Esai Pendek

Note on Gus Dur

Ketika di pesantren Darussalam Ciamis, semasa SMA, saya seorang Gus Dur-ian sejati. Ada seorang kawan lain, Kholil namanya, yang juga seperti aku: menjadi fans berat Gus Dur. Posisi yang aku ambil untuk menjadi fans Gus Dur, saat di pesantren itu, kurang populer. Maklum, pesantrenku itu pesantren Persis/Muhammadiyah. Aku sering diledeki oleh kawan sebagai pengagum seorang yang Kiai plin-plan, Kiai pendukung Israel, Kiai nyeleneh karena mau ganti ucapan ‘assalamu’alaikum’ dengan selamat pagi, Kiai yang ‘menyamaratakan’ agama dan lain-lain. Pendirianku tidak goyah, aku tetap Gus Dur-ian hingga keluar pesantren.

Aku tahul nama Gus Dur di pesantren sebelum aku masuk Darussalam, tepatnya di pesantren Darul Ulum, sebuah pesantren NU di kampungku. Pesantrenku adalah sebuah pondok NU tradisional. Semua santrinya tidak ada yang sekolah, kecuali aku dan saudara sepupuku. Itupun setelah minta izin yang sedikit ribet dari pak Kiai.

Di pesantrenku dulu, kemanapun pergi santri wajib memakai sarung. Kalau aku minggat dari pondok karena ada janjian sama kawan di kota Kuningan, sampai naik angkutan umum menuju Kota, aku masih harus pakai sarung. Baru nanti aku ganti celana di kota, biasanya di toilet umum. Santri juga wajib memakai kopyah. Ketauan tidak memakai sarung dan kopyah, terutama jika mengaji, akan kena denda: dua setengah gelas beras.

Di pesantren dulu aku tinggal di sebuah kamar, ukuran sekitar 4 kali 5 meter, dengan 5 orang kawan. Betapa sesaknya. Untuk setiap jam makan, aku harus memasak sendiri. Bukan pakai kompor minyak atau gas, tapi pakai kayu bakar. Bayangkan, selepas SD aku harus memasak sendiri, dengan kayu bakar pula. Harus mencuci sendiri, di air kali pula. Yang masih terkenang jelas adalah ketika makan. Kami tidak boleh makan sendiri-sendiri. Makan wajib berjamaah: makan berlima, memakai nampan besar, jongkok berkerumun.

Gambaran itu adalah gambaran umum pesantren NU tradisional lain pada umumnya, hampir diseluruh tanah Jawa. Di dalam suasana pesantren yang unik dan bersahaja itu aku mengenal Gus Dur. Hampir tak ada santri di pondokku yang tek kenal Gus Dur. Saat itu dia sudah menjabat sebagai ketua PB NU, hasil muktamar Situbondo. Saat itu nama Gus Dur sudah diliputi auara mistis: dia itu wali. Anggapan dia wali bukan isapan jempol. Banyak sekali santri dan kalangan Nahdiyin yang yakin dengan hal itu, termasuk aku dulu.

Jadi, ketika ada banyak langkah Gus Dur yang kontroversial, para santri dan Nahdiyin pada umumnya tidak akan berani menyalahkan Gus Dur. Mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri karena belum berhasil memahami langkah Gus Dur. Mereka, seperti juga aku dulu, yakin bahwa suatu hari nanti pasti kita akan memahami langkah-langkah ‘dewa mabuknya’.

Posisiku sebagai fans berat Gus Dur sedikit berubah ketika kuliah. Aku menjadi fans berat tokoh lain: Cak Nur. Aku kuliah di saat bangsa sedang gonjang-ganjing, baru saja masuk masa transisi demokrasi. Ketika aku masuk, Gus Dur sedang menjabat sebagai presiden. Dan dari sanalah bermula berkurangnya derajat kekagumanku padanya. Aku pikir Gus Dur bagus dan ideal sebagai tokoh masyarakat saja. Kalau jadi presiden tidak cocok. Terlalu nyeleneh dan kontroversial. Biasa mengkritik dan mengingatkan tiba-tiba jadi orang yang memegang policy.

Tidak ragu, ada banyak jasanya ketika menjabat presiden: pengembalian nama Papua, pencabutan status DOM, pencabutan dwi-fungsi ABRI, pengakuan terhadap Tiong Hoa, dan lain-lain. Namun atmosfir ketika aku kuliah membuat aku larut dalam suasana keinginan untuk menurunkannya.

Aku ikut demonstrasi berhari-hari untuk menuntutnya mundur dari jabatan Presiden. Bersama Alfonso yang saat itu dipimpin Burhan, aku yang masih ingusan di bangku kuliah, terbawa euforia. Gus Dur yang semasa kecil aku cintai dan kagumi, sontak berubah menjadi orang berwajah durjana yang harus diturunkan dari tahta.

Aku masih ingat, demonstrasi massif terhadap Gus Dur dimulai dari demonstrasi kecil aku dan kawan-kawan di depan istana negara. Saat itu baru saja Latihan Kader (LK) HMI di Serpong. Jika aku tidak salah, saat itu tempat bassic training HMI yang ‘bersejarah’ itu di gelar di pusat penelitian Teknologi di Serpong. Di sebuh mesjid kami berkumpul selama kurang lebih 4 hari. Dari sanalah cerita di Mulai. Seorang peserta LK, Nurmuttaqin, mukanya 95% mirip Gus Dur. Berkacamata, badan gempal, dan suka banyol. Anak itu pintar teater pula. Dia lulusan pesantren Gontor. Setelah LK selesai, anak-anak LK itu membuat ‘perkumpulan angkatan’ dan dia didaulat menjadi ketuanya.

Bung Palkon sebagai ketua komisariat waktu itu, beberapa minggu setelah LK, berencana mengadakan demonstrasi di istana memprotes kebijakan Gus Dur. Ide muncul seketika: kita buat teatrikal Gus Dur menyatakan mundur dari kursi presiden. Nurmuttaqin akan berperan sebagai Gus Dur.Semua peserta LK wajib ikut, itung-itung up-grading program.

Berangkatlah kami ke istana mengendarai sebuah bus mini. Aku tidak ingat apakah demo kali itu dikordinir oleh cabang atau hanya komisariat HMI Syariah. Yang jelas, demonstrasi itu sukses, setidaknya jika diukur dari liputan media. Gus Nur, sebutan buat Nurmuttaqin, berhasil memerankan Gus Dur. Seorang peserta LK perempuan berperan sebagai Yeny Wahid.

Besok harinya kami kaget karena hampir semua koran memuat foto demonstrasi kami. Beritanya muncul hampir di semua media cetak. Namun itu bukan tanpa resiko. Beberapa kantor HMI di Jawa Timur menjadi objek kemarahan kaum Nahdiyin. Kantor HMI Ciputat juga tegang. Sebagian penghuni formaci ‘mengungsi’ ke kosan kawan masing-masing. Gus Nur, konon, dikejar-kejar aktivis PMII karena dianggap menghina Gus Dur dalam demo sehari sebelumnya itu. Ia diamankan sekitar seminggu. Aku tidak tahu persis kemana dia mengungsi, katanya pulang ke rumahnya di Lampung.

Demo itu segera berubah menjadi protes besar terhadap rezim Gus Dur. Dan, beberapa bulan kemudian dia turun dari kursi kepresidenan setelah MPR ‘memecatnya’.

Namun setelah peristiwa itu, rasa kagum dan hormatku pada Gus Dur perlahan-lahan pulih kembali. Konsistensinya membela kaum minoritas membuat dia menjadi sosok yang tetap dihormati. Kossistensinya mempertahankan kebenaran dan bahkan siap pasang badan untuk apa yang ia yakini, membuat orang menghormatinya, tak terkecuali aku. Namanya harum melewati batas-batas negaranya karena kegigihannya menjunjung nilai-nilai demokrasi. Aku tahu dia orang luar biasa. Tetapi sekali lagi, menjadi presiden mungkin bukan tempat yang pas buat dia. Cocoknya dia jadi guru bangsa.

Gus Dur mengajarkan padaku, juga pada siapapun, bagaimana kita memegang kebenaran yang kita yakini, apapun resikonya. Juga Gus Dur mengajarkan bagaimana keberagaman harus hidup dan dilindungi di tanah yang baru mengenal demokrasi ini.

Selamat Jalan Gus….

dicatat 1/1/2010 di decarle st, brusnwick, melbourne.

One Comment

  • Eris Kusnadi

    Waktu masukin adek saya ke darus, Ortu sempat berpikir: persis, muhammadiyah, atau NU? Darus atw Cijantung?
    tetapi berkat mlihat pemikiran alumni2 darus (termasuk kang zezen), sya yakinkan masuk darus, biar jadi:
    – Muslim Moderat
    – Mukmin Demokrat
    – Muhsin Diplomat 🙂

    sebulan dalam setiap tahun di masa2 SD (pesantren kilat), saya merasakn suasana pesantren NU di Miftahul Huda, Selacai, ciamis (tempat leluhur saya belajar).
    Disana tuh (selain yg kang zezen sebutkan): ngga boleh pake peci putih, kalo pake celana panjang diluarnya tetap harus pake sarung, ngga boleh pake celana jeans (meskipun diluar area pesantren).
    Kalau melanggar: dicepret make nyere (mirip hukuman cambuk). “Why?” itu pertanyaan yg belum sempat saya cari jawabannya.

    di situs JIL penah ada artikel tentang: siapakah pengganti Cak Nur? siapakah pengganti Gus Dur?
    meskipun saya kebanyakan ngga setuju dengan pemikiran GD, tapi saya berharap dia selalu ada
    sebagai kekuatan penyeimbang “kaum” yg disebut “fundamental”.
    Dan saya melihat pribadi GD sperti itu: ingin jadi penyeimbang pemikiran “arus besar”.
    Sekarng pelarian saya setelah NM dan GD tiada adalah Cak Nun (Emha–bukan Emka :D)

    Satu hal yg membedakan GD dan teman2nya adalah GD punya power, masa NU yg siap tempur dibelakangnya (hah! eris lebay)

    Selamat Jalan Gus….

Leave a Reply

%d bloggers like this: