Catatan Harian

Impian Dua Insan Cita di Santa Monica.

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Dari bilangan Highland Ave di Hollywood, ia segera meluncur menggunakan taksi ke arah Santa Monica. Ia sudah mengirimkan pesan kedua ketika saya mengeluarkan mobil dari garasi apartemen. Katanya ia akan tiba lebih awal. Saya membalas bahwa saya juga akan tiba dalam sepuluh menit, atau kurang. Kami akan bertemu di restoran Indonesian di Los Angeles bagian barat, tak jauh dari kampus UCLA. Karena selalu penuh oleh pengunjung, kami merencanakan pertemuan itu tidak pada saat jam makan siang atau malam.

Dua tahun sebelumnya saya sudah berkomunikasi dengannya. Saya memperkenalkan diri melalui pesan singkat dengan sebuah kode: HMI. Ya, kode itu, untuk sesama anggotanya, cukup ampuh. Jika memakai kode itu kepada sesama anggota, sudah hampir pasti akan diterima dengan baik. Seperti dua tahun lalu itu, saya tidak pernah mengenalnya secara pribadi sebelumnya. Saya hanya tahu ia tinggal di California. Lewat kawan, saya mendapatkan nomor teleponya. Dan karena itu, ada baiknya saya memperenaklan diri. Saya bilang padanya saya baru datang dan akan tinggal di LA selama kurang lebih empat tahun untuk studi doktoral bidang hukum di UCLA.

Sejak saat itu kami selalu berencana untuk bertemu. Tapi tidak juga bisa terlaksana sampai dua tahun kemudian.

Ketika bertemu, saya seperti bersua kawan lama, meski sama sekali tidak pernah kenal secara pribadi sebelumnya. Mungkin karena selama ini kami sering berkomunikasi. Setiap lewat ke kota tempatnya tinggal di wilayah Orange County, saya selalu menyempatkan menyapanya. Beberapa kali hendak mampir, tetapi selalu tidak jadi karena ia dan keluarganya sedang tidak ada di rumah. Untuk sebuah keperluan saya juga intensif berkomunikasi meski tidak juga bertemu muka. Tapi lebih dari itu, kami mempunyai banyak irisan sebagai sesama aktivis: kawannya adalah kawan saya. Ceritanya sebagian saya tahu. Juniornya di Makassar adalah tetangga saya di Melbourne dan lain-lain.

Ia terpaut 10 tahun lebih tua dari saya. Seperti biasa, saya memanggilnya “Abang”. Dan pada obrolan sore itu di sebuah restoran di LA, mukanya seperti sumringah ketika dipanggil “Abang”. Mungkin sudah lama ia tidak disapa seperti itu, setidaknya di Los Angeles. Diantara banyak aktivis sezamannya, ia adalah sedikit dari sedikit anak HMI yang memilih jalur akademisi. Setelah kalah dari percaturan ketua umum Pengurus Besar, satu periode setelah Anas Urbaningrum, ia segera memutuskan untuk sekolah lagi. “Kalah hanya dua suara, Zen” ucapnya dengan mata jauh menerawang ke belakang.

Usahanya untuk segera banting stir ke jalur akademik membuahkan hasil: Niigata University di Jepang menerimanya. Di sana ia menekuni bidang yang jarang ditekuni para aktvis: neurologi. Dan pencapaiannya sejak saat itu tidak tanggung-tanggung: puluhan publikasi internasional sudah dihasilkannya. “Bersama team, tentu saja,” ia merendah. Beberapa tulisannya bahkan dimuat di jurnal paling bergengsi di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan seperti jurnal Nature.

Dari sanalah obrolan kemudian berbelok ke arah kontroversinya beberapa tahun lalu. Saya mengikuti juga kontroversinya saat itu. Ia dianggap “over claim” karena dituduh mengaku-aku menjadi calon penerima hadiah nobel. Ia sudah mengklarifikasi hal ini di beberapa media saat itu dan ia juga sudah meminta maaf jika ia dianggap khilaf.

Di antara mie tektek dan rendang padang ia juga bercerita kenapa kontroversi itu sampai muncul: “rivalitas sesama HMI.” Lantas kami terkekeh. Jikapun ia khilaf, buat saya tetap saja pencapaiannya jauh lebih baik, terutama jika dibandingkan dengan orang-orang yang menyulut kontroversinya itu.

Terlepas dari semua itu, buat saya, ia adalah sosok ideal yang patut ditauladani anak-anak HMI. Saya masih ingat, tahun kemarin (2019) ia mengirimkan link ke tiga tulisan jurnal yang baru dipublikasikannya. Tahun itu ia cukup produktif rupanya. Pada saat yang sama saya juga bagikan link tulisan saya tahun 2018. Juga tiga buah tulisan jurnal pada saat yang hampir bersamaan. Itu juga tahun produktif untuk saya. “Masih belajar, Bang.” Ujar saya di akir kalimat pesan saya, sebelum tautan.

Dan ketika tersadar kami sudah terlalu lama duduk di sana, dengan obrolan yang tidak selayaknya saya tuliskan di sini, kami memutuskan pindah ke tempat lain. Setelah shalat di Mesjid komunitas Iran, tak jauh dari restoran, saya membawanya ke sebuah warung kopi langganan saya, di bilangan Palms, tak jauh dari apartemen. Baru selepas gelap saya mengantarnya ke stasiun kereta untuk pulang.

***

Saya selalu membayangkan jumlah orang sepertinya, aktivis tapi juga akademisi produktif, kelas dunia pula di bidangnya, bisa beranak pinak lebih cepat dan lebih banyak. Di California, selain dia, ada juga Professor Ali di UC Riverside. Ia alumni UIN Jakarta, kakak kelas saya di Ciputat. Tenju juga ia HMI. Tapi kita butuh lebih banyak akademisi daripada politisi. Tiga orang di California sama sekali tidak cukup. Semoga setelah menulis blog ini ada orang yang membuka tabirnya dan mengaku sebagai alumni di California. Sehingga bisa lebih banyak teman ngopi bareng.

Saya masih inget ketika di Melbourne, saya bertetangga dengan dua orang mahasiswa doktoral. Keduanya mengambil konsentrasi bidang kesehatan. Setelah hampit dua tahun tinggal di sana, saya baru tahu tetangga satu apartemen itu ternyata alumni Makassar. Bang Sudi, biasa saya menyapa, memberi kabar bahwa Bung Qodari akan menginap di apartemennya dan karena itu saya disuruh datang untuk ngopi-ngopi.

Yang terpenting tentu saja adalah tentang mimpi-mimpinya. Kampus saya, UCLA, sudah mempunyai tak kurang dari 14 peraih nobel. Hanya sebuah kampus. Ya, kampus, bukan negara. Sementara Indonesia dengan 270 juta penduduk, belum satupun anak terbaiknya menerima penghargaan itu. Karena itu, ada baiknya kontroversinya dulu itu kita jadikan saja mimpi bersama bangsa: bahwa semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama anak-anak terbaik bangsa ini mempunyai banyak pencapaian yang diakui dunia. Nobel tentu hanya salah satunya. Dan tentu baik jika mimpi itu dimulai di HMI.

(Catatan singkat ini sengaja saya buat hari ini, 5 Februari 2020. Hari ini genap 73 tahun umur HMI. Organisasi itu sudah hampir sama tuanya dengan Republik. Semoga Himpunan bisa mendorong lahirnya para intelektuil yang membumi dan bermanfaat untuk manusia)

Leave a Reply

%d bloggers like this: