Catatan Harian,  LA Notes

Bunda Pergi ke Gereja!

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Alhamdulillah, setiap Rabu sore, sudah dua minggu ini, Bunda pergi ke gereja. Gerejanya tak jauh dari komplek apartemen tempat kami tinggal, hanya sepuluh menit jalan kaki. Selama dua jam setiap rabu, dari jam 6.30 sampai 8.30 sore, Bunda punya kegiatan di gereja itu.

Eit, jangan heboh dulu, Bunda masih seperti dulu: berjilbab, menamatkan satu juz Al-Qur’an setiap minggu bersama dengan temannya di group WA, tak pernah bolong shalat, rajin Dhuha pula. Bunda masih seperti ia yang dulu saya kenal. Lantas buat apa Bunda ke Gereja? Apa dia sudah beralih agama? Tidak!

*

Sejak Bunda datang di Los Angeles hampir 7 bulan lalu, saya mencari tahu dimana gerangan tempat kursus gratis bahasa Inggris. Ketika saya kuliah di Melbourne dulu, Universitas menyedikan fasilitas cuma-cuma kursus bahasa bagi anggota keluarga. Biasanya seminggu dua kali. Saya masih ingat, setiap Rabu dan Kamis Bunda datang ke gedung 1818 yang sedikit angker itu di Universitas Melbourne untuk belajar dengan tutornya, Alex. Sejak ia punya kegiatan kursus di kampus, kehidupannya lebih berwarna. Saat itu Amartya menginjak usia 5 bulan. Ia bawa Amartya ke tempat kurus dan dibiarkan bermain di ruangan tak jauh dari ruang kurus.

Di tempat kursus itu Bunda punya teman baru dari berbagai negara, Cina sampai Chile. Bahasa Inggrisnya juga bertambah baik dengan cepat. Tentu karena di tempat kurus itu Alex memaksanya bicara. Ada paksaan, juga lingkungan yang mengkondisikannya berbicara. Bunda biasanya datang ke tempat kursus sekalin membawa bekal makan. Saya akan menyusulnya ke halaman gedung 1818 pada jam makan siang. Kami habiskan waktu makan siang bersama bertiga di taman yang rindang dan hijau itu.

Sayangnya, UCLA tidak menyediakan kursus gratis bagi keluarga. Atau mungkin saya belum menemukannya. Di sekitar komplek perumahan mahasiswa tempat kami tinggal juga tidak ada kursus bahasa Inggris. Hanya ada kursus musik dan yoga.

Saya mendengar ada juga kursus gratis di beberapa perpustakaan kota. Tapi letaknya terlalu jauh. Harus naik bus dan jalan kaki. Rencana untuk mengambil kursus gratis di Perpustakaan Palms dan Pico tidak juga terwujud karena jarak. Di sini angkutan umum jelek, tak sebagus Melbourne. Untuk pergi ke tempat yang dekat saja cukup memakan waktu karena harus nunggu bus dan jalan kaki.

Sampai pada suatu sore ketika saya berolahraga, berlari mengitari kompleks tempat saya tinggal, tanpa sengaja saya melihat sebuah spanduk kecil sedikit tersembunyi dari balik rimbun pepohonan di Jalan Swatelle. Saya juga baru sadar bahwa gedung yang sering dilewati itu ternyata sebuah gereja. Gereja itu menawarkan banyak sekali kegiatan yang tak ada kaitannya dengan ibadah atau kebaktian. Salah satunya kursus bahasa Inggris. Ya, itu yang saya cari. Pas: tempatnya dekat, waktunya tepat.

*

Awalnya Bunda ragu-ragu. Kaka dan Neng malah protes. Mereka bilang: “Nanti bunda kalau ke gereja jadi Kristen. Bunda ga boleh!” Saya hanya tersenyum saja. Akhirnya saya terangkan bawah pergi ke tempat ibadah orang lain tidaklah berdosa. Kecuali kita ikut kebaktian, itu mungkin lain cerita. Lagi pula, di Amerika, gereja punya banyak fungsi selain tempat beribadah. Gereja, sebagaimana diungkap dalam banyak studi, adalah wadah memupuk semangat kebersamaan dan kewargaan (civility). Masyarakat sipil dibangun dan dipupuk di sana. Di gereja ada kursus bahasa, balet, musik dan yang lainnya.

Saya bilang, iman yang kokoh harus menjadi obor dan kompas agar kita berani mengarungi hidup, berjumpa dangan yang lian, bukan sembunyi menggigil ketekutan dibalik dalih menjaga akidah. Setelah dua minggu diskusi dan mempertimbangkan, ditemani kawannya, akhirnya bunda mau juga pergi ke gereja untuk mendaftar. Lantas ia segera memulai kursus di sana.

Ketika mendaftar, dalam formulir pendaftaran disebutkan: “apakah anda ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan kebaktian?”. Bunda tentu jawab tidak. Dan segera pihak gereja tahu bahwa yang datang mendaftar saat itu adalah seorang Muslimah, berjilbab pula. Mereka senang.

*

Saya juga tidak naif. Tentu saja dalam setiap kegiatan gereja selalu ada misi tertentu, minimal misi pelayanan. Tapi tentu di dalam iklim yang terbuka seperti di sini, naif pula mengira hanya karena kita ikut kegiatan yang mereka iklankan terbuka seseorang akan pindah agama. Faktanya, usaha yang dilakukan gereja sebenarnya lebih ditujukan agar orang-orang di sini mau kembali ke gereja.

Sudah sejaka lama gereja di negara-negara maju ditinggalkan jamaahnya. Mungkin keadaan di Amerika tidak terlalu parah. Gereja di sini relatif masih dikunjungi, apalagi di daerah Bible Belt, tempat dimana para pendukung Trump banyak tinggal. Di Eropa, setidaknya di Belanda, kondisinya lebih buruk. Ketika saya tinggal di sana, banyak gereja beralih fungsi jadi museum. Ada juga yang dijual untuk dijadikan tempat ibadah agama lain. Mesjid Indonesia di Den Haag adalah bekas gereja. Di Los Angeles tempat saya tinggal sekarang, warga Indonesia sebentar lagi punya mesjid besar di tengah kota. Konon donaturnya Erick Tohir. Mesjid yang siap dipakai akhir tahun ini juga bekas gerja. Perisis di samping gedung Konsulat Jenderal RI di pusat kota LA, berdiri Gereja Oasis yang kokoh tapi murung. Gereja itu juga sudah tidak lagi dipakai.

Untuk menarik orang tetap mau datang ke gereja, pihak gereja harus kreatif membuat beragam kegiatan yang tidak melulu urusan ibadah. Dan jadilah gereja pusat kegiatan kewargaan bagi masyarakat sekitar yang terbuka bagi siapa saja, tak pandang latar belakang agamanya.

Bunda pergi ke gerja juga adalah cara paling sederhana bagaimana kami mengajarkan toleransi, tenggang rasa dan saling menghormati pada anak-anak kami.

Salam dari Los Angeles (23 Agustus 2017)

Leave a Reply

%d bloggers like this: