Rumah adalah sebuah cita-cita

Rumah adalah tempat kita membuat strategi untuk menaklukan dunia, menyemai cinta, merumuskan masa depan. Rumah adalah tempat kita bernaung dari bengisnya cuaca: derasnya hujan, kejamnya panas matahari, liciknya dingin, kasarnya angin. Rumah adalah benteng dari ketidakmenentuan dunia. Tapi pada mulanya, rumah adalah sebuah cita-cita.

Ayah baru mempunyai rumah ketika saya sekolah dasar, kelas tiga. Sebelumnya, seingat saya, kami menempati rumah kerabat yang kosong tidak ditempati selama beberapa tahun. Setelah menikah, ayah pindah rumah beberapa kali karena ayah mencari tumpangan hidup gratis di kampung. Selama hidup berpindah-pindah itu, ayah mengumpulkan uang, menyisihkan sisa uang gajinya yang sudah sangat kecil. Ayah membangun rumah sedikit demi sedikit, sepenuhnya tergantung pada seberapa besar dia punya uang.

Pertama Ayah membeli batu kali untuk fondasi. Saya masih ingat truk datang ke kebun yang lantas menjadi rumah kami, menurunkan batu dengan penuh gemuruh. Saya tidak mengerti kenapa Ayah membeli batu-batu itu sampai ayah bilang batu-batu itu untuk membangun rumah. Beberapa bulan kemudian lantas datang truk pasir, parkir di kebun yang sama menurunkan muatan. Dengan wajahnya yang senang ayah bilang, ‘tahun depan kita buat rumah’. Sejak saat itu saya tahu rumah yang kami tempati selama ini bukan rumah ayah. “Itu rumah si Enteh”.

Tapi setahun kemudian ketika saya menungu rumah baru itu, ia tak juga datang. Yang dibuat oleh para tukang yang disuruh ayah itu hanyalah fondasi bangunan yang kelak akan terbengkalai lebih dari dua tahun. Fodasi itu dipenuhi rumput dan dijadikan kandang ayam. Kami masih tetap tinggal dirumah lama yang mulai lapuk.

Ayah baru bisa mempunyai rumah empat tahun kemudian. Ayah menggadaikan gajinya sebagai PNS selama 10 tahun kemudian untuk membayar biaya pembangunan rumah itu. Itupun bukan rumah nyaman dengan taman yang asri. Kami pindah ke rumah baru yang masih bertembok bata merah tanpa diplester dengan lantai ubin semen. Sebagai pengganti pintu kamar di dalam rumah kami itu, ayah memasang gorden sebagai sekat antar kamar. Hanya ada kursi panjang yang dibawa dari rumah Enteh. Tapi rumah itu lebih dari cukup untuk keluarga kami yang sederhana. Sedikit demi sedikit ayah memperbaiki rumah kami itu. Pertama-tama menambahkan ubin kramik, entah berapa tahun kemudian, lantas pinntu-pintu kamar, menambah dapur, membeli sofa yang bagus, lalu lemari buku. Semunya dicicil selama bertahun-tahun.

Ketika kuliah, rumah ayah sudah cukup megah: bangunan dua lantai dengan lima kamar dan taman di depan rumah yang cukup luas. Bisa parkir dua mobil di pekarangannya. Juga ada sebuah kolam ikan yang sengaja dibuat oleh ayah di dekat taman di depan rumah itu. Ayah mencapai cita-citanya untuk mempunyai rumah yang layak, mungkin lebih dari 30 tahun kemudian—saat itu saya sudah berkeluarga dan mempunyai rumah mungil di pinggiran Jakarta

Sekarang saya adalah ayah untuk dua anak kecil. Dan kami, saya dan istri, sedang sibuk mengejar cita-cita memiliki sebuah rumah yang layak. Saya lebih beruntung dari Ayah. Ketika sebelum selesai kuliah, saya sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan bagus. Gaji saya lebih dari cukup untuk kehidupan sehari-hari seorang lajang. Juga bisa menabung: untuk menikah dan membeli rumah. Dan karena itu, seperti ayah, untuk kedua hal tadi saya tidak perlu meminta kepada orang tua. Tabungan kerja lebih dari cukup.

Saya membeli rumah kecil dan terpencil ini sebelum menikah. Tetapi calon istri saya waktu itu diajak untuk mencari dan survei tempat. Dibarengi dengan sedikit keberuntungan, saya bisa membeli rumah kecil, tipe 36 di pinggir kali Angke di Pamulang. Rumah itu lebih mirip rumah petakan: hanya ada ruang tengah, dua kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Untung masih ada garasi dan pekarangan mungil yang kini penuh dihuni bunga-bunga di pot.

Sampai kami mempunyai dua orang anak yang mulai sekolah, kami tidak pernah merasa harus pindah rumah. Lebih dari cukup untuk kami yang baru meniti keluarga. Memang sedikit jauh masuk ke dalam, tetapi karena jalan sudah bagus, saya bisa menjalani hari-hari seperti biasa tanpa keluhan. Istri saya juga sudah mempunyai teman dan tetangga yang baik. Anak-anak bebas bermain, bahkan sampai malam, di jalan gang depan rumah. Udara masih segar, jalanan bagus. Pagi hari kalau saya sedang insyaf, saya bisa dengan nyaman lari pagi ke ujung komplek, menelusuri kali Angke. Hidup disini sangat menyenangkan sampai pada satu titik.

Titik-titik ketidaknyamanan adalah ketika saudara datang berkunjung, ketika ada tamu dari kampung, atau ketika orang tua ingin menengok cucu. Orang tua yang sudah mulai masuk masa pensiun kadang ingin sedikit bersantai, bermain dengan cucu-cucunya yang hidup di rantau. Mereka ingin berlibur di rumah kami tanpa pusing memikirkan jumlah setoran dan bisnisnya yang lain. Tapi apa daya, rumah 36 ini bukanlah rumah yang menyenangkan. Anak-anak tak ada ruang untuk berlarian. Tak ada cukup ruang untuk mereka bermain petak umpet. Juga tak cukup ruang untuk semua orang duduk menikmati makan malam. Lantas kami mulai berfikir kenapa tidak memiliki rumah yang lebih besar.

Dan niat itu sudah bulat. Sepertinya ini saatnya bagi kami untuk mencari rumah baru yang lebih luas dan lebih nyaman. Istri saya selalu bilang, saya sudah lebih dari 5 tahun bersabar menempuh jarak yang lumayan jauh untuk bekerja, setiap pagi dan sore hari. Juga kondisi keuangan kami sudah lebih baik dan sepertinya cukup untuk mencicil rumah baru. Dan rumah yang ditempati nanti bisa dijual dan dijadikan uang DP!!! Dengan begitu, kita hanya perlu membayar 60% dari total harga rumah. Dan kami sepakat, kami tidak takut lagi untuk berhutang ke bank. Tak ada orang yang membeli rumah dengan uang kontan, kecuali orang gila yang uangnya sudah tidak terpakai.

Tapi rumah memang lebih dari sekedar tempat kita tidur dan melepas lelah. Rumah harus menjadi bagian dari ekosistem kehidupan kita. Saya sepertinya tidak mungkin tiba-tiba membeli rumah di Bekasi atau Cibinong. Itu sama dengan menyuruh koala hidup di Kalimantan. Saya harus membeli rumah di sekitar Ciputat. Meski macet dan sudah mulai sumpek, apa daya, itulah tempat hidup saya sejak 13 tahun lalu. Di Ciputat saya memulai hidup, berteman, mencari penghidupan. Ciputat adalah tempat saya dula menyemai cita-cita dan sekarang perlahan mewujudkannya…

One Comment

Leave a Reply