-
“Ayah, orang Kristen masuk Neraka, ya?”
“Ayah, orang Kristen masuk Neraka, ya?” Itu pertanyaan Kaka yang kesekian kalinya diajukan pada saya. Entah dari mana dia mendapatkan ilham pertanyaan itu. Pasti dari kawan-kawannya main, atau dari gurunya di Taman Kanak-Kanan. Tapi bisa jadi dari kesimpulan yang dia ambil sendiri. Ya, kadang anak sekecil itu sudah bisa mengambil sendiri kesimpulan dari premis-premis yang secara tidak sengaja diucapkan orang-orang di sekitarnya. Ketika musim nyoblos calon presiden, sebagai contoh, saya mengajaknya ke bilik suara. Sebelum hari pencoblosan itu, anak-anak di gang komplek rumah kami riuh dengan lagu salam dua jari. Yang lain, karena orang tuanya Prabowo, berceloteh Jokowi a dan b. Tanpa bermasuk menjerumuskannya pada pilihan-pilihan politik,…
-
Isi dalam fiksi
Saya mendapatkan banyak masukan dari pembaca novel saya terkait ‘isi’ dalam karya saya. Ada yang senang dengan ‘isi’ itu, tetapi ada juga yang merasa terganggu dan menganggapnya terlampau berat. Tentu setiap pembaca berhak menafsirkan sendiri teks yang dibacanya. Dalam beberapa hal, ungkapan bahwa ‘penulis sudah mati’ ketika karyanya dilepas ke publik ada benarnya. Biarlah karya itu hidup bebas dengan beragam apresiasi dan tanggapan, pujian dan cacian. Tetapi sebagai penulis yang telah melahirkannya, ada baiknya saya ungkapkan di sini kenapa saya memilih jalur menulis fiksi yang mungkin terlampau ber-‘isi’ itu. Jawaban sederhana dari pertanyaan di atas terletak dalam latar sosial penulis. Saya pertama-tama tidak pernah berniat untuk menghasilkan…



