• Suratku Buat Cak Nur

    Dear Cak Nur, Bang, hampir setiap akhir pekan aku hilir mudik Bogor-Ciputat. Kawan-kawan HMI memintaku mengisi materi NDP (Nilai Dasar Perjuangan). Aku harus berdiskusi dengan ratusan calon kader selama berjam-jam. Kadang diskusi yang biasanya dimulai setelah isya baru berakhir menjelang subuh. Setiap kali aku memulai pembicaraan di forum itu, yang terbayang dibenakku adalah wajah abang. Aku selalu menceritakan terlebih dahulu konteks historis kenapa materi yang abang buat penting dalam perkaderan HMI. Aku bercerita tentang tiga orang yang dulu melahirkan materi yang menarik ini. “Dialah”, kataku, “yang dulu membuat materi yang kita kaji sekarang”. “Dia adalah Nurcholish Madjid”. “Dia dibantu dua orang kawannya yang lain: Endang Saifudin Ansari…

  • IN MOMORIAM CAK NUR

    (Tulisan ini aku buat tanggal 31 Agustus 2005, dua hari setelah kematian Cak Nur dalam sebuah blocknote. Aku merasa harus memindahkannya ke komputer) Dua hari lalu Cak Nur meninggalkan kita. Kepergiannya menyebabkan tetesan air mata tumpah di mana-mana. Cak Nur meninggal dunia pada saat yang tidak tepat: saat BBM melambung tinggi mencekik rakyat; saat korupsi semakin tak kunjung juga bisa diberantas; saat kondisi semakin terpuruk. Seandainya saya bisa bertatap muka dengan Tuhan, saya akan usul padanya agar catatan takdir dirubah: umur Cak Nur ditambah. Atau seandainya saya menjadi Sun Go Kong, sang monyet nakal dari legenda Cina yang datang ke tempat takdir dibuat dan kemudian mengacak-ngacak semaunya,…