Catatan Harian

Sisi Gelap Kota.

Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya? Tunggu dulu. Aku mulai menemukan sisi lain kota yang indah ini.

Semuanya perlahan tersingkap ketika aku mulai masuk kelas di fakultas Hukum. Gedung yang indah dengan arsitektur kubisme pasca-modern, taman yang luas, perpustakaan ideal dan dosen-dosen yang keren. Fasilitas yang aku dapatkan hampir tanpa batas. Dunia ada di ujung jari. Aku hanya tinggal menggerakan telunjuk untuk menekan tombol “enter’, seluruh dunia terbuka. Dari kampusku aku bisa masuk ke situs-situs manapun di dunia. Kecepatannya juga tidak seperti jika aku mengakses internet di kampusku di Ciputat yang lambatnya minta ampun. Dari kampusku aku hanya butuh waktu 2 detik untuk mengunduh satu jurnal bagus dari situs di Amerika. Kadang kalau lagi tidak sibuk, kecepatannya bisa sampai 1 mega per detik. Aku juga bisa nonton konser langsung group band U2 dari Amerika lewat situs Yutube. Buku-buku yang ingin aku baca juga tersedia. Kita tinggal cek di situs perpustakaan kampus apakah buku itu ada atau sedang ada yang meminjam. Jika tidak ada, apakah karena sedang ada yang meninjam atau karena perpustakaan kampus tidak memilikinya. Asal kita tahu apa judul dan penerbitnya, pihak kampus akan mencarikan buat kita. Atau mereka akan meminjamkan buat kita dari kampus terdekat yang punya buku itu. Fasilitas inilah yang membuka sisi gelap kota ini.

Cerita sisi gelap kota dimualai dari mata kuliah dasar-dasar hukum Inggris, atau hukum Common Law. Mata kuliah ini membosankan namun wajib diambil oleh mahasiswa international yang berasal dari negara yang menerapkan sistem hukum Eropa daratan. Indonesia mewarisi hukum Eropa daratan dari Belanda. Australia mengadopsi hukum Inggris, atau Eropa sebrang-lautan, karena Australia negara buatan Inggris.

Orang-orang Inggris bukan hanya memindahkan sebagian orangnya ke sini, tapi juga piranti hukum dan struktur pemerintahannya. Buat aku, meskipun membosankan, mata kuliah ini benar-benar bermanfaat. Dengan mempelajari dasar-dasar hukum Inggris, terbukalah semua sendi-sendi peradaban dan masa lalu kota yang indah ini. Bukankah hukum adalah cerminan paling jelas dari peradaban. Ukuran beradab atau tidak sebuah bagsa dilihat dari berjalan atau tidaknya hukum. Lewat jendela hukum, politik, budaya, ekonomi, sistem keluarga, hubungan sosial masyarakat, jelas terlihat.

Profesor E, tiap rabu sore menjelaskan bagaimana satu-persatu dasar-dasar hukum negara Inggris dibuat. Sejarah hukum Inggris bukan hal menarik untukku di sini. Yang menarik perhatianku adalah pertanyaan dalam hatiku yang muncul ketika aku kecil: kenapa ada orang bule di dekat Ciamis. Dalam bayanganku, Australia hanya sepelemparan batu dari Ciamis.

Dalam benak banyak orang Indonesia, Australia ada di sebelah selatan Ciamis atau Bali tetapi bukan bagian dari kita orang Timur. Australia negeri Barat, dihuni orang bule namun bertempat tinggal di seberang Ciamis. Australia seperti orang bule asing, setidaknya dalam bayanganku ketika kecil, ditengah kehangatan keluarga orang kulit berwarna Asia. Jawabannya tentu semua orang tahu. Orang-orang Inggris datang ke tempat itu belakangan saja. Jauh-jauh hari, jaman dulu kala, orang-orang Bugis dan orang Ambon berlayar ke sini merburu tripang dan menangkap ikan. Namun oraang bugis dan Ambon ini tidak pernah tinggal dan menetap di sini. Ini tanah gersang dan tandus.

Baru ketika orang Inggris datang ke sini satu-persatu batu bata kehidupan menggeliat. Orang Inggris saat itu sedang mencari tempat untuk penjara. Biasanya para pesakitan dari Inggris di buang ke Amerika. Namun tanah di seberang Atlantik itu tidak lagi mau menjadi tempat buangan. Bahkan orang-orang itu memberontak pada kerajaan Inggris dan menyatakan merdeka tahun 1780. Inggris terlalu kecil untuk menampung orang yang terus beranak pinak. Orang jahat terlalu berbahaya jika dibiarkan berbaur dengan masyarakat di sana. Australia benua yang sangat luas. Juga jauh dari Eropa. Cocok untuk para penjahat dan pesakitan. Mirip seperti pulau Buru atau Nusakambangan. Semua penghuni bule awal di benua ini adalah para penjahat dan petugas militer yang memantau para tahanan. Sesekali para pelancong dari Inggris datang untuk berlibur atau berkujung.

Setelah emas di temukan dan pertambangan tradisional muncul, barulah pulau yang awalnya senyap ini menjadi ramai. Gelombang pelancong yang beradu nasib berdatangan. Sama seperti Amerika ketika pertama kali ditemukan oleh Columbus. Beberapa tahun setelah Columbus datang ke benua itu, pertambangan emas ditemukan. Gelombang pelanacong datang ke Amerika beradu nasib berburu emas. Spanyol menjadi kaya mendadak karena emas dari Amerika. Ketika orang Spanyol mulai banyak berdatangan, penduduk lokal mulai merasa terganggu. Orang-orang Indian, penghuni asli Amerika, mulai terlibat cekcok dengan para pedatang. Sesekali pertikaian dan perang terjadi. Tentu untuk mengamankan asetnya Spanyol harus mengirimkan tentara dan pasukan perang. Dari situlah selalu penajajahan bermula.

Sejarah terulang. Orang-orang Eropa menjadi orang yang paling haus untuk menemukan tanah baru. Tanah baru, saat itu, berarti hidup baru. Dari tanah baru yang ditemukannya orang-orang Eropa mengangkut emas, rempah-rempah, budak-budak belian dan lain-lain. Kini orang-orang Inggris yang berdatangan ke Australia. Ribuan mil jarak tempuh bukan masalah. Mereka berbulan-bulan di kapal untuk sampai di pantai benua ini. Tak masalah. Di sini mereka bisa mendulang emas. Seperti juga di Amerika, kedatangan gelombang pelancong menyebebkan masalah bagi penghuni asli benua ini.

Orang Aborigin merasa terganggu. Buat orang Inggris, orang Aborigin juga pengganggu. Orang Aborigin mengahalangi bisnis mereka. Sejak hari-hari pertama kedatangannya, masalah dengan penduduk asli sudah muncul. Buat orang Inggris, orang Aborigin bukan orang. Mungkin ini sejenis manusia purba tak berperadaban. Sejenis manusia tetapi dengan intelegensia dan tahapan kehidupan yang masih primitif. Mungkin terlalu kasar dan controversial jika hal itu di kemukakan sekarang. Namun inilah fakta 2 atau 3 ratus tahun lalu ketika orang-orang Inggris itu datang pertama kali.

Tanah ini dianggap sebagai tanah tak bertuan, tak berpenghuni oleh orang Inggris. Karena tak berpenghuni, siapapun yang pertama kali menemukannya, menjadi pemiliknya. Orang Bugis mungkin lebih dulu ketimbang orang Inggris. Namun orang Bugis lupa satu hal: hak paten. Hak paten itu berupa hukum. Orang Eropa selalu datang ke tanah baru dan menancapkan bendera dan stempel paten sebuah doktrin: terra nullius. Terra nullius adalah doktrin dalam tradisi hukum Eropa, diwarisi dari Bangsa Romawi, yang intinya menyatakan bahwa tanah yang bukan milik siapa-siapa menjadi milik seseorang yang menemukannya. Ini lawannya dari terra communis—milik semua orang.

Bukankah orang Aborigin sudah ada di sini seratus ribu tahun yang lalu? Sama dengan orang Indian sudah ada di sana jauh-jauh hari sebelum para pelancong Eropa datang. Masalahnya, bagi orang Eropa, orang Aborigin tidak cukup beradab untuk mengurus dan mengklaim tanah yang luas ini. Mereka hidup berpindah-pindah, masih telanjang, pakai perkakas batu, hidup di gua atau gubuk-gubuk. Ukuran jelasnya, mereka tidak punya piranti hukum untuk melindungi hak miliknya. Dasar ukurannya adalah borjuasi Eropa.

Tentu orang asli sini tidak terima. Mereka sudah punya hukum dan pranata sosial. Punya cara tersendiri untuk mengatur hak miliknya. Punya peradaban sendiri. Mereka sudah menghuni pinggiran sungai Yarra dan sudut-sudut tempat di pulau ini sejak ribuan tahun. Mereka mengenal tanah adat suci yang tidak boleh di jamah. Tentu, ala kulli hal, peradaban Inggris dan Aborigin seperti langit dan bumi. Yang satu sudah menguasai dunia, yang lain baru mengenal dunia.

Jika ada dua kepentingan yang bertentangan, kuasa menjadi jawabannya. Orang Aborigin tak bisa mengahalangi kedatangan orang-orang putih ke tanah ini. Apalagi orang-orang yang baru datang ini punya bedil. Di daerah sekitar Queensland, juga mungkin si seluruh daratan benua ini, orang-orang Aborigin mulai menjadi korban. Mereka dijadikan budak-budak yang dipaksa bekerja di perkebunan-perkebuan milik orang bule. Di Tasmania ceritanya lebih mengerikan lagi, hampir tidak ada satu orangpun penduduk asli tersisa sekarang. Semuanya telah dibersihkan dari pulau kecil di selatan benua ini. Mungkin karena penyakit, atau juga karena sengaja dibiarkan mati, atau sengaja dibunuh. Sampai sekarang hubungan bule dan penduduk asli masih menyimpan banyak masalah.

Aku pernah bertanya pada seorang kawan bule di sini. Aku bilang aku kagum pada keberagaman kota Melbourne. Aku juga kagum dengan kampusku. Semua orang dari seluruh dunia datang ke sini untuk belajar. Dari Chile, Argentina, Rusia, Ceko, Saudi Arabia, Pakistan, Kenya, Eretrea, Papua New Guenea, Panuatu, Indonesia dan banyak lagi. ‘Tapi’, ujarku, ‘di mana di kampus ini aku bisa bertemu kawan-kawan mahasiswa dari suku Aborigin? Mereka pribumi, kenapa tidak satupun aku temukan duduk di perpustaakaan mewah di kampusku, atau duduk-duduk di taman hijau kampusku?’ Kawanku hanya bilang mungkin kalau kita kuliah di daerah Australia Barat atau di Darwin kita akan banyak berteman dengan penduduk asli. Di Melbourne mungkin susah, dan jarang sekali, ada anak muda Aborigin duduk mendengarkan kuliah hukum.

Aku hanya membayangkan bagaimana reaksinya jika yang duduk mendengarkan cermah hukum dari profesor E di kelasku adalah orang Aborigin.  Mungkin mereka punya cara pandang baru yang akan membuat diskusi di kelas semakin hangat. Namun itu hanya lamunan. Selama aku kuliah di sini, tak sekalipun aku jumpa mahasiswa penduduk asli. Bukan karena tidak ada. Aku yakin ada yang kuliah di sini, meskipun sangat sedikit. Aku hanya belum bertemu saja. Tiga kali aku bertemu langsung dengan penduduk asli di luar kampus. Satu kali kesempatan bertemu di tram sepulang dari kampus. Sekali lagi di Pasar Victoria, melihat mereka berbelanja. Dan kesempatan lain datang ketika aku main ke Kota, mereka sedang mengamen dengan meniup alat musik tradisional mereka.

Melalui kelas itu aku menemukan alasan menyedihkan dari betapa indahnya kota ini. Jalan-jalan luas membenatang. Trotoar untuk pejalan kali ditata rapi. Taman-taman kota hijau di setiap sudut, lengkap dengan taman bermain buat anak-anak. Sepanjang sungai Yarra yang indah itu hanya ada gedung-gedung mewah dan kafe-kafe. Daerah perkantoran terpisah dengan daerah tempat penduduk kota ini tinggal. ‘Wajar saja’, kata kawanku yang ahli tata kota lulusan UGM dan sedang kuliah di sini, ‘kota ini dulunya ibarat tanah lapang kosong, kemudian datang orang beradab dari Eropa membuat kota dengan tata ruang modern’. Orang-orang Aborigin yang ada di sekitar sungai yang indah itu, pasti sudah menyingkir, atau disingkirkan demi tata ruang kota. Tidak mungkin kota akan seindah ini jika kota ini muncul secara alamiyah seperti Jakarta. Ini kota begitu indah. Mungkin karena ada banyak korban jatuh untuk keindahan ini

Anyway, saya tetap mencitai kota ini. Kini tak ada alasan untuk menolak kecantikannya. Masa lalu tinggallah masa lalu. Toh ada banyak usaha dari warga di sini, termasuk pemerintah Australia, yang sudah dilakukan untuk mengobati dan mengganti kesalahan masa lalu mereka. Yang paling monumental adalah ketika perdana menteri Kevin Rudd secara resmi atas nama negara, pemerintah dan rakyat (putih) Australia meminta maaf pada penduduk asli.

Bendera Australia selalu berkibar berdampingan sama tinggi dengan bendera penduduk asli Aborigin. Peace for all. Semoga kota tak ada lagi sisi gelapnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: