My Book Project

Rumah Kita (Extended)

IMG_20140906_165144Kau tahu, dulu kita mendapatkannya hampir tidak sengaja. Aku yang mendapatkannya. Tapi marilah dibilang saja mulai sekarang dengan “kita”, karena aku dan kau sudah bersama, dan akan terus bersama, selama ini. Bukankah kita pernah berikrar untuk lebur menjadi sebuah kesatuan baru dalam apa yang disebut rumah-tangga?

Saat itu kita hampir menikah dan aku sebagai lelaki merasa bertanggungjawab mencari sebuah tempat untuk beranak-pinak. Tak lebihlah kita seperti sepasang burung pipit yang sibuk mondar-mandir di pohon mangga di depan rumah kita, menyiapkan sarang untuk bertelur. Dan ketika hari pernikahan sudah di ambang pintu, aku, maaf, kita, akhirnya mendapatkan sebuah rumah yang sangat sederhana. Itu sungguh sebuah kebetulan yang disiapkan Tuhan.

Aku sudah sampaikan padamu cerita ini. Tapi tak apalah kuceritakan kembali agar kau ingat rumah mungkil kita.

***

Dosenku menyuruh berkunjung ke rumahanya untuk sebuah acara tasyakuran. Aku datang. Dalam riuh acara yang dihadiri dosen-dosen dan beberapa kawan pegiat kampus itu, dosenku bertanya sambil berbisik “Kapan nikah? katanya kau sebentar lagi, ya? Dan aku dengar kau menikah bukan dengan……” Dosenku itu tidak melanjutkan pertanyaannya karena harus ke ruang belakang, dipanggil istrinya.

Gunjingan yang terpotong dalam bisik-bisik itu dimulai lagi dengan terbuka setelah seorang kyai dari mushala dekat rumah Pak Dosen menutup acara tasyakuran dengan membacakan doa. Kawan-kawanku tak percaya aku akan menikah cepat, apalagi bukan dengan seseorang yang mereka kira. Kau tahu, saat itu duniaku masih dunia yang tak menentu, diombang-ambing oleh dua gelombang, sampai akhirnya aku pasrah membiarkan diriku dibawa arus. Arus yang akhirnya membawaku pada pelukanmu.

“Terus kau sudah punya rumah belum?” Dosenku itu seperti kawan karena umurnya masih muda. Ia memperlakukan orang dengan setara, tidak gila hormat dan lebih memperlakukan mahasiswanya sebagai kawan bertukarpikiran ketimbang murid.

“Sedang mencari, Pak. Meski sederhana, saya ingin tetap tinggal di rumah sendiri setelah menikah nanti. Daripada ngontrak.” Aku tetap memanggilnya “Pak” sebagai bentuk penghormatan.

“Kalau tidak salah, di gang belakang, beberapa rumah tetangga mau dijual. Kau bisa lihat sendiri. Betul sekali, lebih baik kau tinggal di gubuk sendiri daripada diam di istana orang. Hampir semua orang mengalamai apa yang kau alami sekarang. Tak perlu takut untuk beli rumah dengan mengutang. Abang dulu juga sama, mencicil rumah petak. Lantas pindah ke rumah lebih layak setelah mengumpulkan uang”

Dan setelah itu, Dosenku sendiri mengantarku berkeliling ke jalan di belakang rumahnya untuk menengok rumah yang katanya mau dijual itu. Ada beberapa rumah yang akan dijual. Kami tahu karena rumah-rumah itu memasang tulisan “Dijual. Hubungi…..” Beberapa nomornya lantas kucatat.

“Kalau kau beli rumah bekas, pastilah jauh lebih murah. Paling kau harus sedikit perbaiki karena kalau rumah tidak dihuni ada saja rusak-rusaknya” Dosenku itu sangat perhatian, bahkan sampai hal detail seperti itu. Kami kenal dekat karena ikatan perkumpulan belajar bersama.

Setelah acara tasyakuran, aku tak lantas menghubungi nomor-nomor pemilik rumah yang akan dijual itu. Kau tahu, aku sibuk mempersiapkan acara lamaran kita. Aku sibuk juga bekerja mengumpulkan uang karena hari pernikahan semakin mendekat. Kita juga sempat beberapa kali pergi ke Blok M dan Tanahabang berdua untuk mencari kebutuhan lamaran dan pernikahan dengan harga miring. Dosenkulah yang lantas mengingatkan mengenai rumah itu karena ia berjumpa dengan si empunya rumah di persimpangan lingkungan perumahan. Dan aku akhirnya menghubungi beberapa nomor itu.

Sebenarnya ada alasan lain yang mungkin dulu aku tak sampaikan padamu. Dulu aku ragu apakah mau membeli rumah yang sekarang kita huni ini atau tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya takut uang yang dikumpulkan untuk menikah ludes dibelikan rumah. Apalah artinya rumah kalau pernikahan malah batal karena semua uangnya terpakai.  Itulah kenapa aku tak lekas menghubungi nomor-nomor itu. Aku harus hitung betul uangku. Orang tuaku, sebagaimana kau tahu, tak mau kurepotkan dalam hiruk-pikuk urusan anaknya. Aku sudah cukup dewasa untuk mencari uang dengan tenaga sendiri.

Jelas uangku saat itu  hanya cukup untuk biaya lamaran dan pernikahan. Tapi, sekali lagi, Dosenku yang mengomporiku agar sedikit nekat. “Pernikahan itu butuh sedikit kenekatan dan kegilaan. Tak bisa kau menikah dengan pikiran utuh.”

Dosenku benar. Pernikahan membutuhkan unsur keberanian dengan sedikit kegilaan. Bahkan kegilaan itu dimulai sejak menentukan pilihan siapa yang akan dinikahi. Dunia sempurna menggambarkan semua orang menikah dengan seseorang yang seutuh bulatan dan sebening embun dicintainya. Bahkan cinta bening-bulat-utuh pertamanya. Tapi dunia nyata tak selurus penggaris dan tak sebening embun. Ada banyak alasan, salah satunya unsur kegilaan, seseorang menikahi orang yang baru saja beberapa bulan dikenalnya dan berpisah dengan orang yang sudah dipacarinya bertahun-tahun. Ya, harus sedikit nekat dan gila

Karena itulah, aku akhirnya memberanikan diri menghubungi si Pemilik Rumah meski sampai saat itu aku tidak tahu darimana uang untuk membelinya nanti didapat. Ah, persetan. Nekat saja. Dan betul saja. Aku pening bukan kepalang  ketika si Pemilik Rumah yang kuhubungi bilang rumahnya mau dijual dengan harga sangat miring, asal dibayar kontan dan uang yang dimintanya harus ada dalam dua hari ke depan. Bayangkan, darimana uang puluhan juta itu ada di saku bajuku dalam dua hari? Padahal waktu itu semua usahaku tercurah untuk lamaran dan pernikahan kita.

“Apakah itu tidak terlalu cepat, Pak? Saya akan mengusahakan ke bank tetapi pastilah butuh waktu beberapa minggu sampai pinjaman saya disetujui.” Tapi rupanya si Pemilik Rumah tidak peduli. Dia raja atas rumahnya itu, dan karena itu bisa menentukan apapun.

“Kalau Bapak bisa memenuhinya dalam waktu dua hari, rumah itu akan saya lepas, Pak. Maaf, kami sedang ada kebutuhan sangat mendesak. Kalau tidak ada jawaban dalam dua hari, kami akan berikan penawaran pada orang lain.” Suaranya tegas dan seperti berat dengan beban yang ditanggungnya.

Aku jadi benar-benar setangah gila. Bisa saja kualihkan semua tabungan persiapan pernikahan kita itu untuk membeli rumah. Toh aku bisa bilang bahwa rumah itu juga untuk rumah kita. Tapi aku tahu, pernikahan lebih penting daripada membeli rumah. Aku pikir, kita masih bisa tinggal di rumah kontrakan setahun pertama setelah menikah. Bisa saja mencari kontrakan yang sedikit mahal agar nyaman. Pikiran wajar belaka. Tapi kalau dipikir lagi, sayang juga melewatkan kesempatan mendapatkan rumah dengan harga miring itu. Pembeli paling beruntung adalah pembeli dari  penjual yang sedang terdesak kebutuhan. Dan saat itu aku hampir beruntung.

“Rumah di belakang itu mau dijual, Pak. Tetapi Pemilik Rumah meminta uang dibayarkan tunai dan lunas dalam dua hari. Saya tertarik, Pak, tetapi mungkin ini bukan saat yang tepat. Saya tak punya uang tunai sebanyak itu. Kalaupun ada, itu uang yang saya kumpulkan untuk pernikahan….” Aku seperti mengadu pada dosenku itu ketika ia bertanya kabar rumah. Sedikit berharap ia bisa memberikan pertolongan.

“Tenang, kau masih punya 48 jam untuk berusaha sebelum akhirnya menyerah. Saya coba bantu.” Entah kenapa Pak Dosen begitu baik. Mungkin ia ingin aku menjadi tetangganya. Atau entah untuk alasan apa.

Pada jam-jam terakhir tengat waktu dua hari itu, aku akhirnya menemuai kepala kantorku. Selalu ada jalan buat yang mau melangkah, sebagaimana selalu saja ada lagu untuk orang yang hendak bernyanyi. Aku yakin sekali akan hal itu. Setelah bermanis mulut, Kepala kantorku akhirnya mau meminjamkan uang, setengah dari harga rumah. Dan karena itu aku seperti keluar dari lubang jarum. Lega. Aku bisa ambil setengahnya dari uang tabungan untuk pernikahan. Untuk pernikahan nanti, aku masih bisa sedikit pinjam kanan-kiri untuk menutup kekurangan.

Dua hari kemudian, aku bertemu dengan Pemilik Rumah di daerah Bintaro. Tadinya aku ingin mengajakmu bertemu mereka, namun saat itu kau sudah mulai dipingit, lebih banyak menghabiskan waktu dalam rumah saja. Jadilah aku sendiri pergi bertemu dengan mereka di sebuah bank. Setelah basa-basi dan memastikan semua surat dan sertifikat asli dan lengkap, aku mengirim uang ke rekeningnya. Dalam beberapa menit kemudian, setelah berpamitan, aku bersicepat pulang ke kontrakan dengan perasaan aneh: membeli rumah seperti membeli gorengan. Tiba-tiba sekarang aku punya rumah. Rumah yang sederhana namun cukuplah untuk memulai berumah tangga.

Maaf, ada sedikit peristiwa yang tadi lupa kuceritakan. Sebelum aku pergi meninggalkan bank, tiba-tiba si Pemilik Rumah bergegas menghampiriku. Saat itu aku sudah di parkiran. “Tolong sampaikan ini, alakadarnya, untuk Pak Darmo. Sampaikan salam saya.” Si Pemilik Rumah menyampaikan amplop sedikit tebal. Aku tahu isinya uang. Tetapi kenapa diberikan untuk Dosenku itu.

Dalam perjalanan, aku baru mengerti, amplop itu isinya uang terimakasih yang diberikan si Pemilik Rumah pada Dosenku karena ia membantunya mencarikan seorang pembeli rumah. Semacam uang jasa. Dosenku itu tidak salah. Ia hanya mendapatkan lebih banyak kebaikan dari kebaikan yang dilakukannya. Aku senang luar biasa karena memiliki rumah dalam sekejap, si Pemilik Rumah senang karena memiliki uang tunai besar untuk keperluannya, dan Pak Dosenku senang karena akan punya tetangga baru, muridnya, ditambah dengan rizki yang akan kusampaikan segera yang mungkin tidak pernah ia duga-duga.

***

Sebagaimana dulu pernah kita rencanakan dalam perjalanan menuju bioskop atau ketika kita mencicipi nasi goreng di pertigaan Polsek yang terkenal itu, akhirnya semuanya tercapai dengan perlahan. Memang sedikit lambat. Ya, seharusnya aku mewujudkannya untukmu sekitar 5 tahun lalu ketika kita baru saja menikah. Tapi kau akhirnya tahu, aku tak sehebat seperti kelihatannya. Aku jauh dari kata sempurna untuk membawa hal-hal remeh itu segera.

Meski telat, kita patut bersyukur karena akhirnya hal-hal sederhana itu menjelma perlahan.

Sebelum menikah, kami punya cita-cita sederhana: rumah kecil yang nyaman, kendaraan yang layak dan sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Sebuah cita-cita umumnya orang berumah tangga. Bukan cita-cita luar biasa. Namun setiap orang yang pernah menghabiskan masa-masa gombal dan lantas mengalami pelaminan, pastilah tahu cita-cita sederhana itu harus diraih dengan kesabaran.

Kau masih ingat saat pertama aku membawamu ke rumah kita, bukan? Kau kaget. Ya, kaget setengah mati, karena bagimu rumah itu lebih layak disebut kontrakan ketimbang rumah. Aku tahu, kau tidak pernah punya impian menghuni rumah sekecil itu. Keluargamu cukup kaya. Rumah orang tuamu, orang tua kita, besar-besar dan mewah. Sejak dalam kandungan kau tak pernah pergi tanpa diantar supir. Jadi wajar ketika kau kaget luar biasa aku ajak ke rumah itu.

Tapi kau terima dengan penuh kesabaran. Aku sedikit berbohong: “Ini sementara saja, daripada kita tinggal di kontrakan. Semoga tahun depan pindah ke rumah yang lebih besar”. Kau hanya senyum sambil terus melihat-lihat ruangan dalam rumah tipe 36 itu. Kau masih ingat, langit-langit rumah itu kusam dan banyak bekas bocoran air.

Pasti kau ingat, saat itu tak ada apa-apa di dalam rumah kita. Hanya tikar, lemari buku yang aku bawa dari kontrakan dan dua buah lemari baju. Bahkan kita tak punya kasur empuk untuk memadu kasih karena kasur bekas dulu di kontrakanku ketika kuliah masih bagus. Kalau dipikir-pikir, kita prihatin sekali saat itu. Padahal apa susahnya kau minta ke orang tuamu, orang tua kita, kasur yang bagus. Abah bisa kirim kasur bagus dari tokonya sendiri. Tapi kita tidak melakukannya. Dan kau tidak protes. Kasur lantai itu masih ada di ruang belakang, bukan?

Rumah kita itu belum berubah. Masih yang itu. Masih seperti dahulu. Ketika kau berdiri di halaman, dapur tempat kau menyiapkan makanan untukku pergi ke kantor terlihat jelas. Ruang tamu hanyalah sebuah ruang persegi yang sudah penuh dengan lemari buku dan kursi tamu. Dapur kita dihadang dinding tetangga belakang. Tak ada celah bagi udara segar datang menjemput bau apek dan aroma masakan. Baunya minta ampun kalau kau masak sambal terasi dan ikan teri. Kau sering protes dan menolak untuk memasak dua menu kesukaanku itu. Baunya, kau bilang, tak akan hilang tiga hari. Hinggap di dalam rumah, menyelinap sampai ke dalam lemari

Tapi, perlahan-lahan rumah kecil itu menjadi rumah seperti yang kita impikan. Rumah kecil yang nyaman. Sebenarnya kita ingin sebuah rumah megah yang nyaman. Tapi kau tahu, kita tahu, itu bukan hal yang layak dijadikan cita-cita sekarang ini. Tak ada cara untuk mendapatkannya selain lewat raswah atau menjual semua warisan. Aku selalu bilang padamu, kaya dan mewah nanti pada saatnya akan kita rasakan, Insyaallah. Sekarang nikmatilah kesederhanaan. Kata-kata itu selalu bisa membuatmu bersabar.

Rumah baru saja dicat. Di luar, kuberi warna hijau tua seperti tahi kuda dengan aksen merah, sementara di dalam hijau terang. Warna kesukaanmu, bukan? Semua remeh-temeh kerusakan sudah diperbaiki. Halamannya kini dipenuhi bunga dan tanaman. Dapur takan lagi seperti dulu dan karena itu kau bisa berlama-lama di sana. Tukang baru saja selesai memasang penyedot udara. Sengaja aku belikan penyedot udara yang bagus agar bau-bau makanan lekas hilang dan kau tak lagi takut membuat sambal terasi dan ikan teri. Juga aku belikan lemari perabot gantung yang bagus. Oh iya, kamar mandi juga sudah diperbaiki sekalian, diganti keramik dan toiletnya. Juga saluran pembuangannya. Jadi, tak ada lagi cerita air mampet.

***

Aku ingin kau kembali ke rumah ini. Segera. Membangun kembali semua mimpi yang sempat pudar. Kau boleh kecewa. Aku faham. Tapi aku sudah mendapatkan hukuman yang setimpal: kau pergi dari rumah ini dan tak mau kutemui. Aku sudah cukup sakit.

Aku bertemu dengannya benar-benar tidak disengaja. Ia tiba-tiba muncul di kedai cepat saji makanan Italia. Ketika dua mata orang yang pernah begitu dekat beradu, tak layaklah jika mulutnya tak saling sapa. Ketika ia bertanya “Kau tinggal di dekat sini?,” tentu aku harus menjawab meski dengan basa-basi “Iya, ayo mampir.” Suasana aneh dan kaku karena masih ada sedikit getaran dari masa lalu ketika mungkin kau melintas dan melihat kami seperti sedang berduaan. Lantas kau berfikir aku sengaja janjian dengannya di kedai itu.

Aku tak mau mengulang-ulang alasan itu lagi karena hanya akan membuat kita semakin jauh. Aku sudah menyampaikan bantahan dan alasan sesungguhnya padamu beratus kali meski kau belum percaya sepenuhnya. Sekarang, yang penting aku ingin kau kembali ke rumah kita. Untuk memulai lagi mimpi-mimpi yang sempat porak-poranda. Meniti tangga-tangga kehidupan dari rumah kita. Tak baik jika rumah ini terus sepi. Ayo pulang, Sayang!

Kuningan, September 2014

3 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: