-
“Tawaf” di “Lampu Merah” Amsterdam
Ketika kejadian mengerikan itu sedang hangat-hangatnya diberitakan oleh hampir semua media di Eropa, aku sedang dalam perjalanan dari Leiden ke Amsterdam. Mendung menggelayut di langit Belanda sejak 3 hari lalu. Sesekali hujan dan angin kencang menerpa. Aku duduk di lantai dua kereta cepat antar kota. Hujan yang mengguyur membuat kaca jendelanya dihiasi butiran air yang seperti bergelantungan dikaca sekuat tenaga melawan hembusan angin. Sepanjang jalan peternakan dan pertanian yang rapi terlihat tidak terlalu bahagia. Biasanya hijau ceria, kini mendung dan muram. Padang gandum dan perahu-perahu kecil di kanal yang terlewati juga menandakan kesedihan. Lebih 80 orang meninggal dunia. Aku tidak sabar ingin segera sampai Amsterdam untuk melihat…


