Novel saya (akan) terbit!

alhambra-tree.jpgSeperti matahari yang selalu terbit, sebentar lagi novel saya akan terbit dan siap menyinari hatimu! Ini bukan bualan. Sekarang sedang dalam proses editing. Bunyan Bentang Pustaka (imprint Bentang, Grup Mizan) sedang memproses penerbitan buku saya.

Alhamdulillah. Setelah ditolak beberapa kali (tepatnya sih cuma 2 kali :D) akhirnya naskah saya akan ada di atas meja. Akhirnya ada juga lagu yang bisa saya nyanyikan.

Berisi petualangan haru biru hidup bersama keluarga di negeri Kanguru. Juga petualangan mengarungi daratan Eropa. Sang Tokoh adalah petualang sejati yang lantas sadar mutiara hidup berada di bumi tempatnya berpijak! Petualangan itu dimulai ketika Sang Tokoh belajar di Universitas Melbourne, membawa serta keluarga. Menemukan duka, namun lebih banyak bahagia. Lantas pergi ke Eropa untuk mengejar tempat penuh misteri yang sejak kecil melekat di benaknya: Granada dan Alhambra

Apa judulnya? Tunggu saja tanggal mainnya! Sekarang mohon doa dari semuanya semoga proses editing dan finishingnya lancar.

Kenapa Disalah Artikan?

Liberalisme menjadi kata yang sering disalahartikan dan di curigai. Pengalaman saya mengisi banyak training di HMI memberikan gambaran umum bagaimana masyarakat luas mensalahartikan konsep liberalisme. Kalau saya bertanya pada salah seorang peserta training untuk membayangkan apakah muncul kesan positif atau negatif ketika saya mengucapkan kata “liberal”, hampir 70 persen peserta menangkap kesan negatif dari ungkapan kata itu

Mereka umumnya begitu saja akan mengasosiasikan kata liberalisme atau liberal dengan ‘Jaringan Islam Liberal’. Mereka juga biasanya akan dengan enteng menjawab: liberalisme faham dari barat yang merusa umat Islam. Yang lain akan menjawab, ketika saya tanya apa itu liberalisme, dengan jawaban sederhana: faham kebebasan tanpa batas. Tak jarang para peserta training mengungkapkan bahwa liberalisme itu adalah faham kebebasan tanpa batas; dimana orang dengan bebas berganti-ganti pasangan, seks bebas, ciuman disembarang tempat dan lain-lain. Peserta yang sedikit melek informasi dan mau sedikit baca buku akan menjawab dengan lebih ilmiah: liberalisme adalah ideologi pasar bebas, bermula dari Adam Smith dan menginginkan hilangnya intervensi negara dalam mengatur pasar.

Yang terlibat dialog dengan saya itu adalah mahasiswa, rata-rata semester 1 atau 3. Jika mahasiswanya saja memberikan jawaban yang kurang lebih kabur terhadap pertanyaan apa itu liberalisme, masyarakat ‘awam’ pada umumnya pasti kurang lebih sama dengan jawaban mahasiswa-mahasiswa di atas.

Kenapa konsep yang satu ini banyak disalahartikan, bahakan di haramkan dan dimusuhi oleh umat Islam? Sampai-sampai MUI perlu mengeluarkan fatwa haramnya Liberalisme di Indonesia saking khawatirnya para kyai itu terhadap Liberalisme.

Kita bisa mencari akar ketakutan dan kecurigaan masyarakat Islam di Indonesia terhadap Liberalisme dari dua sudut pandang. Pertama, dari segi internal  Yang dimaksud sumber internal phobia liberalisme adalah kebijakan Regim-regim di Indonesia yang memposisikan liberalisme sebagai ideologi yang patut dicurigai, untuk tidak mengatakan dilarang. Soekarno mengsosiasikan liberalisme dengan barat yang penjajah, yang kapitalistik. Kapitalisme adalah adik kandung liberalisme. Kapitalisme menyebabkan munculnya kolonialisme. Kenapa orang barat menjajah Asia, Afrika dan Amerika Latin? Mereka sedang mencari tempat bahan baku murah untuk menghidupkan suluh kapitalisme di Eropa. Sekaligus mereka mencari pasar baru bagi barang yang telah berlebih utuk dijual di Eropa. Kolonialisme, dengan demikian, adalah konsekwensi dari kapitalisme dan kapitalisme muncul dalam kultur masyarakat liberal. Berbaik hati pada liberlisme sama dengan berbaik hati pada penajah.

Kedekatan Soekarno pada ideologi Marxisme dan blok Timur yang dipimpin Soviet adalah juga alasan lain kenapa negara dengan sengaja ‘mencurigai’ dan phobia terhadap liberalisme. Sampai tahun 70-an, perang ideologi dua blok memaksa hampir semua negara untuk berpihak, sekalipun Indonesia dengan beberapa negara lain menggagas berdirinya Non-Blok, pada blok Barat atau pada Blok Timur. Blok Barat menganut ideologi kapitalisme liberal, sementara blok timur menganut Sosialisme-Marxsis. Sebagian besar negara-negara pasca-kolonial (negara-negara yang baru saja merdeka dari penjajahan) lebih cenderung bergabung dengan blok Timur yang dipimpin Soviet. Sosialisme adalah simbol perlawanan, sementara liberlisme adalah simbol penindasan.

Ketika regim Sukarno tumbang, Suharto mencurigai liberalisme dengan alasan lain. Dia secara ideologi lebih dekat dengan liberlisme-kapitalisme Barat. Usaha kudeta Partai Komunis  Indonesia tahun 1965 menyebabkan ideologi komunis-sosialis-Marxsis diharamkan di Indonesia. Meskipun Suharto mengahramkan komunisme dan Marxisme, tidak serta merta ini berarti dia mengadopsi lawan ideologi tersebut, yakni kapitalisme liberal. Meskipun secara praktis Suharto mulai menerapkan prinsip-prinsip pasar terbuka, secara formal-jargonis dia tetap menganggap liberalisme sebagai tamu asing dan bukan bagian dari budaya Indoensia. Suharto mengharamkan komunisme-Marxisme dan ‘membid’ahkan’ liberalisme dengan tujuan mengangkat ideologi murni bangsa Indonesia: Pancasila.

Dalam rangka menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi bangsa itulah Suharto mencurigai (secara jargonis) ideologi liberal. Pancasila sering digambarkan sebagai ideologi murni hasil renungan pendiri bangsa, Sukarno dan Muhammad Yamin, yang paling cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila adalah hasil perasan aspek positif ideologi sosialisme dan aspek positif ideologi liberalisme. Pancasila semacam ideologi hybrida, ideologi tengah, ideologi bukan Barat dan bukan Timur.Tentu saja semua orang tahu bahwa kenapa Suharto mempromosikan Pancasila bukan semata-mata karena dia yakin bahwa Pancasila yang paling benar dan ideologi lain salah. Ada motif politik dibalik itu: melanggengkan kekuasaan. Pancasila menjadi ideologi yang penafsirannya sepenuhnya tergantung pada selera dia. Untuk itu dia secara masif menggalakan P4. P4 adalah mekanisme pengawasan regim Suharto untuk memastikan bahwa hanya penafsiran versi penguasalah yang benar

Itulah kurang lebih penyebab internal kenapa masyarakat Indonesia curiga dan memusuhi atau mensalahartikan liberalisme. Aspek eksternal penyebab kebencian atau ketakutan terhadap liberalisme sudah sedikit disinggung sedikit di atas. bahwa umat Islam secara umum, bukan hanya di Indonesia, berkenalan dengan liberalisme melalui momen yang menyakitkan: kolonialisme.

Kolonialisme adalah peristiwa di mana umat Islam benar-benar kehilangan harga dirinya. Ini adalah masa dimana umat Islam yang selama berabad-abad menjadi pusat dunia, menguasai separuh bagian dunia, dari Eropa Timur, Afrika, Timur Tengah sampai Asia Tenggara, harus mencium kaki kompeni dan menir-menir penjajah. Harapan satu-satunya kejayaan Islam, kekhalifahan Turki Utsmani, hancur lebih berantakan. Tahun 1924 secara resmi kekhalifahan dibubarkan. Bukan oleh penajajah, tapi oleh orang Turki sendiri, Kemal Attaturk.

Keberpihakan Turki dalam perang dunia kepada Jerman semakin memperburuk keadaan. Sekarang semua daerah kekuasaan Turki di Timur Tengah menjadi daerah tak bertuan. Saudi Arabia, setelah usaha memerdekakan dirinya digagalkan pada tahun 1900an oleh pasukan Turki, pada tahun 1940an, atas bantuan Inggris akhirnya menyatakan merdeka. Keluarga Ibnu Saud, ditopang ideologi Wahabi dan imperialisme Inggris menjadi pengasa di dataran Arabia itu. Daerah lain seperti Libanon dan Palestin diambil alih oleh Inggris. Inggris menjadi protektor daerah-daerah yang dulunya merupakan daerah kekuasaan Turki Usmani tersebut.

Perisiwa ditahun-tahun itu hanyalah puncak dari proses kolonisasi bangsa-bangsa barat ke dunia Islam. Napoleon datang ke Mesir tahun 1789. Belanda mendarat di Malaka tahun 1602 . Orang-orang Inggris dan Perancis berebut tanah jajahan di Afrika. Orang-orang hitam, yang sebagian diataranya dari negeri muslim, jadi budak belian. Mereka dikirim ke Amerika dan ke Eropa untuk jadi gundal tuan-tuan menir bule.

Hampir tak sejengkal tanah Islam pun yang tak dianeksasi oleh kekuasaan Barat. Sampai tahun 1914, 85 persen permukaan bumi di kuasai penjajah eropa. Karena massifnya keterpurukan umat Islam itu, para pemikir muslim bertanya: apa yang salah dengan Islam? Dari pertanyaan itu, kelompok pemikir muslim terbelah pada dua kelompok. Pertama, kelompok pemikir muslim yang menyalahkan semua keterpurukan ini pada pihak luar. Kenapa umat Islam menderita, terjajah, miskin dan sengsara adalah karena orang-orang Eropa dengan sengaja menghancurkan kita. Mereka dianggap sebagai pasukan Salibis yang sedang meneruskan misi perang Salib untuk menghancurkan setiap jengkal tanah Islam. Slogan “gold, glory and gospel” yang menjiwai kolonialisme dianggap sebagai bukti bahwa memang penjajah Eropa itu dengan sengaja ingin menghancurkan Islam sembari menyebarkan gospel, Kristiani, di tanah-tanah Islam.

Kelompok kedua melihat penyebab umat Islam terpuruk, diajajah, miskin dan sengsara karena umat Islam sendiri yang bodoh dan tidak mau mengkaji Al-qur’an. Kesalahannya bukan karena orang Eropa jahat, tetapu karena umat Islam lemah.Kalaupun orang Eropa jahat, sepanjang umat Islam kuat, orang-orang Eropa itu tak akan berani datang menjajah kita. Islam terpuruk karena uamt Islam jauh dari ruh Islam itu sendiri.

Kelompok yang kedua ini juga yakin kenapa orang-orang Eropa maju adalah karena mereka menerapkan resep umat Islam. Orang Eropa ‘mencuri’ resep dasar kemajuan dan modernisme dari Islam melalui pintu Spayol. Ketika Granda, Seville dan Madrid menjadi pusat peradaban dunia, sarjana-sarjana dari penjuru Eropa datang belajar pada sarjana-sarjana Muslim.(jelaskan lebih detail).Dari sinilah pencerahan Eropa dimulai. dari pencerahan itu Eropa tumbuh menjadi kekuatan dunia baru yang menggeser Islam.

Karena itu, menurut kelompok kedua, kita tidak perlu malu-malu belajar pada kesuskesan Eropa. Ilmu-ilmu Barat modern perlu dikuasai. Hanya dengan menguasai ilmu, teknik dan filsafat Barat modern umat Islam bisa kembali mendapatkan kejayaan. Pendapat ini bertentang dengan pendapat kelompok pertama. Kelompok pertama yakin bahwa hanya dengan kembali pada tradisi Islam, kembali pada Al-qur’an umat Islam bisa jaya. Mempelajari tradisi ilmu dan filsafat Barat hanya akan membuat umat Islam terbaratkan dan tercerabut dari akar islaminya.

Umat Islam Indonesia kurang lebih juga seperti itu dalam menanggapi tradisi yang datang dari Barat. Liberlisme, sebagai bagian dari tradisi modernisme Barat, dianggap sebagian kelompok sebagai racun buat umat Islam. Ini rupanya reaksi umum. Namun demikian, ada sebagian kelompok yang menganggap bahwa liberalisme perlu dipelajari, diketahui dan difahami secara benar. Jangan sampai trauma sejarah kolonialisme dan kooptasi regim menyebabkan kita kabur dan keliru memahami konsep yang satu ini. Saya berdiri pada posisi yang kedua ini.

Karena itu, saya merasa perlu memaparkan dengan jernih, dengan bahasa yang mudah apa itu liberalisme.