Amartya’s questions

Saya terkadang tiba-tiba termenung mendapatkan pertanyaan dari anak saya. Ia bertanya dengan muka datar tanpa ekspresi, tanpa perasaan apapun selain rasa ingin tahu. Kali ini terjadi dalam sebuah perjalanan setelah kami mengabiskan liburan akhir pekan di Bandung.

“Ayah, apakah hujan dibuat oleh Allah?” Di luar hujan deras dan angin kencang. Angkasa bergemuruh. Langit hitam dan sesekali cahaya kilat mengagetkan perjalanan kami.

“Tentu saja,” jawab saya enteng tanpa melihat padanya.

“Tapi kok buat Kaka sakit. Berarti Tuhan buat penyakit juga donk. Berarti Tuhan jahat donk?” Dia mengucapkan pertanyaan yang buat kami sangat mengejutkan itu sambil melihat pada ibunya, seolah-olah meminta persetujuan atau dukungan.

Istri saya kemudian bercerita bahwa anak kami yang belum genap berumur 5 tahun itu dilarang bermain hujan-hujanan seminggu sebelumnya karena takut sakit. Maklum badannya sedikit ringkih. Alergi dan asma sering kambuh apalagi ketika ia terkena dingin.

Selang beberapa hari dari cekcok kecil antara ibu dan anak gara-gara dilarang hujan-hujanan, anak kami itu mendapatkan pelajaran tentang alam raya dan semua isinya ciptaan Allah di TK tempat ia belajar. Dan setelah dua informasi itu mengendap beberapa hari di benaknya, dipicu hujan deras yang membuat jalanan bahkan sulit dilihat, maka terucaplah pertanyaan itu

Saya kesulitan untuk menjawab. Malah tawa lepas yang keluar dari mulut saya. Kali ini saya harus menoleh sekilas ke arahnya sambil terus mengendalikan kendaraan. Istri saya mencoba mengalihkan pertanyaannya sambil meyakinkan anak kami itu bahwa pertanyaannya akan dijawab nanti di rumah karena “Ayah butuh pensil dan kertas untuk menggambar agar Kaka nanti tahu kenapa hujan membuat Kaka sakit. Ayah sedang menyetir”

Tentu anak saya itu tidak puas. Raut mukanya langsung menciut seperti kumang-kumang yang sedang berlari tiba-tiba dihadang jari. Istri saya mencoba menghiburnya dengan memuji bahwa ia pandai sekali.

Setelah hari itu, pertanyaannya terus-mengerus terngiang-ngiang di benak saya. Pertanyaan itu menemani saya pulang-pergi naik motor menembus kemacetan, bergelantungan di awan putih yang terlihat dari balik jendela pesawat, berlarian di antara pepohonan yang samar terlihat dalam gelap dari balik kereta. Sampai hari ini saya belum sempat secara serius menjawab pertanyaan itu padanya.

Tapi itu bukan kali pertama, bukan pula kali terakhir ia melontarkan pertanyaan mengejutkan seperti itu. Sifat ingin tahu dan tanpa dosanya menular pula pada adiknya yang terpaut setahun setengah lebih muda darinya. “Ayah, Allah itu di langit atau di awan? Berarti Neng bisa naik tangga yang tinggi ya ke sana!” Lagi-lagi mukanya datar berharap ayahnya memberikan jawaban yang memuaskannya. Seperti pada Kaka, saya hanya terkekeh sambil menggendongnya.

Saya yakin setiap orang tua pasti pernah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan mengagetkan dari anaknya. Pertanyaan itu ditanyakan tanpa beban, tanpa rasa risih, tanpa takut berdosa. Muka mereka hanya memancarkan rasa dahaga akan pengetahuan. Tak salah kalau para filsuf bilang bahwa cara terbaik menjadi filsuf adalah bertanya seperti anak-anak bertanya.

Tak ada jawaban yang mudah atas pertanyaan-pertanyaan itu. Kalau kita menjawabnya dengan serius, anak kita pasti susah mencernanya. Tidak menjawabnya sama sekali tentu juga bukan tindakan bijak. Satu hal yang penting dicatat: jawaban-jawaban yang kita berikan, terlepas salah atau benar, akan terus-menerus menempel dalam benak anak-anak sampai tua.

Tuhan di langit, Adam terjun dari langit ke bumi, Nabi Muhammad naik binatang seperti kuda dengan sayap dan kepala manusia, neraka itu api menyala-nyala, bulan dihuni oleh Nini Anteh, dan banyak lagi ‘doktrin’ yang lain, adalah contoh ajaran yang takkan pernah hilang karena kita dulu mengetahuinya dari orang tua kita.

Kita yang sekarang sudah dewasa juga dahulu menanyakan hal yang sama pada orang tua kita. Tak ada yang salah dengan jawaban-jawaban itu. Itu adalah cara bagaimana sebuah rumusan jawaban yang sangat filosofis disampaikan pada anak-anak. Masalahnya, ada banyak orang dewasa yang tidak sempat mengecek kembali ajaran-ajaran, doktrin atau jawaban-jawaban itu. Tentu ini lumrah belaka. Tidak semua orang punya kesempatan dan kemauan untuk mengecek kembali jawaban-jawaban ayah kita. Dan karena itu jawaban ketika kanak-kanak itu menjadi jawaban final atas pertanyaan-pertanyaan berat yang dahulu diajukannya.

Buku ini mencoba membahas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan anak kita dengan muka datarnya itu. Pertanyaan-pertanyaan itu tak jarang terkait dengan pertanyaan yang sangat filosofis dan kadang sensitif. Suatu hari Kaka bertanya kenapa ‘Marcelo tidak pergi shalat Jum’at, Ayah?’. Itu bukan pertanyaan yang teramat sulit dijawab. Tetapi harus menyampaikan jawaban itu dengan bijak agar anak kita tidak menjadi seorang fanatis serta terbiasa dengan perbedaan sedari awal.

Tentu saja tak ada jawaban mudah atas pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan para pemikir sekalipun tak bisa dengan mudah menjawabnya. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan abadi yang terus menerus harus dijelaskan oleh manusia. Itu pertanyaan naluriah. Itulah kenapa Kaka dan Neng yang belum juga tamat TK bisa mengajukannya.Bedanya, kita bisa berusaha mencari jawabnya, sementara mereka akan memendam pertanyaan itu sampai dewasa. Mungkin ada jawaban yang singgah di benaknya. Tetapi setiap jawaban itu pasti kurang memuaskan.

Buku ini hanyalah renungkan kembali atas pertanyaan-pertanyaan yang pernah kita tanyakan pada orang tua kita dahulu. Jawaban bukanlah segala-galanya. Yang penting dalam ijtihad adalah proses dan kesungguhan berfikir, bukan jawabannya.

Leave a Reply