Esai Pendek

Sertifikasi Haram

Seharusnya yang disertifikasi adalah produk haram. Jadi, logo yang ditampilkan di label produk bukan kata ‘halal’ dengan bentuk yang khas itu, melainkan tulisan ‘haram’. Kenapa?

Pertama, sejauh pengetahun saya, dalam kaidah ilmu usul fiqih (jurisprudensi Islam), dikenal kaidah ‘segala sesuatu pada dasarnya mubah (boleh dikonsumsi) kecuali ada petunjuk agama yang mengharamkannya’. Itu artinya, segala sesuatu di dunia ini boleh dimakan, kecuali yang diharamkan. Dan yang diharamkan dalam agama kita sedikit sekali. Yang jelas: babi, anjing, khamer (minuman yang mengandung alkohol), binatang buas. Ada sebagian makanan yang diperdebatkan oleh para ulama boleh atau tidak dikonsumsi. Jadi, membuat labelisasi haram lebih sederhana dan mudah.

Halal atau haram dalam hal ini tentu meliputi unsur dzat makanannya itu sendiri, seperti babi jelas haram dan ayam jelas halal, maupun unsur proses seperti tata cara penyembelihan dan lain-lain. Perdebatannya: apakah penyembelihan memakai mesin halal? Apakah binatang yang disembelih oleh orang non-Islam halal? Perdebatannya panjang. Saya berpandangan sederhana saja: selama binatang itu disembelih dengan layak dan tidak ditujukan untuk sesajen, maka halal. Malah sembelihan yang diawali yasinan tujuh-hari-tujuh-malam dan doa panjang tetapi setelah disembelih dikasih ke arwah Nyi Loro Kidul jelas haram hukumnya. Selama disembelih dengan layak untuk dikonsumsi, bukan untuk tujuan lain, insyaallah halal.

Kedua, coba bayangkan oleh anda, jika produk yang ‘halal’ yang harus disertifikasi, ada berapa puluh juta makanan yang harus di sertifikasi.Dan ini sesungguhnya tidak realistik. Yang disasar pada ujungnya adalah produk yang ‘gemuk’ dan punya modal untuk disertifikasi. Mang Darsam tukang gorengan, Ujang tukang gado-gado dan yang lain tak kepikir uji sertifikasi halal. Dan mensertifikasi halal itu bukan pekerjaan mudah dan murah. Tempo pernah membuat laporan khusus kong-kalikong bisnis ini yang melibatkan banyak ulama kita. Saya tak mau bahas yang ini. Silahkan anda cari sendiri saja laporan itu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sebenernya tidak terlalu peduli dengan produk halal karena kita selalu mengangap makanan yang dimakan itu halal. Coba, apakah anda pernah mengecek halal tidaknya tukang gorengan, bakso, mi ayam pinggir kampus, warteg, warsun, candil, pecel lele, gado-gado dan lain-lain. Kita hanya memakannya karena kita yakin itu halal.

Nuhun

Leave a Reply

%d bloggers like this: