Inspirasi

Kekuatan Bermimpi

Belakangan setelah shalat saya sering berdoa agar sealu diberikan kekuatan untuk bermimpi. Apa susahnya bermimpi? Tidak susah. Yang susah adalah menghilangkan rasa puas diri ketika semua impian tercapai dan lantas kita lupa untuk menyemai mimpi-mimpibaru.

Saya awal tahun ini dikaruniai banyak anugrah oleh Allah berkat usaha saya tahun lalu. Anugrah itu adalah sejumlah keinginan dan mimpi. Anugrah itu tahun lalu telah membakar semangat hidup saya: menjadi lebih disiplin, kerja keras dan pantang menyerah. Anugrah itu diraih lewat penolakan, keputusasaan dan kelelahan. Tapi buah yang manis memang diraih dan datang ketika kita lelah berusaha dan merasa jalan sudah buntu. Bagi orang lain mungkin itu biasa saja. Tapi bagi saya, menerbitkan sebuah novel berbarengan dengan dimuatnya satu tulisan saya di jurnal ‘Indonesia and the Malay World’, jurnal nomor satu untuk studi Asia Tenggara, adalah sungguh sebuah pencapaian. Saya merayakannya dengan sederhana. Tahu bahwa ini belum apa-apa.

Lantas setelah dua hal itu menjadi kenyataan, saya seolah kehilangan daya imajinasi. Selalu saja bertanya pada diri sendiri: setelah ini mau apa lagi? Menulis lagi novel? Ah, rasanya terlalu cepat. Biar yang sudah terbit diapresiasi dahulu oleh pembaca. Di sela-sela waktu luang masih sempat buka-buka dan mengedit tulisan lama untuk kembali dikirimkan ke jurnal internasional. Tapi selalu saja saya diwanti-wanti oleh alam bawah sadar saya untuk tidak perlu tergesa-gesa menggarap kembali tulisan di jurnal. Mau apa lantas?

Hidup terasa lebih bermakna dan bergelora kalau kita sedang mengejar sesuatu. Apa yang sedang dikejar membuat hidup ini fokus dan bergairah. Tanpa mimpi-mimpi, sinar mentari pagi tidak terasa istimewa dan malam-malam sepi selalu dibiarkan pergi begitu saja. Padahal tahun lalu ketika sedang mengejar dua hal itu, malam-malam selalu terasa berharga dan tak ingin membiarkannya pergi tanpa capaian apa-apa.

Mari kembali menyemai mimpi, kawan!

Leave a Reply

%d bloggers like this: