Rumah kita, Surga kita

Sebagaimana dulu pernah kita rencanakan dalam perjalanan menuju bioskop atau ketika kita mencicipi nasi goreng di pertigaan Polsek yang terkenal itu, akhirnya semuanya tercapai dengan perlahan, Sayang. Memang sedikit lambat. Ya, seharusnya aku menjelmakannya untukmu sekitar 5 tahun silam ketika kita baru saja menikah. Tapi kau akhirnya tahu, aku tak sehebat seperti kelihatannya. Aku jauh dari kata sempurna untuk membawa hal-hal remeh ini segera. Meski telat, kita patut bersyukur karena akhirnya hal-hal sederhana itu menjelma perlahan.

Sebelum menikah kami punya cita-cita sederhana: rumah kecil yang nyaman, kendaraan yang layak dan sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Sebuah cita-cita umumnya orang berumah tangga dan itu bukan cita-cita luar biasa. Namun setiap orang yang pernah menghabiskan masa-masa gombal dan lantas mengalami pelaminan, cita-cita sederhana itu harus diraih dengan kesabaran.

Kau masih ingat saat pertama aku membawamu ke rumah kita bukan? Kau kaget. Ya, kaget setengah mati karena bagimu itu lebih layak disebut kontrakan ketimbang rumah. Aku tahu kau tidak pernah punya impian menghuni rumah sekecil itu. Keluargamu kaya raya. Rumah orang tuamu, orang tua kita, besar-besar dan mewah. Sejak dalam kandungan kau tak pernah pergi tanpa diantar supir. Jadi wajar ketika kau kaget luar biasa aku ajak ke rumah itu.

Tapi kau terima dengan penuh kesabaran. Aku sedikit berbohong: “Ini sementara saja, daripada kita tinggal dikontrakan. Semoga tahun depan pindah ke rumah yang lebih besar”. Kau hanya senyum sambil terus melihat-lihat ruangan dalam rumah tipe 36 itu. Kau masih ingat, langit-langit rumah itu kusam dan banyak bekas bocoran air.

Tak ada apa-apa di dalam rumah kita itu. Hanya tikar, lemari buku yang aku bawa dari kos-kosan dan dua buah lemari baju. Bahkan kita tak punya kasur empuk untuk memadu kasih karena kasur bekas dulu di kontrakan ketika kuliah masih bagus. Kalau dipikir-pikir, kita prihatin sekali saat itu. Padahal apa susahnya kau minta ke orang tuamu, orang tua kita, kasur yang bagus. Abah bisa kirim kasur bagus dari tokonya sendiri. Tapi kita tidak melakukannya. Dan kau tidak protes. Kasur lantai itu masih ada di ruang belakang, bukan?

Rumah kita itu belum berubah. Masih yang itu. Masih seperti dahulu. Ketika kau berdiri di halaman, dapur tempat kau menyiapkan makanan untukku pergi ke kantor terlihat jelas. Ruang tamu hanyalah sebuah ruang persegi yang sudah penuh dengan lemari buku dan kursi tamu. Dapur kita dihadang dinding tetangga belakang. Baunya minta ampun kalau kau masak sambal terasi dan ikan teri. Kau sering protes dan menolak untuk memasak dua menu kesukaanku itu. Baunya, kau bilang, tak akan hilang tiga hari hinggap di dalam rumah

Tapi, perlahan-lahan rumah kecil itu menjadi rumah seperti yang kita impikan. Bukankah dulu kita bermimpi punya rumah kecil yang nyaman dengan kendaraan dan sepasang anak yang lucu dan menggemaskan? Sebenarnya kita ingin rumah mewah megah dan nyaman. Tapi kau tahu, kita tahu, itu bukan hal yang layak dijadikan cita-cita sekarang ini. Tak ada cara untuk mendapatkannya selain lewat korupsi atau menjual semua warisan. Kau selalu bilang padaku, kaya dan mewah nanti ada masanya, Insyaallah. Sekarang nikmatilah kesederhanaan.

Sebuah mobil sudah menemani kita setahun ini. Ini mobil yang layak, bukan mobil yang dulu sering mogok itu. Rumah juga sudah dicat dan sedikit direnovasi. Halamannya kini dipenuhi bunga dan tanaman. Dapur tak akan lagi seperti dulu dan karena itu kau bisa berlama-lama di sana karena tukang sudah selesai memasang penyedot udara. Sengaja aku belikan penyedot udara yang bagus agar bau-bau makanan lekas hilang dan kau tak lagi takut membuat sambal terasi dan ikan teri. Kamar mandi sudah tak lagi macet. Genting bocor sudah tak ada lagi.

Lihat, ketika tidur, kedua anak kecil yang sangat menggemaskan itu tampak seperti malaikat. Merekalah obor hidup kita. Tak pernah jemu-jemu kita memandangnya ketika malam setelah mereka terlelap dan kita hendak beradu kasih.

3 Comments

Leave a Reply