Suratku Buat Cak Nur

Dear Cak Nur,

Bang, hampir setiap akhir pekan aku hilir mudik Bogor-Ciputat. Kawan-kawan HMI memintaku mengisi materi NDP (Nilai Dasar Perjuangan). Aku harus berdiskusi dengan ratusan calon kader selama berjam-jam. Kadang diskusi yang biasanya dimulai setelah isya baru berakhir menjelang subuh.

Setiap kali aku memulai pembicaraan di forum itu, yang terbayang dibenakku adalah wajah abang. Aku selalu menceritakan terlebih dahulu konteks historis kenapa materi yang abang buat penting dalam perkaderan HMI. Aku bercerita tentang tiga orang yang dulu melahirkan materi yang menarik ini. “Dialah”, kataku, “yang dulu membuat materi yang kita kaji sekarang”. “Dia adalah Nurcholish Madjid”. “Dia dibantu dua orang kawannya yang lain: Endang Saifudin Ansari dan Sakib Mahfud”.

Abang tentu masih ingat, NDP yang abang buat itu telah menjadi materi wajib perkaderan HMI sejak tahun 1969, tepatnya setelah kongres HMI di Malang. Abang, materi itu terus menjadi sesuatu yang paling ditunggu-tunggu hingga kini. Materi itu sering membuat mahasiswa lugu yang baru merasakan bagku kuliah terperangah dan termangu. Bagi para peserta perkaderan, seperti juga dulu aku rasakan, materi NDP adalah materi kontroversial dan subversif. Iman dan Islam seolah diobrak-abrik. Materi yang abang buat itu adalah terapi kejut buat para peserta.

Melalui surat ini aku ingin mengkonfirmasi, apakah aku selama ini telah memberikan materi sesuai dengan apa yang abang maksudkan atau tidak. Abang mungkin akan menjawab: naskah itu sekarang sudah merdeka, kamu bisa memaknainya sendiri. Tapi alasan terpetingku kenapa menyurati abang adalah untuk bertukar pikiran. Aku ingin mendiskusikan poin-poin penting dari materi itu.

Abang, aku selalu bilang pada para peserta, bahwa inti NDP adalah tauhid. Tauhid berarti mengesakan Tuhan. (yang selalu aku ingat dari semua ceramah abang adalah kemampuan abang menelisik sesuatu dari akar kata yang paling dalam, lalu mengungkapkan satu makna yang segar dan mengejutkan. Aku kira itu efektif dan bagus. Aku sering menirunya). Bahwa hanya ada satu Tuhan. “Wahhada, yuwahhidu, tauhidan, itu akar katanya”  ujarku. Cara bertuhan seperti ini bukan sesuatu yang khas Muhammad. Ini adalah inti ajaran para nabi. Tuhan yang dimaksud dalam tradisi Abrahamik adalah Allah. Allah adalah Tuhan, Tuhan adalah Allah. “There is no God but God”

Kata Allah, pada masa Jahiliyah, artinya dewa air. “Dewa air dalam kebudayaan Arab adalah dewa tertinggi. Air adalah hal terpenting bagi masyarakat gurun. Sama dengan matahari yang menghangatkan dan memberikan terang bagi orang Romawi yang sering kedinginan. Dewa air bersemayam di tempat air berada, oase. Oase adalah tempat sakral. Pergi ke oase adalah pergi ke tempat kehidupan dimulai. Jalan besar menuju oase di mana dewa air bersemayam dinamakan ‘syari’ah’, yang berarti jalan besar”. Ketika aku memaparkan ini, para mahasiswa muda itu mengkerutkan dahi. Bang, mereka terkejut sekaligus tertarik. Sama seperti dulu aku pertama kali mendengar ceramah abang.

“Ketika Muhammad datang, semua itu didevaluasi nilainya. Makna lamanya dicabut, dan dikukuhkan satu makna baru. Pengukuhan makna barupun berproses. Kalau kalian baca Alquran”, paparku, “coba lihat, surat-surat pertama dalam Alquran tidak pernah mengungkapkan kata ‘Allah’. Yang diungkapkan adalah kata ‘robbun’. ‘Iqra bismi robbika’, bacalah dengan nama Tuhanmu. Surat Alquran kedua yang turun juga sama: ‘wa robbaka fa kabbir’. Kenapa demikian? Itu karena kalau kata Allah digunakan Alquran, dikhawatirkan akan muncul anggapan di kalangan masyarakat Arab bahwa ajaran Muhammad yang baru datang itu mengafirmasi konsep ketuhanan yang selama ini mereka anut: Allah sebagai dewa air, dewa tertinggi”. Aku memaparkan ini dengan penuh semangat. Para peserta mengikutinya dengan penuh tanda tanya.

Aku lantas memaparkan kepada para peserta kenapa konsep tauhid menjadi inti ajaran semua para nabi. Sebagaimana abang tuliskan di beberapa buku, aku bilang pada mereka bahwa tauhid adalah cara bertuhan yang paling manusiawi. Tauhid adalah kemanusiaan itu sendiri. Apa inti dari kemanusiaan? Akal budi dan kebebasan. Tauhid itu membebaskan, memerdekakan. Ketika manusia hanya bergantung dan berserah diri hanya pada satu Dzat, maka dia akan bebas. Aku selalu membuat analogi sederhana kepada mereka. Aku bilang: coba lihat pendulum. Kenapa bebas bergerak? Hal itu karena pendulum hanya tergantung pada satu titik.  Kalau pendulum tergantung pada dua atau tiga titik, dia pasti akan terbelenggu, statis, mati.

“Kenapa musyrik menjadi dosa yang paling tidak diampuni?” tanyaku pada para peserta. “Musyrik itu adalah lawan dari tauhid. Musyrik menyekutukan Tuhan. Percaya pada zat lain selain Tuhan sebagai penentu dalam kehidupan. Musyrik adalah cara bertuhan yang mengingkari hakikat dasar  kemanusiaan. Musyrik membuat manusia terbelenggu, mati, statis. Sama seperti pendulum yang tergantung pada dua atau tiga titik. Tidak bergerak, tidak bebas”.

Orang di desaku menganggap batu besar di pinggir kampung penuh keramat. Ada penghuninya. Jangan berani dekat-dekat, nanti kesambet (dirasuki mahluk yang menghuni  batu itu). Itulah salah satu contoh kecil perbuatan menyekutukan Tuhan yang sering aku sebutkan. Karena sikap itu, orang kampungku terbelenggu oleh batu tersebut. Padahal batu itu jelas-jelas menghalangi rencana pembuatan jalan desa di kampungku. Karena tauhid, pertama-tama manusia terbebas dari belenggu alam. Sekarang jalan kampung sudah jadi. Batu itu akhirnya dibongkar setelah seorang kyai muda di kampungku memberikan jaminan. Batu besar itu diolah oleh tukang batu menjadi batu nisan dan ulekan.

Analogi pendulum ternyata lumayan jitu, Bang. Para peserta mulai terbuka pikirannya. Ketika mereka masih mengerutkan dahi, aku timpali lagi dengan sesuatu yang mengejutkan mereka. Aku bilang pada mereka: “Karena itu, konsekuensi dari tauhid adalah liberalisasi dan sekulerisasi. Orang yang tauhidnya mantap, Islamnya bener, dia harus sekular sekaligus liberal”. Sekonyong-konyong para peserta kaget. “Jadi, pertama-tama kalian jangan alergi dengan kata ‘sekuler’ dan ‘liberal’. Dua hal itu berakar langsung dalam inti ajaran agama kita”, ujarku. 

Abang, dulu kamu mengatakan bahwa sekulerisme berbeda dengan sekulerisasi karena sekularisme adalah ideologi yang tertutup (closed system) sementara sekularisasi adalah proses yang dinamis (open process). Abang bilang bahwa sekulerisme anti agama, sementara sekularisasi netral agama. Semua itu abang sampaikan dalam pidato tanggal 3 Januari 1970 di hadapan pertemuan empat organisai independen tingkat pusat di Jakarta. Abang masih ingat bukan? Apa yang abang sampaikan disebuat “ide-ide 3 Januari” oleh sahabat abang yang mungkin sekarang menjadi teman diskusi yang baik di tempat abang: Ahmad Wahib.

Abang dulu memaparkan bahwa sekularisasi adalah konsekuensi niscaya dari tauhid. Hal tersebut sepadan maknanya dengan profanisasi. Menduniawikan apa yang semestinya bersifat duniawi.  Hal ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tak lagi sanggup membedakan mana yang transendental dan mana yang temporal. Negara, tafsir agama, alam, adalah sesuatu yang duniawi, profan. Jangan sekali-kali disakralkan. Apa yang kamu paparkan dulu itu, aku sampaikan lagi pada para peserta.

Bang,  diskusi semakin seru ketika masuk pada konsekuensi kedua dari  tauhid: kebebasan. Diskusi menjadi lebih hangat karena aku diposisikan sebagai pendukung Jaringan Islam Liberal. Aku bilang: aku dekat dengan orang-orang JIL. Berdiskusi dengan mereka, dan merasa menjadi bagian darinya. Aku juga bilang, apa yang membedakan JIL dengan Cak Nur adalah pada cara bukan pada substansi.

Aku bilang pada mereka, bang, bahwa inti yang diperjuangkan oleh para aktivis kebebasan sekarang, oleh para martir kebebasan dalam sejarah umat manusia sejak dulu, adalah juga yang diperjuangkan Islam. Aku bilang bahwa kebebasan dan kemerdekaan adalah inti dari Islam. Tanpa kebebasan, keimanan dan hukum menjadi sia-sia.

Kenapa anjing menjadi halal ketika kita hanya punya anjing dan kita belum makan selama seminggu, bukan semata-mata karena dibolehkan fiqih dengan alasan ‘ad-darurah’. Alasan mendasarnya adalah karena kita dalam kondisi itu tidak mempunyai kebebasan. Ketika kita tidak mempunyai kebebasan, hukum menjadi ‘berhenti sementara’ sampai kebebasan itu kita miliki kembali. Dalam kasus anjing di atas,  anjing menjadi halal karena kita tidak mempunyai kebebasan memilih: memakan anjing atau ayam. Kalau ada ayam, di samping ada anjing, kita masih mempunyai kebebasan memilih anjing. Tapi jika kita memakan anjing, kita dikenai hukum ‘dosa’, karena kebebasan ada bersama kita. Lihatlah anak kecil dan orang gila, atau budak belian dulu. Kenapa mereka tidak menjadi subjek hukum? Mereka belum atau tidak memiliki kebebasan.

Keimanan menjadi tidak bermakna kalau kita tidak diberikan kemerdekaan untuk tidak beriman. Pilihan kita untuk beriman baru bermakna kalau kita, pada saat yang sama, diberikan pilihan untuk kafir. Dengan tangan kita yang bebaslah kita memilih: mau beriman atau tidak. Manusia memiliki free will, kebebasan berkehendak dan juga free act, kebebasan untuk berbuat. Kebebasan membuat pahala dan dosa menjadi mudah difahami.

Kebebasan itu, secara logis, niscaya memunculkan keterbatasan. Keterbatasan yang membebaskan. Keterbatasan yang membebaskan adalah hukum. Hukumlah yang menjamin semua orang, bukan sebagian orang, menjadi bebas. Hukumlah yang menjamin kebebasan orang agar tidak merusak kebebasan orang lain. Aku bilang pada para peserta itu, bang, pentingnya kita mempelajari moyang-moyang pemikir liberal Eropa adalah untuk mengetahui aplikasi dari kesimpulan dasar bahwa manusia adalah bebas. Mereka mensistematisasi postulat-postulat dasar menjadi sejumlah prinsip yang aplikatif.

Abang, masih banyak yang ingin aku diskusikan denganmu tentang materi itu dan buah pikiranmu yang lain. Tetapi biarkan itu tak tertumpahkan dulu di sini. Aku pasti menyuratimu lagi. Salam dari para peserta perkaderan. Mereka dengan sendirinya adalah penganut tarekat Nurcholisi.

7 Comments

  • HUSNUL'S

    Tulisan yang mencerahkan Kang Zezen.. Terkadang, saya berkelakar dengan teman2 saya, bahwa shalat itu nomor dua.. Yang pertama itu tentu syahadat. Syahadat juga merupakan bukti dasar bagaimana tauhid yang dimaksud diatas menjadi pintu awal mengela Islam.

  • aby

    Aha….!!!now I know what A,B,C…menarik, patut jadi bahan diskusi..apalagi di keluargaku kang..Pasti jadi Polemik terusss..Minal Aidin Wal Faizin.. Mohon Maaf lahir dan batin..semangat!!

  • Annisa Al Haq

    Sebenarnya aku masih kurang memahami NDP..stelah kanda menjelaskannya diatas..dr tauhid dan islam liberal kanda..
    Aku annisa salam kenal ya kanda cak nur..

  • Annisa Al Haq

    Sebenarnya aku masih kurang memahami NDP..stelah kanda menjelaskannya diatas..dr tauhid dan islam liberal kanda..
    Aku annisa salam kenal ya kanda..

  • sarrah

    Terimakasih. Artikelnya cukup menakjubkan saya. Yang selama ini banyak pertannyan bergumul di dalam hati saya dan pagi ini, terkejut saya dengan jawaban2nya. Salam kenal pak

  • zezen zaenal mutaqin

    Dear Sarah. Senang jika tulisan ini bisa menjelaskan. Yang lebih panjang silahkan tengok ‘tauhid dan kebebasan’. Jika mau baca fiksi silahkan juga cicipi novel saya Bintang Di Atas Alhambra di toko buku atau beli online (maaf ya sekalian promosi). Salam

Leave a Reply

%d bloggers like this: