Naik Motor
https://pbs.twimg.com/profile_images/1119087367/kodok-2.jpg
Selepas kembali dari sekolah di luar negeri, saya sempat gengsi naik motor. Apalagi motor yang saya pakai motor Supra tahun 2006 yang saat itu sudah bisa dibilang tua. Motor berwarna coklat cerah itu sudah banyak berubah dari sejak saya beli dulu. Warnanya sudah pudar, ibarat kulit ia tak lagi kencang. Badannya penuh lecet terserempet tembok dan pernah sekali tersungkur. Kalau melewati jalan yang berlubang, motor itu mengeluarkan suara berdenyit seperti hendak rontok. Dan saya harus membawanya kemana-mana, setelah saya kembali dari sekolah di luar negeri dulu.
Saya tak pernah mendengar langsung orang mencibir saya karena motor tua itu. Tapi saya tahu dari tatapan mata mereka, terujar ucapan seperti ini: ‘wah, lulusan luar negeri masih saja naik motor, butut pula!’ Pernah seoarang mahasiswa saya kaget melihat saya turun dari motor, parkir di sampingnya. Setelah melepas helm dan membuka masker yang menutupi muka saya seperti ninja itu, ia terkaget-kaget: ‘Ba…Bapak?’. Saya hanya tersenyum. Ia melihat motor saya yang butut itu dengan sudut matanya sambil melengos pergi. Motor yang dipakainya motor besar yang gagah.
Saya sendiri kadang malu membawa motor tua itu. Maunya saya perlente membawa mobil yang lebih sering mendengkur di garasi. Masak, lulusan luar negeri, dosen, bekerja untuk lembaga internasional, masih berbasah kuyup hujan-hujanan naik motor! Tidak keren! Harusnya jaga gengsi lah sedikit. Naik motor itu capek, panas dan tidak keren.
Ya, saya tahu itu. Juga merasa tidak keren menaiki kendaraan beroda dua apalagi sudah tua. Apalagi mobil juga punya, kenapa tidak pakai mobil itu?
Kawan, ayo pikir baik-baik. Milih mana: keren tapi stres setiap hari atau norak tapi hidup lebih santai dan merdeka. Jakarta adalah rimba yang menyeramkan untuk saya. Saya juga pernah tampil sok gaya beberapa minggu dengan kemana-mana membawa mobil. Tapi tak lebih dari dua minggu saya angkat tangan dan menyerah. Akal saya yang masih sehat tidak bisa menerima hanya karena untuk alasan tampil lebih perlente saya harus menghabiskan dua sampai tiga jam di pagi hari terjebak macet dan dua jam lagi sebagai bonus di sore hari saat kembali ke rumah. Tidak mungkin saya menghabiskan usia saya di jalanan, Bro. Bayangkan, jika waktu yang empat jam itu dipakai untuk membaca buku, berapa banyak buku yang bisa dilahap dalam seminggu? Dalam setahun? Bayangkan jika empat jam itu dipakai untuk menulis, berapa banyak halaman yang bisa dikumpulkan dalam seminggu atau setahun?
Saya naik motor kemana-mana karena alasan produktivitas, Bro, Sis. Dan ini adalah hasil sekitar tiga bulan pertama percobaan hidup di Jakarta yang menjengkelkan. Saya pernah naik kereta. Namun rumah saya jauh dari stasiun kereta. Kantor juga tidak terlalu dekat ke stasiun. Untuk ke stasiun kereta itu saya harus naik motor atau ojek, sekitar setengah jam. Setelah itu, dari stasiun ke kantor harus naik bus lagi. Total waktu bisa satu setengah jam dengan biaya yang lumayan karena harus bayar bensin, bus dan ongkos parkir di stasiun. Saya masih sesekali naik kereta sebagai ganti taksi jika ada satu urusan. Kereta untuk saya bukan pilihan. Saya merasa lebih produktif dengan naik motor, meski tidak keren.
Dengan naik motor, saya bisa memangkas waktu yang sebelumnya saya hibahkan untuk jalanan, dari empat jam menjadi dua jam, maksimal tiga jam dalam sehari. Pagi-pagi, jika naik mobil saya harus berangkat jam 5.30 atau jam 6. Dengan naik motor saya bisa berangkat pukul 7.30 pagi. Masih sempat membaca berita pagi, menikmati secangkir kopi dan sepotong ubi rebus buatan istri tercinta. Jika sedang insyaf, selepas subuh setelah membaca atau menulis, saya sempat berlari pagi menelusuri jalanan kompleks perumahan yang rindang dan sepi. Sebelum berangkat kerja saya juga sempat sebentar bermain dengan anak-anak, kadang memandikan mereka. Sekalian berangkat ke kantor saya mengantar Amartya ke sekolah. Coba bayangkan? Mana lebih produktif?
Ada kawan saya yang setiap hari harus berangkat jam 5 pagi ke kantor untuk menghindari macet. Setiba di kantor dia sempatkan untuk tidur kembali sejenak atau mencari sarapan di kantor. Ia tinggalkan anak yang masih terlelap dan tidak sempat mencicipi nikmatnya kopi pagi di rumah. Kalau pulang dia selalu dilema. Pulang lebih awal untuk menghindari macet tidak mungkin, pulang selepas jam sibuk berarti tiba di rumah hampir larut. Padahal subuh-subuh dia sudah pergi dari rumahnya. Ia habiskan empat-lima jam di jalanan. Hanya demi gengsi?
Mungkin ada beberapa orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa naik motor. Tapi ada banyak orang yang demi gengsi mau mengorbankan segalanya. Dia rela usianya digerogoti jalanan. Fikirannya dihantui virus macet. Otaknya diputar untuk mencari jalan tikus. Instingnya dihabiskan untuk mensiasati agar tidak terkena ‘three in one’. Mengorbankan privasinya untuk joki. Meninggalkan anak istri dan keluarganya lebih lama untuk menghindar gilanya jalanan pagi. Energinya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak perlu. Sampai kantor, energi orang-orang itu sebagian telah terkuras. Otaknya sudah kendur dan syarafnya menciut. Mana bisa produktif?
Buat saya, Bro, Sis, naik motor atau mobil itu pilihan saja. Urusannya bukan gaya-gayaan. Kalau mau gaya tapi sengsara, ya silahkan. Kalau saya tidak mau seperti itu. Saya lebih nyaman naik motor. Merasa lebih produktif dan bebas merdeka. Tidak repot cari parkir, uang bensin irit, waktu tempuh lebih cepat. Jika ada kemacetan parah bisa langsung belok ke gang sempit mencari jalan curut—lebih kecil lagi dari jalan tikus. Hanya cukup investasi dengan membeli helm, masker dan jaket hujan yang bagus saya bisa relatif lebih nyaman menjalani hidup yang sudah penuh himpitan di Jakarta ini.
Naik motor juga, saya kira, bisa menakan tingkat kemacetan. Jika motor supra saya berbaris empat, maka ukurannya sama dengan sebuah mobil. Empat ribu mobil bisa digantikan hanya dengan seribu motor. Satu mobil rata-rata diisi sendiri. Mereka yang mengutuk kemacetan dari balik kemudinya seperti mengutuk kedunguannya sendiri!
Tentu lain cerita kalau saya dan kelurga harus pergi bersama. Pasti harus bawa mobil. Palagi kalau ke luar kota.
Jadi, Bro, Sis, tidak usah malu naik motor. Sis-sis juga kalau lihat orang ganteng di jalan membawa motor, jangan dicibir. Itu cowok ganteng pasti punya mobil dirumahnya. Tapi karena otaknya sehat dan ingin lebih produktif ia simpan mobilnya. Jadi jangan sungkan untuk menaksir pria yang naik motor 🙂


One Comment
mumox
saya lumayan tercerahkan membaca curhat ini bang, di Makassar mulai macet parah, mungkin serupa jakarta satu dasawarsa yang lalu.. Motor jadi pilihan utama, bukan mobil, lagian saya belum punya mobil.. hehehe.. salam..