Catatan Harian

Surat Terbuka untuk Para Analis Bank Kita

Ketika saya menulis ini, saya sedang sedih. Sudah 3 bank menolak aplikasi kepemilikan KPR rumah saya. Alasannnya? Saya dianggap tidak punya pendapatan tetap yang mencukupi. Bahasa kasarnya, saya dianggap terlalu miskin. Kalau diberikan cicilan kredit, saya dianggap tidak akan bisa membayarnya.

Apa karena saldo di rekening saya tidak cukup? Bukan sombong, meski bukan orang kaya, saya juga tidak miskin-miskin amat. Rekening di 4 bank saya, Mandiri, BNI, RDN Mandiri dan Bank of Amerika, cukup sehat dan berisi.

Apa karena saya pengangguran? Bukan sombong, saya ini dosen, juga konsultan di lembaga internasional.

“Gaji Bapak dari kampus sangat kecil, hanya x jutaan. Sementara konsultan itu pekerjaan tidak tetap. Kalau tiba-tiba diputus bagaimana. Jadi kami hanya berpatokan pada gaji tetap bapak yang x juta itu.” Begitu alasan mereka.

Persis di situ canggihnya para analis KPR bank kita. Mereka menilai calon nasabah dari gaji tetap yang masuk tiap bulan. Mereka tidak peduli dengan aspek lain.

***

Saya sudah jelaskan kepada mereka kasus saya: baru pulang dari Amerika, tugas belajar dan lain-lain. Tidak perlu saya berbusa-busa lagi di sini.

“Kenapa gajinya di kampus kecil sekali?” Tanya mereka.

“Karena saya baru aktif kembali dan saya baru digaji dengan gaji pokok saja. Tunjangan lain-lain, termasuk sertifikasi dosen, belum bisa saya dapatkan.”

“Apakah bapak dosen tetap?” Sekali lagi mereka menyelidiki saya seperti tidak percata. Padahal bukti SK sudah saya lampirkan.

Setelah berbusa-busa menjelaskanpun mereka tetap tidak percaya. Karena standar analisa mereka cuma satu: mana bukti gaji tetap bulananmu. As simple as that.

Lah kalau begitu, buat apa posisimu itu dinamaikan analis? Kalau cuma itu saja, tidak perlu analisa. Analisa yang baik mestinya melihat juga aspek potensi pertumbuhan karir nasabah, track record riwayat hutang selama ini, pendidikan dan lain-lain. Buat apa form panjang-panjang itu diisi?

Eh, para analis, dengerin ya, sesekali boleh saya sombong sama kalian. Gaji bulanan saya jauh lebih gede dari kalian. Saya ini doktor dari Amerika. Saya tidak akan terus tidur dan jadi pengangguran.

Saya mencapai pendidikan tinggi di luar negeri saja mestinya jadi bukti untuk anda bahwa saya ini bukan orang bodoh dan pemalas. Saya ini pekerja keras. Pekerja keras, pendidikan tinggi, tidak mungkin mengaggur. Tidak mungkin.

***

Di Amerika, anda baru diterima saja di kampus top, bank sudah antri untuk meminjamkan uang untuk anda lewat student loans. Semakin bagus kampus dan jurusannya, semakin banyak tawaran. Catat, ini ketika anda baru diterima di kampus. Belum selesai, belum pula mulai bekerja. Kenapa?

Karena analis bank di sana tahu, mahasiswa yang diterima kampus bagus itu menunjukan mereka punya potensi tumbuh. Bisa diterima di kampus top juga bukti bahwa mereka adalah para pekerja keras dan pandai. Komponen itu adalah komponen analisa paling penting dalam menghitung resiko. Kalau cuma dilihat dari berapa gaji mereka, mereka bahkan minus.

Di Indonesia, para analis kredit bank itu lebih layak disebut seagai “investigaor slip gaji.” Terlalu keren nama “analis” bank buat mereka. Mereka faktanya tidak pernah melakukan analisa apa-apa selain melihat slip gaji.

Yang membuat saya sakit hati ketika mereka bilang bahwa konsultan itu pekerjaan tidak tetap. Bisa jadi saya kehilangan pekerjaan kapanpun.

“Lah, memangnya saya tidur terus setelah kontrak saya habis?”

“Memagnya saya tidak tahu cara bekerja mencari kontrak berikutnya?

Secara alamiyah beberapa pekerjaan memang seperti itu. Di organisasi internasional anda bisa menjadi konsultan bertahun-tahun.

Kenapa tidak tetap? Karena menjadi konsultan lebih merdeka. Juga lebih menguntungkan untuk lembaga perekrut. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya ini-itu. Kalau anda tahu, kontrak dari lembaga internasional sebagai konsultan menandakan sebuah kepercayaan. Dan itu akan terus terbangun. Dia bisa berpindah ke lembaga lain, bepindah-pindah sebagai konsultan.

Saya menjadi konsultan sekarang karena saya pernah menjadi konsultan, di Swiss, tahun 2018. Juga karena saya pernah lama bekerja sebagai penasihat di lembaha internasional. Nah, itu tidak kau pertimbangkan?

Kok bisa, para analis itu tidak bisa memahami model pekerjaan konsultan? Masa para analis itu tidak mengerti analisa potensi pertumbuhan karir yang ditopang oleh capaian selama ini? Masa analis itu tidak mengerti korelasi pendidikan dan pendapatan secara statistik?

Aspek-aspek ini tidak ada pointnya sama sekali untuk mereka. Yang penting gaji bulananmu dari posisi pegawai tetap. Titik.

Akibat dari kecanggihan analisa para analis yang pandai itu, orang-orang yang mau aplikasi diminta berbohong dan memark-up. Karena kalau tidak seperti itu aplikasi pasti ditolak. Secara tidak langsung pula para analis itu mendukung budaya manipulatif.

2 Comments

  • Saomi Rizqiyanto

    Sabar bang, kan para analis itu butuh perhitungan juga untuk menentukan berapa plafon pembiayaan/kredit yang disetujui. Nah menentukan hal itu, yang paling mudah adalah dengan menilai penghasilan riil, lebih aman biar tidak kena BPK atau OJK ya slip gaji pegawai tetap. Itu sih, kalau macet kan analis ketar ketir juga. (walaupun gak mungkin lah bang Zezen macet).

  • Rufi

    Makanya kenapa banyak orang berburu jadi pns, ya karena punya slip gaji. Shg lbh mudah ambil hutang. Padahal gaji pns ya segitu saja. Alhasil byk tenaga kerja tersedot ke pns, sementara tenaga kerja di sektor lainnya tidak/kurang diperhtungkan/tergarap.

    Pdhal mah klo mau mempercepat tumbuhkembang suatu negara, sektor swasta n kreatif kudu digenjot.

    Sy tdk berani bilang “salah urus” negara ini, talut kuwalat. 😆

    Semangat mas!

Leave a Reply

%d bloggers like this: