Cerita Tentang Kelahiran Amartya 2

Amartya menghiburku dengan tangisan. Aku terpaksa harus berhenti menulis. Makanya aku buat tulisan ini berseri

Setelah aku mengazani, Ivon sibuk membereskan semua alat-alat yang sudah dipakai melahirkan. Seorang dokter yang lain datang melihat kondisi istriku. Ia datang membawa timbangan bayi. Selang sekitar satu jam dari persalinan, Amartya diangkat dari dada ibunya. Kini saatnya bocah mungil itu di timbang. Beratnya 3,118 kilogram. Ideal, kata dokter. Normalnya antara 2,5 sampai 3,5. Pasnya 3 kilo. Panjangnya 50 senti meter. Setelah Amartya ditimbang, ibunya, istriku, disuruh bangun dari tempat tidur. Dokter memintanya mandi dan sedikit jalan-jalan. Akutidak tega. Aku tahu istriku masih kelelahan setelah berjuang lebih dari 10 jam menahan rasa sakit dan melahirkan. Tapi justru itu bagus, kata dokter. Membuat otot-otot sedikit longgar. Istriku menuruti. Dengan susah payah dia bangun dan tertatih-tatih menuju kamar mandi.

Dokter juga meminta istriku buang air kecil sebelum kami diperbolehkan pindah ke ruang istrirahat di lantai 4. Setelah berhasil kencing, kami bertiga, diantar Ivon, bergegas menuju lantai 4 RWH. Amartya sudah di bedong dan diletakan di tempatnya. Istriku di suruh berjalan sambil berpegangan pada kereta kecil tempat Amartya diletakan.

Aku mengira akan ditempatkan di kamar barak seperti aku bayangkan jika istriku melahirkan di rumah sakit 45 Kuningan, di kampungku. Ternyata tidak. Aku diberi kamar 48. Kamar itu sekelas ruang VIP di rumah sakit bagus di Jakarta. kamar itu khusus disipakan buat kami. Ada sebuah tv, lemari, kereta bayi, meja kecil, bathtube dan kamar mandi. Kasurnya bisa di set otomatis. Kalau istriku merasa kecapaian terlentang, dia hanya tinggal menekan tombol panah ke atas di samping ranjangnya. Ranjang itu akan bergerak sendiri sesuai pesanan. Juga ada beberapa tombol di samping ranjangnya. Tombol hijau untuk memanggil perawat, tombol merah untuk kepentingan darurat. Ada sebuah remot kontrol untuk mengatur saluran tv. Pokoknya supppeerrr…

Ivon menyerahkan kami pada bidan yang bertugas di ruangan itu. Ia menyerahkan sebundel dokumen. Perawat itu dengan sigap menerima. Ia mengecek gelang identitas di kaki Amartya dan kaki istriku, untuk mencocokan kodenya. Khawatir anaknya tertukar. Ia juga menghitung jari kaki dan tangan Amartya, apakah lengkap ada 5. Aku lupa nama bidan perawat di kamar 48 yang pertama kali menerima kami. Namun standar di RWH, setiap perawat harus memperkenalkan dirinya sebelum dia menangani kita. Sampai kapan dia akan membantu kami. “Jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan” selalu kata itu diucapkan oleh setiap bidan perawat, dengan seutas senyum menghibur.

Aku sedikit kaget dengan kamar yang aku dapatkan. Kaget karena aku membayarnya hanya dengan sebuah kartu asuransi dan sebuah kode: 644724. Aku membayangkan bagaimana jika aku melahiran di Jakarta. Dengan fasilitas seperti ini mungkin aku harus mengeluarkan uang sekitar, minimal, 5 jutaan. Ini aku mendapatkannya dengan gratis. Memang aku membayar asuransi buat keluarga sebelum istriku diperbolehkan masuk australi. Tapi tetap ini jauh lebih murah. Kalau aku tidak mempunyai asuransi, aku harus membayar sekitar 3000 dolar Australi. Alamak….bisa bangkrut aku!

Bidan perawat membacakan laporan singkat istriku sejak dia datang untuk melahirkan. “U-I-S, datang jam 7 pagi, melahirkan jam 9.55; normal. Obat yang dikonsumsi: Ostelin (vitamin D) dan Ferro Grad Ion; alergi cuaca (eczema)”. “Ya”, jawabku singkat. “Istrimu luar biasa, jarang ada yang datang setelah bukaan 10 centi”, puji suster yang menerimaku di ruang 48.

Pelayanan yang diberikan luar biasa. Semua bidan melayani dengan ramah dan senyuman. Mereka bahkan menerangkan sesuatu dengan detail jika aku bertanya singkat. Aku bertanya pada hari ke berapa asi bisa keluar. Seorang perawat, lagi-lagi aku lupa namanya, menerangkan bahwa kolostrum yang ke luar setelah ibu melahirkan sangat bagus buat bayi. Bayi akan bertahan dengan asupan yang sangat sedikit itu. Kolostrum banyak mengandung vitamin dan juga gula. Bagus buat imunitas dan menahan rasa lapar bayi sampai asinya keluar. Kita tidak perlu khawatirir. Paling-paling bayi banyak menangis karena lapar. Dia harus dibiasakan mendapat makanan dengan berusaha: menyedot susu dari ibunya. Dalam rahim dia dapat makanan secara otomatis. Semuanya butuh adaptasi.

Setiap satu jam suhu badan bayi di cek. Si ibu juga di cek kondisi rahimnya dengan cara dipegang-pegang perutnya oleh perawat. Setiap mau makan aku ditawari menu seperti di restoran. Kami disuruh memilih mau makan apa. Tersedia pilihan dari masakan Italia sampai “Halal menu” khas RWH. Lagi-lagi aku merasa mendapatkan terlalu banyak pelayanan dari yang aku bayangkan.

Kami berhak tinggal disana selama 48 jam. Boleh juga pulang dulun ke rumah dengan permintaan dari pasien dan persetujuan dokter. Istriku sempat minta pulang di hari ke dua. Alasannya karena rumah sakit tidak mengizinkan aku menemani tidur di kamar itu. Peraturan rumah sakit mengharuskanku pulang jam 10 malam dari rumah sakit dan tidak bisa menemani istriku kerepotan semalaman mengurus Amartya yang mulai rewel. Alasan rumah sakit cukup masuk akal. Kata bidan, aku butuh istirahat, istriku sudah ada perwata yang akan membantunya. Tapi tetap saja istriku kerepotan. Mungkin karena dia sungkan memijit tombol hijau untuk memanggil bidan datang membantunya. Mungkin dia malas memanggil bidan karena harus berfikir keras mencari apa bahasa Inggrisnya untuk bilang:”kenapa anakku terus menangis”, atau “bagaimana mengetahui anakku sudah kenyang atau belum?” Namun atas pertimbangan bidan, kami tetap bertahan selama dua hari di kamar 48 untuk beristirahat. Aku juga bisa menemaninya di malam ke dua dengan izin dari bidan.

Ceritera di kamar itu hampir berakhir. Tinggal kurang dari 4 jam kami harus pulang. Saat itu pukul 09.00 pagi tanggal 3 Agustus. Aku kira semuanya sudah beres. Ternyata tidak. Istriku masih dicek lagi kesehatannta. Mendapatkan injeksi anti rubela. Mendapatkan pengarahan dari ahli, ah entah ahli apa namanya, tentang senam pasca melahirkan, olahraga otot vagina, cara mengembalikan bentuk perut dan lain-lain. Aku juga ditraining cara memandikan Amartya; diberitahu bagaimana mengetahui dia sudah cukup makan; apa yang harus dilakukan sepulang dari rumah sakit dan lain-lain. Tapi yang paling menarik adalah sesi foto-foto. Tiba-tiba seorang ibu datang membawa kamera. Ia meminta izin pada kami untuk memfoto Amartya. Dengan beberapa fose anakku di foto. Setelah itu si ibu memberiku brosur dan bilang bahwa foto-foto Amartya bisa dilihat online tanggal 30. Foto akan tetap rahasia, anda harus masuk dengan kode untuk melihat fotonya. “Jika berminat dengan foto-foto yang telah kami buat, anda tinggal membelinya secara online, kalau tidak berminat juga tidak masalah”, kata ibu itu dengan senyum. Subhanallah, inilah mungkin sebentuk kehidupan modern yang beradab.

Jam 1 siang aku dijemput kawan baikku, Pak Dumas. Amartya dimasukan ke kapsul bayi yang sebulan sebelumnya sudah aku siapkan. Di Australia, jika kita membawa bayi tanpa menggunakan kapsul, kita bisa kena denda karena melanggar hak asasi anak. Subhanallah, inilah sebentuk kehidupan modern yang beradab!

Kami meninggalkan rumah sakit dengan perasaan penuh suka cita. Amartya sehat, istriku juga. Kami tidak membayar seperpun. Aku hanya membeli vitamin seharga 10 dolar. Itupun sebenarnya aku bisa saja tidak membelinya. Di tasku aku simpan formulir sertifikat kelahiran Amartya dan buku biru untuk riwayat perawatannya sampai dia berusia 6 tahun. Amartya, menurut undang-undang Astralia, adalah warga negara Australia. Pemerintah Victoria juga akan memberikannya sertifikat dan akta kelahiran. Kata kawanku, ketika kelak Amartya berusia 18 tahun, dia punya pilihan untuk menjadi warga negara Australia atau Indonesia. Meski aku terkagum-kagum dengan semua pelayanannya, dengan peradabannya, aku akan menyuruhnya tetap menjadi orang Indonesia.

Saudara-saudara sekalin, demikian cerita ini dibuat agar menjadi maklum.

Decarle 68, 5 dan 6 Agustus 2009.

Akhirnya….


Alhamdulillah. Akhirnya lulus juga untuk sekolah ke Ausi. Ini adalah calon kampus yang akan jadi penjara saya selama dua tahun. Melbourne University Law School adalah kampus terbaik untuk studi hukum di Australia.

IN MOMORIAM CAK NUR

(Tulisan ini aku buat tanggal 31 Agustus 2005, dua hari setelah kematian Cak Nur dalam sebuah blocknote. Aku merasa harus memindahkannya ke komputer)
Dua hari lalu Cak Nur meninggalkan kita. Kepergiannya menyebabkan tetesan air mata tumpah di mana-mana. Cak Nur meninggal dunia pada saat yang tidak tepat: saat BBM melambung tinggi mencekik rakyat; saat korupsi semakin tak kunjung juga bisa diberantas; saat kondisi semakin terpuruk. Seandainya saya bisa bertatap muka dengan Tuhan, saya akan usul padanya agar catatan takdir dirubah: umur Cak Nur ditambah. Atau seandainya saya menjadi Sun Go Kong, sang monyet nakal dari legenda Cina yang datang ke tempat takdir dibuat dan kemudian mengacak-ngacak semaunya, saya pasti akan mengganti takdir Cak Nur agar hidup lebih lama agar dia bisa terus memberikan masukan untuk perbaikan bangsa. Tapi itu semua hanyalah utopia. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menerima kenyataan: Cak Nur dipanggil Kekasihnya. Dia tidak mati. Seperti sering diungkapkannya pada kita sebelum dia pergi. Dia hidup di alam lain dengan lebih kekal dan lebih bebas.
Saya merasa begitu dekat dengan Cak Nur. Kedekatan itu terbentuk satu arah tentunya: aku yang dekat padanya, dia tentu tidak. Aku merasa dekat karena aku begitu dipengaruhi pemikiran dan ide-idenya. Semanjak kedatanganku ke Ciputat sekitar enam tahun lalu, bayang-bayang Nurcholish Madjid terus membayangi. Awalnya aku penasaran karena namanya sering disebut-sebut oleh senior-senoirku, terlebih setelah aku bergabung di HMI. Rasa penasaran itu kemudian membawaku menemui pemikirannya melalui sejumlah buku. Mengagetkan dan menantang, itulah kesan pertamaku dulu membaca sejumlah karyanya. Bagi seorang yang baru keluar dari kungkunan dunia pesantren, membaca pemikiran Cak Nur serasa terlibat dalam sikap subversif. Aku diajar olehnya bagaimana menggugat pikiranku sendiri yang selama di pesantren terlalu doktriner dan normatif. Kata-kata “sekuler” yang semenjak dipesantren menggelayut di kepalaku dengan penuh kecurigaan dan sedikit ketakutan, tiba-tiba dibela Cak Nur. Itulah perkenalan awalku dengannya. Mengagetkan dan penuh tanda tanya.
Pertemuanku secara peribadi dengan beliau hanya sekali, sekitar dua tahun silam. Saat itu aku menjadi ketua pelaksanaan Ahmad Wahib Award, lomba esai yang kubuat (ketika menjadi Kabid PA HMI Cab. Ciputat) dengan Ahmad Sahal (seniorku di Formaci yang saat itu ditunjuk Rizal Mallarangeng menjadi deputi direktur Freedom Institute) untuk mahasiswa seluruh Indonesia dan berhadiah 30 juta—hadiah yang saat itu dianggap tidak wajar karena terlalu besar. Untuk kepantingan lomba itu, aku, Sahal, Mas Hamid dan Mas Ulil, juga pak Rizal, datang kerumahnya di Cibubur. Kunjungan itu adalah rangkaian kunjungan ke sejumlah tokoh yang pernah aktif berinteraksi dengan mendiang Wahib semasa hidupnya. Aku yang mengususlkan kunjungan ke rumah Cak Nur saat itu ke Mas Sahal. Aku merasa, Cak Nur harus ditemui untuk dimintai pendapatnya, juga sekaligus sowan dan meminta cerita tentang persahabatannya dengan Wahib.
Rombongan dari Freedom datang dirumahnya yang sangat sederhana di kawasan perumahan di Cibubur menjelang Isya. Aku sedikit kaget karena tidak menyangka rumah Cak Nur, tokoh nasional yang disegani oleh banyak orang, begitu sederhana. Pas kami datang, kebetulan di rumahnya juga telah hadir sejumlah tokoh lintas agama yang hadir untuk sekedar berslaturahmi dan meminta pendapat Cak Nur tentang kegiatannya. Juga kebetulan saat itu ada Mas Djohan Efendi yang memang konsern terhadap isu kerukunan umat beragama dan aktif di ICRP. Aku tahu Djohan juga adalah kawan dekat Wahib, bahkan mungkin lebih akrab ketimbang Cak Nur. Djohan semasa menjadi aktivis HMI dulu tinggal di Yogya bersama Wahib. Seantara Cak Nur tinggal beberapa ratus kilo meter dari Wahib karena ia tinggal di Ciputat. Obrolan malam itu tentu akan berjalan dengan hangat dan menarik.
Saat itu aku baru semester delapan. Masih sangat muda. Dan karena itu dalam pertemuan itu lebih banyak diam. Aku dikenalkan oleh Sahal setelah dia basa-basi pada Cak Nur tentang lomba esai AWA. Dalam pertemuan itu Cak Nur bercerita pengalaman pribadinya dengan Wahib. Ia berterus terang bahwa dirinya tidak terlalu akrab secara persolanl dengan Wahib. Alasannya, kata dia, karena mereka beraktifitas di dua tempat yang lumayan jauh. Cak Nur di Ciputat dan Wahib di Yogya. Meskipun begitu, kata dia, ia sering bertemu dan terlibat diskusi hebat dengan Wahib pada momen perkaderan di HMI. Terlebih setelah Cak Nur menjadi ketua PB HMI dan harus lebih banyak berkunjung ke daerah-daerah. Orang seperti Dawam dan Solarso sebenarnya lebih banyak berinteraksi dengan Wahib, kata Cak Nur. Tetapi terlepas dari semua hal itu, Cak Nur merasa sangat senang dan mendukung kegiatan nasional itu.
Informasiku mengenai keterlibatan Cak Nur dan Wahib justru lebih banyak aku dapatkan dari buku Catatan Harian Ahmad Wahib yang diterbitkan LP3ES. Wahib sering terlibat polemik dengan Cak Nur dalam perdebatan-perdebatan pada forum perkaderan HMI. Keduannya sering berbeda pendapat. Mungkin mereka berbeda pendapat bukan hanya karena secara subtantif mereka berbeda pandangan, tetapi ego gerbong HMI juga menyertainya. Cak Nur adalah pentolan gerbong Intelktual Ciputat, sementara Wahib, Djohan dan Dawam adalah lokomotif gerbong intelektual HMI Yogya. Di samping itu ada juga gerbong Bandung yang diwakili Endang Saefudian Ansari dan Kang Imad c.s. Tetapi justru perdebatan intelktual dengan aroma persaingan antar gerbong intelektual iniah yang membuat HMI tumbuh sebagai organisasi intelktual yang disegani. Meraka berebut pengaruh di hati para kader. Konon—aku tidak tahu persis kebenarannya, namun cerita ini banyak beredar di kalangan teman-teman HMI—puncak perdebatan itu terjadi ketika Cak Nur dan Wahib c.s sama-sama mengajukan draf ideologi perkaderan yang sekararang dikenal dengan NDP. Draft itu sendiri lahir setelah kunjungan Sularso ke Berlin sekitar satu bulan. Pada saat yang bersamaan Ca Nur juga mendapat kesempatan kunjungan ke Amerika, juga selama satu bulan. Dari kunjungan itu, Sularso membawa oleh-oleh buku kecil yang biasa dipakai sebagai pegangan perkaderan Partai Sosialis Jerman. Buku itu judulnya adalah—kalau tidak salah—Fundamental Value of Socialist Democratic Party. Buku itulah pula yang menginspirasi para aktivis HMI untuk membuat rumusan ideologi bagi perkaderan di HMI. Namun nilai-nilainya harus digali dari Islam sebagai akar organisasi, bukan dari ajaran sosialisme sebagaimana buku itu. Maka dibuatlah tiga rencana kerja oleh beberpa orang aktivis HMI saat itu. Tiga usulan itu adalah: membuat nilai-nilai dasar yang akan dijadikan pegangan organisasi (rumusan ideologi); membuat rumusan kebutuhan mendasar bangsa Indonesia versi HMI yang harus segera dipenuhi agar bengsa ini lebih maju; dan merumuskan langkah-langkah yang sifatnya lebih operasinal.
Tiga tugas itu di distribusikan pada tiga kelompok, yakni kelompok yang dipinpin oleh Cak Nur untuk mengerjakan tugas pertama, kelompok yang dipinpin oleh Sudjoko Prasojo—ayah Imam Prasojo—untuk tugas kedua, dan kelompok yang dipinpin oleh Sularso untuk menyelesaikan tigas ketiga. Dalam sejarah perumusan Nilai Dasar Perjuangan organisasi itulah konon Cak Nur dan Wahib terlibat polemik. Menanggapi usulan Cak Nur, Wahib menganggap rumusan itu terlalu normatif dan berbau fundamentalisme. Wahib memang dianggap lebih liberal ketimbang Cak Nur. Aku tiak tahu detail perdebatan itu. Tadinya aku bermimpi untuk menenyakannya langsung pada Cak Nur, namun dia keburu pergi. Meskipun begitu, aku masih bisa mengetahui detail perdebatan itu melalui Dawam dan Djohan. Keduanya masih sehat. Suatu saat aku harus bersilaturahmi dengan beliau-beliau yang sudah sepuh itu.
Di akhir pertemuanku di rumah cak Nur di Cibubur dengan rombongan dari Freedom aku dan Ipud—tadi aku tidak sebuat dia, lupa, dia ikut juga dalam rombongan itu mewakili ketua cabang—berbicara sebentar tentang kondisi PB yang baru saja pecah ke dalam kedua kepeminpinan. Saat itu PB pecah dalam dua kubu yang sama-sama menganggap dirinya legitimate, yakni kubunya Mukhlis Tapitapi dan Kholis Malik (Kholis yang terpilih di kongres). Berbarengan dengan konflik di tubuh HMI yang tidak kian mereda setelah perpecahan itu, Cak Nur, begawan HMI memaklumatkan sebaiknya HMI dibubarkan saja. Pernyataan itu menyesakan banyak orang. Betapa tidak, Cak Nur selama ini dikenal sebagai orang yang tumbuh besar di HMI. Orang HMI seutuhnya samapai tulang sumsumnya. Cak Nur tentu tidak sepenuhnya berminat membubarkan HMI. Itu hanya terapi kejutan agar anak-anak di HMI mau berfikir dan merasa malu oleh umat karena konflik tidak kunjung reda.
Cak Nur saat itu sangat marah pada KAHMI yang masih senang mengadu domba adik-adiknya untuk kepentingan pribadi. Secara eksplisit dia mengemukakan nama seorang KAHMI, dan mengatakan mungkin dia biang keladinya semua perpecahan ini. Dengan terus terang dia mengatakan pada kami bahwa dia tidak senang pada orang itu. Diakhir obrolan itu Cak Nur memberikan wejangan agar terus bersemangat membangun organisasi dan terus konsisten dengan perjuangan moral dan pembentukan kekuatan intelaktual, bukan kekuatan politik.
Rupanya tak ada lagi pertemuan secara personal dengan beliau setelah itu. Itulah pertemuan pertama dan terakhir. Tiga tahun setelah pertemuan itu Cak Nur meninggal. Meski aku merasa sangat kehilangan, aku masih bisa merasa bahagia, aku pernah berbicara secara pribadi dengannya. Dan pertemuan itu sangat berkesan.
Meskipun jasadnya sudah tidak ada, Cak Nur tetap hadir diantara pertemuan-pertemuan kita, tetap hadir di antara pengajian-pengajian, latihan-latihan kader, dan tulisan-tulisan kita. Ia akan abadi hidup bersama kita. Itulah kelebihan orang yang berilmu dan memanfaatkan ilmunya buat umat. Umurnya akan panjang.
Kepergiannya 29 Agustus silam seperti kelahiran baru bagiku. Kepergianya tiba-tiba menumbuhkan tekad yang begitu kuat di hatiku: aku hars seperti dia, bahkan lebih. Aku harus meneruskan perjuangannya. Aku harus meniru sifat konsistennya pada kejujuran, keadailan dan kebenaran serta kesederhanaan. Takad itu semakin kuat setelah aku menyadari keberadaanku saat ini di HMI. Cak Nur dulu berangkat memperbaiki umat dan memberikan sumbangan pada bangsa dari HMI. Pada kondisi HMI yang semakin terpuruk secara intelktual, aku merasa terdorong untuk menghidupkan semangat intelektualisme HMI yang dulu ditabur Cak Nur. Dulu pun, seperti dia, ia menaburkan benih intelektulalisme dari Ciputat.
Selamat jalan Cak Nur. (Versi asli naskah catatan harian ini masih panjang, aku capek melanjutkanya. Mungkin lain kali.)