Isi dalam fiksi
Saya mendapatkan banyak masukan dari pembaca novel saya terkait ‘isi’ dalam karya saya. Ada yang senang dengan ‘isi’ itu, tetapi ada juga yang merasa terganggu dan menganggapnya terlampau berat.
Tentu setiap pembaca berhak menafsirkan sendiri teks yang dibacanya. Dalam beberapa hal, ungkapan bahwa ‘penulis sudah mati’ ketika karyanya dilepas ke publik ada benarnya. Biarlah karya itu hidup bebas dengan beragam apresiasi dan tanggapan, pujian dan cacian.
Tetapi sebagai penulis yang telah melahirkannya, ada baiknya saya ungkapkan di sini kenapa saya memilih jalur menulis fiksi yang mungkin terlampau ber-‘isi’ itu.
Jawaban sederhana dari pertanyaan di atas terletak dalam latar sosial penulis. Saya pertama-tama tidak pernah berniat untuk menghasilkan sebuah karya fiksi karena sejak kuliah saya hidup dalam dunia aktivis intelektual. Saya besar bersama Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), forum studi tertua di Indonesia, dan sejak hari-hari pertama perkuliahan sudah sibuk dan gaduh dengan pemikiran-pemikiran filsafat. Obsesi semua aktivis Forum saat itu adalah: menulis artikel di koran, menulis di jurnal mahasiswa, menulis kolom di majalah. Obsesi lain: perbaiki bahasa Inggris, sekolah di kampus hebat di luar negeri. Jadi intinya, saya hidup di lingkungan akademisi intelektual. Hampir semua senior dan kolega saya sekolah di luar negeri dan rajin menghasilkan tulisan-tulisan akademis semacam buku atau tulisan di jurnal internasional. Jadi mungkin obsesi dan tradisi di sekeliling tempat saya hidup selama ini di Ciputatlah yang dengan tanpa sadar membentuk corak novel fiksi saya yang dianggap terlampau berisi itu.
Kedua, memang saya terpengaruh Justin Garder, si penulis Dunia Sophie. Buku itu habis dibaca bergilir oleh kawan-kawan saya ketika di Cidewa dahulu. Dan saya senang ketika membaca novel itu. Masih teringat sampai sekarang mimik wajah anak kecil yang penuh dengan tanda tanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berat dalam hidup. Dan juga buku itu dihiasi oleh nama-nama pemikir besar. Ketika kuliah dan bersibuk-diri di forum studi, nama-nama yang samar-samar muncul di antara keseharian dunia pesantren semakin jelas dan tegas hadir dalam keseharian dunia kampus. Saat naskah Bintang Di Atas Alhambra hampir berbentuk, Dunia Sophie muncul sebagai sebuah rujukan ideal dalam benak saya. Apa salahnya memasukan ‘isi’ yang sedikit berat itu? Bukankah bagus kalau pembaca tanpa sadar membaca filsafat eksistensialisme ketika asik mengikuti kisah Iip berpetualang? Atau sekedar memberikan informasi dalam sejarah hukum internasional? Atau sejarah kolonialisme
Ketiga, saya selalu yakin bahwa tugas penulis hanyalah menulis. Terserah orang nanti mau bilang apa, mau memasukan tulisan kita ke dalam jenis tulisan apa, ke dalam jenis fiksi apa. Dan itu yang saya lakukan. Saya hanya ingin menulis: mengekspresikan kebebasan hakiki (eksistensial) saya. Saya bisa dengan seenaknya berbalik ke dalam isu eksistensialisme ketika bercerita tentang K, kawan saya yang jadi teroris itu. Bukankah itulah kehebatan karya fiksi?


