunuh diri berhasrat mendapatkan kemulyaan tertinggi dalam hidup dengan meledakan diri. Mereka berharap akan dijemput sepuluh bidadari syurga karena mati sebagai syuhada. Kita hampir tidak bisa menemukan motif individu lain selain motif ingin mati sebagai syuhada. 

Tapi bukankah mati syahid adalah cita-cita semua orang Islam? Lalu kenapa mereka memilih cara itu untuk menuju kesyahidan? Dalam hal inilah penting penjelasan ideologisasi dan perekrutan. Pelaku bunuh diri hampir dipastikan adalah anggota paling ‘junior’ kelompok teroris. Mereka direkrut dan dicuci otaknya. Perlahan-lahan si pengantin dicuci otaknya. Setelah itu jembatan penghubung antara dirinya dengan keluarga dan masyarakat diputuskan. ‘Si pengantin’ dicekoki bahwa masyarakat di luar sana kafir dan menyimpang karena tidak mau menerapkan syari’at. Pemerintah adalah antek-antek kafir Amerika. Setiap muslim wajib berjihad menegakan ajaran alah dan memerangi kaum kafir dan kaki tangannya. Dicekoki pula bahwa tujuan tertinggi dalam hidup adalah kesyahidan. Dalam tahap akhir ini biasanya ‘si pengantin’ tiba-tiba hilang dari komunitasnya secara misterius.

Decarle, Agustus 2009