How to

Laptop Pilihan Saya

Saya dulu pengguna laptop windows karena alasan yang sederhana: semua orang memakainya. Tentu karena harganya juga terjangkau.

Sekitar 4 tahun lalu saya beralih ke Mac karena alasan ingin mencoba product Apple. Saya membeli Macbook Air dengan spec standard. Meski harus merogoh kocek lebih dalam, saya beranikan waktu itu untuk memakai produk Apple. Bentuk dan rupanya elegant. Tipis, ringan dengan layar yang bagus. Mudah dibawa ke mana-mana. Bisa bergaya pula dengan laptop itu. Logo buah apple menunjukan prestise tersendiri.

Dan saya masih memakainya sampai sekarang. Tapi masalah kemudian muncul: mungkin karena Macbook Air, laptop gaya ini tidak bisa dipakai kerja keras. Ketika harus seminggu tanpa henti membuka banyak program, barulah terasa betapa manja laptop saya ini. Dia tak kuat membukan program pdf banyak, dengan puluhan tab browser sambil mendengar musik. Untuk edit video sama sekali tidak bisa diandalkan. Loading menjadi lama dan sering freeze. Baru sembuh setelah saya merestart.

Tentu saya kira bukan karena Macbook ini jelek. Ini lebih karena Macbook Air didisain hanya untuk pekerjaan ringan saja. Hanya untuk mengetik, browsing dan membuka program standard. Tak bisa lebih dari itu.

Sementara kebutuhan saya pada laptop terus meningkat karena saya harus mengerjakan riset saya. Dan karena itu saya merasa harus meng-upgrade laptop saya. Saya membaca cukup banyak rujukan untuk menentukan laptop apa yang akan menaggantikan Macbook Air sebagai mesin utama. Niat awalnya ingin pindah ke Macbook pro: elegant, cantik, kokoh meski mahal sekali. Tapi untuk saat ini saya bisa menjangkaunya. Tapi kemudian muncul beberapa isu dengan Macbook Air: keyboard dikeluhkan banyak orang. Bahan Apple kini sedang menghadapi gugatan pengadilan (class action) karena kegagalan desain keyboard yang baru. Saya urungkan niat membeli Mac Pro.

Beberapa kandidat sudah saya kantongi, diantaranya HP Spectre, Dell XPS 13, Lenovo Yoga 720 dan Thinkpad Carbon X1 (Lenovo). Semua merk itu menjanjikan kemampuan yang mumpuni. Namun setelah mempertimbangkan faktor harga dan selera saya akhirnya mengkerucutkan ke dua pilihan: Spectre dan Yoga 720. Dell XPS saya keluarkan dari list karena saya tidak terlalu suka desainnya. X1 Carbon terlalu konservatif dan mahal. Spec yang sama bisa ditemukan di kedua merk yang saya ingin pilih.

HP spectre sangat cantik. Bahkan mungkin lebih cantik dari Macbook Pro. Pilihan saya hapir jatuh padanya. Sampai kemudia saya menemukan banyak ulasan perbandingan antara Yoga 720 dan Spectre. Spectre hanya menggunakan Intel Dual-Core (Dua lempeng), sementara Yoga memakai Quad-Core (Empat lempeng). Artinya, Yoga lebih bagus untuk proses banyak aplikasi karena menggunakan empat lempeng chip. Juga, pada Yoga 720 disimpan chip untuk graphic NVIDI atau Intel Graphic 360. Kelebihan lainnya: Yoga 720 bisa dilipat dengan layar sentuh. Saya juga menemukan harga promosi Yoga 720 di Amazon.

Pesanan masih di jalan. Semoga menyenangkan dan jika nanti sudah sampai saya bisa kembali membuat ulasan pengalaman menggunakannya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: