Gejala Genit Berbahasa

Waktu pulang kerja tinggal setengah jam lagi. Entah kenapa hasrat untuk menulis ini tidak bisa dibendung lagi. Mungkin karena sudah tidak kuat dan jengah setelah seharian memelototi naskah sebuah buku yang akan segera diterbitkan. Jadilah tulisan ini menjadi curahan keluh-kesah.

Adapun perihal yang membuat saya risau dan mengeluah adalah kebiasaan kita semua dalam berbahasa: kita terlampau genit dan manja dalam memakai bahasa serapan, terutama dari bahasa Inggris. Apalagi kalau sudah urusan buku ilmiyah. Memang ada banyak istilah baku ilmiyah yang itu datangnya dari bahasa Inggris. Istilah-istilah itu baharu dan karena itu bahasa ibu kita, bahasa Indonesia atau rumpun bahasa Melayu, masih kelimpungan mencari padanannya. Dan untuk alasan mempermudah, dipakailah isilah serapan. Ada terlalu banyak contohnya: kontektualisasi, intervensi, sosialisasi, imajiner, humaniter, kadersisasi, militansi dan banyak lagi. Sayangnya, jika awalnya istilah itu digunakan karena keterpaksaan ketiadaan padanan kata yang pas, belakangan penggunaannya dipakai sebagai kesukaan atau agar terlihat berilmu dan pandai oleh orang lain.

Lantas apa yang keliru dengan penggunaan bahasa serapan, terutama dari bahsa Inggris, ke dalam bahasa Indonesia? Bukankah bahasa harus tumbuh dan karena itu meminjam istilah menjadi lumrah. Bukankah bahasa Inggris, atau bahasa lain semisal Arab, banyak memakai bahasa yang dipinjam dari bahasa lain. Betul. Alasan itu betul sekali. Bahasa harus tumbuh. Karena itu saya setuju memakai bahasa serapan. Namun penggunaan yang berlebihan, bahkan ketika padanan kata yang pasnya sudah ditemukan, akan berbahaya bagi kelangsungan hidup kata-kata dalam bahasa kita. Tengok sahaja kata ‘unduh’ dan ‘unggah’. Dua kata itu hampir mati dan jarang sekali dipakai, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam karya ilmiyah. Setelah Tempo memperkenalkan dan mempopulerkannya untuk menggantikan kata ‘download’ dan ‘upload’, kedua kata itu seperti hidup kembali dari kuburan kamus. Ada ratusan, mungkin ribuan kata mati teronggok dalam daftar kamus Bahasa Indonesia karena tidak terpakai, karena kita lebih senang memakai yang serapan-serapan agar terlihat lebih keren.

Saya mendapatkan kesadaran berbahasa belakangan sahaja. Sebelumnya saya tidak terlalu peduli. Bahkan karya saya, Bintang Di Atas Alhambra, memuat terlampau banyak istilah genit. Kata itu dipakai begitu saja, meluncur secara alamiyah dari jari jemari saya karena tiadanya kesadaran berbahasa yang baik. Barulah pada suatu masa saya sadar bahwa kebiasaaan seperti ini kuranglah tepat.

Saat itu saya sedang berkunjung ke negeri tetangga, tepatnya ke Thailand Selatan. Di kota Pattani saya harus memberikan ceramah terkait pekerjaan saya. Pekerjaan saya itu menuntut saya berbicara cas-cis-cus memakai banyak istilah Inggris yang diindonesiakan. Maklum, pekerjaan saya terkait sengketa bersenjata dan hukum kemanusiaan antar-bangsa. Sampai beberapa orang peserta mengangkat tangan mereka bertanya perihal arti kata-kata yang seperti peluru kendali terujar dari mulut saya tanpa sadar. Kata-kata dan istilah itu untuk mereka asing dan membuat pusing. Dan karena itu saya harus berfikir keras bagaimana caranya menjelaskan dengan menggunakan sesedikit mungkin bahasa-bahasa genit. Dari sanalah kesadaran saya tergugah.

Ketika mahasiswa dahulu, sepertinya terlihat keren dan pandai jika saya berbicara menggunakan bahasa genit itu. Kini, terutama setelah munculnya video ngawur calon suami seorang pesohor, saya selalu merasa risih dang jengeh jika menjumpai tulisan terlampau banyak menggunakan bahasa asing. Bahkan tulisan saya sendiri. Karena itu, semenjak hari-hari ini saya beritikad untuk sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia  yang baku dan bukan serapan.

Leave a Reply