Catatan Harian

Berita dari Cidewa

man-darussalam-ciamis

(Post ini adalah satu bab dari Novel saya ‘Bintang Di Atas Alhambra‘, Terbitan Bentang Pustaka, Desember 2013. Kemarin saya berkunjung ke Cidewa, sebuah kunjungan nostalgia untuk mengukuhkan kembali proses menjadi yang tanpa henti. Selamat membaca)

Setiap orang punya mimpi. Aku juga. Sebagian mimpi itu kini sudah menjadi kenyataan. Sebagian yang lain masih dalam proses untuk diwujudkan. Salah satu mimpiku yang kini sudah menjelma adalah sekolah di sebuah universitas bagus di luar negeri tanpa harus mengeluarkan uang. Dulu aku membayangkan Ummul Qura, Al-Azhar, Harvard, Yale, Oxford, Sydney, Leiden. Kini, aku duduk di lantai enam gedung Fakultas Hukum Universitas Melbourne. Memang Melbourne tidak masuk dalam daftar mimpiku. Tetapi bukan berarti duduk di sini adalah kesia-siaan. Kampus ini termasuk 20 besar kampus terbaik di dunia, terutama untuk jurusan Hukum International.

Di hadapanku, taman kampus terhampar indah. Pohon oak berbaris rapi. Kuncup-kuncup daunnya mulai bersemi. Sinar matahari membuat kuncup itu bergairah. Pohon mapel Jepang berwarna merah jingga mempertontonkan kemolekannya di sudut taman kampus. Ini bukan mimpi. Aku di sini, duduk bersama mahasiswa-mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Ini semua berawal dari mimpi, 12 tahun lalu. Mimpi yang kubisikan pada bintang layang-layang. Mimpi yang dinyalakan oleh Kang Hafid, alumni pesantren yang berhasil kuliah di luar negeri. Mimpi yang kini benar-benar jadi nyata.

Mimpi itu dulu mulai kurajut di Karangtawang. Namun, saat itu, mimpiku terasa masih buram dan samar-samar. Mimpi itu lantas dirawat di suatu tempat pada suatu masa, ketika aku menginjak bangku SMA. Tempat itu bukan tempat luar biasa.namun telah melahirkan banyak orang luar biasa. Mimpi itu terus terjaga karena api semangat di dadaku terus-menerus disuluhi oleh wejangan seseorang di sana.

Tempat itu bernama Cidewa. Orang yang menyuluhi semangat di dadaku adalah Kiai Hilmi, pengasuh pesantren semasa aku SMA. Aku akan menyebutnya sebagai Kiai Cidewa.

Selepas madrasah tsanawiyah dan pesantren di Karangtawang, aku dikirim ayah ke pesantren lain. Letaknya sedikit jauh karena berada di kabupaten yang berbeda. Ayah mendapat kabar dari sesama guru di madrasah tempatnya mengajar bahwa di Ciamis ada sebuah pesantren modern yang sangat bagus. Bukan hanya itu, yang membuat Ayah mantap mengirimku ke Ciamis adalah karena pesantren itu memiliki program unggulan yang dibiayai negara lewat Kementerian Agama. Memang masuknya agak susah karena harus mengikuti beberapa tahapan tes seleksi. Setiap tahun, hanya 40 santri yang diterima lewat program itu. Tes yang diujikan berupa hafalan Al-Qur’an, membaca kitab kuning, serta pengetahuan umum. Ayah yakin aku bisa masuk.

Aku setuju mesantren ke Ciamis.

Aku berhasil lolos seleksi, meski di urutan hampir buncit. Aku berada di urutan ke-37. Tidak apa-apa, aku tetap senang sekali. Setidaknya aku bisa mengungguli lima ratusan orang pendaftar. Itu saja rasanya sudah luar biasa. Aku meninggalkan pesantren salafiyah di Karangtawang pada 1996. Sarung, kopiah, ikan asin, tungku, kastrol, kangkung, lapangan becek, jampi-jampi, pematang sawah, madrasah reyot, kemudian menjadi kenangan yang kusimpan dalam laci hatiku. Kini, aku telah pindah ke pesantren modern. Aku tak lagi mengaji pakai sarung atau belajar menabuh rebana. Jampi-jampi tidak lagi dipakai. Aku mulai belajar sejarah Indonesia, Asia, dan dunia di samping juga belajar tentang sejarah kejayaan kekhalifahan Islam, mulai dari Damaskus hingga Al-Andalus. Aku jadi tahu bagaimana Islam berperan bagi kemajuan umat manusia lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. Aku juga belajar grammar di samping belajar nahwu-sharaf. Jika tertarik, pesantren juga menyediakan laboratorium musik untuk berlatih menabuh drum dan memetik gitar. Saat sekolah, santri memakai seragam berupa kemeja dan jas. Tak ada lagi sudut kelas yang becek karena bocor atau dinding kelas yang berlubang. Tempat ini benar-benar pesantren modern seperti yang kubayangkan.

Masa itu merupakan salah satu periode paling penting dalam sejarah hidupku. Tempat itu juga menjadi tempat yang paling berkesan. Kiai Cidewa adalah orang yang selalu hadir dalam alam bawah sadarku, bahkan setelah aku lulus. Cidewa adalah tempat aku bertransformasi, berubah menjadi lebih baik. Aku datang ke tempat itu sebagai seorang santri salaf, lulusan pesantren tradisional di kampung. Aku datang dengan segala kekolotan, fanatisme, dan keluguan. Tapi juga dengan semangat. Setelah digembleng di sana, kelak aku menjadi orang yang lebih terbuka dan moderat.

Kiai Cidewa terasa khusus bagiku, meski aku bukan santri yang istimewa baginya. Aku santri yang biasa saja, tidak terlalu pandai. Hafalanku pas-pasan. Aku tidak terlalu pandai baca kitab kuning dan tidak pernah menjadi imam di masjid pesantren—yang menandai bahwa aku bukan pribadi yang menonjol. Aku juga tidak pernah menjadi pengurus pesantren. Pun, aku tidak punya prestasi apa-apa. Aku hanya seorang santri biasa yang sangat mengagumi Kyai Cidewa.

Ada banyak kenangan tentang beliau. Aku masih ingat beberapa cerita dan wejangan yang ia sampaikan dalam pengajian. Kata-katanya masih menempel kuat karena terus-menerus menjadi suluh dalam proses transformasi diriku.

“Anak-anakku,” kata Kiai Cidewa dalam sebuah pengajian, “dulu, Akang pernah diminta mengisi pengajian bagi para tentara di Kodim Ciamis sekali seminggu. Suatu hari, setelah selesai mengisi pengajian, Akang menemukan buku Di Bawah Bendera Revolusi yang nyaris dibuang. Kalian tahu buku apa itu?” Kiai Cidewa bertanya sambil menarik nafas.

Suaranya yang sudah sepuh terasa lembut dan merdu di telinga. Menenteramkan.

“Buku itu disia-siakan dan dianggap racun karena ditulis oleh Presiden Soekarno yang dianggap pro-komunis. Pada zaman orde baru, semua hal yang berbau Soekarno dianggap berbahaya dan harus dijauhi. Akang tidak setuju dengan pandangan itu. Karenanya, Akang ambil buku itu lantas membacanya. Kenapa? Karena Akang tahu, buku yang disia-siakan itu adalah karya yang bagus dan berharga. Buku itu berisi pemikiran-pemikiran hebat dan genuine Bung Karno, Bapak Revolusi dan founding father bangsa kita,” lanjutnya. “Kita harus cinta segala ilmu. Hiasilah kecintaan pada ilmu itu dengan budi suci, dengan moral dan kesalehan agama, dengan ahlak yang mulia. Ingat anak-anakku, knowledge is power, but character is more!”

Tidak seperti Kiai Karangtawang yang hanya fasih berbahasa Arab, Kiai Cidewa juga  fasih berbahasa Inggris. Ia juga mengerti sedikit bahasa Mandarin dan Prancis.

“Jangan kalian alergi buku, apalagi alergi ilmu atau alergi pemikiran. Semua harus dibaca dan dipelajari. Akang tidak setuju pendapat bahwa kita tidak boleh membaca filsafat karena bisa menjerumus pada kekufuran. Atau pendapat bahwa membaca buku tentang komunisme bisa membuat seseorang menjadi ateis. Jangan juga alergi membaca buku yang ditulis oleh orang Barat karena beranggapan mereka punya kepentingan menghancurkan Islam. Bacalah semua, pelajarilah. Rasulullah menyuruh kita belajar sampai ke negeri Cina. Itu artinya kita diwajibkan mempelajari ilmu apa saja dan mengambil manfaatnya. Namun ingat, hiasilah ilmu kalian, anak-anakku, dengan budi suci.”

Kiai sepuh itu membetulkan letak kacamatanya sambil sesekali meneguk air putih.

“Kalian mungkin mengenal Al-Ghazali yang mengkritik filsafat. Bagaimana caranya mengkritik filsafat? Dengan membaca karya-karya para filsuf, terutama karya Al-Farabi dan Ibnu Sina yang ingin dikritiknya. Al-Ghazali mempelajari tulisan para filsuf itu secara serius, sampai pada tingkatan di mana dirinya bisa dikatakan sebagai filsuf paling unggul pada masanya. Tidak mungkin Al-Ghazali bisa mengkritik secara tajam dan mengena jika tidak memahami filsafat secara menyeluruh,” petuahnya panjang lebar. “Jika tidak setuju pada komunisme, ateisme, atau liberalisme, maka kalian, anak-anakku, pertama-tama harus mempelajarinya sebelum mengkritik dan membantah ajaran itu. Mengkritik tanpa pemahaman yang benar hanya akan berujung pada usaha sia-sia. Karena itu, jangan sekali-kali alergi pada suatu disiplin ilmu atau pemikiran, sekalipun pemikiran itu tidak kita sepakati,” pungkas Kiai Cidewa.

Kiai Cidewa adalah seorang yang moderat dan berwawasan luas. Bacaannya terbentang mulai dari kajian tafsir, fiqih, filsafat, sastra, sampai sains. Nasihat dan wejangannya selalu bijak dan merasuk dihati. Karismanya membuat dia dihormati oleh hampir semua orang. Mungkin inilah salah satu hal yang paling berkesan buatku. Beruntung sekali aku memelihara kata-katanya dalam buku catatan harianku. Sesekali aku membukanya kembali untuk selalu mengingat wejangannya.

Belakangan aku sadar bahwa Kiai Cidewa jugalah yang pertama-tama mengajarkan prinsip hidup moderat kepadaku. Prinsip itu disulut untuk meredam fanatisme dan taklid buta di dada anak ingusan yang sedang bersemangat membela agama. Sebagai alumnus pesantren tradisional yang lugu, ketika pertama kali menginjakan kaki di Cidewa, aku adalah pendukung buta sebuah mazhab. Namun Kiai Cidewa tak segan-segan ‘menggabungkan’ mahzab-mahzab itu dan berpegang pada pendapat yang dianggap paling kuat.

“Jadilah muslim moderat, mukmin demokrat, muhsin diplomat, anak-anakku!”

Bagiku, semboyan itu terdengar luar biasa. Bukan hanya karena berima seperti sajak, tapi juga karena penuh makna. Kalimat itu lantas dibakukan menjadi semboyan resmi pesantren Cidewa dengan harapan santri-santri mendapatkan pendidikan untuk bisa menggabungkan nilai keislaman dengan ke-Indonesia-an, kekinian dengan tradisi, keimanan dengan toleransi.

Dalam suasana seperti itulah, aku berkenalan dengan banyak pemikir besar, mulai dari Socrates, Ibnu Khaldun sampai Nietzsche. Aku masih ingat saat membaca buku karya St.Sunardi tentang Nietzsche, tanganku bergetar karena merasa berdosa dan terlibat dalam upaya makar terhadap Tuhan. Aku sedang membaca buku si Pembunuh Tuhan, pikirku saat itu. Ini subversi pada Tuhan. Sebuah dosa serius. Tapi bukankah Kiai Cidewa menyuruhku membaca buku apa saja?

Aku tertarik membaca buku itu karena Kiai Cidewa pernah bercerita tentang seorang filsuf Barat yang telah ‘membunuh tuhan’. Kiai Cidewa berkisah, ia diberikan hadiah buku karya Nietzsche oleh seorang alumni pesantren yang sedang belajar di Leiden, Belanda. Setelah selesai membaca, ia berbagi kisah mengenai isi buku itu dalam pengajian usai shalat subuh. Aku masih mengingat dengan jelas saat itulah Kiai Cidewa bercerita tetang Sang Pembunuh Tuhan!

Buku Ecce Homo, dalam terjemahan bahasa Indonesia, kudapatkan seminggu setelah pengajian itu dari sebuah toko buku besar di Pasar Ciamis yang menjadi langganan santri dan mahasiswa beberapa kampus swasta. Aku menelusuri kalimat demi kalimat dalam buku itu tanpa tahu makna dan maksudnya. Buku itu terlalu berat untuk seorang santri kampung. Meski tidak memahami isinya, ada beberapa kata yang terus menempel di benakku setelah membaca buku itu: “nihilisme,” “zaratustra,” “kembalinya segala sesuatu”. Aku mengira kata-kata itu adalah pokok pemikiran Nietzsche. Tentu pada saat itu aku hanya menduga saja karena kata-kata itu diulang berkali-kali dalam buku. Aku mencatat rapi kata-kata itu di dalam diari dengan judul “Kata-kata dari Sang Pembunuh Tuhan.”

Aku juga membaca karya-karya terjemahan Machiavelli. Lagi-lagi karena Kiai Cidewa. Ketika aku duduk di kelas tiga madrasah aliyah, sehabis subuh Kiai membedah buku ilmu tata negara Islam karangan Ibnu Taimiyah. Di sela-sela penjelasan, ia rajin mengutip Machiavelli sebagai perbandingan. Aku langsung penasaran dan ingin tahu apa itu politik Machiavellian. Terjemahan Il Principe lantas dilahap bergiliran oleh beberapa orang santri. Aku ingat betul bahwa Machiavelli adalah penasihat keluarga Medici yang saat itu tersingkir dari pusaran kekuasaan di Florence, Italia.

Di Cidewa pulalah aku mula-mula senang dengan dunia pemikiran. Wawasan Kiai Cidewa yang melewati batas-batas disiplin ilmu keislaman membuatku selalu ingin menjadi lebih dari sekadar santri. Dari sanalah mimpiku menjadi kiai dan punya pesantren perlahan-lahan berubah. Aku lantas lebih tertarik menjadi pemikir hebat atau penulis ulung. Selain Mekah dan Kairo, di Cidewa aku dikenalkan pada mimpi-mimpi indah menuntut ilmu di kampus-kampus Barat: Harvard, Yale, Sorbone, Leiden. Bintang layang-layang terlihat lebih bersinar dari pelataran Asrama Sibawaih, tempatku tinggal di Pesantren Cidewa. Di bintang-bintang itu kini tergantung banyak impian baru. Harapan baru. Dunia baru.

Kini, aku duduk di perpustakaan kampus Universitas Melbourne. Ini bukan Harvard atau Yale atau Sorbone. Melbourne tidak ada dalam daftar mimpiku dulu. Tapi mimpi selalu seperti itu. Ia tidak bisa sepenuhnya terwujud, atau malah perlahan terwujud melalui beragam jalan. Dan Melbourne menjadi semacam jalan untuk menggapai mimpiku yang lain.

Di sini aku duduk menghadap taman kampus dalam proses transformasi yang tanpa henti. Aku yang sekarang bukanlah santri yang dulu. Aku mungkin tidak lagi lancar membaca kitab gundul. Yang kupegang di sini bukan lagi buku Ushul Fiqh tulisan Sayid Sabiq atau Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rushdi[1]. Yang aku pegang adalah buku Bad Samaritan karya Ha-Joon Chang, Orientalism-nya Edward Said, dokumen-dokumen perjanjian hukum international sampai buku hukum adat karya Ter Haar dan Van Vollenhoven. Aku sepenuhnya lupa dan tidak lagi percaya pada jampi-jampi atau haos-haos. Namun apa yang aku dapatkan di tempatku dulu itu tidak akan pernah hilang.

Di tengah kesibukanku menyelesaikan makalah, sebuah pesan singkat yang kuterima kemarin menggetarkan hatiku.

“Innalillahi, Kiai Cidewa meninggal dunia hari ini pada pukul 6.15.”

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Bibirku tanpa perintah melafalkan doa kematian diakhiri surat Al-Fatihah. Aku tidak sedang mengundang ruh Pak Kiai untuk datang. Ini hanya doa untuk seorang guru tercinta yang telah menjadi inspirator hidupku.

Setelah itu, terkadang aku melamun mengingat sosoknya. Ingin sekali aku datang bertakziah ke makamnya. Menyesal tidak sempat bersilaturahmi kepadanya sebelum aku berangkat ke Australia. Penyesalan dan keinginan itulah yang sering membuatku tiba-tiba melamun. Seperti juga saat itu. Buku-buku dan fotokopian makalah jurnal terbengkalai di meja tanpa kusentuh. Pandanganku malah menerobos jendela perpustakaan, mendarat di taman. Pikiranku melayang-layang menemui sosok Kiai Cidewa. Nyiur melambai, kuliah subuh, pramuka, mukena putih santri putri, asrama Sibawaih, lapangan bola Cidewa, hadir serentak bersama-sama. Kenangan itu membawaku ke lorong waktu untuk beberapa saat.

Hatiku berbisik: Pak Kiai tidak pernah wafat. Ia hanya kembali pada tempatnya yang abadi. Ia hidup ditempat lain dengan, insyaallah, penuh kedamaian dan kebahagiaan. Ia juga tidak pernah mati karena apa yang ia sampaikan akan terus bersemayam di dada para santri.


 

[1] Dua buku ini, disamping buku-buku lain, menjadi buku wajib bagi setiap santri Cidewa program Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (program khusus yang dibuat oleh Kementrian Agama sebagai kelanjutan dari MAPK-Madrasah Aliyah Pendidikan Khusus).

6 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: