Tatapan dari Masa Lalu

2030

Aku segera bergegas mengambil sepeda yang terparkir di garasi mobil, di samping mobil yang sekarang lebih banyak meluangkan waktu bersantai di tempatnya. Pagi yang indah dengan sedikit awan dan langit biru. Pucuk-pucuk daun bambu pada pohonnya yang seperti sedang ruku masih menyisakan sedikit embun. Pagi sudah siap menghadapi semua kemungkinan hidup

Aku mengayuh sepeda ke arah utara, menyusuri jalan sepeda yang baru saja rampung beberapa bulan lalu. Cat marka penanda jalan masih terlihat putih, menyisakan garis-garis guratan kuas. Jalur itu membentang sepanjang sungai Angke dari daerah Vila Pamulang, pemukiman tempatku tinggal dan tersambung dengan jalan raya utama yang menghubungkan Pamulang dengan Serpong, kota mandiri di selatan Jakarta. Jalur sepeda itu juga ramai dilalui orang-orang yang berolahraga di pagi hari. Jalur itu melewati beberapa taman kecil yang biasanya ramai di sore hari oleh anak-anak yang sibuk bermain, berkejaran atau sekedar bermain ayunan. Air sungai mengalir jernih diantara rimbun pepohonan dan rumput liar.

Tak perlu lama aku tiba di jalan besar. Aku berbelok ke kanan, ke arah pusat kota Pamulang. Aku sudah bisa melihat bangunan stasiun kereta bawah tanah yang baru saja rampung beberapa tahun lalu. Papan reklame produk minuman mentereng di atas bangunan stasiun, menyambut dengan ramah dan penuh bujuk-rayu. Reklame itu seolah ingin bilang: hanya dengan meminumnya perjalanan kereta menjadi nyaman. Sebuah bualan belaka tentunya, karena semua minuman bersoda hanya membuat timbunan lemak semakin banyak.

Aku memarkirkan sepeda, mengikatnya dengan rantai dan menguncinya. Parkiran sepeda itu mirip dengan parkiran-parkiran sepeda di stasiun kereta di Eropa. Besi-besi penyangga roda untuk menambatkan sepeda agar sepeda tidak jatuh, memanjang sepanjang koridor. Biasanya ada ratusan, mungkin ribuan sepeda terparkir setiap hari. Ketika aku parkir, baru beberapa puluh saja.  Sekarang orang lebih senang bepergian naik sepeda dan kereta. Orang-orang sadar akan kesehatan dan pentingnya angkutan masal. Setiap orang punya tanggungjawab agar kotanya nyaman. Salah satunya dengan berhenti membawa kendaraan sendiri. Tentu itu tak lepas dari adanya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Aku bergegas ke tempat pembelian tiket. Tempatnya menyempil di antara kios-kios makanan dan penjual koran. Dulu tempat di seberang Universitas Pamulang itu sesak dan kumuh. Sekarang menjadi stasiun kereta bawah tanah yang rapi dan tertata. Semuanya berubah karenan pemimpin yang berani, jujur dan bersih. Selama bertahun-tahun sebelumnya, Banten, provinsi tetangga Jakarta, diurus oleh orang-orang yang menjadikan ketakutan dan golok sebagai alat untuk memeras dan memerintah. Semuanya segera berubah setelah polisi dan komisi pemberantasan korupsi berani menangkap orang-orang yang lebih mirip dengan bandit itu. Dan pemimpin baru yang berpenampilan lucu namun berani dan jujur menjadi gubernur di Banten. Sebelumnya dia adalah bupati yang sangat berhasil di Bandung. Keberuntungan dan kepercayaan membawanya ke Banten. Dan masyarakat senang. Harapan mereka tumbuh lagi. Masyarakat masih punya harapan dan sedikit keyakinan bahwa tidak semua politisi adalah bandit yang rakus. Kereta bawah tanah dengan stasiun yang rapih dan nyaman itu adalah salah satu buktinya.

Koran-koran ramai memberitakan ketika pertama kali kereta bawah tanah ini mulai beroperasi dua tahun lalu. Jalur kereta yang awalnya hanya akan di buat di Jakarta, akhirnya dibuat lebih panjang. Menurut berita, Gubernur Banten itu yang memperjuangkannya mati-matian. Argumennya juga masuk akal. Meski bekerja di Jakarta, sebagian besar orang-orang itu tinggal di daerah Ciputat, Pamulang, Serpong, dan Tangerang yang berada di bawah administrasinya. Makanya dia ngotot. Dan berhasil. Donor dari Jepang menyetujuinya dan akhirnya kereta cepat ajaib itu tiba di pinggiran Jakarta.

Mataku segera tertuju pada papan elektrik di atas rel untuk mengecek berapa lama lagi kereta akan tiba. 3 menit lagi. Semoga tidak terlambat. Kereta canggih harus dikelola dengan canggih juga. Sepeti biasa, dugaanku benar. Kereta meluncur nyaris dalam senyap dan tak bersuara. Penuh namun tidak sesak. Saya segera loncat ke dalam gerbong. Pintu kereta yang dipenuhi gambar iklan produk makanan tak lama terbuka dan segera mengunci. Pengumuman dalam bahasa Indonesia dan Inggris terdengar dari ruang masinis memberitahu kereta akan segera berangkat, sekaligus memberitahu stasiun berikutnya.

Di dalam kereta orang-orang sibuk dengan hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang asik mendengarkan musik, sementara yang lain membaca koran pagi. Aku harus berdiri bergelantungan. Tapi tidak apa-apa. Kereta itu nyaman dan tidak terlalu sesak. Lagi pula aku hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di Stasiun Besar Blok M, stasiun dekat kantorku.

Seorang perempuan yang sepertinya datang dari alam mimpi mengagetkanku. Ia berdiri di sampingku, terhalang dua penumpang lain yang juga berdiri. Tadi aku sekilas melihatnya namun samar-samar. Berkerudung coklat tua bermotif bunga dan berkacamata. Ah, kacamata itu, aku masih ingat. Jikapun ia sudah beberapa kali ganti kacamata, ia akan tetap memakai kacamata dengan merk, ukuran dan model yang sama. Semua temannya, termasuk aku, dahulu bilang ia lebih cantik dengan kacamata itu. Ia pernah sekali mencoba model lain. Tapi mukanya malah terlihat seperti lebih tua. Juga warna kesukaannya yang tak juga berubah: coklat tua

Untuk sementara aku tak terlalu yakin. Aku dengar ia tinggal di Surabaya. Aku tahu dari kawannya. Aku hanya bisa mengetahuinya dari orang lain perihal keberadaannya. Aku telah mencoba mencari tahu sendiri, namun selalu gagal. Ia tak pernah mengizinkanku hadir kembali dalam kehidupannya. Aku juga tak kunjung yakin bahwa itu memang dia sampai kereta tiba di stasiun besar Ciputat. Stasiun bawah tanah itu persis berada di bawah kampus Universitas Islam Negeri Ciputat, kampus ketika aku pertama kali mengenalnya. Kampus itu sekarang hampir sepenuhnya berubah. Sekarang ada ruang bawah tanah di mana stasiun kereta cepat dan pusat pertokoan dan kafe berada.

Terlambat. Ketika aku yakin itu adalah dia, perempuan berkerudung coklat dengan kacamata itu bergegas keluar tanpa menoleh kebelakang. Ia sepertinya tahu aku berdiri tak jauh darinya tetapi seolah tak peduli. Dan mungkin tak perlu lagi ia peduli. Aku tak jadi menyapanya dan hanya melongo sambil melepas sosoknya menyelinap diantara penumbang lain yang hendak turun. Aku awasi betul sosoknya sampai ia kelaur kereta.

Sesaat sebelum kereta berangkat, ia tiba-tiba berbalik. Kekuatan maha dahsyat memaksanya mebalikan badan dan melemparkan pandangan kepada mataku yang laju dicuri kereta. Pandangan yang begitu akrab namun jauh. Dalam dan penuh emosi. Juga kenangan. Mukanya penuh permakluman pada masa lalu. Sedikit senyumnya mekar. Senyum yang lega tapi sedikit hambar. Senyum yang mungkin telah tersimpang selama lebih dari 20 tahun.

Aku habiskan sisa perjalanku pagi itu menuju kantor dengan lamunan, dengan mengunjungi kembali museum hati dan arsip-arsip berdebu di perpustakaan hatiku. Kereta melesat ke arah utara selepas stasiun Besar Ciputat yang selalu ramai oleh mahasiswa. Aku tak lagi peduli dengan waktu sampai kakiku melangkah keluar dari stasiun Blok M. Langkahku seperti zombie karena berat oleh lamunan dan gumpalan perasaan. Lega, sedih, lucu, senang. Sebuah perasaan yang pada dasarnya tidak mungkin digambarkan. Perasaan itu muncul setelah sepasang mata bola meliriku dari masa lalu.

Ia Nirmala. Nirmala yang pernah mengisi hidupku di masa lalu. Semoga esok aku melihatnya lagi di stasiun itu.

Leave a Reply