Reformasi dan Kesejahteraan Ekonomi

Reformasi yang telah berjalan selama sembilan tahun dirasakan oleh sebagian kalangan sebagai usaha yang sia-sia. Reformasi tak kunjung membawa perubahan signifikan. Kehidupan ekonomi tak lebih baik ketimbang zaman orde baru, bahkan oleh sebagian kalangan dianggap lebih buruk. Korupsi, penegakan hukum, reformasi birokrasi, belum juga beranjak dari tempatnya semula. Reformasi yang telah berjalan sembilan tahun, alih-alih menumbuhkan semangat hidup dan optimisme, malah memunculkan pesimisme di kalangan masyarakat.

Pesimisme terhadap reformasi ini menimbulkan munculnya dua kelompok dengan sikap berbeda. Pertama, munculnya kelompok romantik. Kenangan hidup enak di bawah rezim otoriter bangkit kembali. Barang-barang pokok, dulu ketika zaman Suharto, menurut kelompok ini, lebih mudah didapat dan harganya terjangkau. Setelah reformasi semuanya jadi mahal. Kondisi semakin parah karena disamping mahal, barang-barang pokok juga tidak ada di pasaran. Harga BBM melambung tinggi. Pemerintah menarik subsidi. Akhirnya banyak rakyat yang kurang gizi. Angka kemiskinan dan pengangguran terus merangkak. Singkatnya, kelompok ini memandang masa reformasi tak lebih dari sebuah era kemunduran.

Kedua, pesimisme memuncukan kelompok yang tidak ingin kembali pada masa Suharto, tetapi juga tidak cukup sabar menapaki jalan reformasi. Menurut kelompok ini perubahan melalui reformasi adalah perubahan semu yang sesungguhnya tidak merubah apa-apa. Reformasi hanya melanggengkan struktur lama yang korup. Tak ada yang berubah sama sekali setelah reformasi. Pejabatnya masih pejabat lama, birokrasi lama, partai lama, semuanya orang lama. Mahasiswa ketika melahirkan reformasi memberikan cek kosong yang lantas cek itu diisi dan dinikmati oleh muka lama yang sok reformis. Karena itu, kelompok kedua ini menghendaki perubahan revolusioner. Perombakan total sistem yang ada agar sisa-sisa sistem korup yang lama tercabut dengan akar-akarnya. Ide ini bisa dilihat dari gemarnya kelompok ini menyuarakan pembubaran partai golkar, revolusi sistemik, potong satu generasi, cabut mandat dan lain-lain.

Pesimisme terhadap reformasi ini belakangan muncul semakin kuat. Alasannya, sebagaimana disinggung di atas, karena reformasi dan demokratisasi tidak juga mensejahterkan masyarakat. Reformasi belum bisa mengangkat nasib hidup bangsa ini menjadi lebih baik. Memang pemerintah berhasil menyelesaikan banyak masalah besar seperti menyelesaikan konflik di Aceh, konflik etnis di Poso dan Maluku, masalah Papua, penangkapan teroris, menjaga stabilitas keamanan dan lain-lain. Tapi semua keberhasilan itu tidak langsung dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Hal yang langsung dirasakan masyarakat terutama yang berkaitan dengan urusan ekonomi dan pengurangan jumlah pengangguran, tak juga mengalami perbaikan. Bahkan lebih buruk. Jumlah orang miskin tahun ini diperkirakan sekitar 40 juta orang, atau sekitar 18%. Angka pengangguran mencapai 11,2%, atau sekitar 24 juta orang (Majalah Tempo, 7 Mei 2007)

Padahal kalau kita merujuk pada sejumlah penelitian yang menghubungkan kesejahteraan ekonomi dan kelangsungan demokrasi sebagaimana dirintis Martin Lipset tahun 1959, indikator perbaikan ekonomi memegang peranan penting bagi kelangsungan demokrasi. Sebuah negara yang sedang berada dalam fase konsolidasi demokrasi akan rentan nasib demokrasinya jika pendapatan perkapita penduduknya tak juga naik di atas level US$ 3000 pertahun. Kesejahteraan ekonomi ibarat jangkar yang akan menstabilkan kapal yang sedang berlabuh di bandar agar tak terhemas badai.

Studi statistik konprehensif mengenai hal ini dilakukan juga oleh Adam Przeworski dan Fernando Limongi. Keduanya melakukan penelitian terhadap lebih dari seratus negera dari tahun 1950 samapai 1990. Temuannya cukup menarik. Menurut mereka, negara-negara demokratis yang memiliki pendapatan perkapita penduduk dibawah US$ 1.500 hanya memiliki kemungkinan untuk bertahan selama delapan tahun. Negara yang berpendapatan perkapita antara US$ 1.500 sampai dengan US$ 3.000, mempunyai kemungkinan untuk bertahan selama 18 tahun. Negara yang memiliki pendapatan perkapita lebih dari US$ 6.000 memiliki kemungkinan bertahan lebih tinggi. Kemungkinan runtuhnya sebuah rezim demokrasi yang memiliki income diatas US$ 6.000 adalah 1 berbanding 500. Kesimpulannya, semakin sejahtera penduduk sebuah negara demokratis, semakin aman nasib demokrasinya.

Pendapatan perkapita penduduk negara kita sekarang diperkirakan hanya sekitar US$ 1300 pertahun. Secara teoritis nasib demokrasi kita sedang kritis. Namun nampaknya kita aman-aman saja. Pemerintahan berjalan seperti biasa. Kondisi politik dan keamanan juga stabil. Jika demikian, lantas apa yang terjadi? Pertanyaan ini mungkin bisa dijelaskan dari sudut pandang non-ekonomi, yakni dari aspek kepercayaan (beliefness) terhadap demokrasi

Saya kira, meski demokrasi tak lekas memberikan efek kesejahteraan terhadap masyaraktnya, sepanjang masyarakat masih percaya bahwa demokrasi adalah sistem terbaik buat mereka, demokrasi akan, untuk jangka waktu tertentu, relatif aman. Contoh yang sering dijadikan rujukan dalam hal ini adalah India. Negara ini semenjak merdeka terus konsisten menerapkan sistem demokrasi. India sama sekali bukan negara kaya. Bahkan beberapa tahun ke belakang India masih termasuk negara berkembang yang miskin, sama seperti kita. Namun demokrasi telah menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat India. Dan kepercayaan terhadap demokrasi ini telah terlembaga dengan kuat. Untuk konteks Indonesia, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi juga sebenarnya cukup tinggi. Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukan, lebih dari 70% rakyat kita yakin bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk negeri ini. Itulah mungkin kenapa demokrasi kita seolah aman-aman saja.

Rezim SBY sebenarnya adalah rezim yang beruntung. Popularitas, meski terus meolorot dalam beberapa bulan, tetap cukup tinggi, menguasai parlemen, kondisi keamanan stabil, cadangan devisa bertambah dan politik internasional relatif mendukung. Ditambah rakyat juga cukup bersabar: meski demokrasi dan reformasi tidak kunjung mensejahterakan, mereka tetap memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap demokrasi. Seharusnya dengan kondisi demikian rezim SBY lebih berani mengeluarkan kebijakan yang tegas dan tepat, sekalipun beresiko, terutama terkait masalah perbaikan ekonomi. Sisa dua setengah tehun kedepan seharusnya betul-betul dimanfaatkan untuk lebih fokus pada perbaikan ekonomi.

Jika ekonomi semakin membaik, yang menikmati hasilnya sesungguhnya bukan hanya rakyat. Pemerintah sediri diuntungkan secara politik. Keberhasilan ekonomi sebelum 2009 akan membuat rakyat memberikan hadiah dengan cara memilih kembali SBY tahun 2009 nanti. Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan rezim SBY memperbaiki ekonomi juga akan melapangkan nasib hidup demokrasi di negeri kita. Rakyat akan percaya bahwa demokrasi bisa mebawa kesejahteraan buat mereka. Mereka tidak akan lagi berfikir untuk mengganti demokrasi dengan sistem lain.

Namun sebaliknya, jika kondisi ekonomi tak juga bisa diperbaiki, rezim SBY akan dihukum rakyat dengan tidak dipilih kembali menjadi peminpin rakyat pada pemilu 2009 nanti. Nasib demokrasi di negara kita juga terancam. Rakyat akan semakin pesimis dengan demokrasi. Bukan mustahil lantas kita akan kembali terperosok ke dalam masa otoritarian. Hal ini cukup beralasan karena pelembagaan demokrasi di negara kita, tidak seperti di India, masih sangat rentan dan belum mapan. Kembalinya sistem otoriter masih membayangi.

Yang perlu ditekankan dan disadari bersama oleh kita adalah kesabaran dan konsistensi dalam meniti jalur reformasi. Karena, pesimisme yang muncul bisa menghancurkan jalan yang telah ditempuh. Jika titian reformasi hancur, kita harus memulai lagi semuanya dari awal. Baik pesimisme yang berujung pada romantisme otoritarian maupun pada revolusi sama-sama akan membunuh demokrasi. Baik romantisme maupun revolusi selalu berujung pada rezim otoriter, bahkan totaliter. Namun demikian tidak berarti kita tidak harus kritis terhadap pemerintah.

Catatan Tentang Shalatku

Hal pertama yang membuatku kaget ketika aku menempati satu kamar di lantai bawah Forum adalah kebiasaan para penghuninya. Sebenarnya sebelum aku tinggal di Forum, kebisaan anak-anak yang sedikit nyeleneh sudah aku dengar. Tapi aku saat itu tidak percaya dengan semua berita yang beredar di kalangan mahasiswa. Pasalnya ada dua orang kakak kelasku di pesantren yang tinggal di sana. Kedua-duanya adalah, dulu tentunya ketika di pesantren, orang yang sangat dibanggakan Pak Kyai sebagai santri yang pandai dan saleh, di samping hafalan Alqurannya banyak. Dua orang itu seolah menepis semua berita miring yang beredar di mahasiswa. Karena dua orang itu pula aku mau, ketika aku ditawari, menerima tawaran untuk bergabung dan masuk di “asrama” Forum.

Keheranan itu muncul sekitar seminggu setelah kepindahan ke Forum. Hampir semua yang tinggal di sana, aku lihat, tidak pernah shalat. Ada juga, sekitar dua atau tiga orang, termasuk aku, yang shalat. Bagi seorang mahasiswa junior yang saat itu baru semester dua dan baru keluar dari pondok pesantren, jelas itu merupakan guncangan hebat pertamaku di masa perkuliahan. Shalat bagiku adalah sebuah ritual yang tidak boleh ditawar-tawar, dengan alasan apapun. Itu adalah kunci keislaman seseorang. Itu adalah tiang agama yang kalau tiang agama itu tidak ditegakan, pasti bangunan akan runtuh. Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Kalau salah satu rukun di tinggal, niscaya tidak sah Islamnya. Apa jangan-jangan teman-temanku sudah tidak Islam lagi. Aku nyaris tidak bisa mencerna apa alasan kenapa sebagian kawanku tidak shalat. Tapi, saat itu aku yakin mereka masih Islam. Dan aku, sebagai mahasiswa junior, hanya berpikir, mungkin ada saatnya nanti aku mengetahui semua alasan itu.

Aku lebih kaget karena teman-temanku itu juga mempunyai “ritual” baru sebagai pengganti ritual shalat. Ritual baru itu adalah: baca buku, diskusi dan cengcengan. Tiga hal itu tidak lepas dari keseharian anak-anak Forum. Tiga hal itu benar-benar menjadi ritual baru layaknya ritual shalat. Tiga hal itu juga mengandung muatan psikologis yang sama dengan shalat. Tiga hal itu seolah menjadi dosa kalau tidak dilakukan, gelisah kalau ditinggalkan. Tanpa membaca buku, hari-hari seolah menjadi sia-sia. Tanpa diskusi sepertinya “bangunan” Forum akan runtuh. Tanpa cengcengan tiadak ada keceriaan dan kebahagiaan.

Biasanya diskusi dilakukan sekitar jam delapan malam. Meskipun sering juga diskusi informal begitu saja mengalir saat anak-anak ngobrol sambil membaca koran di ruang depan Forum. Saat matahari mulai tenggelam, saat semua penghuni biasanya berkumpul di teras depan, saat itu pulalah cengcengan dimulai. Prosesi itu dibuka dengan hal-hal pribadi: berawal dari pacar, sikap pelit, anak yang terlalu rajin bersih-bersih dan lain-lain. Semuanya di kemas dalam canda dan tawa. Cengcengan baru berakhir setelah orang-orang kampung, dengan mukanya yang sedikit sinis, lewat di depan Forum hendak ke mesjid melakukan shalat magrib. Cengcengan akan diteruskan lagi sampai waktu yang tidak ditentukan, atau berhenti begitu saja karena masing-masing harus makan, harus keluar, atau harus bertemu pacarnya. Baca buku dimulai setelah diskusi kelar sekitar pukul sebelas atau dua belas malam. Baca sampai pagi. Besoknya bolos kuliah.

Buat apa kuliah. Kuliah telah menjadi sebuah kegiatan yang tak berfaidah. Sia-sia. Itu aku rasakan betul. Kehidupan di kelas adalah kehiduapan masa lalu. Semua mata kulaih sudah didapatkan semua ketika di pesantren. Semuanya sudah ada di kepala. Bukan aku sombong, tapi memang itu kenyataannya. Semua mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan pesantren akan merasakan bangku perkuliahan di IAIN adalah sebentuk kesia-siaan. Nyaris tak ada yang baru. Mungkin ada yang baru di fakultas lain, tapi tidak di fakultasku. Aku masuk fakultas Syariah, aku menyebutnya fakultas Fikih. Di fakultas itu yang aku dapatkan adalah apa yang aku ketahui dan apa yang aku pelajari dibangku pesantren selama delapan tahun. Bahkan mungkin tidak lebih baik. Dulu ketika di pesantren aku belajar langsung dari kitab kuning berbahasa Arab, bahkan langsung mempelajari teks-teks karangan imam-imam besar fikih. Di bangku kuliah, aku mempelajari semua itu dari sebuah diktat kuliah karangan dosen yang mutunya memperihatinkan. Karena itu aku malas sekali kuliah. Lebih baik aku tidur karena semalaman begadang.

Kembali ke masalah shalat. Saat itu aku tidak berani menanyakan alasan mereka untuk tidak melakukan ritual shalat. Selama itu juga aku menyimpan sebuah pertanyaan. Juga aku memendam kegelisahan dan ketakutan. Aku takut, jangan-jangan aku akan terbawa-bawa seperti teman-temanku itu. Wah, bisa-bisa aku kafir kalau terus tinggal di Forum. Padahal aku baru tinggal di tempat tersebut. Itu yang membuatku berat dan gelisah tinggal di Forum. Tapi aku segera melupakan itu semua karena aku disibukan oleh kecintaan teman-teman pada ilmu. Rasanya setiap saat aku mendapatkan pengetahuan baru. Waktu itu ada sekitar tiga belas orang tinggal di sana. Anak baru hanya aku dan satu orang temanku. Semua senior-seniorku sepertinya memiliki kecendrungan untuk mendalami satu bidang pengetahuan tertentu. Dan kalau mereka di sore hari atau siang hari ketika bangun tidur, sambil minum kopi, berdiskusi, aku sangat senang. Senang karena aku terlalu banyak menemukan ide dan kata-kata yang tak kupamahi. Semakin aku tidak paham isi pembicaraan itu, semakin aku senang. Karena bagiku artinya aku sedang berhadapan dengan sesuatu yang baru. Setelah diskusi itu aku meminta teman-teman seniorku untuk meminjamkan bukunya. Nanti, ketika aku sedang sendiri, aku membacanya. Dan ketika itu aku lupa akan ketakutanku.

Aku tidak pernah memandang teman-tamanku di Forum dengan pandangan negatif. Sama sekali tidak pernah. Karena, toh mereka tanpa shalatpun ternyata bisa menjauhkan diri mereka dari perbuatan keji dan munkar. Hidupnya normal. Yang tidak normal hanya waktu tidur yang hampir selalu pagi dan waktu baca yang kadang terlalu banyak. Aku menganggap, ketidak-shalatan mereka bukan karena alasan apapun selain karena malas. Bukan karena alasan filosofis, bukan karena alasan teologis. Sekalilagi: semata-mata karena malas. Itu artinya, dalam hal ketidak-shalatan mereka, posisinya sama dengan tukang beca yang tidak shalat, sama dengan direktur yang tidak shalat, sama dengan siapapun yang tidak shalat karena malas. Aku yakin ketidak-shalatan mereka bukan karena mereka menolak kewajiban itu secara teologis atau filosofis.

Itulah guncangan pertamaku: tanpa shalat saja mereka bisa hidup dengan normal sebagaimana aku hidup. Perlahan-lahan muncul pertanyaan dihatiku: jangan-jangan perasaan takut dan gelisah kalau tidak shalat adalah perasaan yang timbul semata-mata karena sosialisasi. Aku dari mulai kecil sudah diperkenalkan pada shalat. Sehari lima kali aku, ketika kecil, diingatkan ibuku untuk mengambil air wudhu, kemudian shalat. Kebiasaan itu diulang-ulang selama hampir seumur hidupku—umurku 19 tahun saat itu. Dan wajar saja kalau tiba-tiba aku gelisah atau merasa kehilangan atau merasa berdosa kalau tidak melakukan perbuatan (shalat) itu. Jangan-jangan kalau dulu ibuku, atau ayahku, sejak aku TK, menyuruhku memegang buku dan membacanya sebanyak lima kali dalam sehari, dan kemudian kebiasaan itu berjalan sampai sekarang, aku juga akan merasakan kegelisahan dan ketakutan kalau meninggalkan perbuatan itu.

Itulah yang aku takutkan. Aku takut jangan-jangan shalatku tak lebih dari sebuah kebiasaan saja. Toh jauh dalam lubuk hatiku aku juga menyadari, aku shalat hanya karena aku ingin dapat pahala, dan tidak berani meninggalkannya karena takut dosa. Takut nanti mati dimasukan ke neraka. Kalau begitu sebenarnya selama ini aku tidak pernah merasakan nikmatnya shalat. Shalat yang aku lakukan hanyalah sebuah ritual relaksasi karena sarafku akan tegang kalau aku tidak atau belum shalat. Mungkin sedikit mirip dengan opium atau heroin yang harus dikonsumsi oleh orang yang mengalami ketergantungan obat kalau mereka sedang sakau.

Apakah untuk memenuhi kebutuhan itu aku shalat? Atau memang ada kebutuhan eksistensial lain yang bisa dipenuhi oleh shalat. Terus kalau orang bisa memenuhi kebutuhan itu dengan selain shalat bagaimana? Juga: banyak orang shalat tapi tetap korupsi. Negara kita adalah negara muslim terbesar. Hasil survei Saiful Mujani, seniorku di UIN, menunjukan bahwa hampir 80 persen orang Islam di Indonesia melakukan shalat. Tetapi kenapa korupsinya nomor satu. Padahal dulu di pesanteran aku diajari bahwa shalat adalah sebuah ibadah yang apabila dilakukan akan menyebabkan orang terlindungi dari perbuatan keji, kotor dan dosa. Aku malah berpikir: jangan-jangan shalat itu pararel dengan tindakan korupsi. Kesimpulannya begini: semakin sering orang shalat, semakin sering orang terlibat perbuatan keji seperti korupsi. Karena, kalau orang yang melakukan shalat itu akan berfikir ekonomis, dia akan berpikir, pahala shalat yang sedemikian besar bisa disubsidi silang menutupi dosa korupsi. Kan dosa korupsi tidak sebesar syirik atau murtad, jadi mungkin masih ada untung. Dan untung pahala shalat bisa disubsidi silang untuk menutupi dosa korupsi

Juga: kenapa sebagian besar—atau semuanya–negara-negara Islam yang penduduknya suka shalat itu adalah negara miskin, tertinggal, tidak demokratis, tidak tertib hukum, kotor dan seterusnya. Kenapa? Katanya shalat mencegah perbuatan keji. Apakah shalatnya yang salah, atau pemaknaan shalatnya yang salah, atau apa?

Rumit memang. Aku tak tahu harus berkata apa. Shalat seperti apa gerangan yang dimaksudkan Nabi sebagai shalat yang berimplikasi positif bagi kehidupan? Shalat seperti apa gerangan yang membuat manusia terhindar dari perbuatan keji dan munkar? Untuk pertamakalinya aku harus bersungguh-sungguh memikirkan sesuatu yang dulu tak sempat terpikirkan akan dipikirkan, karena hal itu, dulu, adalah sesuatu yang memang tidak boleh dipikirkan, juga ditanyakan. Itu adalah sesuatu yang harus kita terima apa adanya. Aku pikir, Forum mulai menyeretku pada dunia penuh tanya.

Aku perlahan-lahan berlabuh pada satu kesimpulan, sebuah kesimulan yang masih remang-remang tentunya: shalat tidak ada kaitannya dengan kehidupan publik. Kalaupun ada kaitannya, butuh jembatan yang mengaitkannya. Jadi orang baik atau tidak, korupsi atau tidak, berbohong atau tidak, otoriter atau tidak, nyogok atau tidak, sama sekali tidak berkaitan dengan apakah dia shalat atau tidak. Buktinya tidak usah dijelaskan, dia sudah jelas dengan sendirinya: lebih banyak orang non-muslim yang tidak shalat yang lebih baik hidupnya, lebih makmur negeranya, lebih berjalan hukumnya, lebih bersih pemerintahannya. Tapi aku sama sekali tidak mengatakan shalat tidak perlu. Aku hanya mengatakan: shalat tidak ada kaitannya dengan kehidupan sosial (publik) manusia. Kalaupun ada, itu tidak berimplikasi langsung.

Bagiku, dan ini yang aku temukan di Forum, shalat semata-mata dan hanya semata-mata ritual yang hubungannya sangat pribadi: antara kita dan Tuhan. Aku yakin, semua teman-temanku di Forum, sebagaimana aku, tahu bagaimana hukum shalat menurut pandangan fikih. Tapi justru disitulah letak kesalahanku: aku masih memandang segala sesuatu dari cara pandang fikih. Aku terlalau fikih oriented. Itulah pula mungkin yang menyebabkan kenapa aku tak bisa menikmati semua ritual ibadahku. Aku berhenti pada kulit ibadah. Dalamnya aku lupakan dan aku buang. Sepanjang kita berkutat pada fikih semata, sepanjang itu pula hidup kita kering, ritual kita menjadi tanpa makna. Air kehidupan yang justru merupakan inti agama tidak bisa tereguk. Dan karena ibadah hanya semata-mata ritual fikih, ibadah lantas bermetamorfosis menjadi sebentuk neurosis.

Shalat bagi sebagian orang, juga mungkin aku, adalah benteng atau pil anti-neraka. Shalat menjadi pemuas kebutuhan orang Islam pada agama: shalat seperti agama pada umumnya, adalah sebuah nomos—dalam pengertian Berger. Orang shalat karena butuh nomos, butuh semacam halte yang bisa melindunginya dari hujan, butuh semacam rumah yang akan melindunginya dari dingin dan panas; butuh semacam pelindung. Pelindung dari ketidakpastian eksistensial yang dialami dalam mengarungi kehidupan. Shalat juga sekaligus pemuas kehausan religiusitas manusia. Semacam sebuah ekspresi religiusitas

Tapi kenapa kita memilih shalat, juga agama, sebagai pelindung? Kenapa memilih shalat, dan ibadah lainnya sebagai ekspresi religiusitas. Kenapa tidak memilih mendengarkan musik klasik, atau menikmati lukisan Picaso, atau menikmati teater sebagai pemuas kehausan religiusitas? Kenapa tidak menjadikan hukum sekuler yang jelas-jelas melindungi sebagai pelindung?

Alasannya mungkin karena semua selain shalat dan agama secara umum, tidak bisa memberikan jawaban memuaskan akan ketidakpastian eksistensial manusia: setelah hidup mau ke mana kita? Ketika kita terbujur kaku, apa gerangan yang akan kita alami? Agama gamblang memberikan jawaban: kita akan hidup lagi di alam lain dalam keabadian. Dan shalat, juga ibadah lain, adalah sebentuk jembatan yang akan menyambungkan kehidupan kita dengan keabadian. Keabadian dalam kebahagiaan, tentunya. Inilah fungsi kosmos (penjelas realitas)—juga menurut pemahaman Bergerian—agama yang belum bisa digantikan oleh sains dan ilmu modern.

Tetapi kenapa harus shalat sebagai pilihan untuk menyambungkan kita dengan kabadian. Kenapa tidak dengan pergi ke gereja dan melantunkan lagu-lagu pujian pada Tuhan. Kenapa tidak duduk di depan patung dewa tertentu dan membakar kemenyan. Kenapa tidak dengan membakar dupa saja. Aku terus terang tak tahu jawabannya. Mungkin ada baiknya kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. Tapi angin yang berdesir kurang-lebih membisikan sesuatu padaku: bukankah itu semua juga adalah bentuk shalat. Bukankah shalat itu adalah doa. Dan bukankah semua yang aku sebutkan tadi juga adalah doa. Lagu-lagu pujian di gereja adalah doa. Membakar kemenyan di depan patung dewa tertentu adalah doa. Datang ke kuil juga untuk berdoa. Doa adalah sebuah tindakan di mana manusia meninggalkan temporalitas hidupnya dan memasuki sebuah medan keabadian, medan di mana yang di ajak berkomunikasinya adalah Yang Abadi. Doa adalah momen penyatuan kita yang temporal dengan Sesuatu yang Abadi atau Tak-Fana.

Setiap orang menurutku punya hak masing-masing untuk memilih sarana tersebut. Aku sendiri memilih menggunakan sarana shalat/doa yang telah aku kerjakan selama ini yang aku dapatkan dari ibu dan bapakku. Apa alasannya? Aku tak punya alasan. Apakah setiap sesuatu selalu membutuhkan alasan? Atau mungkin alasannya sekalian olahraga dan peregangan otot. Sisi pikiranku yang lain menuntutku—ini terjadi ketika aku kembali membaca tulisan ini setelah terkubur beberapa lama di file komputerku—untuk memberikan sebuah alasan alakadarnya.

Begini: shalat adalah simbolisasi ketundukan yang paling agung. Kita bisa berdoa dengan kata-kata dan suara, tetapi bukankah kata-kata sering tidak bisa mewakili apa yang kita maksud. Kata-kata terkadang terlalu sempit untuk menampung realitas. Aku pernah jatuh cinta. Saat pertama berhadapan dengan orang yang begitu aku cintai setelah sekian lama merindukannya, lidah terasa kelu, kata-kata dirasa tak lagi puya kuasa. Yang mampu menyampaikan pesan yang begitu agung dalam hati kita hanyalah diam dan tatapan mata, juga kikuk dan salah tingkah. Dalam kondisi seperti itu diam dan gerakan adalah simbol. Gerakan kikuk kita juga adalah simbol yang justru mungkin lebih bisa mewakili maksud kita ketimbang bahasa verbal lewat kata-kata.

Sekarang mari kita renungkan shalat: dari sebegitu panjang momen shalat, hanya empat bacaan wajib, yakni takbiratul ihram, membaca fatihah, salawat waktu tahiat akhir dan salam. Sementara hampir semua gerakan shalat adalah wajib. Penyembahan dan ketundukan terdalam kepada realitas Tak Terhingga mungkin tidak bisa diwadahi oleh kata-kata, tetapi bisa diwakili oleh gerakan: sujud menyentuh tanah. Sebagian besar shalat adalah bahasa gerak bukan bahasa verbal kata-kata. Tetapi lebih dari itu shalat adalah penyerahan keseluruhun hidup kita terhadap Tuhan. Shalat adalah doa yang tidak hanya diwakili kata-kata, tetapi juga gerakan fisik dan gerakan hati (niat).

Aku juga sempat berfikir bahwa shalat juga adalah mekanisme natural yang disediakan oleh agama agar manusia bisa melepaskan diri dari keseharian hidupnya yang itu-itu saja. Ia adalah momen di mana manusia melepaskan diri dari rutinitas hidup. Shalat adalah jeda dari siklus keseharian, dan jeda itu yang membuat kita menjadi otentik—saya sedikit malas menggunakan kata ini, karena saya harus berhutang pada Heidegger. Jeda itulah yang membuat kita bersentuhan dengan hidup kita yang sesungguhnya yang sering terlupakan karena tertutup selubung rutinitas keseharian. Jeda itu yang membuat kita merenungkan diri kita yang telah berbuat dosa, berbohong, gagal, menipu, bahkan mengingat pada yang terlupa. Shalat adalah momen di mana kita bersentuhan dengan sang Ada.

Namun sayang, mekanisme natural yang disediakan oleh agama untuk menjaga terus momen otentisitas, lama-kelamaan, terjebak menjadi rutinitas pula. Jeda yang terjebak menjadi “biasa”. Karena itu, jeda kehilangan aura otentisitasnya. Sebuah tindakan anti-rutinitas yang terjebak dalam rutinitas, karena itu shalat menjadi kehilangan maknanya. Karena itulah, mungkin, momen tidak shalat adalah momen di mana kita bisa menemukan kembali tuah dan aura shalat. Tidak shalat adalah jeda dari jeda. Aku, karena alasan ini sempat berpikir: apakah ada orang yang bisa menikmati makna dan nikmatnya shalat sementara dia tidak pernah meninggalkan shalat. Adakah orang yang bisa mengetahui indahnya lembah, sementara ia berdiam di dalamnya. Adakah orang yang bisa menikmati rasa sehat sementara ia tidak pernah sakit. Ketika kita sakit gigi, kita baru sadar betapa nikmatnya mempunyai gigi yang sehat.

Namun bagaimana kalau tidak shalat juga menjadi rutinitas. Jawabannya sederhana: apapun yang terjebak dalam rutinitas mungkin akan kehilanggan aura otentisitas. Kita harus seperti ikan. Hidup dalam air, sesekali muncul dipermukaan. Muncul dipermukaan adalah momen di mana otentisitas mungkin. Tapi catatan: tidak hanya dalam shalat kita bisa menemukan otentisitas. Dalam setiap peristiwa puncak kita bisa menemukan persentuhan dengan ke-ada-an kita (momen otentik). Peristiwa puncak itu bisa jadi yang mengecewakan atau yang menggembirakan. Saat putus cinta, sebagai contoh, kita merenungi hidup dan diri kita: apa yang kurang dari kita; kenapa dia tidak suka; aku harus bagaimana; apa yang salah. Jadi, jeda momen otentisitas bisa terjadi kapan saja, bukan hanya ketika shalat. Saya mengira, shalat adalah satu mekanisme natural yang diberikan oleh agama agar manusia menjaga momen otentisitas.

Saya tidak ingin kemudian siapapun mengambil kesimpulan bahwa kita perlu meninggalkan shalat untuk menemukan otentisitas dan nikmatnya shalat. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin mengatakan, momen tidak shalatpun mengandung hikmah yang bisa dipetik bagi orang lain. Justru hal ini sekaligus menegaskan bahwa kita tidak perlu mengalami momen tidak shalat untuk menemukan nikmatnya shalat. Kita cukup menyadari bahwa shalat itu bermanfaat. Kita tidak perlu ikut-ikutan sakit untuk menemukan nikmatnya rasa sehat. Cukup mendengarkan cerita orang yang pernah sakit bahwa ketika sakit, kesehatan menjadi sangat nikmat. Tapi, kalau toh suatu saat dalam hidup kita kita sakit, hikmah itu mungkin bisa diambil.

Namun, pandangan seperti inipun juga aneh. Karena telah memposisikan shalat hanya sebatas instrumen dari sesuatu yang lain: ketenangan. Kalau dengan tanpa shalat orang sudah tenang berarti shalat sudah tidak perlu. Pandangan itu adalah pandangan khas aliran teleologisme. Pandangannya kaum konsekuensialis. Sesuatu dilihat karena sesuatu yang akan ditemuinya dipenghujung perbuatan itu. Sesuatu dinilai bukan karena sesuatu itu sendiri, tetapi dinilai karena konsekuansinya. Itu pandangan khas kaum utilitarian. Sudah banyak para filusuf mengkritik pandangan utilitarian ini. Aku sendiri melihat, dalam konteks agama, pandangan kaum konsekuensialis ini adalah pandangan anti-ikhlas. Aku ingin mengambil contoh lain: Ada banyak orang shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya hanya karena mengharapkan sesuatu selain perbuatan itu sendiri. Mungkin dia mengharapka pujian, tidak enak pada tetangga atau mertua, dan lain-lain. Bahkan dalam derajat yang lebih tinggi, kita melakukan semua ibadah itu bukan karena kita dengan suka rela ingin mengerjakannya, tetapi karena kita mengharapkan surga. Kita takut neraka. Surga dan neraka itu memang sangat efektif untuk menciptakan “paksaan” untuk ketundukan. Tetapi kalau pola ibadah dan ketundukan seperti ini tidak diubah maka kita akan berhadapan dengan hal ganjil: semua pola ibadah kita selamanya seperti anak kecil (pola ibadah infantilistik). Coba lihat anak kecil. Ia baru mau belajar setelah ayahnya bilang bahwa kalau dia belajar nanti akan dibelikan sepeda dan diberi lebih banyak uang jajan. Kalau tidak belajar dia akan di jewer. Dia belajar bukan karena secara sukarela dia ingin belajar, bukan pula karena dia sadar bahwa belajar itu sendiri adalah hal yang bermanfaat. Anak kecil itu belajar karena dia ingin sepeda dan uang jajan. Lalu bagaimana kalau tiba-tiba sepedanya tak pernah ada karena ayahnya tiba-tiba tida punya uang untuk membelinya; bagaimana kalau tiba-tiba uang jajan tidak pernah diberikan? Sang ayah menghendaki anaknya belajar, dia menggunkan sepeda dan uang jajan sebagai motifasi. Tapi sang anak salah menangkap: dia menghendaki sepeda dan uang jajan, bukan belajar itu sendiri. Dalam uangkapan lagu Dewa yang sangat aku sukai: jika surga dan neraka tak pernah ada, apakah manusia masih mau tunduk pada Tuhan.

Karena itu, dalam shalat, dan ibadah lain tentunya, kita harus memakai prinsip ikhlas (deontologis). Kita harus pakai pola deontologis, bukan teleologis. Dalam pola deontologis, kita mengerjakan satu ibadah karena ibadah itu sendiri, bukan karena hal lain diluar ibadah. Dengan kita beribadah untuk ibadah itu sendiri, Tuhan akan meridhoi kita. Karena yang diharapkan Tuhan adalah ibadah itu sendiri sebagai bentuk ketundukan, bukan sesuatu diluar ibadah. Sang ayah menghendaki proses belajar sang anak, bukan yang lain. Kalau ibadah berpola teleologis itu motifasinya adalah imbalan, sementara ibadah berpola deontologis dasarnya adalah kebebasan (ikhlas). Karena itu menurut saya, setiap ibadah yang kita kerjakan dengan benar, termasuk shalat, adalah manifestasi dari kebebasan dan sekaligus pengingat akan kebebasan kita sebagai manusia.

*Hanya untuk direnungkan. Untuk kalangan sangat terbatas.