• Catatan Harian

    Setelah Amartya Hampir Sebulan

      Mengurus anak kecil lebih sulit ketimbang mengurus sebuah organisasi. Dia tak bisa diajak negosiasi, apalagi kompromi. Semua keinginannya harus dituruti. Masalahnya, kita harus menafsirkan apa keinginannya. Itu yang susah. Amartya jadi bos keluarga sekarang. Tak ada kompromi. Dia otoriter. Aku masih harus meraba-raba apa keinginannya. Setiap malam, sejak dia lahir, aku dan istriku kehilangan tidur pulas. Tangisannya akan meledak setiap 2 jam. Aku harus menerapkan ilmu hermeneutika untuk menafsirkan tangisannya. Apakah dia ingin makan? Itu selalu analisa pertama. Oke, ibunya akan dengan senang hati menyusui. Kadang setelah itu dia tidur lagi. Tapi seringnya terus menangis, mendendangkan nyanyian di malam sunyi. Penafsiran tangisan tahap kedua diterapkan: tangisannya berarti ingin ganti…

  • Catatan Harian

    SEHARUSNYA AKU BUKAN HMI

    Ciputat, 27 Desember 2005 (Tulisan lama ini sengaja dipasang untuk nostalgia dan berbagi dengan kader HMI lain, semoga bermanfaat. Saat itu saya sempat sebentar pengurus PB–saat gonjang-ganjing perang antar kubu selama 3 periode berturut-turut) Tulisan ini mungkin hanya akan berisi unek-unek terhadap HMI. Saya adalah orang yang betul-betul mengalami proses di HMI. Berawal dari seorang yang diyakinkan dan di bujuk oleh seorang kaka, sampai menjadi seseorang yang terkadang terlalu cape menghabiskan sebagian waktunya di HMI. Saya kira siapapun itu—aktivis HMI maksud saya–pasti akan mengalami hal yang sama. Setiap orang berproses menjadi semakin HMI. Namun proses itu kadang membawa saya merenung:  kapan proses ini akan berakhir? Lalu, di tengah jalan, saya sering…