Catatan Harian

Liburan yang menyedihkan di Utrecht

Semuanya karena hal sepele: lupa bawa kunci.

Pagi itu saya hendak membuang sampah ke luar sambil menikmati secangkir teh manis. Karena berniat hanya beberapa menit saja keluar, saya tidak membawa kunci. Saya pikir pintu tidak perlu dikunci toh tidak akan ada yang masuk. Pintu apartemen juga masih terlihat karena tong sampah terletak di dekat tangga persis di samping kamar.

Seolah tidak ada yang salah, saya kembali ke kamar. Teh sudah hampir habis. Pintu kamar saya dorong. Tidak terbuka. Sekali lagi saya coba. Tetap tidak terbuka. Hati saya mulai berdebar-debar. Ketika itulah saya baru sadar bahwa rupanya pintu apartemen yang saya tempati dirancang untuk mengunci secara otomatis. Jadi jika penghuninya keluar rumah tanpa mengunci pintunya, pintu itu akan mengunci sendiri. Sebenarnya ini ide yang bagus. Setidaknya untuk alasan keamanan. Jika penghuninya buru-buru pergi dan lupa mengunci pintu, dia tidak perlu khawatir karena maling tidak akan bisa masuk.

Namun buat saya saat itu, kunci otomatis adalah awal dari liburan yang mengerikan. Ketika keluar saya hanya mengenakan kolor krem dengan baju kaus dalam lengan panjang berwarna hitam.

Sampah sudah dibuang. Tinggallah secangkir teh yang mulai dingin di tangan dan earphone Sennheiser kesukaan saya.

Setelah menunggu beberapa saat, saya mencoba berkali-kali mendorong lagi pintu apartemen saya. Saya masih berharap semua ini adalah ilusi. Pintu akan terbuka. Tetapi pintu itu tidak juga bergerak. Saya coba lagi sekali lagi. Sama saja, pintu itu tak juga terbuka.

Pikiran saya langsung melayang. Saya tahu saya terkunci. Sialnya saya tidak membawa apa-apa. Hanya secangkir teh dan pemutar musik. Saat itu baru jam 8 pagi. Masih terlalu pagi bagi penghuni apartemen lain untuk bangun. Apalagi hari itu hari Minggu. Semalam para penghuni itu mungkin habis berpesta pora sehingga mereka tidur larut dan bangun telat. Tak ada satu orangpun penghuni yang saya lihat. Saya butuh penghuni lain sekedar untuk bertanya apa yang bisa saya lakukan.

Matahari sudah muncul sejak jam 5 pagi. Ini musim panas. Sambil mencari akal, saya bergegas ke bangku-bangku di halaman sebelah kiri apartemen. Sekedar untuk berjemur. Meski musim panas, udara tetap dingin, apalagi di pagi hari. Ditambah saya hanya mengenakan kolor dan kaus dalam. Sinar matahari terasa membuat saya lebih tenang. Kelinci di balik rumput liar terlihat asik berjemur sambil memakan rerumputan. Di seberang sana domba-domba khusu menyantap sarapan paginya.

Saya tahu apa yang harus saya lakukan: menelepon bagian emergency pengelola apartemen ini. Tapi tunggu dulu, bukankah HP saya tertinggal di dalam? Oke, kalau begitu saya harus mencari bantuan seorang kawan untuk menelpon bagian emergency. Saya berfikir keras kemana harus meminta bantuan. Tak satu orangpun penghuni apartemen saya terlihat di luar.

Akhirnya saya bergegas ke kamar Florence. Dia adalah mahasiswi asal Afrika Selatan yang kebetulan tinggal di kompleks apartemen yang sama. Kami satu program dengannya. Sebenarnya ada 6, termasuk saya, mahasiswa peserta Kursus Musim Panas Hukum Internasional yang tinggal di kompleks apartemen itu. Tapi saya merasa lebih akrab dengan Florence. Saya tahu ini masih terlalu pagi. Tapi apa mau dikata. Ini emergency.

Saya mengetuk-ngetuk pintu kamar Florence. Satu, dua, tiga kali ketukan. Tak ada jawaban. Saya merasa berdosa membangunkannya sepagi itu. Tapi saya yakin dia akan mafhum dengan kondisi saya. Saya coba sekali lagi. Berhasil. Dari dalam kamar terdengar ada suara bergerak. Ubin lantai juga terasa bergetar. Saya tahu Florence bergegas kea rah pintu. Pintu dibuka. Florence memicingkan matanya yang silau melihat cahaya luar.

“Hi, Zen, ada apa?” Florence terlihat kaget. Mukanya yang belum sepenuhnya sempurna karena bangun tidur diliputi pertanyaan

“Hi Florence. Pertama saya minta maaf yang sebersar-besarnya karena menggangu kamu. Tapi ini emergency”

“Ada apa?” Florence mempersilahkan saya masuk ke kamarny.

“Saya hendak membuang sampah sambil menikmati alunan music dan secangkir kopi. Tapi sial saya lupa tidak mebawa kunci karena saya tidak menyangka pintu terkunci otomatis. Kunci kamar saya tertinggal di dalam. Saya tidak bisa masuk kamar. Tinggallah saya seperti ini” Saya menunjuk pada kolor dan baju dalam yang saya pake

Ohh…really? So,can I help you?” Florence menawarkan pertolongan

“Saya boleh pinjam handphone kamu? Saya akan telpon bagian emergency untuk datang menolong saya”

“Oh, Zen, maaf sekali, pulsa di HP saya habis. Saya belum sempat beli lagi”

Otak dipaksa berfikir keras. Florence tidak bisa memberikan bantuan.

Baik jika begitu. Saya punya akal: pake telpon internet. Saya masih punya pulsa 10 dollar di Skaype.Biasanya saya gunakan internet telpon itu untuk menelpon instri saya di kampung. Saya tidak pernah menggunakan telpon HP untuk menelpon Istri saya dari sini. Sangat mahal. Saya sudah langganan Skaype sejak di Melbourne. Baru saya isi ulang menggunakan kartu debit visa setibanya di Utrecht seminggu yang lalu

“Apakah kamu punya earphone sekaligus microphone untuk internet telpon?” Saya bertanya pada Florence dengan penuh harap.

“Oh, Zen, maaf, saya tidak punya. Saya hanya punya earphone biasa saja” Florence terlihat merasa bersalah karena tidak bisa menolong lebih.

Skenario ke dua gagal. Saatnya otak diperas lagi untuk mencari pertolongan. Florence menyarankan saya datang ke kamar mahasiswa lain sesame peserta Kursus Musim Panas. Saya setuju. Namun sebelum saya mengikuti saran dia, terlintas sebuah ide gila: pasang pengumuman di Facebook kelompok Pelajar Indonesia di Utrecht. Saya tahu ada beberapa orang Indonesai tinggal kompleks apartemen ini.

“Halo kawan-kawan, emergency nih. Saya butuh pertolongan. Kamar saya otomatis terkunci dari luar. Saya tidak bawa kunci. Semua barang saya ada di dalam. Saya di kamar 15 N Bolognalaan, komplek apartemen milik SSH. Mahasiswa Indonesia yang dekat sini, TOLONG SAYA. Ini saya pake Facebook kawan. Terimakasih. ZEZEN”

Pengumuman itu saya pasang di Facebook. Tidak ada jawaban. Sementara saya menunggu response dari kawan-kawan mahasiswa Indonesia, saya bergegas ke lantai 3 apartemen. Florence menyuruh saya ke kamar Jin Hu, mahasiswi asal China peserta Kursus. Saya penuh harap Junjun punya pulsa untuk menelpon.

Setelah mengetuk pintu berkali-kali, Jin Hu muncul dengan muka acak-acakan. Baru bangun tidur. Seperti ketika mengetuk pintu Florence, saya meminta maaf dan lantas menjelaskan kasus yang saya alami. Junjun langsung memberikan HPnya ke saya untuk dipinjamkan. Sial, saya lupa mencari tahu nomor telpon bagian emergency pengelola apartemen. Saya terpaksa kembali ke lantai satu, ke kamar Florence untuk meminjam laptopnya untuk mencari tahu lewat internet nomor telpon bagian emergenci.

Akhirnya saya bisa menghubungi bagian emergency. Tapi rupanya keberuntungan belum berpihak pada saya. Ketika menelpon, tiba-tiba sambungan telpon putus. “Tut…tut..tut”. Sial, rupanya pulsanya juga habis. Saya mulai kesal. Kesal pada diri sendiri. Jin Hu terlihat merasa bersalah karena tidak bisa menolong. Dia minta maaf. Dia merasa ada cukup pulsa di HPnya. Sambil kesal, saya bergegas lagi ke kamar Florence.

Florence merasa iba pada saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu respon dari kawan-kawan sesame mahasiswa Indonesia. Setelah 10 menit menunggu, muncul respon dari beberapa orang. Ada yang memberikan nomor telpon mahasiswa yang tinggal dekat situ. Ada yang malah bercanda. Ada juga yang merasa kasihan dan bilang akan telon orang yang tinggal di dekat situ. Di tengah kepanikan yang mulai datang, ditambah dingin yang menusuk kulit, sebuah pesan muncul di halaman facebook. Saya disuruh datang ke kamar 3C. Alhamdulillah, akhirnya ada tetangga orang Indonesia yang mau menolong

Saya bergegas ke kamar itu. Tak lupa berterimaksih banyak pada Florence.

Kamar itu dihuni Mba Melati. Dia baru saja lulus dari Universitas King Abdul Aziz di Saudi Arabia jurusan Tehnik Lingkungan. Dia bekerja untuk sebuah projek di kampus Universitas Utrecht. Dengan senyum ramah dia menyambut saya. Dia juga sedikit tertawa karena lucu. Saya hanya mengenakan kolor dan kaus dalam.

“Kasihan sekali dek…Kok bisa?”

“Saya benar-benar tidak tahu Mba”

“Iya, mungkin banyak yang kasusnya kayak gitu”

“Di Indonesia saya tidak pernah punya pintu seperti itu”

“Iya, tidak apa-apa. Pelajaran buat kamu” Melati tertawa ringan. Dia mempersilahkan saya masuk

Saya sampaikan rencana untuk menelpon bagian emergency padanya. Dia setuju. “Itu satu-satunya jalan kamu bisa masuk” kata Mba Melati. “Tapi”, kata dia, “karena ini hari Minggu, pasti biayanya mahal. Bisa sampai 50 euro.”

Saya tidak perduali dengan harga 50 Euro. Yang penting bisa masuk ke rumah. Bacaan kuliah numpuk. Saya bahkan tidak pakai celana dan baju. Tidak ada identitas. Anggap saja 50 Euro sebagai uang buang sial.

Melalui HPnya Mba Melati menolong saya dengan menelpon bagian emergency pengelola apartemen. Hati saya mulai tenang. Kami disuruh menunggu satu jam. Akan ada orang dari pegawai bagian emergency yang menghubungi nomor Mba Melati.

Hampir setengah jam berlalu. Tak ada juga telpon. Mba Melati memberi saya segelas jus apel. Saat itulah saya tahu sedikit latar belakangnya. Sebuah latar belakang yang unik. Dia sekolah di Arab Saudi, namun bukan jurusan Hadis atau Al-Qur’an sebagaimana biasanya kawan-kawan saya di pesantren pelajari. Dia belajar tehnik lingkungan. Kampusnya di Arab menjalin kerjasama dengan Universitas Utrecht. Jadi ketika dia selesai kuliah di Arab, professornya di Utrecht menawarkan kerjaan. Jadilah dia menghuni apartemen dekat apartemen saya tinggal.

Telpon berdering. Saya dan Mba Melati tahu itu telpon dari bagian emergency. Mba Melati terlihat bercakap-cakap. Saya girang tiada tara. Sebentar lagi saya bisa kembali ke kamar saya. Sudah jam 12 siang. Tidak terasa sudah 4 jam saya terjebak dalam hembusan angin dingin di musim panas.

“Zen, kamu harus bayar 100 euro kalau mau bagian emergency datang. Jadi atau mau dibatalkan saja?”

“Apa? S-e-m-b-i-l-a-n  p-u-l-u-h  e-u-r-o.? Terlalu. Itu namanya durjana pemetik bunga. Tidak mau mba. Biar saya nginap saja di rumah kawan”

Dengan kesal dan menahan emosi saya menjawab pertanyaan Mba Melati. Setelah bilang bahwa bagian emergency tidak perlu datang, Mba Melati menghampiri saya yang kembali dirundung kekesalan. Saya masih berusaha untuk tenang.

“Ini hari libur Zen. Jadi mereka meminta uang ekstra. Itu memang peraturannya”

“Iya Mba, tapi saya tidak menyangka semahal itu”. Saya masih kaget.

“Iya saya juga kaget. Terus apa rencamu sekarang?”

“Ngungsi ke Leiden, Mba. Itu opsi yang ada. Saya tidak punya kawan cowok di sini. Tidak mungkin saya numpang di tempat Mba atau tempat cewek lain.”

“Tapi Leiden jauh Zen. Tidak ada opsi lain?”

“Kalau ada tetangga Indonesia cowok dekat sini yang mau berbaik hati untuk saya tumpangi, saya akan ambil piliha itu. Tapi rupanya tidak ada. Terpaksa saya harus ke Leiden”

“Kasihan sekali. Terus kamu ke Leiden bagaimana, hanya akan memakai kolor dan kaus dalam saja?”

“Terpaksa. Persetan kata orang. Yang penting selamat. Saya harus pergi segera Mba, sebelum matahari hilang. Takut keburu dingin. Kan ini musim panas. Orang sini biasa pakai kolor kemana-mana”Saya membesarkan hati saya sendiri.

Mba Melati hanya tersenyum. Dia merasa iba pada saya. Perjalanan dari Utrecht ke Leiden seperi perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Namun hanya ditempuh 40 menit karena menggunakan kereta cepat. Di sana saya punya kawan dekat yang sedang belajar di Universitas Leiden. Dia kawan sejak di pesantren Cidewa. Cucu Surahman namanya. Saya hendak ke tempatnya. Saya bisa meminjam baju dan celananya. Di tempatnya juga saya merasa akan lebih nyaman. Sudah terbiasa bersama sejak pesantren.

Akhirnya saya meninggalkan komplek apartemen yang bentuknya mirip seperti container di tumpuk-tumpuk dengan warna-warni yang unik. Mba Melati member saya pinjaman uang 50 euro untuk ongkos ke Leiden. Dengan hanya memakai kolor krem dan kaus dalam lengan panjang berwarna hitam saya bergegas menuju halte bus terdekat. Tapi di tengah jalan Mba Melati tiba-tiba menyapa saya dari belakang.

“Zen, kamu harus bawa identitas, takut ada apa-apa”

Saya hampir lupa dengan hal yang sangat penting itu. Saya harus berterimakasih banyak padanya. Atas sarannya saya pergi ke kantornya di kampus untuk mengeprint identitas saya yang diunduh dari internet. Saya selalu menyimpan identitas yang sudah di-scan diemail saya. Tips dari profesor saya di Australia ini terbukti manfaatnya sekarang.

Sepanjang jalan dari kantor Mba Melati menuju halte bus saya tidak hentinya meratapi nasib. Betapa sialnya saya hari ini. Hal spele jadi masalah besar. Hanya karena ingin jadi anak rajin dengan bangun pagi dan buang sampah saya jadi terlunta-lunta. Tapi ya sudahlah. Sekarang saya akan ke Leiden dan menginap di sana dua hari. Besok senin adalah hari libur nasional di Belanda. Kalau tidak salah hari raya Pinkster, semacam perayaan hari suci tertentu dalam agama Kristiani. Baru hari Selasa pagi saya akan kembali ke Utrecht.

Sampai di halte bus Botanise Tuinen berbarengan dengan kedatangan bus. Tepat waktu. Saya tidak perlu menunggu lama. Meski ini musim panas, menunggu lama di halte bus dengan hanya mengenakan kolor dan kaus dalam bukanlah pekerjaan menyenangkan.

Karena saya tidak membawa kartu khusu untuk naik bus, saya menyodorkan uang pecahan 50 euro pada supir begitu bus datang. Supir itu terlihat kesal.

“Kamu tidak bisa pakai uang pecahan 50 euro untuk bayar bus yang hanya 2 euro. Saya tidak punya kembaliannya, maaf” Kata supir itu

“Terus bagaimana? Maaf, saya hanya punya uang yang ini, tidak ada lagi” Jawab saya sambil mengiba,

“Tidak bisa. Kamu harus cari pecahan lebih kecil di sana” Supir itu menunjuk komplek pertokoan yang masih tutup. Dia terlihat terburu-buru dikejar waktu.

“Maaf, kamu tidak bisa menumpang bus ini, dan kamu harus turun” Muka supir yang sudah berumur itu mendadak berubah. Dia marah pada saya. Saya tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya.

Dengan lunglai saya terpaksa keluar dari bus itu. Semua penumpang memperhatikan saya. Mungkin mereka merasa aneh, siapa gerangan orang satu ini, hanya pakai kolor dan kaus dalam. Mereka pikir saya orang aneh.

Saat itu saya menjadi orang yang paling sial di dunia. Pagi-pagi sudah terkunci. Kedinginan. Mencari bantuan tidak kunjung juga datang. HP kawan kehabisan pulsa. Giliran pihak emergency siap datang saya disuruh bayar 100 dolar. Sekarang supir bus itu mengusir saya. Terlalu. Betapa nelangsanya hidup di eropa seorang diri, hanya mengenakan kolor dan kaus dalam, tanpa identitas resmi. Sedih.

Saya sekuat tenaga menegarkan diri. Ingin rasanya hari segera berlalu. Ingin segera esok tiba dan semua penderitaan ini berhenti. Saya kembali ke kamar Florence yang jaraknya lumayan jauh. Saya hendak pinjam uang receh padanya untuk naik bus.

Saya harus kembali ke apartemen saya, berjalan ke arah timur menyusuri kompleks kampus, pertokoan dan kantin kampus yang masih tutup serta padang luas diselimuti rumput hijau. Domba-domba di padang rumput itu bernyayi seolah ingin menghibur saya. Kelinci berlarian di semak-semak. Ini sebenarnya sebuah tempat yang sangat unik. Seperti di alam mimpi. Di belakang saya kompleks gedung-gedung modern. Di depan saya, di samping apartemen, padang rumput tempat domba-domba di gembalakan. Kelinci bebas berkeliaran. Burung-burung bernyanyi tiap pagi. Tapi keindahan Uithoft itu benar-benar sirna karena kekalutan dan kesialan yang saya alami pagi ini.

Saya tiba di Leiden pada sore harinya sekitar jam 4. Perut yang dari pagi belum diisi berterik-terik minta pertolongan. Saya bergegas ke retoran Indonesia tak jauh dari Stasiun Central Leiden. Udara semakin dingin. Ditambah perut kosong. Saya berjalan bergegas. Segara ingin sampai di restoran itu.

Saya memesan ikan bumbu cabe dan sayuran. Di restoran itu tidak ada siapa-siapa selain saya dan pelayan restoran, Pak Wahid namanya. Peria asli Makasar yang sudah 30 tahun tinggal di Belanda ini mengajak saya ngobrol. Pertanyaan pertama dia sudah pasti bisa ditebak: “Kok cuma pakai kolor saja, habis olah raga ya?”

“Iya, Pak, ingin olahraga mumpung libur. Sesekali olahraga”. Tentu saya berbohong. Saya tidak ingin dia tahu kecita konyol yang baru saja saya alami.

 Meskipun hanya menggunakan kolor dan kaus dalam, saya selamat sampai apartemen kawan. Dengan menggigil saya masuk ke kamarnya. Dia telah siap mendengarkan cerita konyol saya hari itu

Leave a Reply

%d bloggers like this: