Catatan Harian

Bertapa di Kampus Leiden

Sekali bermimpi, bersiap-siaplah untuk hal-hal mengejutkan. Kadang mimpi itu menjelma lebih cepat dari dugaan kita.

Leiden adalah kampus impianku. Namanya pertama kali aku dengar dari Hafid, sang alumni yang dahulu ketika aku tsanawiyah datang ke sekolah dan bercerita tentang mimpi dan pengalamnnya. Alhamdulillah kini aku bisa hadir di sini, di kampus bersejarah sekaligus kampus tertua di Belanda. Kampus ini berdiri tahun 1575. Didirikan oleh Pangeran Willian van Orange, keluarga kerajaan pendiri Belanda, Raja Orange-Nassau.

Masa perkuliahanku di kampus Universitas Utrecht sudah selesai. Sudah beberapa hari ini aku pindah ke kota Leiden. Kota ini tidak seramai Utrecht. Kota kecil yang asri namun sangat bersejarah. Seperti kota lain di Belanda, kanal-kanal dan pusat perbelanjaan dengan kios-kios tua dan jalanan ditegel bata merah mendominasi pemandangan kota. Bedanya, di sini kincir angin besar yang terlihat menyembul dari balik pepohononan membat suasana serasa benar-benar di Belanda.

Hari-hari pertama di Leiden aku habiskan dengan jalan-jalan. Sekedar mencari tahu tempat-tempat penting sekitar kota. Aku mencari perpustakaan kampus, pusat perbelanjaan, toko Asia untuk membeli kebutuhan sehari-hari, toko daging halal dan museum-museum. Endang Surahman mengantarku berkeliling, jadi aku tidak harus nyasar-nyasar seperti ketika di Utrecht. Dia juga memberiku cuma-cuma sebuah sepeda ontel tua. Pedal dan rantainya sudah berkarat dan jika dikayuh selalu berbunyi. Tapi lumayan, yang penting cukup untuk pulang-pergi dari Wassenaarseweg, distrik tempatku tinggal, ke kampus dan pusat kota.

Leiden adalah nama kota dan kampus terkenal di Indonesia. Para ilmuan yang ingin mengetahui seluk beluk sejarah Indonesia, wajib datang ke kampus ini. Dokumen-dokumen penting bangsa kita sebagian besar di simpan di perpustakaan kampus ini. Leiden juga penting dalam sejarah bangsa kita karena kampus Universitas Leiden menjadi pusat pendidikan calon PNS Belanda yang akan dikirim ke nusantara ketika masa penjajahan dulu. Kebijakan kolonial juga banyak digodok di sini. Yang paling terkenal adalah kebijakan Islam kolonial Belanda dan strategi penaklukan Aceh. Di kampus inilah Christian Snouck Hurgronje belajar dan mengajar. Hurgronje adalah nama besar yang dipuja sekaligus dibenci. Dipuja karena sebagai seorang orientalis dan ilmuan dia sangat berhasil. Orang yang belajar sejarah Indonesia belum sempurna kalau belum mengenal dan mempelajari karya-karyanya. Buku-bukunya tentang Aceh dan Mekah, selain puluhan karyanya yang lain, selalu menjadi rujukan penting.

Namun Hurgronje juga dibenci karena dialah yang membuat Aceh bertekuk lutut pada kompeni. Aceh selama ratusan tahun tidak bisa ditaklukan kompeni. Aceh baru bertekuk lutut setelah Hurgronje bertahun-tahun meneliti Aceh dan memberikan rekomdasi jitu untuk menaklukannya. Selama sekitar 15 tahun dia tinggal di Indonesia. Berkeliling di pulau Jawa dari Ciamis, Garut, Bandung, Jakarta hingga Surabaya dan Sumatra dari Lampung hingga Aceh.

Selama di Indoneisa dia menggunakan nama alias atau nama samaran Haji Abdul Gaffar. Hurgronje menikahi dua orang mojang priyangan. Istri pertama selama mengembara di Indonesia adalah puteri penghulu Ciamis Raden Haji Taik bernama Nyai Sangkana. Ketika Nyai Sangkana meninggal dunia saat melahirkan anak ke empat, Hurgronje alias Abdul Gaffar menikah lagi dengan anak gadis seorang menak Sunda yang juga menjabat wakil penghulu Bandung, Kalipah Apo. Istrinya yang kedua ini bernama Siti Saidah. Siti Saidah ditinggal pergi begitu saja oleh Hurgronje saat Siti baru saja mempunyai anak berumur 18 bulan, Raden Yusuf. Setelah itu Hurgronje tidak pernah lagi kembali menginjakkan kaki di Indonesia samapai meninggal tahun 1936.

Kini anak cucu dan cicit Hurgronje bertebaran di Ciamis, Bandung dan Jakarta. Sebelum meninggal konon Hurgronje meninggalkan sebuah surat wasiat buat anak cucu dan cicitnya di Indonesia. Namun surat wasiat itu tidak boleh dibuka sampai seratus tahun setelah kematiannya. Surat wasiat itu masih rapi tersimpan di Perpustakaan KITLV di kampus Leiden dan baru akan dibuka tahun 2036, sesuai dengan wasiatnya.

Konon semua perjodohan untuk pernikahannya selama di Indonesia dibantu oleh Haji Hasan Mustopa, pahlawan nasional yang saat itu menjabat penghulu kota Bandung. Hasan Mustopa dan Hurgronje sahabat dekat sejak keduanya sekolah di Mekah beberapa tahun sebelum Hurgronje datang ke Indonesia sebagai utusan khusus pemerintah kolonial untuk urusan Islam.

Aku akan mengerjakan tugas akhir kuliahku di sini, di kampus Hurgronje, sekalian menghabiskan sisa musim panas. Tugas akhir itu nanti akan dikirim lewat email ke kampusku di Australia. Pihak kampus lewat program beasiswa yang  mensponsoriku berbaik hati memberiku meja di ruangan khusus di gedung Johan Huizinga. Sebenarnya meja itu biasa digunakan mahasiswa doktoral. Namun karena yang bersangkutan lagi melakukan penelitian palangan di Indonesia selama satu semester, aku diperkenankan memakainya. Di meja itulah aku akan bertapa menyelesaikan tugas akhirku.

Lewat pesan pendek aku mengirim kabar ke istriku di kampung bahwa aku sudah pindah ke kampus Leiden. Seperti biasa, Istriku hanya membalas dengan singkat dan diakhiri doa. Doa yang selalu menguatkanku tentunya.

Lisa sudah dua kali bertanya kapan dia bisa berkunjung ke tempatku. Dia rupanya sudah tidak sabar ingin berkunjung ke Leiden. Dalam emailnya dia bilang sedikit menyesal kenapa tidak memilih kampus Leiden sepertiku. Amsterdam, katanya, terlalu ramai dan sesak. Untuk belajar dia butuh kota yang tenang seperti Leiden.

Akhir pekan minggu lalu akhirnya aku mengundang Lisa untuk datang ke Leiden. Lisa dengan senang hati menerima undanganku. Sebagaimana ketika aku berkunjung ke Amsterdam, Lisa akan aku antar keliling kota Leiden.

Aku menjemputnya dari Stasiun Pusat kota Leiden. Sebelum pergi aku sudah mengantongi beberapa tempat yang akan kami tuju. Semua tempat-tempat itu bisa ditempuh dengan jalan kaki. Leiden adalah kota kecil. Semua hal yang ingin dikunjungi terletak didekat pusat kota. Dia akan datang jam 9 pagi. Aku sudah berada di stasiun lima menit sebelumnya. Aku bilang pada Lisa aku akan menunggu di warung kopi Starbucks persis di samping kanan pintu gerbang utama Stasiun Pusat kota Leiden.

Rambutnya terlihat lebih panjang dari beberapa waktu lalu ketika aku bertemu dengannya di Amsterdam. Lisa datang dengan penampilan sedikit berbeda. Terlihat lebih feminin. Ia memakai rok mini dengan legging ketat berwarna hitam dan sepatu but. Jaket kulit berwarna coklat menyembunyikan kaus ketat yang tak sempurna menutupi tubuhnya yang sintal. Dari pintu warung kopi dia melambaikan tangan sambil melemparkan senyum. Sebelum menghampiriku, dia membeli kopi dan kue muffin untuk sarapan paginya.

“Akhirnya, Leiden!”

“Ya, akhirnya. Waktu terbang begitu cepat, Lisa. Rasanya baru kemarin kita menghadap Pak Steve. Sekarang kita sudah menikmati secangkir kopi di sebuah kafe di Leiden”

“Kadang sulit dipercaya!”

“Semua kuliahmu selesai, bukan?”

“Tentu saja, Mister. Sama sepertimu, aku tinggal menyelesaikan tugas akhir. Tapi sungguh malas. Hari-hariku kadang sangat membosankan. Amsterdam juga terlalu berisik.”

“Seharusnya kamu memilih Leiden sepertiku.”

“Iya, seharusnya aku memilih Leiden juga. Sial. Tapi sudahlah. Terima saja.”

“Jika kamu bosan kamu bisa main ke Leiden kapan saja. Tapi akhir pekan.”

“Sungguh?” dia terlihat girang.

“Kadang aku juga bosan dan suntuk jika selama seminggu bertapa di dalam ruangan menyelesaikan tugas akhir. Butuh udara segar. Lebih segar jika ditemani yang segar-segar.”

“Hups…Muhammad, hati-hati. Jagalah hatimu selagi jauh dari anak istri.” Lisa rupanya tahu isi hatiku.

Tak lama kami duduk di sana. Segera kami bergegas ke luar dan berjalan menyebrangi lapangan bertegel batu alam di depan Stasiun Pusat Kota. Udara sungguh bersahabat dan cerah. Padahal sebelumnya hujan tanpa henti selama dua hari.

“Cuaca di sini tiba-tiba baik.”

“Tentu karena mereka tahu aku mau datang, Muhammad.”

“Aku kira begitu.”

“Kita akan ke mana?”

“Mengunjungi kampusku dulu, tentunya. Setelah itu kita bisa mengunjungi botanicus dan museum akademik kampus. Kamu akan lihat sebagian riwayat nenek moyangmu, Lisa.”

“Botanicus?”

“Iya, taman kampus sealigus pusat penelitian obat-obatan herbal dan pertanian. Di dalam komplesk itu ad ataman bagus di samping kanal.”

“Nenek moyangku? Maksudmu?”

“Kamu pasti tahu, Lisa, dulu negeri yang sedang kita kunjungi adalah bagian dari kerajaan Spanyol.”

“Ya, aku tahu, tapi tidak banyak.”

“Sampai abad ke 16 Belanda adalah bagian dari kerajaan Spanyol. Kampus Leiden berdiri tahun 1575, saat masih dalam masa pemberontakan untuk mencapai kemerdekaan dari Spanyol.”

“Masa, Muhammad? Aku baru tahu.”

“Ya. Kamu bisa lihat sertifikat pendirian kampus ini masih atas nama Raja Phillip II dari Spanyol yang merupakan musuh pendiri kampus ini. Ironis memang.”

“Maksudmu?” Lisa terlihat sedikit bingung.

“Kampus ini didirikan oleh Pangeran William, bagian dari keluarga Orange-Nassau. Dia juga adalah komandan pemberontak 17 provinsi di utara kerajaan Spanyol yang saat itu ingin memerdekakan diri. Provinsi-provinsi itu kini menjadi bagian banyak negara seperti Belanda, Belgia, Luxemburg, Prancis dan sebagian kecil masuk ke wilayah Jerman.”

“Hubungannya dengan Leiden?” perempuan Chili berdarah Spanyol itu terlihat tidak sabar.

“Universitas Leiden didirikan sebagai hadiah karena Leiden menjadi benteng bagi pertempuran antara Pemberontak dengan pasukan kerajaan Spanyol yang berpusat di Amsterdam. Penduduk Leiden berjibaku melawan dan berhasil mengusir tentara Kerajaan yang diperintah langsung oleh Duke Alva, gubernur jenderal Kerajaan Spanyol untuk wilayah Belanda saat itu.”

“Wow, menarik. Teruskan, Muhammad!”

“Namun setelah berdiri, karena butuh sertifikasi, terpaksa secara formal sertifikat pendiriannya ditadatangi oleh Raja Phillip II, raja Spanyol saat itu yang juga musuh Paneran William van Orange.”

“Ironis.”

“Ya, kadang begitulah hidup.”

“Pemberontakan kemerdekaan Belanda yang berlangsung dari tahun 1568 baru berakhir tahun 1648 ketika akhirnya Belanda mendapatkan kemerdekaan dari Spanyol secara resmi dalam perjanjian perdamaian di kota Munster.”

“Betapa besarnya Kerajaan Spanyol saat itu.”

“Ya. Besar sekali.”

“Yang menarik, Lisa, ketika kapal-kapal dagang dari Belanda dibawah bendera VOC berlabuh di pelabuhan-pelabuhan di negaraku, saat itu ternyata mereka belum benar-benar merdeka dari Spanyol. Kapal-kapal VOC sejak tahun 1602 mulai menjalankan operasi dagang paksa dan penjajahan di negeriku. Selama operasinya dari tahun itu sampai tahun 1800an, mereka adalah kongsi dagang paling besar dan kuat di dunia. Hampir satu juta orang Belanda dan Eropa dikirim untuk menjadi pegawai VOC dalam segala bidang. Mereka punya hampir lima ribu kapal dagang yang di sebar di seluruh Asia, terutama di pangkalan utama mereka di sekitar nusantara, daerah yang sekarang menjadi Indonesia, negaraku.”

“Ini yang aku senang darimu, Muhammad. Selalu ada hal baru. Meski kadang menyebalkan. Setiap saat aku dijejali informasi. Bahkan dimusim liburan.” Dia mengejekku sambil tertawa ringan.

“Tidak apa-apa, nona cantik. Aku tidak suka datang ke suatu kota hanya untuk melihat yang nampaknya saja. Gedung-gedung yang kita lewati telah menjadi saksi bisu perdaban manusia berates-ratus tahun. Sayang kalau kita tidak mengetahui ruh setiap kota yang kita kunjungi.”

“Betul. Aku setuju, Muhammad.”

Tanpa terasa kami sudah berjalan melewati Blauwpoortsburg, jembatan di pusat kota Leiden di seberang jalan Harlem, tempat pusat pertokoan berada. Di samping kanan dan kiri jembatan itu berbaris kapal-kapal kecil yang diparkir. Kafe-kafe penuh sesak oleh pengunjung. Orang-orang bersantai di kursi kafe sepanjang kanal sambil menikati secangkir kopi dan panasnya sinar matahari.

“Kita mampir sebentar ke kafe Albert Einstein.”

“Apa, kafe Einstain?”

“Betul, Lisa. Einstein pernah menjadi professor tamu sebentar dikampus ini. Leiden juga adalah kota yang sering ia kunjungi. Prof. Paul Ehrenfest, kawan dekatnya, menjadi professor fisika di kampus Leiden. Einstein datang ke sini biasanya untuk berlibur atau mencari suasana baru. Seorang mahasiswa sejarah sains belakangan menemukan manuskrip tulisan Einstein tentang teori fisika quantum dan teori nuklir dari salah satu perpustakaan kampus. Konon manuskrip itu sudah lama dicari dan hilang.

“Wah, sungguh menarik.”

“Dan dia biasanya menghabiskan hari di sebuah kafe di jalan Nieuwe Rijn, di seberang Balai Kota Leiden dipinggir kanal ini.”

“Wah, menyesal aku tidak ambil Leiden.” Lisa sekali lagi terlihat menyesali putusannya mengambil kelas di Amsterdam.

“Bukan hanya itu, Lisa. Kamu tahu Sigmud Freud?”

“Tentu. Dia psikolog yang sungguh terkenal dari Austria itu bukan?”

“Ya, betul. Dia menjadi professor tamu juga di kampus ini. Selama di Leiden, Freud pernah beberapa kali menterapi seorang kawannya yang merupakan komponis musik dunia ternama saat itu, Gustav Mahler. Mahler sedang stress karena pernikahannya dengan perempuan cantik dan artis terkenal Austria, Alma Maria Schindler, lagi diujung tanduk. Alma yang 19 tahun lebih muda darinya mulai tidak bahagia hidup dengannya. Mahler bersedia datang jauh-jauh dari Vienna, Austria untuk bertemu dan berkonsultasi pada Freud di Leiden. Dalam sejarah psikologi cerita konsultasi ini menjadi sangat terkenal. Ceritanya dikenal dengan “historical walk Sigmund Freud with Mahler” dan terjadi tahun 1910. Dua orang hebat pada masanya itu mengabiskan waktu berkonsultasi sambil berjalan-jalan santai di sepanjang kanal di depan Universitetsbibliotek, perpustakaan utama kampus.”

“Kita akan ke sana, bukan?”

“Tentu saja, Lisa. Itu kampus utama universitas Leiden sekarang.”

Setelah menunjukan kafe Einstein dan beberapa tempat di sekitar itu, aku dan Lisa segera ke kampus. Kami mengunjungi perpustakaan kampus yang sering di sebut UB itu. Juga mengunjungi museum akademik kampus dan taman Botanicus.

“Hugo Grotius juga belajar dan menjadi profesor di sini rupanya.” Lisa masih penasaran dengan list orang-orang ternama yang pernah mengajar dan belajar di kampus Leiden yang kami temui di museum Akademik. Kami sedang duduk di taman Botanicus melepas lelah. Taman itu bersis di samping museum yang baru saja kami kunjungi. Bagi para mahasiswa fakultas hukum di seluruh dunia, Hugo Grotius bukanlah nama asing. Dia sering disebut sebagai bapak ilmu hukum  internasional modern. Buku-bukunya sampai sekarang masih menjadi rujukan berharga dalam hukum internasional.

“Tentu saja, Lisa. Dia malah mulai belajar di kampus ini sejak usianya 11 tahun.”

“Sungguh? Tidak mungkin, itu terlalu muda.”

“Aku tidak tahu sistem pendidikan saat itu di Belanda, yang jelas aku membacanya dari pengantar bukunya,” jawabku.

“Jika dibandingkan dengannya, kita menyia-nyiakan waktu terlalu lama.”

“Ya, baru umur 19 atau 20 tahun kita kuliah.”

“Buatku yang orang Indonesia, ada fakta lain yang sungguh menarik terkait Hugo Grotius dan perkembangan hukum internasional di dunia ini?”

“Hm…apa itu, Muhammad? Indonesia, hukum internasional, dan Hugo Grotius? Bukankah negaramu saat itu belum ada?” Lisa memberondongku dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Tentu saja negaraku secara de jure belum ada. Indonesia baru merdeka tahun 1945. Tapi sejak zaman kerajaan sebelum para penjajah Eropa datang pulau-pulau di sekitar nusantara sudah pernah disatukan oleh beberapa kerajaan. Yang terkenal adalah Majapahit….”

“Apa?” Lisa memotongku.

“Ma-ja-pa-hit. Itu kerajaan besar di Indonesia yang kekuasaanya mencakup hampir semua daerah di Asia Tenggara”

“Ok, terus hubungannya dengan hukum internasional dan Hugo Grotius?”

“Orang-orang Belanda mulai berdatangan abad ke 15 ke nusantara. Aku sudah bilang padamua saat itu Belanda sedang terlibat peperangan selama 80 tahun dengan Kerajaan Spanyol untuk memerdekakan diri.”

“Yup. Terus?”

“Salah satu alasan orang-orang Belanda ingin merdeka adalah karena ingin punya akses rute kapal untuk berdagang di nusantara. Mereka menuntut hak untuk bisa berdagang sendiri tanpa harus meminta izin dari kerajaan Spanyol. Saat itu mereka sudah punya kongsi dagang VOC. Dengan punya akses dan hak berdagang, Belanda bisa dengan sendirinya membeli dan menjual rempah-rempah, sutra, kramik dan barang-barang berharga lain dari Asia, terutama dari nusantara yang saat itu terkenal karena menjadi lumbung rempah-rempah dunia.”

“Sungguh menarik.” Lisa asik mendengarkan paparanku. Kali ini dia tidak protes.

“Hugi Grotius saat itu sudah jadi orang terkenal di kampus Leiden. Sudah jadi pengajar.”

“Terus?” Lisa terlihat tidak sabar.

“Tenang nona cantik. Aku tidak ke mana-mana, ceritanya pasti diteruskan.”

Lisa memukul pundakku sambil tersipu sedikit malu. Mungkin hatinya senang karena aku memujinya.

“Diantara bukunya yang paling terkenal….”

“Free Sea, Mare Liberum. Aku pernah membacanya,” Lisa semangat memotongku.

“Tentu saja, semua anak hukum pasti tahu buku itu. Meski jarang yang membacanya langsung. Kamu beruntung.”

“Ya, teruskan!”

“Buku itu dibuat karena saat itu ada kontroversi internasional dan berujung pada ketegangan antara Portugis, Spanyol dan Belanda yang saat itu belum juga merdeka.”

“Kontoversi apa?”

“Portugis yang sudah berpuluh-puluh tahun menguasai perdagangan di nusantara mulai merasa terusik. Sebuah kapal kargo bernama St. Catarina yang memuat barang-barang berharga pada tahun 1603 di bajak oleh para pelaut Belanda yang saat itu di komandani oleh Jakob van Heemskerck di perairan Selat Malaka, tepatnya di dekat kepulauan Riau.”

“Sungguh?”

“Ya, Lisa. Portugis pantas marah karena ketika isi kapal kargo itu dilelang di pelabuhan Amsterdam, hasil penjualannya mencapai 3 juta Gulden.”

“Apa, 3 juta Gulden dari satu kapal? Gila!”

“Ya, jumlah itu hampir setara dengan pendapatan tahunan pemerintah Inggris saat itu atau setara dengan dua kali lipat seluruh aset perusahaan English East India Company, perusahaan saingan VOC milik pemerintah Inggris.”

“Gila, satu kapal kargo bisa menghasilkan uang sebanyak itu. Dan mereka berates-ratus tahun bercokol di negaramu, Muhammad. Gila!”

“Hm…..itu juga yang dilakukan nenek moyangmu, Lisa.”

Muka Lisa mendadak berubah. Mungkin dia sedikit tersinggung. Aku mendadak jadi tidak enak dan menyesal secara eksplisit mengemukakan itu padanya.

“Ya, aku malu dan minta maaf untuk hal itu. Tapi itu masa lalu. Ayo teruskan.” Lisa segera mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana.

“Oke. Intinya, buku Free Sea itu dibuat untuk menjustifikasi apa yang dilakukan oleh VOC di pulau-pulau India Timur yang sekarang menjadi Indonesia. Melalui teori hukum alam dalam ilmu hukum, Grotius ingin bilang bahwa Belanda punya hak untuk berlayar dan berdagang di lautan Nusantara.”

“Ya, ya, ya, aku faham sekarang,” Lisa mengangguk-angguk.

“Bahkan dia buat buku khusus tentang semua urusan VOC di kepulauan Nusantara. Judul bukunya De Rebus Indicis yang dalam terbitan modern kemudian diterbitkan dengan judul Commentary on the Law of Prize and Booty.”

“Oh….”

“So begitulah hubungan Hugo Grotius dengan negaraku, Lisa.”

“Jadi ini hasil riset kamu selama beberapa minggu di Leiden ini?” Lisa bercanda setengah mengejekku.

“Tidak, aku baca iseng-iseng karena ingin mencicipi membaca buku-buku Grotius. Ternyata di pengantar buku itu aku menemukan semua informasi ini. Aku juga sedikit terkejut membaca itu. Ternyata hukum internasional bermula dari lautan di negaraku.

“Salah satunya.”

“Ya, Lisa. Tantu saja. Sebelumnya pada sarjana hukum Spanyol juga membuat beberapa karya yang tujuannya untuk melegalkan penjajagan Spanyol di benua Amerika.”

Yes. Prof. Gupta bilang itu, bukan?” Lisa mengingatkanku pada Prof. Gupta dan diskusinya yang selalu menarik di kelas.

“Beruntung sekali kamu bisa datang ke kampus yang sangat bersejarah dan penting ini.”

“Kita, Lisa, bukankah kamu juga sedang berkunjung?” aku sedikit bercanda.

“Ya, kita.”

Aku dan Lisa tersibukan oleh diskusi yang menarik dan lupa sudah beberapa lama beristirahat di taman Botanicus. Kami segera bergegas keluar menuju pintu gerbang besi berwarna biru tua di depan kanal.

Seharian kami berkeliling dengan berjalan kaki. Sempat sekali mampir di restoran Indonesia untuk makan sekaian beristirahat. Lisa terlihat senang sekali.

“Kita memang harus mengunjungi Spanyol. Jika kita sekarang ini hidup enam ratus tahun silam, kita sekarang sedang di Spanyol. Tapi sekarang kita di Belanda.”

“Tentu saja, Lisa, kita harus mengunjungi asal mula peradaban Eropa itu.”

“Aku nanti akan bercerita tentang asal-usul kotaku, Santiago. Tapi nanti saja, kereta hampir datang.”

Kereta yang akan membawa Lisa kembali ke Amsterdam sudah terlihat di ujung satasiun. Padahal kini aku yang dihinggapi penasaran.

“Ok, Muhammad, aku harus kembali ke Amsterdam. Terimakasih untuk jalan-jalan yang mengasikan tadi.

“Ok. Jangan lupa cerita Santiago itu”

“Tentu. By…by

Kereta yang berhenti di Leiden tidak pernah lama karena hanya sekedar transit. Lisa kembali ke Amsterdam dengan menitipkan sebuah rasa penasaran di benakku.

5 Comments

  • Anonymous

    I have so many comments, tapi sebagian aja ya:
    1. ada beberapa penempatan titik yg kurang tepat.
    2. Ini genre-nya roman, sejarah, atau novel ya…karena ada banyak infrmasi sejarah dan ada deskripsi Lisa yg tubuhnya sintal.
    3. Sosok Lisa tiba-tiba hadir, seolah2 tulisan ini bagian kedua dari edisi “bertapa di Leiden”
    4. Nama Lisa juga terlalu sering disebut disetiap percakapan.
    5. Ini kejadiannya sebelum atau sesudah ramadhan ya..karena ada beberapa kunjungan ke kafe he he
    6. Oia, awalnya Lola mengira tulisan ini akan mnjadi penuturan sejarah yg dikemas melalui cerita ke pembaca tapi ternyata ada percakapannya…agak sedikit trganggu siiy…

    Tapi well done!!!!!

  • Asep Sofyan

    Kelihatannya ini akan menjadi bagian dari sebuah buku, yang akan diterbitkan sepulang dari Belanda. Tulisan ini bukan jenis yang bisa dibikin sambil lalu, tapi harus sesekali melirik referensi. Percakapannya juga tentu sudah diedit, dan mungkin direkayasa agar urutannya teratur. Good job, Mr Zen.

    • zezen zaenal mutaqin

      Halo, sep. Draf novelku sudah diseting Aang Akmal malah. Alhamdulillah so far sudah 290 halaman. Tinggal moles dan nambah 2 chapter lagi. semoga bisa selesai sebelum balik ke Indo dan nanti tinggal keliling nawarin ke penerbit

Leave a Reply

%d bloggers like this: