Catatan Harian

Mengamati Corona di Amerika #2

Akhirnya Presiden Trump mengumumkan Kondisi Darurat Corona di Amerika. Banyak yang menduga-duga mungkin ia juga tertulari virus itu karena minggu lalu ia menerima delegasi dari Brazil. Sepulang dari Amerika, Presiden Brazil dan beberapa orang rombangannya yang berjumpa Trump di Mar A Lago postif Corona.

Rasa panik semakin terasa melingkupi komunitas di sekitar Los Angeles. Satu kasus sudah dilaporkan terjadi di Culver City, wilayah tetangga tak jauh dari tempat tinggal saya.

Setelah menanti seminggu dengan perasaan tidak pasti, hari ini akhirnya Dinas Pendidikan Dasar Los Angeles (LAUSD) mengumkan sekolah akan diliburkan selama dua minggu mulai Senin, esok lusa (16 Maret 2016).

Sepertinya ini kebijakan yang paling tepat.

Tapi coba bayangkan apa yang akan terjadi sebagai imbas kebijakan ini: jika suami dan istri bekerja seharian dan anak biasanya sekolah dan dititipkan di sekolah sampai sore, sekarang akan dengan siapa anak-anak itu? Di sekolah saya, anak-anak bisa diam di sekolah di bawah pengawasan sampai jam 6 sore. Programnya bernama beyond the bell. Program ini diberikan secara cuma-cuma dan sangat membantu keluarga yang suami dan istri bekerja seharian.

Jangan bayangkan anak bisa dititip encang atau nenek-kakeknya. Sistem dan budaya di sini tidak seperti di Indonesia. Orangtua yang bekerja sekarang harus memutar otak bagaimana anak-anak selama dua minggu bisa nyaman dan juga terhindar dari wabah. Mereka befikir keras ke mana anak-anak harus dititipkan.

Bisa juga mereka berhenti dan minta izin bolos kerja. Jika perusahaan membolehkan, beruntung. Tapi lebih 60% perusahaan tetap mewajibkan para pekerja masuk kantor, kecuali jika sakit tentunya.

LAUSD menyediakan 40 pusat kegiatan keluarga selama libur sekolah. Tapi jika 40 pusat kegitan ini menjadi ajang tempat anak-anak berkumpul lagi, tak ada fungsinya sekolah diliburkan! Serba salah.

Saya sebagai mahasiswa relatif lebih beruntung karena memang setiap hari di rumah atau kampus. Anak-anak bisa seharian bersama saya dan istri.

Yang lebih penting dalam kondisi seperti ini memastikan anak-anak tidak panik dan tetap tenang. Yarra dan Amartya sudah diberikan pengarahan di sekolahnya apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkiti Corona. Merek sudah lebih sering cuci tangan.

Amartya malah mewanti-wanti katanya anak-anak kecil kemungkinan kena Corona. “Ayah sama Bunda yang harus hati-hati, katanya.” Rupanya seorang dokter dipanggil ke kelasnya untuk menjelaskan seluk-beluk Corona lengkap dengan data statistiknya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: