Catatan Harian

Menikah

Sebuah langkah besar saya ambil saat itu dengan penuh kebimbangan dan kegamangan. Bimbang karena saat itu saya merasa belum cukup matang, belum cukup kaya dan belum cukup percaya diri untuk berubah status. Sedikit gamang karena bagi siapaun yang akan menjalin hubungan abadi, pertanyaan apakah dia calon yang cocok selalu saja menghinggapi.

Tapi langkah besar itu harus diambil: menikah. Ya, menikah diusia 28 tahun. Menikahi seoarang perempuan yang saya yakini akan jadi pasangan hidup terbaik abadi. Saat itu umurnya 23. Kami selisih sekitar 5 tahun. Kata orang itu usia yang pas. Saat itu saya sudah punya pekerjaan meski belum tetap. Saya saat itu hanya yakin bahwa saya punya masa depan yang baik. Itu modal utama hidup buat orang-orang yang lahir dari keluarga biasa seperti saya

Dan hari itu akan kami peringati besok, 15 Oktober. Hari itu sudah berlalu 6 tahun yang lalu. Semua langkah besar itu ternyata hanyalah langkah kecil sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan, juga kadang mendebarkan. Kami sudah dikaruniai 2 orang anak yang masih kecil-kecil dan lucu-lucu. Sebuah keluarga kecil sederhana yang tinggal dipinggiran kota Jakarta.

Kata orang menikaha penuh pahit getir, tapi buat kami ternyata pernikahan itu semuanya terasa manis. Hanya sedikit asam, kadang-kadang. Tapi sama sekali tidak pernah pahit.

Leave a Reply

%d bloggers like this: