Jalan Kaki
Kaki kita ini adalah hasil evolusi beratus-ratus, mungkin berjuta tahun sehingga seperti ini. Ia menjadi sempurna untuk kita gunakan. Bisa menopang badan kita dengan tegak, berlari dan berjalan. Karena ada dengkul, kaki kita juga sangat fleksibel. Ia bisa ditekuk, semacam dilipat, agar kita bisa menciut, seperti merunduk.
Dan konon, apa yang membedakan kita dari keturuanan ‘great apes’ lain semacam simpanse, bonobo, atau orang utan adalah karena kita dahulu merupakan keturunan ‘great apes’ yang lebih sering menggunakan kaki untuk berjalan. Kita kalah bersaing di pepohonan dan, dalam rentang evolusi ratusan bahkan jutaan tahun, kaki kita terbentuk lebih panjang dan lebih berotot jika dibanding saudara sepupu kita itu. Mereka yang mengandalkan tangan untuk kesana-kemari di pepohonan memiliki tangan lebih panjang dan kokoh. Foto manusia purba berjalan berjongkok, kemudian lebih tegak dan tegak yang popular itu menunjukan bagaimana jalan kaki dengan tegak membedakan kita dari sepupu keturunan great apes yang lain.
Tentu kini kaki sudah menjadi sesuatu yang lain. Ia tak hanya digunakan untuk berjalan kaki dan berlari. Ada orang yang karena olah kakinya menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Sepak bola adalah seni olah kaki yang tidak diwariskan dari hasil evolusi! Ia adalah seni olah kaki yang diciptakan oleh peradaban modern. Orang seperti Ronaldo, Messi, sampai Atep bisa kaya raya dari kakinya yang hebat menggocek dan menggiring bola. Olah kaki itu menajadi seni. Karena kakinya itu begitu berharga, kaki mereka bahkan harus diasuransikan jutaan dolar agar ketika terjadi satu dan lain hal bisa dipulihkan dengan cuma-cuma.
Di Indonesia, kaki kini sedang berevolusi ke arah yang lain. Fungsinya yang selama ratusan ribu tahun digunakan untuk berjalan dan berlari, kini mulai perlahan ditinggalkan. Kaki kita sedang berevolusi ke arah baru karena ia kini hanya digunakan untuk menginjak pedal gas dan rem atau kopling! Jika anda pernah melihat film masa depan, saya melihatnya dalam serial Dora Emon, nanti manusia akan bergerak kemana-mana menggunakan mesin. Untuk bergerak ia hanya tinggal gerakan bola mata atau pijit tombol. Tanda-tanda ke arah itu sudah dimulai. Dan bangsa Indonesia sepertinya adalah bangsa yang paling siap.
Dalam lima atau sepuluh than terkahir, saya melihat ada perubahan besar budaya Bangsa Indonesia dalam hal jalan kaki. Ketika saya kuliah, saya tinggal di rumah kos dekat pasar Ciputat. Untuk ke kampus UIN, semua mahasiswa berjalan kaki, sekitar lima belas menit. Bahkan jika harus ke kampus dua di daerah Kertamukti yang jauh itu, kita berjalan kaki! Dari rumah hendak ke toko klontong untuk sekedar membeli garam, kita berjalan kaki. Abang-abang butuh rokok, jalan kaki.
Motor, berkat lobi Jepang yang hebat yang sedang menyiapkan robot-robot masa depan untuk menggantikan kaki itu, merajalela. Ia ada dimana-mana juga karena kebijakan kredit yang diperingan. Mungkin Indonesia kini adalah pasar terbesar sepeda motor di dunia. Ciri-cirinya bisa dilihat dari balapan MotoGP. Dua group besar Jepang, Yamaha dan Honda, pada motor mereka besar-besar dipasang semboyan mereka ‘Satu Hati’ atau ‘Semakin Didepan’. Dan si motor inilah yang memuat evolusi kaki lebih cepat, budaya jalan kaki perlahan punah.
Mau pergi ke Kampus UIN yang hanya berjarak kurang sepelemparan batu karena kosan mereka di balik tembok, mahasiswa saya kini ke kampus membawa sepeda motor. Untuk ke toko kelotong sekedar beli gula, istri saya naik motot. Untuk pergi membeli sarapan nasi uduk, naik motor. Untuk sekedar makan siang di kantor, naik bajaj. Untuk meeting di kantor sebelah yang dekat, naik mobil. Padahal kalaupun jalan kaki, semua itu bisa ditempuh tidak lebih sepuluh menit.
Kita beralasan, dan ini ada benarnya, tidak ada fasilitas untuk pejalan kaki membuat kita malas berjalan. Trotoar habis dijajah pedagang kaki lima. Jalanan diperlebar sehingga jalur pejalan kaki terpaksa diterabas. Untuk berjalan kaki kita terpaksa memakai jalan, berebut dengan sepeda motor yang buas dan mobil yang tidak pernah mau mengalah. Pinggiran jalan biasanya becek, berlubang dan kotor. Got meluap di musim hujan. Itu memang membuat kita semua malas atau bahkan tidak bisa berjalan kaki.
Saya membayangkan jika di depan UIN Jakarta, kampus tempat saya mengajar, memanjang sampai Pasar Ciputat atau Lebak Bulus ada trotoar yang nyaman saya tidak pelu naik angkot untuk sekedar ke Pasar Ciputat. Cukup berjalan kaki. Selama berjalan, saya melewati deretan pertokoan, semacam window shopping. Maksud hati membeli mangga di kiso buah, karena ada diskon menarik di toko gawai yang saya lewati, pulang ke rumah saya membawa keduanya. Itu yang saya alami ketika di Australia, Belanda, Swiss atau Jerman. Trotoar dan jalan kaki adalah alasan utama toko-toko mempunyai pembeli dan ekonomi tumbuh. Jalur pejalan kaki yang bagus biasanya berbanding lurus dengan pertumbuhan kios-kios yang tertata rapi dan ekonomi tumbuh. Pusat-pusat kota di Eropa sekarang melarang semua jenis kendaraan melintas. Hanya boleh berjalan kaki. Dan, pusat itulah tempat keramaian dan tempat ekonomi digerakan!
Satu lagi: jalan kaki itu sehat, sehat banget!! Kalau tidak sepat lari pagi atau olah raga rutin, memperbanyak jalan kaki adalah orlag raga tersendiri yang jarang kita sadari manfaatnya. Yuk jalan kaki!!


