Esai Pendek

Ke mana Pak Pos Kita

Kantor Pos, untuk saya, masih menyimpan makna. Menyisakan kenangan. Setiap logo dan warna kuninganya terlihat, ia selalu membawa ingatan saya pada bangunan tua berarsitektur Belanda di samping mesjid Agung Syiarul Islam, Kuningan.

Di sana, dulu menjelang lebaran, biasanya saya diam berlama-lama mencari kartu ucapan untuk dikirimkan. Setelah mendapatkannya, saya pergi ke sudut ruangan dan mengeluarkan sketsa kata-kata yang sudah dirancang sebelumnya. Saya salin kata-kata itu dengan hati-hati dan rapi. Kita tahu, ketika menuliskan kata-kata di kartu lebaran itu, setiap kita berubah menjadi penyair.

Di suatu masa, setiap awal bulan, saya selalu melihat apakah pengurus pesantren memajang kartu wesel pos untuk saya. Kartu itu selalu ditunggu diawal bulan. Waktu itu belum ada tranfer bank. Wesel Pos menjadi andalan.

Zaman berubah. Industri digital dalam sekejap merubah kita. Tapi disaat perusahaan logistik dan kurir berjamur, Pos malah seperti terkubur. Setidaknya dalam 5 tahun terakhir, saya tidak pernah mendapatkan paket yang diantar Pak Pos. Ketika membeli barang di toko online, hampir tak ada pilihan pengiriman menggunakan kantor Pos. Kenapa perusahaan negara, telah berusia cukup tua, malah merana?

***

Ketika di Amerika, saya menemukan hal yang hampir sama dengan apa yang disaksikan di Indonesia sekarang. USPS, perusahaan milik negara untuk urusan per-pos-an, jauh kalah pamor dari para pesaingnya seperi DHL, UPS, FedEx. Amazon belakangan membuat perusahaan logistik sendiri untuk mendistribusikan barang dari toko onlinenya. Persaingan di dunia itu tampaknya sangat keras meski pasarnya juga terus tumbuh seiring digitalisasi.

Namun USPS sepertinya masih jauh lebih baik nasibnya. Saya hanya menilai dari apa yang bisa dilihat dengan kasat mata. Sehari dua kali, biasanya pagi dan sore, petugasnya datang ke apartemen kami dengan mobilnya yang khas–mobil itu didesain khusus untuk Pak Pos USPS. Pegawainya, imigran asal Filipina, selalu menyapa saya ramah sambil merapikan barang kiriman ke kotak surat. Ketika pertama bertemu dia dulu, ia menyapa saya dalam Tagalog. Lantas kami kenalan dan sering berbasa-basi. Ia selalu menjaga kiriman untuk apartemen saya dengan hati-hati.

Di seantreo kota Los Angeles, akan begitu mudah kita melihat hal yang sama: mobil USPS hilir mudik, petugasnya tergopoh mengangkut barang dengan troli. Di kantor pos kita bisa pula mengurus beragam urusan administrasi, seperti membuat passport.

Kalau kita punya urusan administrasi ke kantor-kantor pemerintah–juga swasta, biasanya kita bisa melakukan pendaftaran secara online atau datang langsung ke kantor tersebut. Jika kita harus datang, kita hanya diminta datang sekali saja untuk memasukan aplikasi beserta persyaratannya. Jika sudah lengkap, semua hasilnya akan dikirimkan ke rumah kita. Dan jika itu instansi pemerintah, hampir dipastikan surat-surat, balasan aplikasi, kartu-kartu, bahkan dokumen berharga seperti SIM, dan Visa, akan dikirim ke rumah secara otomatis. Layanan yang dipakai: USPS.

Jika harus melakukan sesuatu secara online, setelah aplikasi diunggah dan kita klik submit, kita hanya tinggal duduk manis menunggu. Jika proses aplikasi selesai, apa yang diminta akan dikirim ke alamat rumah, juga biasanya oleh layanan USPS.

***

Apa baiknya cerita saya itu? Jelas! Saya tidak perlu mondar-mandir ke kantor dan mengantri karena semua akan dikirim ke rumah.

Apa susahnya, misalnya, SIM dari kantor Samsat itu dikirim via pos, oleh Pak Pos, misalnya. Kita tidak perlu datang lagi hanya untuk mengambil kartu. Apa susahnya ATM BNI saya itu dikirim ke rumah? Kenapa harus datang ngantri 4 jam hanya untuk antri mengambil kartu ATM setelah pengajuan aplikasi digital? “Verifikasi, Pak!” Itu selalu jawabmu. Lah itu semua dokumen, termasuk video bicara sambil selvie dengan KTP, tidak cukup? Kalau begitu untuk apa digital-digitalan?

Apa untungnya untuk perusahan pos negara seperti USPS atau PT. Pos? Jelas! USPS jadi hidup karena ada captive market jelas: logistik pemerintah dan administrasi. Tentu ia menggarap juga pengiriman lain. Tapi coba bayangkan jika untuk semua urusan pemerintah di Indonesia juga demikian. Pak Pos pasti kewalahan. Pak Pos bisa hidup lagi. Motor oranye akan terlihat lagi menghiasi jalanan.

Hal simple seperti ini apa tidak kepikiran oleh komisaris-komisaris keren itu? Kalau tidak kepikiran, saya maulah jadi komisarisnya mewakili milenila, ha ha ha….

Leave a Reply

%d bloggers like this: