Catatan Harian

Becoming NU

“Setiap santri terlahir sebagai NU, panitia kampuslah yang menjadikannya HMI dan PMII.” Begitu unggahan status seorang kawan di halaman Facebooknya. Saya tahu, kawan yang satu ini hatinya NU sekali meski kakak kelas di kampusnya menjadikannya HMI, bukan PMII. Saya juga begitu. Dan karena polarisasi kehidupan kampus ini, ada banyak sekali santri NU tulen yang merasa canggung, sedikit malu-malu atau secara perlahan ‘dipaksa’ menyamarkan identitas Ke-NU-annya. Itu juga yang saya alami.

Sebagai santri, pendidikan pertama yang saya enyam adalah pendidikan pesantren salaf di tempat kelahiran saya di Kuningan. Di desa Lengkong dan Karangtawang dulu berdiri banyak pesantren. Banyaknya pesantren yang berdiri di desa itu bukan tanpa alasan. Makam Mbah Dako yang merupakan murid Eyang Hasan Muwlani berada di situ. Eyang Maulani sendiri berasal dari daerah itu. Jadi dari sisi sanad pendidikan, meski hanya seperti remah rengginang, ilmu saya nyambung ke Eyang Hasan Mawlani.

Setelah itu pendidikan saya dilanjutkan di MAPK Ciamis. Pendidikan ini lebih modern. Kawan saya sesama santri di Ciamis datang dari beragam latar organisasi keagamaan: Persis, Muhammadiyah dan tentu saja NU. Ketika di pesantren Ciamis, bersama ajengan Kholil yang sekarang menjadi kyai dan mengembangkan pesantren di Jonggol, Bogor, saya ‘diledek’ sebagai penganut bid’ah oleh kawan-kawan. Tentu ledekan itu lebih sebagai guyonan belaka.

Ketika masuk di UIN Ciputat, sama seperti anak yang baru lahir, kakak kelas saya menjadikan saya HMI. Tentu sebagai mahasiswa ingusan, saya sama sekali tidak mengerti polarisasi politik dan ideologi kampus. Niatnya sederhana saja: selama kuliah mau aktif karena saya sejak di pesantren aktif mengurus beragam kegiatan, dari OSIS, Pramuka sampai urusan kedaerahan. Dan aktvisme itu membuat saya tumbuh berkembang seperti saya sekarang: bisa menulis, sekolah ke luar negeri, aktif tipis-tipis di sana-sini.

Tapi rupanya, menjadi HMI memiliki konsekwensi: saya secara perlahan seperti kehilangan identitas ke-NU-an. Anak HMI yang NU dianggap kurang kaffah ke-NU-annya karena kalau mau menjadi NU kaffah, harusnya menjadi PMII. NU pro itu sahabat-sahabat yang aktif di PMII. NU yang HMI hanya NU-air. Polarisasi ini, meski hanya semata konstruksi politik kampus, begitu serius berbekas pada diri saya dan juga mungkin pada diri ribuan aktivis HMI-NU lain.

Tapi mungkin karena darah, budaya dan tradisi saya ini memang NU, secara perlahan saya balik kandang. Itupun tak luput dari kecurigan dan sinisme. Seorang kawan meledek saya: balik NU karena ada maunya, ada butuhnya. Setidaknya itu satu ungkapan yang secara verbal terucap kepada saya di Muktamar Lampung kemarin. Atas ledekan itu, meski saya cukup tersinggung, saya hanya tersenyum saja. Alhamdulillah, selama ini saya tidak hidup dan mencari hidup dari NU. Saya tidak pernah mengunakan NU untuk trading of influence. Saya cukup sejahtera dari pekerjaan profesional saya di Badan PBB (UNICEF). Saya ingin menghidupkan api NU, sekecil apapun sumbangsihnya, karena ia adalah rumah kultural saya. Dan ledekan itu saya anggap angin lalu. Saya anggap maklum belaka.

Buat saya, menjadi NU sama seperti menjadi diri kita sendiri sebagai manusia. Kita secara perlahan menjadi ‘semakin’ NU (becoming NU). Identitas itu selalu dinamis, dibentuk dan tumbuh. Ia bukan identitas ajeg (being). Ia terus menjadi. Lika-liku kehidupan masa lalu tidak perlu disesali dan disembunyikan. Saya akan terus dikenal sebagai aktivis HMI. Dan ‘menjadi’ NU hanyalah proses tumbuh difase berikutnya. Atau semata proses kembali. Anak-anak aktivis dari latar belakang manapun berhak menjadi anak dari rumah besar bernama NU. PMII secara struktural memang berada dibawah NU. Namu NU tidak identik dan tidak perlu diidentikan dengan PMII. NU lebih besar dari PMII. Ia, NU, harus menjadi rumah bersama penganut Aswaja.

Dan kerena itu, saya kira polarisasi HMI-PMII itu harus dirubah paradigmanya. Sekarang saatnya beralih ke paradigma sinergi, bukan polarisasi. Kedua organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia ini bisa menjadi aset besar NU. Sinergi keduanya akan jauh lebih bermanfaat bagi umat. Jadi, kawan-kawan aktivis HMI sekarang tidak perlu lagi malu-malu pulang kampung, balik ke kandang kultural. Ayo, pulang!

Catatan Muktamar NU di Lampung 2021.

Leave a Reply

%d bloggers like this: