Catatan Harian

“Tawaf” di “Lampu Merah” Amsterdam

Ketika kejadian mengerikan itu sedang hangat-hangatnya diberitakan oleh hampir semua media di Eropa, aku sedang dalam perjalanan dari Leiden ke Amsterdam. Mendung menggelayut di langit Belanda sejak 3 hari lalu. Sesekali hujan dan angin kencang menerpa.  Aku duduk di lantai dua kereta cepat antar kota. Hujan yang mengguyur membuat kaca jendelanya dihiasi butiran air yang seperti bergelantungan dikaca sekuat tenaga melawan hembusan angin. Sepanjang jalan peternakan dan pertanian yang rapi terlihat tidak terlalu bahagia. Biasanya hijau ceria, kini mendung dan muram.  Padang gandum dan perahu-perahu kecil di kanal yang terlewati juga menandakan kesedihan.

Lebih 80 orang meninggal dunia. Aku tidak sabar ingin segera sampai Amsterdam untuk melihat informasi di stasiun. Aku punya janji dengan Lisa di Amsterdam. Dia akan mengajaku jalan-jalan keliling kota dan singgah di apartemennya. Dalam kondisi seperti itu jaringan internet di HP sangat dibutuhkan. Selama di Eropa ini telepon selulerku sengaja tidak berlangganan internet. Ingin ngirit. Lagi pula biasanya di setiap sudut kota bisa dengan mudah ditemui wifi gratis. Masih 20 menit lagi sampai di Stasiun Pusat Amsterdam

Selama dalam kereta itu benakku dipenuhi banyak tanda tanya. Aku ingin tahu lebih jauh siapa gerangan dia. Memang sudah banyak informasi tentang pelakunya. Tapi masih simpang siur. Apakah jaringan lama sebagaimana diperkairakan banyak orang? Atau bisa jadi orang lokal yang otaknya sudah dicuci oleh kelompok Al-Qaeda. Atau mungkinkah seperti kasus Oklahoma lebih sepuluh tahun silam di Amerika di mana pelakunya ternyata ekstrimis kanan Kristen. Semua pengamat percaya ini pekerjaan Al-Qaeda atau kelompok dan jaringannya. Alasannya sederhana: operasi pengeboman dilakukan hari Jum’at; bom yang dahsyat itu hanya mungkin dibuat orang yang berpengalaman; kebengisannya hanya bisa dilakukan orang yang gila dan nekat.

Ledakan bom hebat di kantor perdana menteri tidak banyak melukai dan membunuh orang-orang karena kebetulan terjadi pada akhir pekan dan di musim liburan. Tidak kebayang jika ledakan hebat itu terjadi pada  saat hari kerja.

Selain bom yang dahsyat di alun-alun kota Oslo, Norwegia, sebuah tragedi penembakan brutal membabi-buta juga terjadi hampir bersamaan di sebuah pulau bernama Utoya. Pulau ini berada di utara kota Oslo. Penembakan itu, tragisnya, terjadi dan dilancarkan pada acara pertemuan tahunan organisasi sayap kepemudaan Partai Buruh, partai berkuasa di Norwegia. Sebagian besar korban malah jatuh di pulau itu. Saat pembantaian terjadi orang-orang berhamburan menyelamatkan diri. Sebagian menceburkan diri ke laut untuk menjauh dari pulau. Sang pembunuh yang berseragam polisi itu dengan tenang menembak satu persatu setiap orang yang dilihatnya. Mungkin jika dia punya lebih banyak peluru niscaya semua orang yang ada di pulau itu dibantainya.

Siapa pelakunya? Orang pirang bule atau orang berambut ikal bermuka Arab sebagaimana diperkirakan banyak orang? Sejauh ini diberitakan ternyata orang bule pelakunya. Agamanya? Jangan-jangan itu orang lokal yang telah masuk Islam dan terindoktrinasi. Bukan pula ternyata. Pelakunya, Anders Behring Breivik, adalah seorang pengikut partai sayap kanan, neo-nazi  dan fundamentalis Kristen. Sebelumnya dia adalah anggota partai kanan moderat. Tetapi lantas keluar dari partai itu dan bergabung dengan kelompok ekstrim kanan.

Aku dan banyak orang sungguh kaget. Betapa terorisme telah menjadi masalah kemanusiaan secara umum. Apapun agamanya, apapun rasnya, penyakit ekstrimisme dan fudamentalisme bisa menyerang siapa saja. Seorang bermata biru berambut pirang, tubuh tinggi atletis, tampan dan penuh karisma tiba-tiba melakukan hal gila. Luar biasa mengguncang. Para pengamat dan analis yang sebelumnya menuding-nuding ekstrimis Islam lebih kaget lagi.

Sekonyong-konyong aku teringat K. Di mana dia gerangan sekarang. Setahuku polisi belum juga menangkapnya. Dia masih buron. Sebuah berita menyebutkan polisi terakhir mendeteksi keberadaanya di Indrapuri, Aceh Besar. Tapi dia masih buron. Semoga Allah menyelamatkannya, melindunginya, menginsyafkannya jika memang jalan yang ditempuhnya keliru. Baik atau jelek dia masih kawanku.

Anders mempersiapkan pengeboman dan pembantaian ini selama 9 tahun. Bahkan dia mengaku memghabiskan uang sekitar 300 ribu Euro untuk kebrutalannya ini. Yang aneh, dia mengakui tindakannya brutal, namun menurutnya hal itu tak terhindarkan untuk masa depan Eropa yang lebih baik. Eropa harus dimerdekakan dari kolonialisme Islam yang perlahan-lahan akan menguasai Eropa melalui imigrasi dan doktrin multikulturalisme. Yang kedua, Eropa harus dimerdekakan dari Marxisme yang jahat. Dia membuat sebuah manifesto setebal 1500 halaman lebih yang disebut sebagai “Manifesto 2083 Eropa Merdeka”. Dia mengaku dirinya sebagai Ksatria Templar, ksatria Kristen di masa lalu yang terkenal gagah berani, yang akan menjaga kemurnian Eropa yang Kristen dari musuh-musuh yang semakin terlihat mengancam Eropa.

Lisa menyambutku dengan senyum yang beberapa lama hilang. Bibir merahnya mengembang. Dia terlihat begitu senang melihat aku bergegas jalan ke arahnya menuruni tangga. Stasiun Pusat Amsterdam ramai sekali. Maklum akhir pekan. Banyak pelancong yang datang berkunjung ke kota itu. Aku diantaranya. Pengumuman dari pengeras suara berbahasa Belanda beberapa kali terdengar cukup keras. Aku melewati orang-orang yang sedang antri di depan loket pembelian tiket. Beberapa muda-mudi dengan tas punggung besar terlihat bergerombol di sebuah sudut, di dekat tangga menuju lantai dua stasiun kereta.

“Apa kabar? Bagaimana Utrecht dan kuliahmu, menarik?” Lisa bertanya setelah kami berpelukan dan bersalaman pipi dua kali. Selalu saja aku merasa kikuk dan canggung jika harus melakoni tradisi perjumpaan dan perpisahan ala orang Bule itu. Suka serba salah. Penuh dilema. Aku tahu itu mungkin tidak dibenarkan menurut agamaku. Tapi orang akan merasa terhina jika aku menolaknya. Toh sebenarnya pelukan setengah badan itu biasa saja sebagai simbol persahabatan dan pertemanan.

“Menarik dan programnya bagus sekali. Kamu bagaimana, Lisa, semuanya baik-baik saja?”

“Oh iya, semuanya baik-baik saja. Saya menikmati sekali musim panas di Eropa. Meski saya sudah pernah singgah di Moscow, saya belum pernah ke Belanda sebelumnya. Menarik sekali kotanya” Lisa, sebagaimana aku bilang, pernah beberapa lama tinggal di Moscow.

Aku dan Lisa bersicepat ke luar dari Stasiun Pusat Kota. Kami berjalan ke arah barat daya, menyebrangi sungai Amstel yang mengalir tepat di samping stasiun. Trem seperti biasa aku temui di Melbourne berseliweran. Aku dan Lisa harus sedikit hati-hati. Sungai Amstel yang membelah kota Amsterdam mengingatkanku pada Yarra. Saat itu ramai sekali. Antrian tempat pembelian tiket untuk darmawisata keliling kota naik kapal pesiar mini menelusuri sungai dan kanal penuh sesak.

Selepas menyebrangi sungai Amstel kami menyebrangi jalan Prins Hendrikkade menuju jalan Damrak, jalan besar yang akan berakhir di alun-alun kota Amsterdam, atau Dam Square. Nama jalan di Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda sebagian besar diambil dari nama-nama keluarga kerajaan Belanda.

Tapi banyak juga nama jalan yang mentah-mentah mengambil nama-nama pulau dan kota di Nusantara. Maklum, bangsa Belanda bercokol di Indonesia lebih dari 300 tahun. Di Utrecht, Amsterdam atau Denhag banyak sekali ditemui nama jalan seperti ini: Sumatrastraat, Bandungstraat, Makassarstraat, Lombokstraat, Malukustraat. Artinya jalan Sumatra, Bandung, Makassar, Lombok, Maluku dan lain-lain.

Yang kali ini aku sebrangi adalah jalan Prins Henrikkade, diambil dari nama Prins Henry atau Pangeran Henry, anak ke tiga Raja William II dengan ibu bernama Anna Pavlovna dari Russia. Nama Pengeran Henry juga digunakan sebagai nama kapal perang Belanda yang pada tahun 1894 dikirim oleh pemerintah kolonial ke Karangasem Bali dan Lombok untuk membasmi perlawanan orang-orang di sana. Aku suka mengingat nama-nama jalan karena jalan adalah tempat di mana sejarah menitipkan dirinya.

“Bagaimana tragedi Oslo menurutmu?” Aku bartanya pada Lisa.

“Lupakan dulu tragedi itu. Sekarang kita mau ke mana?”

“Terserah kamu, Lisa. Kamu guide saya hari ini”

“Ok. Kalau begitu kita stop di sini” Lisa tiba-tiba berhenti. Matanya menunjukan sesuatu padaku. Kami sudah jalan lumayan jauh dari Stasiun Pusat Kota. Di barisan pertokoan dan kafe-kafe aku melihat tulisan besar yang ditunjukan Lisa oleh matanya: “Sexmuseum”. Musem Sex. Ya, Amsterdam memang terkenal dengan industri sexnya. Saking terkenalnya, lambang kota Amsterdam tidak seperti lambang kota-kota lain di Belanda yang biasanya menggunakan simbol binatang seperti singa, kuda dan burung. Lambang kota Amsterdam adalah tulisan “XXX” berwarna merah tua. Simbol itu biasanya dipakai untuk menunjukan level film orang dewasa. Jika kita menonton film tiga “X”, berarti film tersebut akan mempertontonkan adegan-adegan dan gambar-gambar pono.

“Berani masuk?” Lisa menantang.

“Kenapa tidak, toh hanya museum” Jawabku sambil pergi ke loket pembelian tiket musem. Harga tiketnya tidak mahal, hanya empat Euro.

Begitu masuk aku sedikit kaget. Aku mempersiapkan diri melihat hal-hal yang tidak senonoh. Hatiku sedikit dag-dig-dug. Mestinya museum itu tidak dinamai “sexmuseum”. Seharusnya “porn museum”. Karena ketika aku masuk ternyata sebagian besar menunjukan perkembangan industri sex dan pornografi dari zaman ke zaman, dari berbagai peradaban. Gedung museum sex tidak terlalu besar. Hanya sebuah ruko dengan empat lantai yang di desain sedemikian rupa.

Di pintu masuk aku disambut patung perempuan telanjang bersayap dan etalase kaca di kanan dan kiri mengapit jalan.

Di dalam etalse kaca sebelah kanan aku melihat dua buah patung perempuan telanjang. Sebuah patung berparas cantik sekali, berambut pirang dan memegang cambuk. Di tangannya gelang-gelang dari besi mirip jeruji. Patung yang lain perempuan bertopeng besi dengan puting payudara dipenuhi anting-anting dan sesuatu mirip gembok kecil. Tangannya diborgol sambil jongkok. Rantai yang melilit lehernya terjulur dipegang patung perempuan yang sedang berdiri itu. Entah simbol apa. Mungkin simbol banalnya fantasi kehidupan sex.

Di etalase sebelah kiri berjajar gambar-gambar tua persetubuhan manusia dari India. Gambar lelaki India, berjanggut dan hidung mancung, berbelangkon putih dan berjubah. Tetapi tidak bercelana dengan kemaluan tinggi menjulang. Di hadapannya perempuan bercadar mengenakan baju landung dibiarkan terbuka tanpa beha. Payudaranya ke mana-mana. Dia nungging tak bercelana dihadapan lelaki perkasa itu. Ada juga beberapa lukisan lain yang tidak kalah erotisnya menggambarkan persetubuhan. Di dekat lukisan-lukisan itu sebuah buku tua terlihat kusam dibiarkan terbuka dengan lampu sorot meneranginya. Buku itu bertuliskan “Kamasutra”. Juga masih di etalase itu, berjejer ukiran-ukiran kayu kecil dan pahatan batu menyerupai pelir dan farji

Seluruh isi museum membuatku dan Lisa tak berhenti berbisik-bisik dan tertawa. Di lantai tua ada patung penis raksasa menjulang tinggi lengkap dengan testisnya. Testisnya dibuat seperti kursi sehingga orang-orang bisa duduk di situ dan berfoto. Hati-hati jika perempuan duduk di sana, jangan kaget jika dari bawah tempat duduk tiba-tiba sebuah benda lonjong mirip kemaluan laki-laki meninju pantat. Benda itu digerakan operator yang mengawasi patung penis raksasa.  Dan hanya diaktifkan jika perempuan yang duduk di testis itu. Sengaja untuk memberika sensasi tersendiri. Aku tahu karena Lisa ditinju benda itu dan berterik kaget.

Ada juga ukiran penis berbaris membentuk lingkarang mirip pot besar berwarna emas.

Satu jam kami di museum itu. Menyaksikan betapa seni dan tabu kehilangan batas-batasnya. Melihat sekilas sejarah sex dan pornografi dari masa ke masa dari semua bangsa. Di sana juga ada ukir-ukiran lingga dan yoni seta foto-foto perempuan Bali telanjang.

“Bagaimana Muhammad, suka?” Lisa menggodaku

“Sebagai lelaki normal, tentu saja. Tapi kaget luar biasa. Sesuatu yang masih sepenuhnya tabu di negaraku. Sesuatu yang tidak mungkin ada” Aku nyengir.

“Tadi di museum hanya patung perempuan dan lelaki telanjang. Sekarang aku akan membawamu ke tempat di mana perempuan-perempuan telanjang itu real, nyata, dan hidup!”

Aku tahu Lisa akan mengajakku ke “Red Light”. Red Light adalah kompleks prostitusi di pusat kota Amsterdam. Di sanalah pusat industri sek terbesar berada. Mungkin Red Light adalah Sarkem atau gang Doli-nya Amsterdam. Namun Red Light lebih luas dan modern. Endang Surahman kawanku yang sedang kuliah di Leiden itu menasehatiku agar jangan menyebut Red Light. Lebih baik sebut saja Lampu Merah. Pernah suatu saat anak-anak mahasiswa Indonesia bergerombol di kereta dan berbicara dalam bahasa Indonesia namun lupa menerjemahkan kata Red Light. Kontan mereka jadi perhatian. Meskipun ini negara liberal, tetap saja nama lokasi prostitusi punya konotasi negatif. Malu jika kita menyebut-nyebut namanya di kereta atau tempat umum, takut dikira pelanggan setia para pekerja sex di sana.

Lokasinya tidak jauh dari alun-alun kota Amsterdam. Berjalan menyusuri Damstraat kita akan segera sampai di kompleks Lampu Merah.

“Kamu siap?” Lisa menggodaku lagi

“Siap”

“Mau mencoba menawar?” Kata Lisa lagi

“Kamu gila. Tidak!”

“Hanya ingin tahu harganya berapa boleh saja. Toh mereka tidak akan menggigit”

“Tidak. Aku hanya ingin tahu saja. Tidak lebih, tidak kurang” Jawabku

Daerahnya ternyata sangat luas. Komplek Lampu Merah terbagi menjadi tiga zona distrik: daerah Walletjes, Singel, dan de Pijp. Mungkin karena luas dan harus berkeliling menelusuri gang-gang yang diapit bangunan tua itulah kawan-kawan pelajar yang lulusan pesantren punya seloroh tersendiri. Mereka selalu bertanya padaku: “Apakah sudah “tawaf” di Lampu Merah Amsterdam?” Aku selalu tidak tahu maksud kawan-kawanku itu sampai akhirnya bersama Lisa “bertawaf” sendiri di Lampu Merah. Berkeliling dan berputar-putar dari gang ke gang.

Orang-orang ramai berlalu lalang menelusuri gang-gang di kompleks itu. Ada yang memang ingin jajan, ada yang memang hanya ingin tahu. Satu atau dua perempuan menempati satu kamar dengan pintu di depannya. Pintu itu di lengkapi gorden tebal. Kata Lisa, jika gorden pintu itu tertutup, berarti para pekerja sex itu sedang bekerja melayani tamu. Dalam kamar itu ada ranjang, kamar mandi dan sofa. Di dekat pintu masuk ada meja kecil dan kursi tempat para pekerja itu menawarkan diri.

Sepanjang jalan mataku melihat kanan kiri. Tak lupa hatiku berdzikir dan istighfar. Aku berniat dalam hati hanya ingin tahu. Semoga tidak dosa. Ampuni aku ya Allah.

Semua jenis perempuan ada di sana. Aku melihat perempuan dari yang sangat anggun dan feminim sampai yang perkasa dipenuhi tato di sekujur tubuhnya. Ada yang masih belia ada yang sudah separuh baya. Ada yang langsing dan seksi, banyak juga yang sudah kendur dan tambun. Perempuan itu bermacam-macam tingkahnya. Ketika aku lewat, ada yang menari-nari menggoyangkan pantat dan payudaranya. Ada yang hanya duduk di kursi tinggi sambil merokok. Ada juga yang sibuk bersolek. Ada yang jalang menggoda, ada yang anggun duduk diam saja.

Aku juga melihat semua ras pekerja sex: dari kulit putih Eropa, hitam Afrika sampai kulit berwarna Asia.

“Satu kali jajan 50 Euro” Kata Lisa.

“Dan mereka sangat merdeka. Jika tidak ingin melayani, mereka tidak akan membuka pintunya. Bodiguard juga siap kapan saja jika ada kekerasan” Lisa menambahkan. Aku hanya diam saja. Masih bertanya-tanya apakah ini mimpi atau sungguh terjadi. Ini pengalaman luar biasa.

“Di kompleks lain malah ada daerah khusus transeksual” Lisa menerangkan lagi

“Ada juga daerah di mana yang memajang diri adalah laki-laki perkasa. Para gigolo yang siap melayani para tamu wanita” Kata Lisa

“Hm….kamu tidak berlangganan kan?” Aku berseloroh

“Hi, hi, hi, tidak!” Lisa tersipu malu. Pipinya merah merona. Perempuan itu seusiaku tapi belum juga berkeluarga. Dia sudah tiga tahun hidup sendiri tanpa pacar. Dia tidak terlalu terbuka urusan pribadi. Tapi aku tahu bahwa dia ingin melupakan dulu urusan lelaki. Mungkin luka dihatinya masih butuh waktu untuk terobati. Aku tidak tahu.

Perjalanan yang seru dan mendebarkan membuat aku dan Lisa lupa waktu. Aku pulang ke Leiden sedikit telat setelah beristirahat meluruskan kaki di apartemen Lisa.  Lenggak-lenggok dan pemandangan tak biasa hari itu membuatku lupa pada tragedi di Oslo. Tak sabar ingin lekas kembali ke kamar untuk membaca berita dan menonton teve.

Hari yang seperti mimpi!

One Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: