Catatan Harian

Pemilihan Umum yang Melelahkan dan Mematikan!

Ketika menulis catatan singkat ini badan saya masih belum sepenuhnya pulih ke posisi normal. Badan terasa kurang sehat dan sedikit lemas. Penyebabnya adalah karena pekerjaan maraton dua minggu terakhir mengurusi pemilu. Ya, pemilu.

Pemilu kali ini memang berbeda dari pemilu sebelumnya. Kali ini, pemilihan DPR dan DPRD, DPD, dan Presiden dilaksanakan serentak. Karena baru pertama kali, ketika para pembesar negeri merancang pemilu model ini, banyak hal teknis dan detail yang luput dan bayangan dan imajinasi mereka. Mereka hanya dituntun oleh imajinasi sederhana: kalau pemilu serempak, mungkin akan lebih menghemat uang negara dan lebih sederhana. Sederhana dibayangkan dengan hanya mengurangi jumlah pemilu dari dua kali menjadi hanya satu kali.

Dalam praktiknya, pemilu kali ini luar biasa merepotkan dan melelahkan. Sebenarnya dalam hal distribusi logistik dan persiapan, memang pemilu kali ini bisa dibilang lebih sederhana. Sekali jalan, semua logistik didistribusikan. Satu tempat pemungutan suara bisa dipakai untuk semua jenis pemilu. Artinya tidak perlu buat TPS kemudian dibongkar dan lantas dibuat lagi untuk pemilu lain.

Yang luput dari imajinasi para perancang model pemilu ini adalah bagaimana proses pada hari pemungutan berlangsung. Saya mau cerita pengalaman saya mengurusi pemilu di Los Angeles. Saya kebetulan kemarin menjadi ketua Panwaslu di Los Angeles.

Meski pemilihan umum di Los Angeles baru mulai pada tanggal 13 April pukul 12 siang (di luar negeri berbeda dengan di dalam negeri), persiapan untuk itu sudah dilakukan secara intensif seminggu sebelumnya: Koordinasi dengan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN), partai politik, training para KPPSLN, mengecek persiapan logistik dan lain-lain. Menjelang hari pemilihan, sehari sebelumnya, Panwaslu dan PPLN serta KPPSLN mempersiapkan tenda, tempat pemilihan, koordinasi dengan saksi-saksi, koordinasi terkait keamanan dan crowd control dan simulasi terakhir.

Jadi meski pemilihan baru dilaksanakan pada hari Rabu, energi sudah mulai terkuras sejak seminggu sebelumnya untuk urusan ‘dapur’ yang tidak kelihatan di muka umum. Ketika hari pemilihan datang, karena pemilih yang tidak terdaftar membludak, pemilihan dilangsungkan sampai dini hari, pukul 1.00. Saya dengan panitia lain baru pulang setelah subuh karena proses rekapitulasi memakan waktu yang tidak sebentar.

Penghitungan di luar negeri tidak dilaksanakan bersamaan dengan hari pemilihan. Penghitungan itu baru dilaksanakan pada 17 April, bersamaan dengan penghitungan di Indonesia. Dalam hal ini kami merasa beruntung karena panitia dan pengawas punya jeda untuk istirahat.

Sama seperti pada tanggal 13 April, meski pelaksanaan penghitungan suara baru dilakukan pada 17 April, Panwas dan Panitia terus sibuk karena kami juga harus mengurus pemilihan yang melalui pos (surat suara dikirim ke rumah pemilih melalui pos). Surat suara yang datang hingga tanggal 17 April masih harus direkap untuk di hitung. Sebagai Panwaslu, kami bertiga diwajibkan mengawasi semua proses pemilihan melalui pos itu dari mulai pengambilan surat suara dari kantor Pos, pengecekan dokumen, dan pemilahan surat suara presiden dan DPR. Jadi nyaris setiap hari, dari pukul 11 siang sampai tengah malam atau pagi lagi, Panwaslu menemani untuk mengawasi PPLN/KPPSLN untuk melakukan semua proses itu.

Tanggal 17 adalah hari yang teramat melelahkan. Penghitungan baru dimulai jam 5 sore waktu LA karena kami masih harus menunggu surat suara melalui pos tiba. Meski demikian, panitia sudah sibuk sejak pagi menyiapkan ini dan itu. Saya sudah mulai bekerja pukul 10 pagi: mengecek kesiapan tempat dan alat untuk penghitungan surat suara, menemani KPPSLN belajar mengisi formulir-formulir yang namanya tidak juga saya hafal, memastikan proses pengecekan saksi dan berkoordinasi dengan tim keamanan.

Penghitungan baru selesai keesokan harinya, tanggal 18 April sekitar pukul 10 pagi. Semalaman tidak tidur. Hanya sebentar meluruskan badan di karpet. Untung tempat penghitungan dilakukan di dalam gedung yang nyaman sehingga yang kelelahan bisa menggeletakan dirinya di mana saja, di lantai karpet. Saya membayangkan TPS di kampung yang beralas tanah dengan tenda seadanya. Bagaimana mereka bisa sekedar sebentar meluruskan badan beristirahat? Kami beruntung karena tempat penghitungan nyaman, ditambah makanan yang melimpah. Itu saja kami tetap merasa kelebihan beban (over-burdened). Tidak bisa membayangkan bagaimana kawan-kawan panitia di kampung dan pelosok dengan fasilitas seadanya. Betapa lelahnya mereka.

Ketika proses penghitungan, salah satu hal yang menyebabkan proses penghitungan berjalan lama adalah karena para saksi terus saja berdebat apakah sebuah surat suara sah atau tidak. Mereka mempunyai penafsiran sendiri tentang bagaimana surat suara sah, terutama terkait surat suara pemilih lewat pos. Ada kecenderungan pendukung 02 berusaha membuat sebanyak mungkin surat suara 01 tidak sah karena akan menguntungkan mereka. Juga sebaliknya. Debat panjang ini tak jarang harus saya hentikan dengan ketegasan.

Meski selesai jam 10 pagi pada hari berikutnya, saya masih harus berada di tempat penghitungan suara sampai pukul 4 sore karena harus mengawasi proses rekapitulasi. Proses itu memakan banyak waktu karena harus dicek berkali-kali. Bayangkan, itu artinya saya sudah hampir 30 jam lebih tidak beristirahat! Badan sudah terasa tidak enak. Sesekali saya merebahkan diri di karpet tanpa alas apapun, mencoba mencuri tidur yang tidak pernah datang.

Kelelahan luar biasa. Meski belum selesai pada pukul 4 sore karena sebuah masalah dalam merekapitulasi, akhirnya saksi, panitia dan Panwas memutuskan untuk menghentikan sementara proses rekapitulasi. Sudah tidak manusiawi. Rekapitulasi final akan diperbaiki kemudian dan saksi akan diminta datang kembali.

Kelelahan yang saya alami, pasti dirasakan pula oleh hampir semua panitia, baik pelaksana maupun pengawas, di seluruh dunia. Kami yang di Los Angeles mungkin termasuk yang beruntung karena fasilitas yang disediakan cukup memadai.

Ketika pemilu usai dan membaca hampir 90 orang panitia dan pengawas meninggal dunia, ratusan orang sakit, saya hanya bisa bersyukur karena saya masih diberikan kesehatan meski masih terasa lelah. Tentu orang meninggal bisa karena banyak sebab, tapi saya sepenuhnya yakin, proses yang teramat melelahkan itu menyumbang bagi menurunnya kesehatan para panitia yang ujungnya bahkan menelan korban jiwa.

Perbaikan ke depan

Ini adalah pemilu pertama secara serentak. Tujuan awalnya adalah untuk efisiensi dan penghematan. Saya serahkan pada yang lebih ahli untuk menguji apakah dua tujuan itu tercapai atau tidak. Namun dari obrolan informal, rasanya anggaran dengan model serentak tidaklah jauh berbeda dengan model pemilu sebelumnya di mana pemilihan DPR dilaksanakan terpisah dengan Presdien.

Namun yang jelas, dari segi teknis pelaksanaan, pemilu terpisah dua tahap relatif lebih bisa ditangani dan tidak menyebabkan panitia berguguran. Pemilihan serentak pada satu hari membuat beban panitia (KPPS ataupun Panwas) berlipat-lipat karena surat suara Presdien, DPR, DPD, DPRD harus dihitung pada saat yang bersamaan. Belum pula proses rekapitulasi dan lain-lain.

Jikapun sistem pemilihan ini ingin dipertahankan, saran saya dibuat dua kelompok KPPS yang terpisah yang bekerja secara independen meski bisa dilakukan dalam waktu dan tempat yang sama dan berbarengan. Misalnya, KPPS Pemilu Presiden dan DPR menjadi satu tim, sementara KPPS pemilu DPD dan DPRD menjadi tim lain yang terpisah. Tujuannya adalah agar beban kerja menjadi lebih realistis. Risikonya, anggaran akan membengkak karena jumlah panitia menjadi berlipat. Tapi ini adalah sebuah langkah yang tidak bisa dihindari mengingat pengalaman pemilu kemarin yang sangat melelahkan dan bahkan mematikan.

Pilihan lain adalah waktu penghitungan yang tidak perlu disegerakan. Misalnya bisa saja dibuat aturan hukum yang mengatur adanya jeda penghitungan: presiden dan DPR di hari pertama. DPD dan DPRD di hari berikutnya. Hal ini tak terhindarkan karena tidak mungkin menghitung secara maraton tanpa mengorbankan energi dan bahkan nyawa panitia. Jika punya jeda, paniti setidaknya punya waktu beristirahat. Namun pilihan ini punya risiko: semakin lama surat suara tidak dihitung, semakin besar kemungkinan adanya penyalahgunaan dan kecurangan.

Kemungkinan lain: dikembalikan pada model pemilu dua tahapan seperti sebelumnya dimana pemilihan DPR terpisah dari pemilihan Presdien.

Semoga catatan singkat ini menyumbang bagi perbaikan! Semoga yang gugur dikenang sebagai para pahlawan demokrasi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: