Catatan Tentang Shalatku

Hal pertama yang membuatku kaget ketika aku menempati satu kamar di lantai bawah Forum adalah kebiasaan para penghuninya. Sebenarnya sebelum aku tinggal di Forum, kebisaan anak-anak yang sedikit nyeleneh sudah aku dengar. Tapi aku saat itu tidak percaya dengan semua berita yang beredar di kalangan mahasiswa. Pasalnya ada dua orang kakak kelasku di pesantren yang tinggal di sana. Kedua-duanya adalah, dulu tentunya ketika di pesantren, orang yang sangat dibanggakan Pak Kyai sebagai santri yang pandai dan saleh, di samping hafalan Alqurannya banyak. Dua orang itu seolah menepis semua berita miring yang beredar di mahasiswa. Karena dua orang itu pula aku mau, ketika aku ditawari, menerima tawaran untuk bergabung dan masuk di “asrama” Forum.

Keheranan itu muncul sekitar seminggu setelah kepindahan ke Forum. Hampir semua yang tinggal di sana, aku lihat, tidak pernah shalat. Ada juga, sekitar dua atau tiga orang, termasuk aku, yang shalat. Bagi seorang mahasiswa junior yang saat itu baru semester dua dan baru keluar dari pondok pesantren, jelas itu merupakan guncangan hebat pertamaku di masa perkuliahan. Shalat bagiku adalah sebuah ritual yang tidak boleh ditawar-tawar, dengan alasan apapun. Itu adalah kunci keislaman seseorang. Itu adalah tiang agama yang kalau tiang agama itu tidak ditegakan, pasti bangunan akan runtuh. Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Kalau salah satu rukun di tinggal, niscaya tidak sah Islamnya. Apa jangan-jangan teman-temanku sudah tidak Islam lagi. Aku nyaris tidak bisa mencerna apa alasan kenapa sebagian kawanku tidak shalat. Tapi, saat itu aku yakin mereka masih Islam. Dan aku, sebagai mahasiswa junior, hanya berpikir, mungkin ada saatnya nanti aku mengetahui semua alasan itu.

Aku lebih kaget karena teman-temanku itu juga mempunyai “ritual” baru sebagai pengganti ritual shalat. Ritual baru itu adalah: baca buku, diskusi dan cengcengan. Tiga hal itu tidak lepas dari keseharian anak-anak Forum. Tiga hal itu benar-benar menjadi ritual baru layaknya ritual shalat. Tiga hal itu juga mengandung muatan psikologis yang sama dengan shalat. Tiga hal itu seolah menjadi dosa kalau tidak dilakukan, gelisah kalau ditinggalkan. Tanpa membaca buku, hari-hari seolah menjadi sia-sia. Tanpa diskusi sepertinya “bangunan” Forum akan runtuh. Tanpa cengcengan tiadak ada keceriaan dan kebahagiaan.

Biasanya diskusi dilakukan sekitar jam delapan malam. Meskipun sering juga diskusi informal begitu saja mengalir saat anak-anak ngobrol sambil membaca koran di ruang depan Forum. Saat matahari mulai tenggelam, saat semua penghuni biasanya berkumpul di teras depan, saat itu pulalah cengcengan dimulai. Prosesi itu dibuka dengan hal-hal pribadi: berawal dari pacar, sikap pelit, anak yang terlalu rajin bersih-bersih dan lain-lain. Semuanya di kemas dalam canda dan tawa. Cengcengan baru berakhir setelah orang-orang kampung, dengan mukanya yang sedikit sinis, lewat di depan Forum hendak ke mesjid melakukan shalat magrib. Cengcengan akan diteruskan lagi sampai waktu yang tidak ditentukan, atau berhenti begitu saja karena masing-masing harus makan, harus keluar, atau harus bertemu pacarnya. Baca buku dimulai setelah diskusi kelar sekitar pukul sebelas atau dua belas malam. Baca sampai pagi. Besoknya bolos kuliah.

Buat apa kuliah. Kuliah telah menjadi sebuah kegiatan yang tak berfaidah. Sia-sia. Itu aku rasakan betul. Kehidupan di kelas adalah kehiduapan masa lalu. Semua mata kulaih sudah didapatkan semua ketika di pesantren. Semuanya sudah ada di kepala. Bukan aku sombong, tapi memang itu kenyataannya. Semua mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan pesantren akan merasakan bangku perkuliahan di IAIN adalah sebentuk kesia-siaan. Nyaris tak ada yang baru. Mungkin ada yang baru di fakultas lain, tapi tidak di fakultasku. Aku masuk fakultas Syariah, aku menyebutnya fakultas Fikih. Di fakultas itu yang aku dapatkan adalah apa yang aku ketahui dan apa yang aku pelajari dibangku pesantren selama delapan tahun. Bahkan mungkin tidak lebih baik. Dulu ketika di pesantren aku belajar langsung dari kitab kuning berbahasa Arab, bahkan langsung mempelajari teks-teks karangan imam-imam besar fikih. Di bangku kuliah, aku mempelajari semua itu dari sebuah diktat kuliah karangan dosen yang mutunya memperihatinkan. Karena itu aku malas sekali kuliah. Lebih baik aku tidur karena semalaman begadang.

Kembali ke masalah shalat. Saat itu aku tidak berani menanyakan alasan mereka untuk tidak melakukan ritual shalat. Selama itu juga aku menyimpan sebuah pertanyaan. Juga aku memendam kegelisahan dan ketakutan. Aku takut, jangan-jangan aku akan terbawa-bawa seperti teman-temanku itu. Wah, bisa-bisa aku kafir kalau terus tinggal di Forum. Padahal aku baru tinggal di tempat tersebut. Itu yang membuatku berat dan gelisah tinggal di Forum. Tapi aku segera melupakan itu semua karena aku disibukan oleh kecintaan teman-teman pada ilmu. Rasanya setiap saat aku mendapatkan pengetahuan baru. Waktu itu ada sekitar tiga belas orang tinggal di sana. Anak baru hanya aku dan satu orang temanku. Semua senior-seniorku sepertinya memiliki kecendrungan untuk mendalami satu bidang pengetahuan tertentu. Dan kalau mereka di sore hari atau siang hari ketika bangun tidur, sambil minum kopi, berdiskusi, aku sangat senang. Senang karena aku terlalu banyak menemukan ide dan kata-kata yang tak kupamahi. Semakin aku tidak paham isi pembicaraan itu, semakin aku senang. Karena bagiku artinya aku sedang berhadapan dengan sesuatu yang baru. Setelah diskusi itu aku meminta teman-teman seniorku untuk meminjamkan bukunya. Nanti, ketika aku sedang sendiri, aku membacanya. Dan ketika itu aku lupa akan ketakutanku.

Aku tidak pernah memandang teman-tamanku di Forum dengan pandangan negatif. Sama sekali tidak pernah. Karena, toh mereka tanpa shalatpun ternyata bisa menjauhkan diri mereka dari perbuatan keji dan munkar. Hidupnya normal. Yang tidak normal hanya waktu tidur yang hampir selalu pagi dan waktu baca yang kadang terlalu banyak. Aku menganggap, ketidak-shalatan mereka bukan karena alasan apapun selain karena malas. Bukan karena alasan filosofis, bukan karena alasan teologis. Sekalilagi: semata-mata karena malas. Itu artinya, dalam hal ketidak-shalatan mereka, posisinya sama dengan tukang beca yang tidak shalat, sama dengan direktur yang tidak shalat, sama dengan siapapun yang tidak shalat karena malas. Aku yakin ketidak-shalatan mereka bukan karena mereka menolak kewajiban itu secara teologis atau filosofis.

Itulah guncangan pertamaku: tanpa shalat saja mereka bisa hidup dengan normal sebagaimana aku hidup. Perlahan-lahan muncul pertanyaan dihatiku: jangan-jangan perasaan takut dan gelisah kalau tidak shalat adalah perasaan yang timbul semata-mata karena sosialisasi. Aku dari mulai kecil sudah diperkenalkan pada shalat. Sehari lima kali aku, ketika kecil, diingatkan ibuku untuk mengambil air wudhu, kemudian shalat. Kebiasaan itu diulang-ulang selama hampir seumur hidupku—umurku 19 tahun saat itu. Dan wajar saja kalau tiba-tiba aku gelisah atau merasa kehilangan atau merasa berdosa kalau tidak melakukan perbuatan (shalat) itu. Jangan-jangan kalau dulu ibuku, atau ayahku, sejak aku TK, menyuruhku memegang buku dan membacanya sebanyak lima kali dalam sehari, dan kemudian kebiasaan itu berjalan sampai sekarang, aku juga akan merasakan kegelisahan dan ketakutan kalau meninggalkan perbuatan itu.

Itulah yang aku takutkan. Aku takut jangan-jangan shalatku tak lebih dari sebuah kebiasaan saja. Toh jauh dalam lubuk hatiku aku juga menyadari, aku shalat hanya karena aku ingin dapat pahala, dan tidak berani meninggalkannya karena takut dosa. Takut nanti mati dimasukan ke neraka. Kalau begitu sebenarnya selama ini aku tidak pernah merasakan nikmatnya shalat. Shalat yang aku lakukan hanyalah sebuah ritual relaksasi karena sarafku akan tegang kalau aku tidak atau belum shalat. Mungkin sedikit mirip dengan opium atau heroin yang harus dikonsumsi oleh orang yang mengalami ketergantungan obat kalau mereka sedang sakau.

Apakah untuk memenuhi kebutuhan itu aku shalat? Atau memang ada kebutuhan eksistensial lain yang bisa dipenuhi oleh shalat. Terus kalau orang bisa memenuhi kebutuhan itu dengan selain shalat bagaimana? Juga: banyak orang shalat tapi tetap korupsi. Negara kita adalah negara muslim terbesar. Hasil survei Saiful Mujani, seniorku di UIN, menunjukan bahwa hampir 80 persen orang Islam di Indonesia melakukan shalat. Tetapi kenapa korupsinya nomor satu. Padahal dulu di pesanteran aku diajari bahwa shalat adalah sebuah ibadah yang apabila dilakukan akan menyebabkan orang terlindungi dari perbuatan keji, kotor dan dosa. Aku malah berpikir: jangan-jangan shalat itu pararel dengan tindakan korupsi. Kesimpulannya begini: semakin sering orang shalat, semakin sering orang terlibat perbuatan keji seperti korupsi. Karena, kalau orang yang melakukan shalat itu akan berfikir ekonomis, dia akan berpikir, pahala shalat yang sedemikian besar bisa disubsidi silang menutupi dosa korupsi. Kan dosa korupsi tidak sebesar syirik atau murtad, jadi mungkin masih ada untung. Dan untung pahala shalat bisa disubsidi silang untuk menutupi dosa korupsi

Juga: kenapa sebagian besar—atau semuanya–negara-negara Islam yang penduduknya suka shalat itu adalah negara miskin, tertinggal, tidak demokratis, tidak tertib hukum, kotor dan seterusnya. Kenapa? Katanya shalat mencegah perbuatan keji. Apakah shalatnya yang salah, atau pemaknaan shalatnya yang salah, atau apa?

Rumit memang. Aku tak tahu harus berkata apa. Shalat seperti apa gerangan yang dimaksudkan Nabi sebagai shalat yang berimplikasi positif bagi kehidupan? Shalat seperti apa gerangan yang membuat manusia terhindar dari perbuatan keji dan munkar? Untuk pertamakalinya aku harus bersungguh-sungguh memikirkan sesuatu yang dulu tak sempat terpikirkan akan dipikirkan, karena hal itu, dulu, adalah sesuatu yang memang tidak boleh dipikirkan, juga ditanyakan. Itu adalah sesuatu yang harus kita terima apa adanya. Aku pikir, Forum mulai menyeretku pada dunia penuh tanya.

Aku perlahan-lahan berlabuh pada satu kesimpulan, sebuah kesimulan yang masih remang-remang tentunya: shalat tidak ada kaitannya dengan kehidupan publik. Kalaupun ada kaitannya, butuh jembatan yang mengaitkannya. Jadi orang baik atau tidak, korupsi atau tidak, berbohong atau tidak, otoriter atau tidak, nyogok atau tidak, sama sekali tidak berkaitan dengan apakah dia shalat atau tidak. Buktinya tidak usah dijelaskan, dia sudah jelas dengan sendirinya: lebih banyak orang non-muslim yang tidak shalat yang lebih baik hidupnya, lebih makmur negeranya, lebih berjalan hukumnya, lebih bersih pemerintahannya. Tapi aku sama sekali tidak mengatakan shalat tidak perlu. Aku hanya mengatakan: shalat tidak ada kaitannya dengan kehidupan sosial (publik) manusia. Kalaupun ada, itu tidak berimplikasi langsung.

Bagiku, dan ini yang aku temukan di Forum, shalat semata-mata dan hanya semata-mata ritual yang hubungannya sangat pribadi: antara kita dan Tuhan. Aku yakin, semua teman-temanku di Forum, sebagaimana aku, tahu bagaimana hukum shalat menurut pandangan fikih. Tapi justru disitulah letak kesalahanku: aku masih memandang segala sesuatu dari cara pandang fikih. Aku terlalau fikih oriented. Itulah pula mungkin yang menyebabkan kenapa aku tak bisa menikmati semua ritual ibadahku. Aku berhenti pada kulit ibadah. Dalamnya aku lupakan dan aku buang. Sepanjang kita berkutat pada fikih semata, sepanjang itu pula hidup kita kering, ritual kita menjadi tanpa makna. Air kehidupan yang justru merupakan inti agama tidak bisa tereguk. Dan karena ibadah hanya semata-mata ritual fikih, ibadah lantas bermetamorfosis menjadi sebentuk neurosis.

Shalat bagi sebagian orang, juga mungkin aku, adalah benteng atau pil anti-neraka. Shalat menjadi pemuas kebutuhan orang Islam pada agama: shalat seperti agama pada umumnya, adalah sebuah nomos—dalam pengertian Berger. Orang shalat karena butuh nomos, butuh semacam halte yang bisa melindunginya dari hujan, butuh semacam rumah yang akan melindunginya dari dingin dan panas; butuh semacam pelindung. Pelindung dari ketidakpastian eksistensial yang dialami dalam mengarungi kehidupan. Shalat juga sekaligus pemuas kehausan religiusitas manusia. Semacam sebuah ekspresi religiusitas

Tapi kenapa kita memilih shalat, juga agama, sebagai pelindung? Kenapa memilih shalat, dan ibadah lainnya sebagai ekspresi religiusitas. Kenapa tidak memilih mendengarkan musik klasik, atau menikmati lukisan Picaso, atau menikmati teater sebagai pemuas kehausan religiusitas? Kenapa tidak menjadikan hukum sekuler yang jelas-jelas melindungi sebagai pelindung?

Alasannya mungkin karena semua selain shalat dan agama secara umum, tidak bisa memberikan jawaban memuaskan akan ketidakpastian eksistensial manusia: setelah hidup mau ke mana kita? Ketika kita terbujur kaku, apa gerangan yang akan kita alami? Agama gamblang memberikan jawaban: kita akan hidup lagi di alam lain dalam keabadian. Dan shalat, juga ibadah lain, adalah sebentuk jembatan yang akan menyambungkan kehidupan kita dengan keabadian. Keabadian dalam kebahagiaan, tentunya. Inilah fungsi kosmos (penjelas realitas)—juga menurut pemahaman Bergerian—agama yang belum bisa digantikan oleh sains dan ilmu modern.

Tetapi kenapa harus shalat sebagai pilihan untuk menyambungkan kita dengan kabadian. Kenapa tidak dengan pergi ke gereja dan melantunkan lagu-lagu pujian pada Tuhan. Kenapa tidak duduk di depan patung dewa tertentu dan membakar kemenyan. Kenapa tidak dengan membakar dupa saja. Aku terus terang tak tahu jawabannya. Mungkin ada baiknya kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. Tapi angin yang berdesir kurang-lebih membisikan sesuatu padaku: bukankah itu semua juga adalah bentuk shalat. Bukankah shalat itu adalah doa. Dan bukankah semua yang aku sebutkan tadi juga adalah doa. Lagu-lagu pujian di gereja adalah doa. Membakar kemenyan di depan patung dewa tertentu adalah doa. Datang ke kuil juga untuk berdoa. Doa adalah sebuah tindakan di mana manusia meninggalkan temporalitas hidupnya dan memasuki sebuah medan keabadian, medan di mana yang di ajak berkomunikasinya adalah Yang Abadi. Doa adalah momen penyatuan kita yang temporal dengan Sesuatu yang Abadi atau Tak-Fana.

Setiap orang menurutku punya hak masing-masing untuk memilih sarana tersebut. Aku sendiri memilih menggunakan sarana shalat/doa yang telah aku kerjakan selama ini yang aku dapatkan dari ibu dan bapakku. Apa alasannya? Aku tak punya alasan. Apakah setiap sesuatu selalu membutuhkan alasan? Atau mungkin alasannya sekalian olahraga dan peregangan otot. Sisi pikiranku yang lain menuntutku—ini terjadi ketika aku kembali membaca tulisan ini setelah terkubur beberapa lama di file komputerku—untuk memberikan sebuah alasan alakadarnya.

Begini: shalat adalah simbolisasi ketundukan yang paling agung. Kita bisa berdoa dengan kata-kata dan suara, tetapi bukankah kata-kata sering tidak bisa mewakili apa yang kita maksud. Kata-kata terkadang terlalu sempit untuk menampung realitas. Aku pernah jatuh cinta. Saat pertama berhadapan dengan orang yang begitu aku cintai setelah sekian lama merindukannya, lidah terasa kelu, kata-kata dirasa tak lagi puya kuasa. Yang mampu menyampaikan pesan yang begitu agung dalam hati kita hanyalah diam dan tatapan mata, juga kikuk dan salah tingkah. Dalam kondisi seperti itu diam dan gerakan adalah simbol. Gerakan kikuk kita juga adalah simbol yang justru mungkin lebih bisa mewakili maksud kita ketimbang bahasa verbal lewat kata-kata.

Sekarang mari kita renungkan shalat: dari sebegitu panjang momen shalat, hanya empat bacaan wajib, yakni takbiratul ihram, membaca fatihah, salawat waktu tahiat akhir dan salam. Sementara hampir semua gerakan shalat adalah wajib. Penyembahan dan ketundukan terdalam kepada realitas Tak Terhingga mungkin tidak bisa diwadahi oleh kata-kata, tetapi bisa diwakili oleh gerakan: sujud menyentuh tanah. Sebagian besar shalat adalah bahasa gerak bukan bahasa verbal kata-kata. Tetapi lebih dari itu shalat adalah penyerahan keseluruhun hidup kita terhadap Tuhan. Shalat adalah doa yang tidak hanya diwakili kata-kata, tetapi juga gerakan fisik dan gerakan hati (niat).

Aku juga sempat berfikir bahwa shalat juga adalah mekanisme natural yang disediakan oleh agama agar manusia bisa melepaskan diri dari keseharian hidupnya yang itu-itu saja. Ia adalah momen di mana manusia melepaskan diri dari rutinitas hidup. Shalat adalah jeda dari siklus keseharian, dan jeda itu yang membuat kita menjadi otentik—saya sedikit malas menggunakan kata ini, karena saya harus berhutang pada Heidegger. Jeda itulah yang membuat kita bersentuhan dengan hidup kita yang sesungguhnya yang sering terlupakan karena tertutup selubung rutinitas keseharian. Jeda itu yang membuat kita merenungkan diri kita yang telah berbuat dosa, berbohong, gagal, menipu, bahkan mengingat pada yang terlupa. Shalat adalah momen di mana kita bersentuhan dengan sang Ada.

Namun sayang, mekanisme natural yang disediakan oleh agama untuk menjaga terus momen otentisitas, lama-kelamaan, terjebak menjadi rutinitas pula. Jeda yang terjebak menjadi “biasa”. Karena itu, jeda kehilangan aura otentisitasnya. Sebuah tindakan anti-rutinitas yang terjebak dalam rutinitas, karena itu shalat menjadi kehilangan maknanya. Karena itulah, mungkin, momen tidak shalat adalah momen di mana kita bisa menemukan kembali tuah dan aura shalat. Tidak shalat adalah jeda dari jeda. Aku, karena alasan ini sempat berpikir: apakah ada orang yang bisa menikmati makna dan nikmatnya shalat sementara dia tidak pernah meninggalkan shalat. Adakah orang yang bisa mengetahui indahnya lembah, sementara ia berdiam di dalamnya. Adakah orang yang bisa menikmati rasa sehat sementara ia tidak pernah sakit. Ketika kita sakit gigi, kita baru sadar betapa nikmatnya mempunyai gigi yang sehat.

Namun bagaimana kalau tidak shalat juga menjadi rutinitas. Jawabannya sederhana: apapun yang terjebak dalam rutinitas mungkin akan kehilanggan aura otentisitas. Kita harus seperti ikan. Hidup dalam air, sesekali muncul dipermukaan. Muncul dipermukaan adalah momen di mana otentisitas mungkin. Tapi catatan: tidak hanya dalam shalat kita bisa menemukan otentisitas. Dalam setiap peristiwa puncak kita bisa menemukan persentuhan dengan ke-ada-an kita (momen otentik). Peristiwa puncak itu bisa jadi yang mengecewakan atau yang menggembirakan. Saat putus cinta, sebagai contoh, kita merenungi hidup dan diri kita: apa yang kurang dari kita; kenapa dia tidak suka; aku harus bagaimana; apa yang salah. Jadi, jeda momen otentisitas bisa terjadi kapan saja, bukan hanya ketika shalat. Saya mengira, shalat adalah satu mekanisme natural yang diberikan oleh agama agar manusia menjaga momen otentisitas.

Saya tidak ingin kemudian siapapun mengambil kesimpulan bahwa kita perlu meninggalkan shalat untuk menemukan otentisitas dan nikmatnya shalat. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin mengatakan, momen tidak shalatpun mengandung hikmah yang bisa dipetik bagi orang lain. Justru hal ini sekaligus menegaskan bahwa kita tidak perlu mengalami momen tidak shalat untuk menemukan nikmatnya shalat. Kita cukup menyadari bahwa shalat itu bermanfaat. Kita tidak perlu ikut-ikutan sakit untuk menemukan nikmatnya rasa sehat. Cukup mendengarkan cerita orang yang pernah sakit bahwa ketika sakit, kesehatan menjadi sangat nikmat. Tapi, kalau toh suatu saat dalam hidup kita kita sakit, hikmah itu mungkin bisa diambil.

Namun, pandangan seperti inipun juga aneh. Karena telah memposisikan shalat hanya sebatas instrumen dari sesuatu yang lain: ketenangan. Kalau dengan tanpa shalat orang sudah tenang berarti shalat sudah tidak perlu. Pandangan itu adalah pandangan khas aliran teleologisme. Pandangannya kaum konsekuensialis. Sesuatu dilihat karena sesuatu yang akan ditemuinya dipenghujung perbuatan itu. Sesuatu dinilai bukan karena sesuatu itu sendiri, tetapi dinilai karena konsekuansinya. Itu pandangan khas kaum utilitarian. Sudah banyak para filusuf mengkritik pandangan utilitarian ini. Aku sendiri melihat, dalam konteks agama, pandangan kaum konsekuensialis ini adalah pandangan anti-ikhlas. Aku ingin mengambil contoh lain: Ada banyak orang shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya hanya karena mengharapkan sesuatu selain perbuatan itu sendiri. Mungkin dia mengharapka pujian, tidak enak pada tetangga atau mertua, dan lain-lain. Bahkan dalam derajat yang lebih tinggi, kita melakukan semua ibadah itu bukan karena kita dengan suka rela ingin mengerjakannya, tetapi karena kita mengharapkan surga. Kita takut neraka. Surga dan neraka itu memang sangat efektif untuk menciptakan “paksaan” untuk ketundukan. Tetapi kalau pola ibadah dan ketundukan seperti ini tidak diubah maka kita akan berhadapan dengan hal ganjil: semua pola ibadah kita selamanya seperti anak kecil (pola ibadah infantilistik). Coba lihat anak kecil. Ia baru mau belajar setelah ayahnya bilang bahwa kalau dia belajar nanti akan dibelikan sepeda dan diberi lebih banyak uang jajan. Kalau tidak belajar dia akan di jewer. Dia belajar bukan karena secara sukarela dia ingin belajar, bukan pula karena dia sadar bahwa belajar itu sendiri adalah hal yang bermanfaat. Anak kecil itu belajar karena dia ingin sepeda dan uang jajan. Lalu bagaimana kalau tiba-tiba sepedanya tak pernah ada karena ayahnya tiba-tiba tida punya uang untuk membelinya; bagaimana kalau tiba-tiba uang jajan tidak pernah diberikan? Sang ayah menghendaki anaknya belajar, dia menggunkan sepeda dan uang jajan sebagai motifasi. Tapi sang anak salah menangkap: dia menghendaki sepeda dan uang jajan, bukan belajar itu sendiri. Dalam uangkapan lagu Dewa yang sangat aku sukai: jika surga dan neraka tak pernah ada, apakah manusia masih mau tunduk pada Tuhan.

Karena itu, dalam shalat, dan ibadah lain tentunya, kita harus memakai prinsip ikhlas (deontologis). Kita harus pakai pola deontologis, bukan teleologis. Dalam pola deontologis, kita mengerjakan satu ibadah karena ibadah itu sendiri, bukan karena hal lain diluar ibadah. Dengan kita beribadah untuk ibadah itu sendiri, Tuhan akan meridhoi kita. Karena yang diharapkan Tuhan adalah ibadah itu sendiri sebagai bentuk ketundukan, bukan sesuatu diluar ibadah. Sang ayah menghendaki proses belajar sang anak, bukan yang lain. Kalau ibadah berpola teleologis itu motifasinya adalah imbalan, sementara ibadah berpola deontologis dasarnya adalah kebebasan (ikhlas). Karena itu menurut saya, setiap ibadah yang kita kerjakan dengan benar, termasuk shalat, adalah manifestasi dari kebebasan dan sekaligus pengingat akan kebebasan kita sebagai manusia.

*Hanya untuk direnungkan. Untuk kalangan sangat terbatas.

IN MOMORIAM CAK NUR

(Tulisan ini aku buat tanggal 31 Agustus 2005, dua hari setelah kematian Cak Nur dalam sebuah blocknote. Aku merasa harus memindahkannya ke komputer)

Dua hari lalu Cak Nur meninggalkan kita. Kepergiannya menyebabkan tetesan air mata tumpah di mana-mana. Cak Nur meninggal dunia pada saat yang tidak tepat: saat BBM melambung tinggi mencekik rakyat; saat korupsi semakin tak kunjung juga bisa diberantas; saat kondisi semakin terpuruk. Seandainya saya bisa bertatap muka dengan Tuhan, saya akan usul padanya agar catatan takdir dirubah: umur Cak Nur ditambah. Atau seandainya saya menjadi Sun Go Kong, sang monyet nakal dari legenda Cina yang datang ke tempat takdir dibuat dan kemudian mengacak-ngacak semaunya, saya pasti akan mengganti takdir Cak Nur agar hidup lebih lama agar dia bisa terus memberikan masukan untuk perbaikan bangsa. Tapi itu semua hanyalah utopia. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menerima kenyataan: Cak Nur dipanggil Kekasihnya. Dia tidak mati. Seperti sering diungkapkannya pada kita sebelum dia pergi. Dia hidup di alam lain dengan lebih kekal dan lebih bebas.

Saya merasa begitu dekat dengan Cak Nur. Kedekatan itu terbentuk satu arah tentunya: aku yang dekat padanya, dia tentu tidak. Aku merasa dekat karena aku begitu dipengaruhi pemikiran dan ide-idenya. Semanjak kedatanganku ke Ciputat sekitar enam tahun lalu, bayang-bayang Nurcholish Madjid terus membayangi. Awalnya aku penasaran karena namanya sering disebut-sebut oleh senior-senoirku, terlebih setelah aku bergabung di HMI. Rasa penasaran itu kemudian membawaku menemui pemikirannya melalui sejumlah buku. Mengagetkan dan menantang, itulah kesan pertamaku dulu membaca sejumlah karyanya. Bagi seorang yang baru keluar dari kungkunan dunia pesantren, membaca pemikiran Cak Nur serasa terlibat dalam sikap subversif. Aku diajar olehnya bagaimana menggugat pikiranku sendiri yang selama di pesantren terlalu doktriner dan normatif. Kata-kata “sekuler” yang semenjak dipesantren menggelayut di kepalaku dengan penuh kecurigaan dan sedikit ketakutan, tiba-tiba dibela Cak Nur. Itulah perkenalan awalku dengannya. Mengagetkan dan penuh tanda tanya.

Pertemuanku secara peribadi dengan beliau hanya sekali, sekitar dua tahun silam. Saat itu aku menjadi ketua pelaksanaan Ahmad Wahib Award, lomba esai yang kubuat (ketika menjadi Kabid PA HMI Cab. Ciputat) dengan Ahmad Sahal (seniorku di Formaci yang saat itu ditunjuk Rizal Mallarangeng menjadi deputi direktur Freedom Institute) untuk mahasiswa seluruh Indonesia dan berhadiah 30 juta—hadiah yang saat itu dianggap tidak wajar karena terlalu besar. Untuk kepantingan lomba itu, aku, Sahal, Mas Hamid dan Mas Ulil, juga pak Rizal, datang kerumahnya di Cibubur. Kunjungan itu adalah rangkaian kunjungan ke sejumlah tokoh yang pernah aktif berinteraksi dengan mendiang Wahib semasa hidupnya. Aku yang mengususlkan kunjungan ke rumah Cak Nur saat itu ke Mas Sahal. Aku merasa, Cak Nur harus ditemui untuk dimintai pendapatnya, juga sekaligus sowan dan meminta cerita tentang persahabatannya dengan Wahib.

Rombongan dari Freedom datang dirumahnya yang sangat sederhana di kawasan perumahan di Cibubur menjelang Isya. Aku sedikit kaget karena tidak menyangka rumah Cak Nur, tokoh nasional yang disegani oleh banyak orang, begitu sederhana. Pas kami datang, kebetulan di rumahnya juga telah hadir sejumlah tokoh lintas agama yang hadir untuk sekedar berslaturahmi dan meminta pendapat Cak Nur tentang kegiatannya. Juga kebetulan saat itu ada Mas Djohan Efendi yang memang konsern terhadap isu kerukunan umat beragama dan aktif di ICRP. Aku tahu Djohan juga adalah kawan dekat Wahib, bahkan mungkin lebih akrab ketimbang Cak Nur. Djohan semasa menjadi aktivis HMI dulu tinggal di Yogya bersama Wahib. Seantara Cak Nur tinggal beberapa ratus kilo meter dari Wahib karena ia tinggal di Ciputat. Obrolan malam itu tentu akan berjalan dengan hangat dan menarik.

Saat itu aku baru semester delapan. Masih sangat muda. Dan karena itu dalam pertemuan itu lebih banyak diam. Aku dikenalkan oleh Sahal setelah dia basa-basi pada Cak Nur tentang lomba esai AWA. Dalam pertemuan itu Cak Nur bercerita pengalaman pribadinya dengan Wahib. Ia berterus terang bahwa dirinya tidak terlalu akrab secara persolanl dengan Wahib. Alasannya, kata dia, karena mereka beraktifitas di dua tempat yang lumayan jauh. Cak Nur di Ciputat dan Wahib di Yogya. Meskipun begitu, kata dia, ia sering bertemu dan terlibat diskusi hebat dengan Wahib pada momen perkaderan di HMI. Terlebih setelah Cak Nur menjadi ketua PB HMI dan harus lebih banyak berkunjung ke daerah-daerah. Orang seperti Dawam dan Solarso sebenarnya lebih banyak berinteraksi dengan Wahib, kata Cak Nur. Tetapi terlepas dari semua hal itu, Cak Nur merasa sangat senang dan mendukung kegiatan nasional itu.

Informasiku mengenai keterlibatan Cak Nur dan Wahib justru lebih banyak aku dapatkan dari buku Catatan Harian Ahmad Wahib yang diterbitkan LP3ES. Wahib sering terlibat polemik dengan Cak Nur dalam perdebatan-perdebatan pada forum perkaderan HMI. Keduannya sering berbeda pendapat. Mungkin mereka berbeda pendapat bukan hanya karena secara subtantif mereka berbeda pandangan, tetapi ego gerbong HMI juga menyertainya. Cak Nur adalah pentolan gerbong Intelktual Ciputat, sementara Wahib, Djohan dan Dawam adalah lokomotif gerbong intelektual HMI Yogya. Di samping itu ada juga gerbong Bandung yang diwakili Endang Saefudian Ansari dan Kang Imad c.s. Tetapi justru perdebatan intelktual dengan aroma persaingan antar gerbong intelektual iniah yang membuat HMI tumbuh sebagai organisasi intelktual yang disegani. Meraka berebut pengaruh di hati para kader. Konon—aku tidak tahu persis kebenarannya, namun cerita ini banyak beredar di kalangan teman-teman HMI—puncak perdebatan itu terjadi ketika Cak Nur dan Wahib c.s sama-sama mengajukan draf ideologi perkaderan yang sekararang dikenal dengan NDP. Draft itu sendiri lahir setelah kunjungan Sularso ke Berlin sekitar satu bulan. Pada saat yang bersamaan Ca Nur juga mendapat kesempatan kunjungan ke Amerika, juga selama satu bulan. Dari kunjungan itu, Sularso membawa oleh-oleh buku kecil yang biasa dipakai sebagai pegangan perkaderan Partai Sosialis Jerman. Buku itu judulnya adalah—kalau tidak salah—Fundamental Value of Socialist Democratic Party. Buku itulah pula yang menginspirasi para aktivis HMI untuk membuat rumusan ideologi bagi perkaderan di HMI. Namun nilai-nilainya harus digali dari Islam sebagai akar organisasi, bukan dari ajaran sosialisme sebagaimana buku itu. Maka dibuatlah tiga rencana kerja oleh beberpa orang aktivis HMI saat itu. Tiga usulan itu adalah: membuat nilai-nilai dasar yang akan dijadikan pegangan organisasi (rumusan ideologi); membuat rumusan kebutuhan mendasar bangsa Indonesia versi HMI yang harus segera dipenuhi agar bengsa ini lebih maju; dan merumuskan langkah-langkah yang sifatnya lebih operasinal.

Tiga tugas itu di distribusikan pada tiga kelompok, yakni kelompok yang dipinpin oleh Cak Nur untuk mengerjakan tugas pertama, kelompok yang dipinpin oleh Sudjoko Prasojo—ayah Imam Prasojo—untuk tugas kedua, dan kelompok yang dipinpin oleh Sularso untuk menyelesaikan tigas ketiga. Dalam sejarah perumusan Nilai Dasar Perjuangan organisasi itulah konon Cak Nur dan Wahib terlibat polemik. Menanggapi usulan Cak Nur, Wahib menganggap rumusan itu terlalu normatif dan berbau fundamentalisme. Wahib memang dianggap lebih liberal ketimbang Cak Nur. Aku tiak tahu detail perdebatan itu. Tadinya aku bermimpi untuk menenyakannya langsung pada Cak Nur, namun dia keburu pergi. Meskipun begitu, aku masih bisa mengetahui detail perdebatan itu melalui Dawam dan Djohan. Keduanya masih sehat. Suatu saat aku harus bersilaturahmi dengan beliau-beliau yang sudah sepuh itu.

Di akhir pertemuanku di rumah cak Nur di Cibubur dengan rombongan dari Freedom aku dan Ipud—tadi aku tidak sebuat dia, lupa, dia ikut juga dalam rombongan itu mewakili ketua cabang—berbicara sebentar tentang kondisi PB yang baru saja pecah ke dalam kedua kepeminpinan. Saat itu PB pecah dalam dua kubu yang sama-sama menganggap dirinya legitimate, yakni kubunya Mukhlis Tapitapi dan Kholis Malik (Kholis yang terpilih di kongres). Berbarengan dengan konflik di tubuh HMI yang tidak kian mereda setelah perpecahan itu, Cak Nur, begawan HMI memaklumatkan sebaiknya HMI dibubarkan saja. Pernyataan itu menyesakan banyak orang. Betapa tidak, Cak Nur selama ini dikenal sebagai orang yang tumbuh besar di HMI. Orang HMI seutuhnya samapai tulang sumsumnya. Cak Nur tentu tidak sepenuhnya berminat membubarkan HMI. Itu hanya terapi kejutan agar anak-anak di HMI mau berfikir dan merasa malu oleh umat karena konflik tidak kunjung reda.

Cak Nur saat itu sangat marah pada KAHMI yang masih senang mengadu domba adik-adiknya untuk kepentingan pribadi. Secara eksplisit dia mengemukakan nama seorang KAHMI, dan mengatakan mungkin dia biang keladinya semua perpecahan ini. Dengan terus terang dia mengatakan pada kami bahwa dia tidak senang pada orang itu. Diakhir obrolan itu Cak Nur memberikan wejangan agar terus bersemangat membangun organisasi dan terus konsisten dengan perjuangan moral dan pembentukan kekuatan intelaktual, bukan kekuatan politik.

Rupanya tak ada lagi pertemuan secara personal dengan beliau setelah itu. Itulah pertemuan pertama dan terakhir. Tiga tahun setelah pertemuan itu Cak Nur meninggal. Meski aku merasa sangat kehilangan, aku masih bisa merasa bahagia, aku pernah berbicara secara pribadi dengannya. Dan pertemuan itu sangat berkesan.

Meskipun jasadnya sudah tidak ada, Cak Nur tetap hadir diantara pertemuan-pertemuan kita, tetap hadir di antara pengajian-pengajian, latihan-latihan kader, dan tulisan-tulisan kita. Ia akan abadi hidup bersama kita. Itulah kelebihan orang yang berilmu dan memanfaatkan ilmunya buat umat. Umurnya akan panjang.

Kepergiannya 29 Agustus silam seperti kelahiran baru bagiku. Kepergianya tiba-tiba menumbuhkan tekad yang begitu kuat di hatiku: aku hars seperti dia, bahkan lebih. Aku harus meneruskan perjuangannya. Aku harus meniru sifat konsistennya pada kejujuran, keadailan dan kebenaran serta kesederhanaan. Takad itu semakin kuat setelah aku menyadari keberadaanku saat ini di HMI. Cak Nur dulu berangkat memperbaiki umat dan memberikan sumbangan pada bangsa dari HMI. Pada kondisi HMI yang semakin terpuruk secara intelktual, aku merasa terdorong untuk menghidupkan semangat intelektualisme HMI yang dulu ditabur Cak Nur. Dulu pun, seperti dia, ia menaburkan benih intelektulalisme dari Ciputat.

Selamat jalan Cak Nur. (Versi asli naskah catatan harian ini masih panjang, aku capek melanjutkanya. Mungkin lain kali.)