Esai Pendek

“Ayah, orang Kristen masuk Neraka, ya?”

“Ayah, orang Kristen masuk Neraka, ya?”

Itu pertanyaan Kaka yang kesekian kalinya diajukan pada saya. Entah dari mana dia mendapatkan ilham pertanyaan itu. Pasti dari kawan-kawannya main, atau dari gurunya di Taman Kanak-Kanan. Tapi bisa jadi dari kesimpulan yang dia ambil sendiri. Ya, kadang anak sekecil itu sudah bisa mengambil sendiri kesimpulan dari premis-premis yang secara tidak sengaja diucapkan orang-orang di sekitarnya.

Ketika musim nyoblos calon presiden, sebagai contoh, saya mengajaknya ke bilik suara. Sebelum hari pencoblosan itu, anak-anak di gang komplek rumah kami riuh dengan lagu salam dua jari. Yang lain, karena orang tuanya Prabowo, berceloteh Jokowi a dan b. Tanpa bermasuk menjerumuskannya pada pilihan-pilihan politik, ketika dia bertanya “Ayah mau pilih siapa?”,

“Ayah mau pilih Jokowi, Ka”.

“Kenapa?” potongnya singkat. Matanya sekilas menusuk mata saya dengan pertanyaan itu. Setelah itu dia bersicepat laju dengan sepedanya. Dan saya berlari kecil mengejarnya dari belakang.

Dia bertanya ketika kami menyebrangi jalan dan saya memegang sepedanya agar tidak ngebut atau jatuh. Setelah jeda beberapa lama memilah kata yang singkat dan padat untuk jawaban itu, saya manjawab sederhana “Jokowi baik, Ka”.

Tiba-tiba, ketika kami mulai mendekati kerumunan di dekat tempat pemungutan suara, dia menjawab dengan sedikit berisik “Oh, berarti Prabowo jahat, Ayah? Iya, Prabowo jahat, ya?”

Dia mengulang pertanyaan itu beberapa kali sampai mengundang perhatian. Saya menempelkan ujung jari telunjuk di mulutnya agar dia berhenti. Kesimpulan “Prabowo jahat” diambilnya begitu saja karena saya menjawab “Jokowi baik”.

“Orang Kristen masuk Neraka” mungkin diambil sendiri kesimpulannya karena ibunya berkali-kali mengajarkan bahwa dia, Kaka, harus mulai belajar shalat, mengaji dan membaca. Dan ketika dia malas, ibunya akan bilang: “Kalau Kaka malas belajar nanti jadi orang bodoh, ga bisa cari uang banyak kaya ayah, ga bisa naik pesawat. Kalau orang bodoh, ga bisa shalat, nanti masuk neraka. Kaka mau masuk neraka?

Dia tahu beberapa temannya tidak pernah shalat (tentu karena masih kecil. Kaka juga hanya bejar shalat kalau hari Jum’at atau aku ajak berjamaah ketika shalat maghrib) Ketika dia dan kawan-kawannya berlarian ke mesjdîd mengejar khotbah yang hampir laju, dengan sarung diikatkan di leher, dua orang kawannya malah belok ke rumahnya. Dari jauh pernah saya dengar seorang kawannya bertanya dengan suara nyaring sambil berlari: “Kok kamu ga shalat sih?” Kawannya yang lebih besar menjawab pertanyaan yang tidak dibuat untuk dirinya itu: “Kalau orang Kristen, ga shalat!”

Dari pengalaman dan usaha alamiyah diotaknya menghubungkan beberapa peristiwa itulah, mungkin, akhirnya terujar pertanyaan Kaka “Ayah orang Kristen masuk Neraka, ya?”

Saya yakin ini bukan hanya pengalaman saya, anda juga mesti mengalami peristiwa seperti ini. Atau setidaknya mirip. Lantas bagaimana anda menjawabnya? Jawaban anda tentu selalu berdasar pada rujukan keyakinan anda.

Buat anda yang sedikit konservatif, jawabannya, meski disampaikan dengan cara yang halus, akan lebih sederhana: semua orang yang bukan Islam akan masuk neraka. Nerakanya yang paling bawah dan mengerikan, sumpek, dengan api menyala-nyala dan besi panas membara siap melumat. Berkali-kali.

Buat saya yang lama belajar dipesantren dan lantas mengenyam sedikit kuliah di kampus, jawaban itu sedikit membuat sakit kepala. Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan Kaka itu dengan arif bijaksana, seperti bestari. Sepertinya masalahnya terletak pada ketegangan dua prinsip: keterbukaan agama dan prinsip mendasar agama.

Kalau hanya semata bilang: “Orang kristiani tidak shalat seperti kita” tanpa penjelasan, Kaka akan membantah dengan mudah: “Kaka mau kaya Devin saja tidak usah shalat. Habis cape” Bantahan itu muncul saat Kaka belajar shalat Tarawih bulan puasa terakhir. Padahal saya ingin Kaka mulai belajar shalat dengan benar, sebagaimana saya dahulu diajari shalat dengan benar oleh orang tua saya. Masalah nanti sudah tua dia akan mengamalkan apa yang sudah saya ajarkan, itu urusannya sendiri kelak. Tugas saya sebagai orang tua hanya mengajarkannya hal-hal mendasar dalam agama saya

“Yang masuk neraka itu, Ka, orang-orang yang jahat yang tidak baik sama orang lain”

“Preman berarti masuk neraka, ya, Ayah?”

“Preman itu apa, Ka?”

“Waktu Kaka habis dari Cirebon tuh, pas sedang di kereta, ada Preman lempar batu kena kaca kereta dekat Kaka duduk. Terus kata Bunda itu yang lempar batu Preman, orang nakal yang banyak tatonya”

“Kaka mau jadi Preman?”

“Ga mau, ah. Aku ga mau, Akyah!”

“Kalau ga mau jadi Preman, Kaka harus banyak belajar biar pandai. Kalau pandai nanti banyak uang. Sama harus banyak berdoa dan shalat…”

“Biar…..? Biar apa, Akhyah” Kaka sering kalau manja memanggil saya,ayahnya, dengan sebutan Akyah, mengikuti ibunya.

“Biar hidupnya tenang, tidak pusing, biar nanti banyak uang juga.

Saya tahu Kaka ingin menjerumuskan saya kedalam diskusi tentang neraka dan surga lagi. Untuk pertanyaan-pertanyaan dunia nanti dan eskatologi, buat saya membelokannya pada jawaban nyata yang lebih dekat dengan hidup kita adalah jawabannya.

Ketimbang bilang pada Kaka kelompok A atau B nanti masuk neraka, lebih baik saya memberinya jawaban berdasarkan kategori prilaku atau perbuatan. Itu artinya, semoga saja, Kaka akan belajar bahwa berbuat baik dan jahat akan membawa akibat,oleh siapapun perbuatan itu dilakukan. Dengan begitu Kaka belajar prinsip-prinsip dasar dalam hidup: keterbukaan dan tanggungjawab atas setiap perbuatan manusia.

(to be continued…)

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: